Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 151.Libur Berakhir


__ADS_3

Setelah pertemuan terakhir itu Jaelani kembali ke Jakarta dan berusaha melupakan kekasihnya.


Jae menyibukkan diri membesarkan serta mengembangkan perusahaannya. Ia tidak pernah bisa jatuh cinta lagi. Hatinya membeku dan tertutup rapat.


Berpuluh tahun, tidak ada seorang wanita pun yang mampu membuatnya jatuh cinta. Hanya saja Jika kebutuhan seorang lelaki itu datang, maka ia akan datang mencari wanita penghibur yang bekerja di clubnya.


Hingga Abidin membisikinya tentang seorang gadis yang bisa menjadi primadona rumah hiburan.


Pertemuan pertama yang tidak menyenangkan terjadi. Gadis itu dengan sikap pemberani dan cool


menyelamatkan ibunya. Membuatnya terhenyak.


Gadis itu menggoncangkan jiwanya. Perasaannya tiba-tiba seperti disentakkan. Seluruh yang ia miliki tidak ada artinya tanpa seseorang yang dicintai dan mencintainya. Ia merindukan seorang perempuan di sampingnya. Tempat melabuhkan, segala resah diri, gundah hati, serta kasih sayang.


Ia mendambakan cinta serta perempuan di sampingnya. Memang dirinya sudah tak muda lagi. Namun


sisa-sisa ketampanannya masih jelas, ia masih keren dan sangat


tampan. Kharisma seorang pria yang matang ada pada dirinya.


Tak dipungkiri bahwa mudah saja baginya mendapatkan seorang perempuan cantik. Ia tinggal menunjuk dan memberikannya uang yang banyak. Wanita itu pun akan melayani kebutuhan laki-lakinya. Jae bisa membeli perempuan manapun yang ia inginkan. Cukup membayar si wanita maka ia mendapatkan apa yang ia inginkan.


Dulu pernah Jae memiliki seorang perempuan favorit. Perempuan itu selalu berada di dalam rumahnya. Tetapi setelah setahun atau dua tahun, saat Jae bosan perempuan favorit itu tidak terlihat lagi. Kemudian berganti lagi dengan perempuan favorit lainnya. begitu terus hingga sekarang.


Perempuan-perempuan itu tidak pernah memberikan Jay seorang pun Putra atau Putri. Mungkin si perempuan melindungi dirinya dari kehamilan. Begitu juga dengan Jae sehingga sejauh ini Jae belum memiliki seorang pun anak sebagai pewaris semua harta kekayaannya.


Waktu begitu cepat berlalu seperti berkejaran. Jae sendiri tidak merasakan dan tak menyadari bahwa usianya terus bertambah, dan sudah kepala lima. Kesenangan hidup serta kesibukkan memperbesar perusahaan membuatnya melupakan satu sisi dirinya yakni keluarga.


Sekarang Ia memikirkan hal tersebut. Seorang perempuan muda yang cantik, harus memberikannya beberapa orang putra dan putri. Pilihan itu jatuh pada seorang gadis yang memiliki sikap dan sosok cantik seperti kekasihnya dulu.


Tapi ia harus bersabar karena baru saja dua hari ini, ia menyuruh seseorang untuk membawa gadis itu ke rumah mewah bagai istana. Ia menunggu dengan perasaan gundah serta tak sabar. Menghabiskan waktu dengan melamun, atau berjalan-jalan menikmati pemandangan di rumahnya tersebut. Setelah lelah ia masuk ke rumahnya menonton tivi hingga tertidur.


Sementara Darto bekerja cepat. Ia sudah mengetahui rutinitas perempuan setengah baya dan gadis yang menjadi targetnya. Setiap hari ia mengawasi dan mengikuti kemana kedua perempuan itu pergi. Si perempuan setengah baya biasanya belanja di sebuah swalayan yang tak seberapa jauh, kemudian pulang dan mengurung diri.


Sedangkan perempuan muda, setiap jam dua keluar dari rumah. Saat sore kembali dan kemudian pergi lagi. Setelah mengetahui rutinitas kedua orang tersebut, Darto keling menyusun rencananya dengan rapi dan terencana. Ia memperhitungkan dengan cermat semua kejadian yang bakal ia lakukan.


Tetapi yang tidak diketahui oleh Darto Keling adalah bahwa Prita harus kembali ke Semarang. Ia tak bisa lagi memperpanjang liburannya. Maka pagi pagi sekali ia telah meninggalkan rumah menuju stasiun kereta. Ia sudah berpamitan


dengan Yunna, Elsa, murid-murid les privatnya dan juga keluarga Bramantyo yang serasa seperti keluarganya. Rakasiwi juga tahu bahwa Prita kembali ke Semarang. Pria muda itu mengantarnya ke stasiun. Prita sudah menolak tak mau merepotkannya, tetapi Rakasiwi memaksa ikut mengantar ke stasiun.


Dia bilang, sekalian dia juga membeli tiket, karena akan pulang ke Jogja. Jadilah keduanya sudah berada di stasiun pagi-pagi sekali.


Prita mengenakan jaketnya dan menarik koper sedangnya. Tadi Rakasiwi mengajak sarapan terlebih dahulu di dalam stasiun. Mereka minum teh hangat serta nasi goreng dengan teri dan telur.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan, jangan mau kalau dikasih orang minuman atau permen."


Rakasiwi memberitahu Prita, wajahnya dibuat serius.


"Iyalah emangnya aku anak kecil kamu ini ada-ada saja!"


Sungut Prita merasa lucu.


"Hemm, pokoknya hati-hati saja. Banyak orang jahat berkeliaran, jangan mudah percaya, apa lagi pada orang asing."


"Iya, aku tau. Aku melindungi diriku dari segala mara bahaya dengan doa dan amalan Zikir yang banyak."


Prita memperlihatkan benda mungil yang seperti cincin melingkar di jarinya. Rakasiwi melihatnya dan tersenyum, "Apa itu kok lucu sekali menempel seperti itu di jarimu."


"Ini tasbih digital, banyak-banyak berdoa serta membaca sholawat hingga ribuan kali, akan menjadi pelindung dan perisai diri yang sangat ampuh."


"Oh, begitu ya?"


Prita mengangguk, ingin ia menceritakan tentang berbagai hal tentang bagaimana ia bisa menyelesaikan semua masalah. Keajaiban-keajaiban yang banyak terjadi saat ia melakukan doa serta ribuan sholawat.


"Perlindungan diri yang paling ampuh yah hanyalah kepadaNya."


Rakasiwi mengangguk-angguk, "Aku juga berdoa supaya Allah selalu melindungimu di perjalanan dan tempat yang jauh dari rumah."


sama."


Keduanya saling berpandangan, Rakasiwi tiba-tiba menyentuh jemari Prita yang berada di meja. Prita mengalihkan pandangannya ke jemarinya yang berada di bawah tangan pria muda itu. Dia berdebar, ingin menariknya, tapi ia tak sanggup.


"A-aku mengkhawatirkanmu."


Rakasiwi menggumamkan kata itu,


"Jaga dirimu baik-baik ya."


Prita mengangguk- anggukkan kepalanya, "Tentu." Jawabnya, hingga suara pengumuman pemberangkatan terdengar. Prita buru-buru menarik tangannya.


"Keretanya sudah datang, aku berangkat yah."


Keduanya bergegas, Rakasiwi mengangkat koper milik Prita, "Biar kuantar ke pintu masuk."


Prita menurut, mereka bergegas ke pintu masuk yang terlihat ramai dengan orang-orang yang menuju ke kereta. Mereka memperlihatkan ktp dan tiket. Prita melakukan hal yang sama lantas menepi sekejap untuk berpamitan lagi.


"Terima kasih ya Raka sudah mengantarku ke stasiun, sampai jumpa lagi."

__ADS_1


Prita mengambil kopernya dan berbalik meninggalkan Rakasiwi. Ia melambaikan tangannya, dan Rakasiwi membalasnya, "Kalau sudah sampai kabar ya."


Pria muda itu setengah berteriak kepada Prita yang semakin menjauh dan ia masih berada di tempat itu hingga terdengar pluit panjang tanda pemberangkatan. Ia sudah tak bisa melihat Prita lagi. Hatinya merasa sunyi ketika kereta itu telah pergi. Ia lalu bergegas pulang.


Mardo mendengar mobil Rakasiwi memasuki garasi, dan tak lama pria muda putra sulungnya itu memasuki rumah. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa. "Hei, Prita sudah


berangkat?"


"Sudah Bun, dan aku juga sudah membeli tiketku."


"Hemm, rumah ini akan sepi lagi deh, tahun depan giliran Cindy yang masuk Perguruan tinggi."


Mardo duduk di sebelah putranya, sembari menghidangkan pisang goreng yang baru saja matang.


" Cindy kuliah di sini saja Mah. Ngapain jauh-jauh, anak perempuan bagusnya dekat dengan rumah."


"Iya sih, bunda juga maunya seperti itu, tapi kalau Cindy mau kuliahnya di luar kota, bisa apa bunda?"


"Setidaknya masih ada Tria dan Dode Bun, kasihan tuh ibunya Prita


sendirian aja di rumahnya, mana saudaranya tak memperdulikannya, seperti bukan saudara saja!"


"Ayah Prita udah nggak ada ya?"


"Iya, sudah lama meninggal sejak Prita masih kecil."


Kedua ibu dan anak itu mengobrol


hingga lama. Sementara Ibu Prita sedang dalam intaian.


Bersambung


Hello readers, terima kasih yaa sudah mengikuti kisah Pria Idola.


jangan lupa memberi like, komen, vote yaa, author sangat berterima kasih.


Bersambung.


.



__ADS_1



__ADS_2