Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 220. Boy Indra Cemburu


__ADS_3

Boy Indra, pria muda yang baru ia kenal beberapa bulan itu, menarik tangannya ke ruangannya. Boy tegang dan ia seperti kehilangan kendali diri.


"Ka-kamu bohong! katakan kamu berbohong padaku!"


Prita berdiri dan melipat tangannya di dada. Ia mengikuti saja pria muda itu mondar-mandir seperti setrikaan.


"A-aku bertemu kamu di kota yang asing ini, berharap menjadi teman tapi mesra. Lalu kamu bilang sudah bertunangan! kamu membuatku kaget."


Prita mengercitkan keningnya, kok dia tau tentang ttm sih? teman tapi mesra.


"A-aku kecewa! aku kesal, terkejut dan pokoknya tak siap dengan berita itu."


Boy lantas menghenyakkan tubuhnya ke sofa. Berusaha menenangkan dirinya.


"Sudah terkejut dan sebelnya?"


Prita duduk di hadapan Boy, menyilangkan kakinya dan memandangi wajah pria muda itu yang berkeringat.


"Maaf kalau aku membuatmu menglami ini. Aku dan kekasihku sudah tiga tahun, dan kami sudah merencanakan pertunangan selanjutnya menikah."


"Jadi-jadi bukan baru terjadi pertunanganku itu pak Boy."


"Aku sama sekali tak bermaksud membuat pak Boy kecewa."


"Tapi kamu sudah membuatku kecewa! harapanku buyar seketika!"


"Jangan begitu, masih banyak gadis yang cocok dan lebih baik yang bakal ketemu denganmu."


Boy menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku nggak sanggup menerima kenyataan ini, kamu gadis yang aku inginkan menemaniku dalam suka dan duka. A-ku tak bisa bekerja hari ini!"


Boy Indra menyambar tasnya dan bergegas meninggalkan ruangan kerjanya.


"Pak Boy! tunggu, ini hari senin banyak yang harus ditanda tangani."


"Aku tak perduli."


Prita hanya bisa berdiri di depan ruangan kerja atasannya itu sembari menatapi langkah-langkah panjangnya yang terburu. Huah! Prita menghembuskan napasnya dan geleng-geleng kepala. Pak Emir ikut menatap kepergian Boy saat ia akan ke ruangan sang bos.


"Pak Boy mau kemana?"


Pak Emir menatap Prita sembari menyerahkan berkas-berkas.


"Entah Pak, ia tau-tau bilang mau pergi."


"Dasar anak manja, tak betah bekerja. Ia hanya mengandalkanmu."


Prita hanya terdiam. Ia tak mungkin menjelaskan persoalan antara dirinya dan Boy, bisa-bisa menjadi bahan gosip seluruh karyawan. Beberapa bahkan sudah menduga-duga adanya hubungan special antara Prita dan pak Boy.


Hanya saja mereka menyimpan dan menjadi rahasia saja. Seperti Dian dan Marlina. Mereka menduga-duga bahwa bos mereka menyukai gadis cantik bernama Prita.


Prita segera ke ruangannya sendiri dan memerikasa berkas-berkas. Gadis itu memeriksa dan menyusunnya dengan rapi. Beberapa bulan bekerja pada pak Boy ia sudah membuat pembukuan yang detail. Boy menyuruhnya mempelajari tentang perusahaan yang ia pimpin. Membuat arsip seluruh data perusahaan. Apakah pak Boy tidak tau bahwa dia sangat kaya. Dia itu hanya bersenang-senang di luar negeri dan tidak tau apa-apa mengenai perusahaannya.


Setiap kali Prita selesai membuat arsip mengenai data perusahaan, Boy membacanya dan mulai mengerti tentang aset yang ia miliki. Sedikit demi sedikit Boy memahami tugas sebagai pimpinan, ia sekarang mengetahui aset yang ia miliki, orang-orang yang bekerja padanya.


Boy diam-diam memuji pekerjaan Prita yang teliti  serta terperinci. Ia mudah memahaminya. Tapi gadis itu milik orang lain. Tunangan seseorang. Prita tak akan bekerja padanya lagi. Boy tak mengerti kenapa ia dipertemukan


dengan Prita. Saat ia memasuki dunia kerja yang tak pernah terbayangkan. Hanya sebab Papa meneteskan air mata memintanya menggantikan dirinya yang sudah sangat lelah.


Akhirnya Boy menyerah. Ia pulang dan tidak tau apa yang mesti ia kerjakan. Hanya berbekal rasa pedenya yang besar saja ia memasuki dunia kerja. Pelajaran bisnis yang ia pelajari bertahun-tahun di luar negeri tak ada yang bisa ia gunakan. Sebab ia memang tidak menyukainya. Semua sebab papa.


Saat sore Prita terkejut saat Boy muncul di ruangannya. Gadis itu segera memberikan berkas-berkas yang memerlukan tanda tangan direktur.


"Terima kasih, sudah bekerja dengan baik."


Kata Boy, wajahnya masih diselimuti kekecewaan.


"Tidak perlu berterima kasih, sudah menjadi pekerjaanku kok."

__ADS_1


Pria itu hanya mendengus.


"Karena pekerjaanmu yang baik melebihi perkiraanku. Kau sangat teliti, berkat kau sekarang aku bisa menjaga aset perusahaanku."


Prita merasa senang pada akhirnya ia bisa menyelesaikan satu demi satu pekerjaan yang Boy berikan padanya. laki -laki itu bukan bodoh, tetapi dia hanya malas dan tak mau bersusah payah. Buktinya Pria itu menyuruhnya membuat dan mengumpulkan profile perusahaannya dari mulai berdiri hingga sekarang. Mengumpulkan data perusahaan hingga ia mengetahui kekayaannya. Pak Boy sekarang perduli pada perusahaannya.


"Kenapa kau melamun? apa kau memikirkan tunanganmu?"


Suara Boy terdengar memilukan, Prita mendengus.


"Ah, tidak kok, aku profesional, saat bekerja tak mungkin aku memikirkannya."


"Baguslah, kalau begitu temani aku minum kopi di cafe."


"Apa ngopi di cafe?"


Priti membesarkan matanya.


"Sekalian makan, aku belum makan siang."


"Ta-tapi, sebentar lagi kantor tutup."


"Bagus kan. sekalian kita pulang."


Prita mengigit bibirnya, ia janji pada Rakasiwi akan memberitahu jika jam kantor tutup. Tapi Boy mengajaknya ngopi. Padahal suasana hati Boy tadi pagi sangat buruk.


Prita akhirnya memutuskan pergi dengan Boy. Ia tidak tahu mengapa menyetujui keinginan pria itu. Ia mengirim pesan pada Rakasiwi bahwa ia tiba-tiba  diajak bosnya ke sebuah restoran. Rakasiwi berpikir bahwa bosnya Priti itu adalah seorang pria tua yang sudah beruban.


"Ok say, nggak apa-apa."


Balas Rakasiwi.


"Terima kasih calmanku."


Prita lega, ia bisa pergi dengan Boy Indra ke restoran, menikmati makanan dan minum kopi.


"Makasih ya Prita, kamu mau memenuhi ajakanku."


Boy Indra tersenyum, "Iya benar apa yang kamu pikirkan itu."


Keduanya menutup pintu ruangan kerja dan beranjak ke lift. Setelah meninggalkan kantor, mereka memasuki arus jalan yang macet. Boy Indra beberapa bulan ini sudah beradaptasi dengan kemacetan, sehingga ia tampak sabar menghadapi jalanan yang macet. Kesabaran itu membawa mereka sampai ke restoran yang diinginkan.


"Nah, aku suka makan di restoran ini, steak di sini sangat enak."


Boy membawa Prita ke sebuah meja di sudut. Pelayan segera mendekati mereka dan memberikan buku daftar menu.


"Silahkan nona dan tuan ini menu terbaik kami, semoga kalian menyukainya."


"Terima kasih, kelihatannya sangat enak."


Prita dan Boy bersiap menikmati steaknya, tapi Prita merasa steaknya susah sekali di potong, Boy melihatnya dan tersenyum.


"Ada apa?"


"Nggak kok,"


Prita semakin bersemangat memotong steknya, tetapi tiba-tiba sendok itu terpeleset dan daging steaknya terlempar ke belakang. Sialnya mendarat di atas rambut seorang wanita cantik yang terkejut. Prita merasa jantungnya nyaris copot. Boy juga terbengong.


Wahhhh!


Priti pucat. Dan tak lama terdengar suara kemarahan seorang wanita.


"Brengsek!  beraninya kau! apa kau tidak pernah  diajari makan steak, hah!"


Boy buru-buru berdiri dan menghampiri wanita itu, " Maafkan teman saya, biar saya bersihkan."


Tapi wanita itu sangat marah.


"Tidak bisa di maafkan kau mengotori rambutku, hiat rasakan ini!"

__ADS_1


Perempuan itu melemparkan makanan yang ada di mejanya ke pada Priti. Untuk gadis itu merunduk, hingga mangkok itu melayang mengenai jidat pengunjung lainnya.


"Auuu!"


"Kurang ajar, kenapa kau melemparku, hiat."


Terjadilah saling lempar, hingga petugas keamanan datang.


"Gara-gara gadis itu."


"Tapi aku nggak sengaja!"


"Kau harus bertanggung jawab!"


"Prita lariiii."


Boy menarik Prita keluar dari restoran tersebut. Beberapa petugas keamanan mengejar dan juga pengunjung yang ikut-ikutan melempari Pria dan Boy. Beruntung mereka sempat memasuki mobil dan  meninggalkan restoran itu.


"Aduh hampir saja kita menjadi korban, untung kita berhasil lolos."


"Maafkan  aku, semua gara-gara aku."


"Ha ha ha sudahlah."


Boy tertawa terkekeh kegelian.


"Kenapa kau tertawa? aku sangat ceroboh, kau masih kelaparan kan?"


"Rasa laparku sudah hilang, kau sangat lucu Prita, ha ha ha."


"Apanya yang lucu? aku membuat berantakan."


"Karena ini yang pertama aku dikejar-kejar banyak orang, ha ha ha."


Prita akhirnya ikut tertawa, akhirnya Boy keluar sebentar dari mobil untuk membeli burger.


Keduanya menikmati burger di dalam mobil.


 


 


 


 


 


 


Bersambung


Helllo makasih telah mendukung Pria Idola dengan memberikan like, komen dan vote


Othor sangat berterima kasih.


Oh iya, Othor juga akan menulis cerita baru yang berjudul


"Bos Angkuh Jatuh Cinta pada Mama Muda"


Semoga ceritanya banyak yang membaca dan memberikan like.


Othor sangat berterima kasih


Coming Soon.



 

__ADS_1


 


__ADS_2