
Suasana syahdu serta romantis, Rakasiwi mengucapkan bismillahirohmanirrohim lalu menatap pada Prita yang cantik sekali malam itu. Dia wajahnya tersipu. Mungkin pipinya memerah. Namun karena suasana malam tidak kelihatan. Ia tersenyum menatap pada Prita. Sementara gads itu melihat sikap Rakasiwi yang berubah. Sedikit sibuk merogoh-rogoh kantongnya. Prita menundukkan wajahnya. Ia sedikit berdebar menunggu apa yang dilakukan Rakasiwi sebentar lagi. Apakah pria muda nan tampan ini akan melamarnya malam ini? Prita kian salah tingkah.
Rakasiwi merasakan jemarinya menyentuh kotak kecil di saku bajunya. Ia meremas dengan lembut lantas mengangkat ke atas. Sebuah kotak perhiasan yang mungil dan cantik.
"Prita lihat."
Rakasiwi setengah berbisik menyebut nama gadis itu. Prita mengangkat wajahnya tergugah oleh perbuatan Rakasiwi. Ia melihat kotak perhiasan berwarna merah yang mungil. Mata Prita menyiratkan pertanyaan, apakah malam ini Rakasiwi akan meminangnya?
"Ini hadiah untuk empat tahun hubungan kita yang manis, kau telah membuat hari-hariku diliputi kegembiraan juga kebahagiaan."
"Aku sudah lama ingin memberikanmu hadiah, tapi baru sekarang tersampaikan, semoga kau senang menerimannya."
Rakasiwi bersosok tenang dan serius, ia hanya sesekali bercanda jika temannya seorang yang homoris. Selebihnya pria muda ini lebih banyak diam, atau mengerjakan sesuatu di laptopnya. Jadi meski pun Prita dan Rakasiwi sudah saling mengenal selama kurang lebih empat tahun. Tetapi hubungan mereka sangat terjaga. Baik Prita dan Rakasiwi tak berani seperti pasangan lain yang mungkin sudah memiliki ciuman pertama dan kesekian. Paling Rakasiwi berani mencium kening atau tangan gadis itu. Itu pun saat ia tergesa-gesa pergi sebab keretanya akan berangkat.
Prita melihat kotak dalam genggaman pria di depannya. Rakasiwi membuka kotak itu dan mendekatkannya pada Prita. Ia semakin mengikatkan dirinya dengan gadis yang menjadi cinta pertamanya itu. Rakasiwi menarik jemari Prita agar mendekat. Pria muda itu lantas memakaikan cincin cantik di jari manis Prita. Keduanya saling berpandangan dan tersenyum tersipu.
"Aku memesan cincin ini di sebuah toko Emas serta mutiara di Yogya. Aku melihat modelnya yang mungil dan tentunya cantik di jarimu."
Rakasiwi mendorong cincin emas bermata mutiara tersebut sehingga masuk pas di jari manis Prita.
"Pas, dikhususkan untuk seorang gadis yang istimewa."
Rakasiwi merunduk dan mencium tangan Prita yang sudah mengenakan cincin pemberiannya. Gadis itu berdebar dan gemetar oleh perlakuan kekasihnya.
"Terima kasih calmanku, cantik sekali aku suka."
Suara Prita terdengar gemetar dan gugup. Baru sekali ini ia mendapatkan perlakuan manis serta romantis dari seorang pria. Apa lagi pria itu adalah Rakasiwi kekasihnya, seorang putra pengusaha yang sukses dan berasal dari keluarga terpandang.
"Sama-sama puspita hatiku, semoga pada tahun ke lima kita sudah menjadi pasangan suami-istri."
"Aamiin." Keduanya mengaminkan kata-kata itu.
"Setelah wisuda, aku akan pulang dan melamarmu, ok? kamu mau kan Prita Pujaningrum?"
"Tentu, karena aku mencintaimu."
Sahut Prita sangat pelan, sebab perasaannya yang bergejolak begitu besar.
__ADS_1
"Terima kasih, hadiah empat tahun dan juga perlambang cintaku."
Rakasiwi memandang sebentuk cincin emas bermata mutiara yang masih berada di genggamnannya. ia menarik Cantik sekali cincin tersebut. Seperti memang diciptakan untuk jari Prita. Melekat pas dan terlihat indah.
"Oh, cantiknya. dan pas banget di jariku."
"Alhamdulillah, aku tau cincin itu berjodoh dengan jarimu, saat aku melihatnya pertama kali, ada namamu terlukis di sana, Prita Pujaningrum."
"Masa sih, tapi nggak ada terpahat namaku."
"Begitu aku membelinya, namamu memupus."
"Ah bisa saja, tapi terima kasih atas hadiah indah ini."
"Sama-sama, oh iya saat aku wisuda aku ingin kamu hadir, bisa kan."
"Insya Allah, aku usahakan datang."
"Kemudian kita akan membicaralan acara lamarannya."
Mereka berbincang sambil menikmati hidangan istimewa yang enak dan memiliki rasa unik. Rakasiwi beberapa kali menaro lagi makanan di piring Prita. Membuat gadis itu menjerit kecil.
"Nggak lah, nambah berat dua dan tiga kilo lagi nggak masalah kok."
"Em, nggak mau ah, kamu aja."
Mereka berdua saling meletakkan makanan di piring. Prita menaro di piring Rakasiwi dan sebaliknya. Hingga akhirnya keduanya tertawa kegelian.
Mata keduanya bersitatap, mendesirkan perasaan yang sukar diungkapkan. Hingga saat mereka menyadari hari kian malam, dan agaknya tamu-tamu sudah berkemas pulang. Rakasiwi meraih lengan kekasihnya dan mengajaknya pulang. Mereka bahagia dan gembira sekali malam itu.
Setelah turun dari restoran, Rakasiwi masih sempat mengajak Prita berjalan-jalan sesaat menikmati malam yang indah itu. Bintang-bintang dan bulan bersinar dengan kehangatanya yang membelai. Malam itu banyak pasangan-pasangan yang memadu kasih dan juga janji.
Rasanya engan pulang. Terus berduaan berkasih-kasihan. Tapi Rakasiwi dan Prita telah dididik untuk menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah. Jadi keduanya memutuskan pulang. Rakasiwi sempat berpegangan tangan dengan Prita. Hal yang sangat membahagiakan.
Pagi hari, keduanya bertemu lagi. Prita mengantar Rakaksiwi ke stasiun. Kebetulan Mardo, Raka, Tria dan sibungsu biasa berjalan-jalan menghirup udara pagi. Jadi mereka semua sekalian mengantar Rakasiwi. Prita ikut diantara keluarga yang bahagia itu.
Rakasiwi berat sekali melangkahkan kakinya meninggalkan kekasih dan keluarganya. Tetapi ayah menyemangatinya.
__ADS_1
"Semangat, tak lama lagi ayah, bunda, adik-adikmu dan Prita menjemputmu pulang, bersabar ya Nak."
Rakasiwi memeluk ayahnya. Tubuh mereka sudah sama tingginya, bahka lebih tinggi Rakasiwi sedikit.
Bunda juga memeluk erat, menciumi pipi kiri dan kanan putranya. Memeluk erat adik-adiknya dan terakhir ia menggenggam tangan Prita, "Aku berangkat ya, jaga dirimu baik-baik."
Prita hampir menangis. Rasanya ia ingin memeluk Rakasiwi, tak ingin berpisah. Tapi ia menguatkan dirinya. Tak lama lagi Rakasiwi akan kembali ke Jakarta dan keduanya bisa selalu bersama.
"Hati-hati di jalan, terima kasih pada semuanya yang menyenangkanku dan membuat bahagia."
Prita berbisik di telinga Rakasiwi.
Lalu pria muda itu berlari-lari kecil sebab kereta segera akan berangkat. Keluarganya menyemangatinya. Setelah itu Prita ikut bersama Mardo dan keluarganya pulang. Sebelumnya Mardo dan anak-anak mampir ke swalayan untuk berbelanja. Mardo menyuruh Prita berbelanja juga untuk di rumah. Meski bingung tetapi akhirnya ia ikutan membeli apa yang dibeli oleh Mardo.
Setelah troly penuh oleh barang belanjaan, Mardo membayar semuanya juga belanjaan milik Prita. Gadis itu mengucapkan terima kasih, ia turun di gang biasa. Prita menatapi mobil yang dikenderai oleh Raka hingga jauh dan menghilang di belokkan.
Ah, betapa menyenangkan kehidupanku, terima kasih ya Rabb atas semuanya.
Prita tersenyum melangkah pulang. Ia akan memasak bersama mama Rita, makan siang dan selanjutnya istirahat. Besok ia harus menghadapi pekerjaan di kantor.
Bersambung
__ADS_1