Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode. 79 Malam Pertama Raka Dan Mardo


__ADS_3

Tiada pesta yang tak akan berakhir. Begitu juga pesta pernikahan Raka dan Mardo. Saat senja tamu-tamu mulai menyusut. Petugas- petugas mulai sedikit demi sedikit membenahi perlengkapan pesta. Kedua belah keluarga tengah duduk berkumpul di tempat khusus. Wajah- wajah lelah namun menyiratkan kebahagiaan serta rasa puas terukir di sana.


Ibu Wijaya dan ibu Bramantyo berdua mengobrol dan saling mengucapkan terima kasih pada pesta yang meriah dan sangat sukses. Mereka menghirup kopi manis panas yang dipesan untuk mengembalikan semangat. Mata keduanya saling memandang dan lantas tersenyum. Mereka sekarang adalah dua ibu yang baru saja mengantarkan anak-anak mereka ke pintu gerbang pernikahan. Kedua perempuan cantik itu kini merasa ada ikatan di antara mereka. Ikatan yang disebabkan oleh pernikahan Raka dan Mardo.


Sepuluh menit berikutnya, pesta akan benar-benar usai. Telah ada pasangan lain yang menunggu antrian menggunakan gedung megah tersebut.


Di sebuah sudut para panitia Tim sukses pernikahan Raka dan Mardo tengah berkumpul dengan kebahagiaan dan rasa puas, tidak ada hal yang menganjal di dalam pekerjaan mereka. Tawa serta foto-foto yang sangat banyak telah dibuat. Team kerja dadakkan itu seolah tak ingin berpisah. Hingga akhirnya mereka membuat janji akan saling bantu ketika di antara mereka ada yang menikah.


Sementara di sebuah sudut terlihat Bramantyo dan anak laki-laki bungsunya yakni Richi bercengkrama berdua saja.


"Bagaimana perasaanmu? Apa kau bahagia melihat pernikahan kakakmu Raka dan Mardo?"


"Iya, aku sangat bahagia. Raka adalah kakak kesayanganku sedangkan Mardo teman kesayanganku. Aku harap mereka bahagia selamanya."


"Aamiin yra, lalu kapan kau mengajak


Papi melamar gadis pujaanmu, Papi ingin memiliki cucu dari Raka dan juga dari dirimu."


Richi tertawa, "Aku belum menemukan gadis yang tepat Pi, biar kak Raka dan Mardo dulu."


Mereka berdua tersenyum, "Papi berencana ke Merauke, melihat universitas itu, apa kau mau ikut dengan Papi?"


"Kapan Pi?"


"Minggu depan, Papi bermaksud berdiskusi mengenai susunan kepengurusan universitas tersebut. Papi sih berharap kau yang akan memulai langkah pertama ini, karena ini adalah untukmu."


"Ok, aku siap Pi."


Kembali keduanya tersenyum bahkan kali ini saling menepukkan tangan di udara.


Mardo bersama Sashi, Putri, Emely, Patricia dan Khairani beriringan pergi menuju kamar pengantin mempelai.


Raka dan Mardo memutuskan mengambil fasilitas kamar yang diberikan oleh pihak organizer pernikahan.


Sementara Raka juga sedang bersiap menyusul Mardo ke kamar pengantin mereka. Denny dan Sammy menemani dengan setia.


"Santai saja jangan terburu-buru yang lembut ya."

__ADS_1


Deni menepuk-nepuk pundak Raka sembari tersenyum menggoda dan jahil. "Apa sih ? sudah jangan mengajari aku! pikirkan dirimu sendiri


segeralah menikah dan lakukan sendiri dengan lembut!!!"


Sammy terkekeh geli, hal yang membuat Deni cemberut tak menerima sikap kedua sahabatnya itu.


"Aku hanya berusaha menghilangkan rasa gugup dan canggung seorang pengantin, biasanya pengantin gugup dan takut saat malam pertama mereka."


"Oh rupanya diam-diam kau sudah mempelajari juga, apa itu pengantin dan malam pertama aw aw aw ha ha ha tak kusangka "


"Tentu saja, sebagai seseorang yang pastinya akan menikah ada baiknya mempelajari, memahami dan mencari tahu seluk beluk tentang malam pengantin dan pernikahan, Apa itu sebuah kesalahan?"


Mereka akan terus berdebat seperti biasanya. Untungnya kamar pengantin telah sampai dan Raka berterima kasih serta menyuruh Deni dan Sammy beristirahat. Mereka juga punya jatah menginap dua malam di hotel itu jika mereka mau mempergunakannya.


Mardo membuka pintu kamar dan menyambut Raka dengan senyum


menggantung dibibirnya. teman-temannya baru saja keluar. Dan mereka bilang menginap juga di hotel tersebut. Beberapa keluarga pun menggunakan fasilitas yang telah diberikan. Malam sudah beranjak dan tengah berjalan menuju tengah malam dan kemudian dini hari. Masih begitu panjang malam itu.


Mardo sedang membuka dan melepaskan perlengkapan pengantinnya ketika Raka masuk.


"Hai, apa yang sedang kau lakukan, apa kau sedang menunggu seseorang?"


"Hemmm, teman-temanku baru saja keluar dari kamar ini, aku baru saja menyentuh riasan hijab ini, ingin melepasnya dan membukanya saat kau mengetuk pintu."


Mardo berjalan kembali ke meja rias dan bersiap melepas jarum-jarum pentulnya.


"Biar aku membantumu ok," Raka menutup dan mengunci pintu lalu beranjak kebelakang Mardo. Mereka bertatapan di cermin. Pertama kalinya Raka melakukan pekerjaan kecil itu yakni mencabuti beberapa jarum pentul dari riasan hijab milik Mardo.


"Baiklah aku juga akan membantu melepaskan jas mu nanti." Gumam


gadis itu.


Raka mulai melepas hijab yang dipakai oleh Mardo, hijab itu pun terlepas hingga menampakan rambut panjang sebahu yang terikat ke belakang. Raka menyentuh rambut tersebut dan melepaskan sanggulnya. Keduanya membisu dalam diam meskipun jantung mereka berdetak lebih cepat dari biasanya. Sekarang Raka mulai menyentuh baju bagian belakang.


Raka menarik kancing baju tersebut membuat baju itu mulai terbuka, dan menampakkan pundak putih, halus dan lembut. Raka ingin menyentuhnya tetapi tiba-tiba gadis itu bangun setengah berteriak, "Aku mengambil baju tidur ku dulu dan sebaiknya aku juga mandi,"


Kini keduanya sudah selesai mandi, segar dan harum. Mardo sudah mengenakan baju tidurnya yang cantik dan seksi berwarna pink, Raka juga sudah sudah selesai mandi dan menutup tubuhnya dengan kimono berwarna putih yang lembut.

__ADS_1


Pria itu naik keatas tempat tidur dan d membuat tubuh nyaman. Dia memandang pada Mardo yang sedang menyisir rambutnya di depan kaca rias.


"Hei honey, " panggilnya pada Mardo cepat naik ke sini dong, Raka menepuk-nepuk kasur di sebelahnya agar Mardo cepat datang.


'Aduh bagaimana ini???'


Mardo berusaha melambat lambat kan pekerjaannya. Ia menoleh pada Raka yang tersenyum menunggu dan menatap dengan mata penuh arti.


Akhirnya Mardo meletakkan sisirnya dan berjalan pelan-pelan mendekati tempat tidur. Akhirnya dia naik dan merebahkan tubuhnya di sebelah Raka.


Sesaat keduanya membisu dan tidak tau memulai dari mana. Tetapi Raka dan Mardo sudah sangat menginginkannya.


"Honey, cium aku, cium bibirku," Raka merengek meminta Mardo menciumnya, dan ia menunggu.


Mardo agak keheranan, kenapa bukan Raka yang menciumnya lebih dulu? tapi Mardo Lantas mengangkat tubuhnya nya dan mendekatkan bibirnya pada Raka. Perempuan itu memejamkan matanya dan mencium dengan berdebar. Kumis Raka yang baru tumbuh terasa tajam seperti semak liar.


"Hemmm, ciuman yang indah dari mantan pacarku yang sekarang jadi istriku.Tapi aku ingin ciuman ala Prancis."Raka tersenyum jahil. Mardo yang masih berada di atas tubuh Raka mengerutkan kening, "Apa itu ciuman ala Prancis?"


"Jadi kau belum tau ya? bagaimana kalau kita berdua berlatih berciuman ala Prancis."


Raka meletakkan tangannya pada bahu Mardo, menariknya ke tubuhnya dan memiringkan wajahnya agar bibir keduanya bisa berpagutan dengan pas.


Raka mendorong lidahnya kedalam mulut istrinya menarik lidah milik Mardo dan membelit, Raka merasakan bibir Istrinya gemetar oleh permainan itu.


"Ahhh, " desah Mardo ia merasakan kenikmatan yang aneh membuncah di dalam dirinya. Seperti lupa diri Mardo membalas setiap serangan lembut dari Raka.


Mardo ketagihan pada ciuman Raka yang basah dan hangat, sentuhan tangan berotot , dada yang bidang serta jantungnya yang berpacu di atas dada..


"Ahhh..."


Raka mengulangi banyak ciuman, menyurukkan wajah untuk kembali lagi ke sudut bibir menciuminya, cuping hidung dan beranjak ke tempat lain.


Bagian tubuh Raka mengeras dan kian mengeras. Tangan Raka turun dari rambut dan ujung jari itu menyusuri belahan diantara gunung kembar Mardo hingga ke garis pinggangnya. Raka melepaskan setiap kancing gaun tidur pengantin itu dengan satu jari dan dalam perjalanan kembali ke atas meloloskan gaun tidur Mardo, hingga tubuh yang molek itu tanpa sehelai benang pun


Terima kasih telah membaca dan


mendukung pria Idola

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2