Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 261. Marahan Sama Kamu


__ADS_3

Hello Reades tersay, setelah kisah Raka Mardo, berlanjut dengan Rakasiwi dan Prita, sampai juga nih ke kisah putri ke dua pasangan terhangat Raka Mardo yakni Cindy Bramantyo. Siapa ya jodohnya? ikuti Pria Idoa season tiga ya


lebih seger deh he he he. Ups jangan lupa like, komen, vote and bintang lima ya, please he he he.


 Taraaaa! yuk mulai...


Malam sesudah pulang dari acara ulang tahun Rama.


"Uch, menyebalkan Fina jelek."


Cindy  membaringkan tubuhnya pada tempat tidur bersih serta wangi, agaknya maba Wiwin atau si  mba Tumirah mengganti sprainya tadi sore. Hemmm...ia hirup wangi yang enak itu sambil memejamkan mata. Terbayang kemarahan Fani yang tidak juga mereda hingga mereka pulang. Tidak enak rasanya saat ia masuk ke sedan milik gadis itu, tapi terpaksa sebab tadi ia diantar oleh pak Mus. Sepanjang jalan keduanya mati gaya. Kata-kata menghilang pergi, demikian juga canda dan tawa.


"Fan, makasih ya, Gwe langsung pulang."


Begitu membuka pintu mobil, Cindy  langsung pamit.


"Terserah!"


Hanya satu kata saja yang terucap dari mulut Fani, tak seperti biasanya menahan dirinya  tinggal untuk mengobrol atau menikmati snak di kamarnya. Cindy menoleh sekali lagi, berharap Fani menariknya dan merayu.


"Cinta, nginap sini aja, ngobrol dulu semalaman, atau nonton drakor ya yaaaa."


Seperti biasanya jika ia akan pulang, tapi kali ini Fani jelas-jelas membuang mukanya jauh-jauh. Serta merta Cindy mengeluarkan handphonenya menelpon pak Mus. Kenapa nggak dari tadi? otaknya jadi blank. Untung saja pak Mus sudah otw ke rumah Fani, katanya perasaan Cindy udah menunggu. Terima kasih pak Mus, aku bisa cepat-cepat meninggalkan rumah Fani.


" Hanya kesalahan kecil saja, dia begitu marah."


Cindy berpikir beribu-ribu kali, terlambat hanya beberapa menit saja sedemikian marahnya SAshi terhadapnya. Kenapa? apakah karena Alex? persahabatan mereka tidak penting dibanding Alex? Dia tidak ada apa-apanya jika disamakan dengan Alex! ya Rabb tega sekali Fani mengeluarkan kata-kata seperti itu. Iri Uch untuk apa? hanya saja gelap malam serta rasa lelah mengalahkan semua hal-hal yang tengah dipikirkannya, Cindy jatuh ketidur yang lelap.


Senin pagi Cindy melompat dari boncengan Babay dan lari ke kelasnya, ia lupa mengucapkan terima kasih pada kakak laki-laki yang umurnya berbeda tiga tahun dengannya itu. Untunglah Babay tidak seperti ayah  yang amat taat dengan kode etik kesopan santunan, Babay segera melajukan motornya menuju sekolahnya yang tidak seberapa jauh dari sekolah adiknya, berseberangan.


"Ka, habis ngantar adik Loe ya."


Temannya sama-sama memarkir motor di halaman sekolah.


"Iya, biasa sekalian he he he."


"Adik loe masih galak Ka?"


" Begitu deh, kenapa? naksir?"

__ADS_1


"He he he Gwe dekatin abangnya dulu dah."


Uhhhh, sanggup? Apa? " Memenuhi persyaratan."


"Ok, apa?"


"Yuk  Gwe kasih tau syaratnya di kelas."


Dan keduanya berangkulan masuk ke dalam kelas, sambil mesem-mesem.


Cindy  berdiri dekat pintu, teman-temannya lalu lalang dan ups! si Fani  datang. Cindy  otomatis membuang pandangannya, tapi tetap lirik-lirik ke arah Fani  yang melangkah sambil sesekali mampir menatap kaca, kebiasaan Fani memang begitu. Suka  berhenti di depan kaca jendela untuk lihat tubuhnya yang langsing, rambutnya yang sepundak tergerai halus dan lembut itu.  Kaca jendela sekolah memang lumayan kinclong dijadian si Fani  buat berkaca.


"Hai Cinta, selamat pagi."


Kontan Cindy menoleh, " Hai ju...,Ups lupa! bukannya Gwe masih marah sama Dia? Cindy buru-buru berubah sikap, senyumnya ditarik kembali dan memalingkan muka dari Fani. Huh, enak aja udah nuduh gwe iri dan segala macamlah terus sekarang pura-pura baik, nggak bisa gitu dwonk, enak pisan si Fani huh!. Kata Batin Cindy.


Sejurus kemudian  Cindy melengos pergi memasang muka jutek yang memang sudah menjadi trade marknya sejak kelas satu smp. Matanya dilirikkan ke atas pura-pura tidak melihat dan tidak mendengar


Fani  menggaruk rambutnya belum menyadari kalau Cindy  masih marah.


"Kenapa sih tuh anak? kesambet setan sekolah kali ya?"


Ara yang tengah mencontek PR menyempatkan menyapa.


"Tuh si Cindy, Gwe baik-baik negur malah sikapnya gituh."


"Kayak baru tau Cindy aja, dia anaknya memang udah begitu, kayak baru kenal aja."


"Lu lagi nyontek PR Ra, kapan Loe sekolah berubah dikit."


"Bukan nyontek, perbaikan doang."


"Alah paling bisa, ini nota dari Cindy  kan?" Ara merebut nota kecil senilai lima ribu. Dasar Cindy! anak-anak sudah mengenalnya sebagai cewe komersil, kepintarannya dalam hal pelajaran dijadikan usaha. Asal teman-temannya bisa membayar nota seharga lima ribu tak masalah baginya.


"Gwe cuma mau kasih uang jajan ke Cindy  aja, titik."


Ara paling bisa menghindar kalau ditegur.


"Kebiasaan jelek dipelihara."

__ADS_1


" Lantas masalah buat Loe?"


Kalau sudah mengucapkan itu, alamat runyam mending Fani  keluar kelas menghirup udara dari halaman yang banyak bunga-bunga bertumbuhan. Tetapi baru juga menyembulkan wajahnya serine tanda masuk sudah berbunyi. Fani kembali masuk dan duduk di bangkunya.


Pelajaran pertama hari itu matematika, pokok bahasannya tentang Trigonometri. Susah juga sih untuk sebagian anak-anak, meski pun Mrs Anna mengajari dengan kalem dan dalam.


"Cindy  kamu sudah mengerti?"


Ara bisik-bisik, dia akan tenang kalau Cindy  mengangguk, urusan beres. Nanti saat tiba ulangan baru menangis sesengukan karena tidak bisa dan Cindy  tidak mau memberinya contekan. Tetapi belakangan ngasih juga sebab tak tega dengan wajahnya memelas.


"Ok anak-anak, sekarang kalian kerjakan latihan satu A, Dua A dan latihan tiga A. Yang masih belum mengerti sekarang bertanya, ibu beri waktu lima menit sebelum kalian mengerjakan tugas."


"Aku ngerjain bareng kalian dong ya."


Si Wina i teman sebangku Fani  tiba-tiba keluar dari bangku dan duduk bertiga mengerjakan tugas dari ibu guru. Fani meremas-remas jemari, kok bisa-bisanya mereka bertiga-tiga mengacuhkan dirinya?


"Win_ Wina  Bay the way kenapa ngerjain di situ? sini sama Fani aja."


"Udah deh Fan Loe tenang-tenang aja di situ, Gwe masih betah di sini."


'Iihhh nyebelin nyebelin banget si Vani Gwe cekek juga Loe, Fani  gemes. Ternyata setelah selesai mengerjakan tugas Wina tetap duduk bertiga, mengobrol dan sesekali terkekeh bertiga pula, Ara  juga sama sekali tidak pengertian, seperti dirinya tidak ada di dekat mereka, Fani  meremas-remas jemarinya.


Kelihatannya ketiganya sengaja membuatnya kesal dan marah, biasanya mereka diskusi bertiga sambil sesekali Wina nimbrung tapi sekarang kenapa dia yang jadi dikucilkan? Apa Cindy dan Ara sudah merubah persepsi mereka tentang Wina? Sebenarnyakan mereka tidak menyukainya, gadis itu terlalu macho bagi mereka, Wina seorang yang gendut, sedikit agak tomboy meski imut dan manis.


Sedikit kecemasan menggayuti hati Fani,  takut kalau dia dikeluarkan dari genx Hubsche Maedchen, takut posisinya digantikan oleh Wina, bagaimana pun Cindy dan Ara lumayan populer di sekolah nomer satu di kota mereka itu, ia ikut terkenal karena sering sama-sama dengan Cindy.


Bapak kepala sekolah sangat bangga pada Cindy  karena gadis itu pernah memenangkan lomba cerpen remaja tingkat nasional, demikian pula Ara, dia penyanyi muda berbakat yang sering menang mengharumkan nama sekolah dan kota kecil mereka.  Sedang Wina ? jangan main-main dengannya, meski terlihat acuh, cuek dan tomboy seperti itu ia pemegang kejuaran umum siswa berprestasi terbaik, jadi mereka bisa menjadi sebuah tiem yang hebat dalam genx hubsche maedchen.


Hingga pulang sekolah Fani menyesali yang terjadi tapi ia engan meminta maaf dan membuka percakapan dengan Cindy.


 


 


 


Cikidot Terima kasih ya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2