Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 203. Keberanian Elsa


__ADS_3

Sementara Elsa hesteris ketika ia dipisahkan dari Priti. Ia berontak dan melawan.


"Ayah Jae! apa-apaan ini? kenapa aku dan Priti di bawa ketempat ini? kami sudah membantumu mendapatkan Baby Yunna! seharusnya biarkan kami pulang."


Ayah Jae tersenyum sinis, matanya menatap dingin pada Elsa. Sikapnya jauh sekali berbeda dengan saat bertemu terakhir kali.


"Kau tidak berada dalam situasi boleh bicara!"


Elsa membesarkankan matanya. Ia tak menduga laki-laki yang beberapa tahun ini bersikap baik, telah berubah. Ia sangat menyesal.


"Aku tau bahwa kau juga ingin bernasib sama dengan Yunna. Ingin memiliki uang, perhiasan, rumah megah dan mobil mahal Iya kan?"


Elsa tak menjawab. Ia masih menatap penuh rasa kecewa.


"Sayangnya aku tak tertarik denganmu! tetapi kau lumayan manis untuk menambah uang masuk. Bawa dia ke rumah lelang!"


Beberapa pria  bertubuh tegap serta gempal segera menyeret paksa Elsa yang terikat tangannya. Gadis itu berusaha melawan tetapi sebuah pukulan membuatnya terhenyak. Sakit sekali membuat kepalanya pusing dan matanya berkunang-kunang. Tubuhnya melemas tak mampu melawan saat ia di masukkan ke dalam mobil. Ia tau kenderaan bergerak menuju sebuah tempat.  Tak lama Elsa dikeluarkan dan dibawa ke sebuah rumah hiburan. Ia di dorong ke sebuah kamar.


"Ayah Jae ingin dia di lelang! sebab itu ganti baju dan rubah penampilannya."


Dua orang wanita tetapi bertubuh pria segera bergerak untuk melaksanakan perintah lelaki tadi.


"Mari say mandi dulu biar segar tubuhnya."


Kata salah satu dari perempuan perias.


"Tidak! jangan sentuh aku! pergi kalian, jangan paksa aku melakukan yang tidak kuinginkan! pergi! pergi!"


Elsa kembali berontak dan berusaha melawan, meski pun tubuhnya mungil tetapi ia memiliki tenaga yang cukup besar. Ia menghindar jamahan dua orang tersebut. Jadilah ketiga orang itu berkejaran di dalam ruangan itu. Elsa melempar dan meraih apa saja yang ia dapatkan. Sekejab saja ruangan itu menjadi berantakan. Karena Elsa sengaja meraih benda-benda untuk dibantingkan. Ia begitu lincah dan gesit serta berani.

__ADS_1


"Ya ampun, kau membuat kami hilang kesabaran. Ayo Tangkap!"


Elsa bertekat akan melawan  apa pun yang terjadi. Ia tidak takut mati. Kedua orang yang semula ramah berubah menjadi beringas. Keduanya mengepung Elsa.


"Tangkap!"


Keduanya maju, Elsa secepat kilat menunduk dan meloloskan diri. Ia mencoba membuka pintu ternyata tak terkunci. Semula Elsa pikir pintu itu terkunci. Teryata ia sangat beruntung. Tak pikir panjang ia berlari ke arah belakang. Sebab ia melihat ada beberapa orang yang berjaga-jaga di depan.


"Rabb, tolong aku!"


Elsa gemetar ketakutan. Ia terus bergerak sambil memperhatikan sekelilingnya. Sebentar-bentar ia masuk ke dalam ruangan. Menghindari kejaran anak buah ayah Jae. Ia dengar kaki-kaki yang melewati tempat dia bersembunyi. Ia berada dalam sebuah gudang yang gelap. Mulutnya terus menerus memanggil Rabbnya.


"Tolong hamba ya Rabb, jika Engkau tak selamatkan hamba mereka akan menjadikan hamba perempuan penghibur. Hamba tidak mau ya Rabb, tolonglah hambaMu ini."


"Kemana perginya perempuan itu? apa dia melarikan diri ke belakang? bukankah di belakang mengalir kali yang deras? ia bisa mati tenggelam!"


Buk! Buk! Buk!


"Kalian berdua harus mempertanggung jawabkan perbuatan kalian! bagaimana mungkin kalian menghilangkan perempuan itu? sunguh tolol dan bodoh. Kalah sama seorang perempuan. Badan gede yang tak berguna!"


Kembali terdengar benda tumpul yang memukuli kedua orang itu. Elsa tak berani bergerak. Mulutnya komat-kamit dan air matanya berlinang. Ia menunggu sangat lama hingga tertidur. Saat ia terbangun, agaknya keadaan telah tenang. Tidak terdengar suara apa pun. Ia mendongakkan kepalanya dan jantungnya nyaris copot melihat sosok Yunna di depan pintu.


"Yunna! ya Allah! ya Rabb!"


Sosok yang menyerupai Yunna itu seperti menyuruhnya mengikutinya. Elsa mengumpulkan keberaniannya menatap Yunna, ia mengangguk kecil, pertanda mengikuti sosok itu. Perlahan pintu itu terbuka dan sosok Yunna bergerak menembus pintu gerbang. Elsa meraih gagang pintu yang tidak terkunci. Sosok Yunna berjalan di depan pos. Elsa gemetar sebab secara serentak beberapa penjaga menatap ke arahnya.


Penjaga-penjaga itu membesarkan mata mereka, beranjak untuk menangkapnya.


"Perempuan itu!"

__ADS_1


Elsa terkejut, ia berlari menghindar. Oh Yunna kenapa ia membuatku menjadi tertangkap?


Namun ia melihat penjaga-penjaga itu mengejar sosok Yunna yang berlari masuk ke rumah. Mereka semua melewati dirinya yang terbengong di depan pintu gerbang. Bunyi pintu yang terbanting menyadarkannya untuk segera berlari meninggalkan tempat itu.  Sebuah jalan yang sepi dan gelap. Elsa ketakutan, tetapi ia harus pergi sejauh-jauhnya. Elsa tersengal-sengal karena terus berlari dan lari.


Gelap sekali dengan angin yang sepoi. Elsa mengingat Yunna tapi ia tak berani menyebut namanya lagi. Tak berani memikirkannya. Elsa ingin menjerit meminta pertolongan. Kenapa tidak ada seorang pun?Ia seperti seorang diri di dunia ini. Kemana semua orang?


"Ibu! Bapak!"


Nyaris putus napasnya ketika ia melihat jalan raya di depanya. Elsa menguatkan dirinya. Sedikit lagi dan ia melihat mobil yang berlalu lalang.


"Oh Rabb, sedikit lagi kuatkan aku!"


Bibir Elsa tersenyum, ia akhirnya tiba di jalan raya. Tangannya serta merta menyetop sebuah angkot. Ia tak perduli kalau saat itu ia sama sekali tak memiliki uang. Gadis itu bagaimana pun akan memohon pertolongan agar  mengantarnya ke kantor polisi. Ia harus menceritakan penculikkan dirinya dan juga Priti.


"Oh, Priti! apa yang terjadi dengannya?"


Elsa semakin berani untuk mengungkap kejahatan Ayah Jae. atau Jaelany. Ketika penumpang turun satu demi satu, Elsa segera meminta tolong agar mengantarnya ke kantor polisi. Secara singkat ia menceritakan kalau ia baru saja selamat dari penculikkan yang akan menjadikannya perempuan penghibur.


Pemilik angkot dan kenek serta dua orang penumpang terbengong oleh ceritanya. Mereka berulang kali menatap pada Elsa. Tak percaya, hanya penipu yang tidak mau membayar ongkos. Elsa berusaha meyakinkan mereka semua. Ia hampir mati sebab berlari sangat jauh. Akhirnya supir tersebut mengantarkan Elsa ke sebuah pos polisi yang buka. Tetapi supir dan kenek tak mau masuk mengantar Elsa.


 


 


 


 


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2