
Mardo terkejut pagi itu, ia mendengar kokok ayam bersahut-sahutan. Membuatnya sadar ia tidak berada
dalam kamarnya di Jakarta. Oh, bukankah ia bersama Khairani di kampung halaman.
"Kak, sudah bangun? nanti setelah sarapan kita ziarah ke kuburan opung, kemudian kita silaturahmi
ke rumah mbou kita ok?"
Khairani menyingkap tirai pintu kamar dan duduk di tepi tempat tidur. Yulia adik Khairani muncul di pintu.
"Aku ikut ya kak, aku sudah lama tak ke kampung Martapotan."
Khairani menolehi adiknya, "Iya, buatkan kami minuman hangat dulu sana."
"Ok kak, siap."
"Si Yulia itu kak, membuntuti kita saja nanti kerjanya."
Khairani menatap kesal pada adik perempuannya, menggeleng-gelengkan kepala.
"Biar saja, kan ramai jadinya, aku mandi dulu ya."
Sembari terpikir kalau ia akan berjalan jauh di belakang. Kemarin sore Khairanai telah mengajaknya mandi
Ia menolak karena pemandian itu berada di lembah. Keadaannya juga hanya tertutupi oleh terpal dan kayu.
Tidak penutup di bagian atas. Benar-benar beratap langit. Tapi ia tidak bilang apa-apa. Karena hampir semua
kamar mandi di kampung seperti itu. Bagi mereka tempat mandi di dekat rumah hanya untuk darurat saja. Karena kampung itu dekat dengan sungai. Kegiatan penduduk, banyak di lakukan di sungai. Mandi, mencuci, dan mencari
ikan, udang, kerang untuk lauk. Sungai itu hidup dua puluh empat jam.
"Kakak mau mandi di sungai? ayo aku temani."
Khairani melihat keraguan yang besar di wajah Mardo."
"Nggak, mandi di lembah itu saja, sambil melihat-lihat pemandangan."
Mardo mengambil handuknya dan keluar, ia melihat rumah sepi hingga ke halaman.
"Kok Sepi, uwa kemana Khai?"
"Pergi belanja dua-duanya kak, mau masak gulai ayam untuk kak Mardo."
"Ich Kenapa repot-repot? biasa saja."
"Mana pula repot itu kak, senang kami masak-masak."
"O, Khai sudah bangun kakak Mardomu? ajak sarapan."
Suara Nenek Khairana dari dapur. Mereka beranjak ke dapur dan bercengkrama sebentar.
"Aduh, Nenek lagi apa di dapur? jangan repot Nek,"
Nenek yang masih cekatan dan gagah kelihatan mengipas-ngipas tungku.
"Udah Mardo, ini masak nasi. Sarapan nasi goreng sudah di meja"
Lalu Nenek terkenang pada Mardo kecil, mami suka menitipkan Mardo pada Nenek ketika
pulang dari Taman kanak-kanak. Mami biasanya belanja atau mengurus bisnis kecil-kecilan
dengan temannya.
__ADS_1
Pernah Mardo kecil demam, nenek yang mengompres dan menunggui hingga Mami datang.
Mardo mengigau, ular! ular di dinding! ular ada di dinding!
Nenek kaget, terus mencari ular itu, tapi nggak ada.
Ternyata hanya bayangan Mardo saja karena ia demamnya panas.
Sayangnya Mardo tak ingat sama sekali. Mereka tertawa di dapur yang penuh perabotan masak.
Lantas Mardo turun ke lembah, Khairani menemaninya. Rumah itu memiliki halaman yang luas.
Hingga ke belakang dan lembah di bawah. Sudah berpagar mengelilingi rumah tersebut. Tapi pagar dari bambu panjang yang diikat-ikat kemudian ditanami pohon-pohon singkong yang kesemuanya sudah meninggi. Pertanda
pagar itu dibuat sudah lama sekali. Rimbun mengelilingi rumah.
Mardo melihat kamar mandi itu. Ada dua bambu yang memancur ke kamar mandi. Airnya menurut Khairani
berasal dari pegunungan di belakang. Langsung dari mata air pegunungan. Ada beberapa ember untuk
menampung air. Jika sumbatan pada bambu di tarik maka air akan keluar tercurah.
Khairani mengajari Mardo mandi di pancuran. Ia juga memberi Mardo kain putih yang disebut
basahan. Kata Khairani Buka semua bajunya dan lilitkan basahan itu ditubuh, buka sumbat pancurannya.
Ada bangku kecil kalau mau mandi sambil duduk. Mardo melakukan dengan susah payah.
Ketika air pancuran mengenai tubuhnya, ia terpekik kecil karena sangat dingin dan segar.
Mardo seketika menyukai mandi di pancuran. Meski ia was-was.
Setelah selesai sarapan dan berkemas, Khairani pamit pergi ziarah. Paman Holil yakni ayah Khairani
Mardo memandangi suasana kota kecil itu. Ia merasakan keakraban dan kehangatan. Tapi mereka langsung
keluar menuju jalan raya ke arah kampung tujuan mereka.
Sepanjang jalan, banyak rumah makan, warung kopi, penjual es kelapa, bengkel, dan banyak usaha lain.
Yang unik hampir semua tempat tumbuh pohon kelapa. Sehingga jika melihat dari kejauhan akan tampak
hanya pohon kelapa saja.
Bang Riza menghentikan mobil di tepi jalan. Mereka menaiki sebuah bukit. Area pekuburan di atas
perbukitan. Mereka menabur bunga dan membaca yasin. Sedikit kilasan tentang sosok kakek dan
nenek.
Nenek seorang perempuan yang hebat, mengelola banyak kebun sendirian. Namun ia suka memasak kue dan mencoba resep baru. Saat sore-sore sehabis mandi telah tersedia kue lemang hangat-hangat.
Nenek memanggilnya duduk bersama-sama di tikar, mengambilkan lemang di piring kecil dan sendok.
Nikmat sekali senja bersama nenek dan kakek. Mereka bertiga menikmati lemang buatan nenek.
Kakek dan nenenk dengan kopi mereka, sedang aku dibuatkan teh manis. Kenangan yang melekat
hingga kini.
"Yuk Kak, kita ke rumah Uwa," Khairani mengajak melanjutkan perjalanan, tidak terlalu jauh.
Mereka berjalan kaki, sedangkan bang Riza di suruh pulang, sore barulah mereka di jemput.
__ADS_1
Khai bilang, Uwa yang mereka akan datangi adalah anak opung yang paling tua. Kemudian ada satu lagi
di sebuah kampung. Kemudian Papi Mardo, dan Ayah Khairani. Ada Tujuh bersaudara. Dua
sudah meninggal.
Rumah di bawah keteduhan pohon-pohon itu tertutup. Khairani mengetuk-ngetuk dan mengucapkan
salam.
"Waalikumsalam, siapa kalian?"
Justru dari seberang jalan berlari-lari kecil beberapa orang gadis-gadis.
"Kak Kana, Kak Mirah, kak Tati, kalian sedang kumpul ya di sini."
"Khairani!"
Gadis-gadis yang ternyata sepupuan semuanya berpelukkan. Kemudian mereka menatap
Mardo penuh tanda tanya?
"Siapa gadis cantik ini Khai?"
"Ih kalian lupa ya? dia adalah kak Mardo anak tulang kita."
Hah! Mardo, mereka semua memeluki dan menciumi Mardo karena kangen.
"Ya Rabb, sudah besar dan cantik Mardo, lupa dia sama kakaknya, Mardo kakak loh dulu
yang menggendong-ngendongmu setiap hari."
Mardo tercekat, ternyata mereka semua memiliki kenangan tentang Mardo kecil.
Sepupunya semua mengatakan saat kecil ia lucu, baik hati namun sangat cengeng, penakut dan pemalu.
Dan sepupu-sepupunya menjaganya jika orang tuanya bekerja.
"Aku nggak ingat satu pun," Mardo meminta maaf.
"Iya lah, mana ingat Mardo, waktu pergi masih kecil. Umur tiga atau empat tahun?"
Kakak sepupunya saling bicara tentang dirinya. Dan ia hanya mendengarkan.
Tiba-tiba mereka semua mempunyai ide untuk menikmati makan siang di sungai, biar tau
Mardo apa itu sungai dan menikmati makanan di sana. Kata sepupunya. Jadilah mereka
bergotong royong memasak. Ada yang pergi mencuci beras. Ada yang memetik daun
singkong. cabe, tomat, bahkan mengambil kelapa. Semua tersedia di sekeliling rumah.
Juga terdengar bunyi keok-keok ayam yang disembelih di dekat kandang.
Bersambung
__ADS_1