Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 230.Pada sebuah Pesta 3


__ADS_3

Malam itu indah. Prita yang jarang ikut ke  pesta sebuah perusahaan tampak menikmati suasana tersebut. Gaun mahalnya membuat nyaman serta rasa percaya diri yang besar. Ia dan Boy berbincang-bincang dengan klien yang hadir malam itu. Mereka berdua bergerak ke sana- ke mari menyapa dan mempersilahkan tamu-tamu menikmati makanan, minuman serta kambing guling yang belakangan baru didatangkan.


"Boy! Boy Indra!"


Tiba-tiba dari kerumunan keramaian muncul seorang gadis cantik dan terlihat memiliki hubungan yang dekat. Sebab gadis itu sangat hesteris menarik tangan Boy, wajah, matanya menyiratkan kegembiraan.


"Boy! heiii apa kabarmu? sudah lama tidak bertemu, aku pikir tahun ini kamu juga tidak datang. Rupanya kamu berubah."


Prita memandangi gadis itu yang terus saja mengatakan kegembiraannya melihat Boy Indra hadir di pesta itu. Hingga ia memandangi Prita yang sedang berpegangan tangan.


"Si-siapa gadis ini? dia menjadi pusat perhatian semua orang."


"Ri, Riri kamu juga datang!"


"Boy! siapa dia? apa hubunganmu dengan dia?"


"Namanya Prita Pujaningrum, dan dia tunanganku!"


"A-APA? TUNANGAN?"


Gadis itu terkejut, dia membesarkan matanya, yang tak kalah terkejut juga Prita, serta merta ia menarik tangannya dari genggaman Boy dan melotot pada Boy Indra.


"Ya begitulah, tidak lama lagi kami akan segera menikah, aku pasti mengundandangmu Ri."


Prita tersedak, ia berusaha batuk untuk melegakan pernapasannya.


"Kau kenapa Prita, ini minumlah."


Boy Indra menyambar minuman yang kebetulan lewat di depan mereka, Prita langsung meneguknya.


"Kau tidak apa-apa sayang?"


Boy Indra penuh perhatian menatap Prita.


"Boy, benarkah yang kamu katakan bahwa dia adalah tunanganmu. Kalau begitu aku ucapkan selamat ya."


"Kuucapkan selamat atas pertunangan kalian."


Beberapa orang yang mengelilingi Boy Indra dan Prita ikut gembira oleh berita itu, dan mereka bergantian menyalami Boy Indra.


"Pak Boy, sudah sepantasnya berumah tangga, agar pak Kesuma segera mendapat cucu."


"Ayo semua! kita bersulang  untuk pak Boy!"

__ADS_1


Tempat itu telah menjadi sebuah lingkaran besar yang di penuhi oleh tamu undangan yang sedang memegang gelas minuman mereka.


"Mari! Untuk pertunangan mereka semoga Bahagia."


Selamat pak boy! mari bersulang!  bersulang!


Prita terbawa arus orang-orang tersebut, ia ikut mengangat gelasnya, bersulang. Dan gadis cantik itu mendekati Prita menyodorkan gelasnya ke depan gelas yang digenggam Prita.


"Kalau begitu kuucapkan selamat untukmu, kau sangat beruntung."


Setelah mengucapkan kata-kata itu, si gadis membalikkan tubuhnya dan bergegas pergi dari tempat itu.


"Boy, aku pergi semoga kalian bahagia."


Ia berlari sembari menahan tangisnya. Prita tiba-tiba menarik tangan Boy dan menyeretnya ke sudut.


"Pak Boy sini aku mau bicara!"


"Silahkan sayang, bicaralah."


"Keterlaluan! cukup sudah, apa maksud semua ini?"


Prita kesal sekali ia menarik kerah baju Boy kuat-kuat.


"Permisi pak Boy he he he kalian ini memang serasi, mesra sekali!"


Sembari tangannya sibuk menghindari tangan Prita. Ia bahkan menutup bibir gadis itu dengan jemarinya dan berbisik, "Jika mau protes atau marah, nanti saja di rumah ok, kumohon."


Akhirnya Prita berusaha mengontrol emosinya. Apa lagi beberapa pengusaha mendatangi mereka dan pamit pulang.


"Pak Boy dan Ibu, kami pamit terlebih dahulu sebab tidak bisa lama-lama. Kami menunggu undangan pernikahannya."


"Siap."


Boy mengantar tamu-tamu yang pamit pulang. Ia melirik sekilas wajah Prita yang cemberut.


"Aku juga mau pulang! tak bisa lama-lama, ibuku sedang sakit ditambah kau membuatku kesal."


"Baiklah, mari kuantar! biar orang kantor yang menyelesaikan pestanya. Orang tuaku juga sudah pulang."


Prita hanya diam, memang yang terpenting sudah dilaksanakan, tinggal lagi menikmati pesta, makanan serta minuman.


Di dalam mobil yang dikenderai sendiri oleh Boy, Prita menghentak keras.

__ADS_1


"Kau merencanakan ini semua? sejak awal aku sudah curia."


"Bagaimana kalau orang-orang di pesta itu semua menganggap dan berpikir pertunangan kita benar?"


Boy bersikap cuek dan santai.


"Begitu lebih bagus kan?"


"Bagus! jadi aku harus ikut berpura-pura gituh?"


"Ya, kalau kau tidak mau berpura-pura, kita bertunangan sungguhan saja, beres kan."


"Apa?"


Rasanya Prita mau pingsan oleh kelakuan Boy Indra.


"Dengar ya pak Boy Indra, kau tidak bisa mengambil keputusan sendiri! jika kau ingin mempermainkan aku sebaiknya kau cari orang lain saja!"


Boy menggerakkan sedikit bahunya kalem.


"Jadi kau tidak terima dengan semua kejadian ini?"


"Tentu saja!"


"Ya sudah lupakan saja! beres."


Prita menelan salivanya. Semudah itu, ya ampun. Akhirnya Prita terdiam seribu bahasa.


Boy membukakan pintu untuk Prita dan dia mengantar gadis itu hingga sampai di rumah.


"Sampai ketemu hari senin ya."


Gadis itu diam saja, ia masih kesal sekali pada Boy Indra.


 


 


 


 


Bersambung

__ADS_1


 


 


__ADS_2