
Prita dan Mardo mengobrol sembari menghabiskan minuman mereka. Gadis itu lantas menjelaskan tentang kejadian di pesta. Bahwa dirinya sekedar menemani. Sebab pesta tersebut adalah ulang tahun perusahaan. Ditengah berlangsungnya pesta, ada seorang gadis yang tiba-tiba menghampiri dia dan bosnya. Ketika gadis itu bertanya siapa Prita, dijawab tunangannya. Kebetulan banyak yang mendengarnya sehingga menjadi berita yang sensasional.
Setelah acara itu Prita dan bosnya bertengkar.
"Itu yang terjadi bunda. Pak Boy spontan menjawab seperti itu untuk membalas perasaan sakit hatinya terhadap gadis yang telah meninggalkannya."
"Oh, begitu ya."
Prita mengangguk memberikan keyakinan pada Mardo bahwa itulah yang sebenarnya terjadi.
"Baiklah nanti bunda akan beritahu Rakasiwi tentang cerita yang sesungguhnya."
"Terima kasih Bunda."
Mereka masih berbincang-bincang saat di dalam mobil. Prita bilang ia harus kembali ke kantor. Begitu juga Mardo ia tak bisa berlama-lama di kantornya. Sebab Rama si bungsu masih ketergantungan sekali dengan dirinya. Perempuan itu merasa lega bahwa Prita masihlah gadis yang baik dan tetap mencintai Rakasiwi.
"Jadi Prita mau menunggu hingga Rakasiwi bisa mengerti?"
Mardo menatap mata Prita. Berbalas dengan saling pandang .
"Iya Bunda, Prita tetap menunggu."
Kemudian keduanya berangkulan dan mencium pipi. Barulah berpisah.
Sementara di kantornya Pak Boy melihat pintu ruangan Prita masih tertutup. Ia menduga Prita pergi makan siang dengan teman-temannya. Segera ia masuk ke ruangannya dan melihat berkas di atas meja. Ia memeriksa semuanya kemudian meletakkannya kembali. Pikirannya tak bisa bekerja. Ia ingat pada Riri yang bersikap aneh padanya.
Tidak mungkin ia bersama gadis itu lagi. Setelah rasa sakit hati yang ia alami bertahun-tahun. Prita yang membuatnya bisa beralih dari gadis itu. Teringat lagi ulah Prita yang mendahuluinya dengan motor besar. Sebenarnya ia tak terlalu perduli hingga ia bersebelahan di lampu merah. Ia melirik dan melihat bayangan seorang gadis cantik dibalik jaket dan helm yang menutupi kepalanya. Setelah di lampu merah itu ternyata tujuan mereka sama yakni sebuah mall.
Ia mengikuti gadis itu. Ia sendiri merasa heran dengan dirinya sendiri. Selama ini ia mengabaikan gadis-gadis dan tak pernah perduli. Lantas kenapa gadis yang satu itu mengalihkan dunianya? Yang lebih membuatnya terkejut adalah ia melihat gadis itu di kantornya pada hari yang sama ia masuk kerja.
Prita Pujanigrum, dia gadis yang sangat berbeda. Halus, lembut tetapi dia naik motor besar. Pendiam tetapi bisa sangat cerewet. Penurut tapi tak bisa dikendalikan. Boy menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Menggigit-gigit bibir bawahnya. Tiba-tiba melintas sosok pria yang menurut Pria adalah tunangannya. Ia tadi bertemu pria itu.
Dia bilang, cafe itu adalah miliknya. Boy merasa penasaran.
Buk!
Boy mendengar pintu yang terbuka dan tertutup. Ia berdiri dan bergegas keluar. Agaknya gadis yang sedang ia pikirkan sudah pulang. boy beranjak dan mengetuk pintu.
Prita membuka pintu, dan melihat wajah boy di hadapannya. Gadis itu membiarkan pintu terbuka dan meninggalkan di depan pintu.
"Saya sudah menaro hasil meeting di meja pak Boy."
Kata Prita sembari duduk di depan komputernya.
"Iya, aku sudah lihat, dan aku senang berjalan dengan lancar."
"Dasar tak bertanggung jawab, pergi saat meeting berlangsung."
Prita mengomel, meski tak jelas tetapi Boy mendengarnya. Dan ia melebarkan bibirnya.
"Bos, bisa berbuat apa saja, keberatan?"
__ADS_1
"Tidak, kenapa mesti keberatan."
"Itu tadi merepet, seperti nenek-nenek."
"Apa? seperti nenek-nenek? enak saja!"
Mereka saling meledek satu sama lain. Keduanya menyukai kebiasaan itu. Prita merasa ia menjadi lebih terbuka terhadap unek-unek yang memenuhi hati.
"Seperti! ngerti kan seperti!"
Prita mencebirkan bibirnya, lantas diam.
"Habis pulang kantor aku traktir minum yuk."
Semula Prita ingin menolak, tetapi ia mengingat uang yang telah pak Boy keluarkan untuk operasi mama Risa.
"Boleh, tapi jangan tempat yang dulu ya. Cafe yang biasa saja lah."
"Lagian siapa yang mengajak kamu dinner, aku cuman ngajak minum aja kok."
Kembali Prita cemberut, karena ia salah lagi.
"Iya, baiklah. Sekarang kamu keluar sana kembali ke ruanganmu dan bekerja."
Prita membesarkan matanya. Boy menggeleng-gelengkan kepala.
"Memang ada ya wakil direktur ngatur-ngatur direkturnya?"
Huh! Boy mendengus, lantas membalikkan tubuhnya meninggalkan Prita.
Prita menghembusakan napasnya ia menatap langit-langit kantor.
'Ya Rabb, kenapa aku menyukai pak Boy. Namun rasa sukaku padanya berbeda dengan yang kurasakan terhadap
Rakasiwi. Rasa sukaku ini adalah rasa seperti pada kakak lelakiku. Atau pada sahabat.'
Prita melebarkan bibirnya.
'Pria tampan yang baik hati itu adalah sahabatku, yang ada hanyalah persahabatan.'
Gadis itu sangat bahagia dan gembira. Ia seperti diberikan ide untuk menyelesaikan permasalahannya. Ia kemudian tenggelam dalam pekerjaannya. Hingga tiba waktu pulang, terjadi masalah lagi sebab Boy ingin Prita ikut di mobilnya. Prita bilang ia membawa motornya di parkiran.
"Biar pak satpam yang mengurus, lagian cantik-cantik dan lembut kenderaannya moge. Bagaimana kalau kamu pakai saja mobil yang nganggur di rumah.?"
Prita tercekat, mudah sekali Boy mengatakannya, seolah-olah mobil itu sebuah pulpen saja.
"Iya, benar. Meski tak baru tapi mobil itu jarang dipakai, kau mau?"
Tik tik.
Begitu saja air mata menetes di pipi Prita. Bukan oleh sebab pemberian mobil itu. Melainkan perhatian yang Boy berikan. Beberapa hari ini Prita memikirkan bahwa sekarang ia bukan lagi gadis remaja. Melainkan gadis dewasa. Kurang pantas rasanya ia mengenderai motor besar. Tubuhnya telah berubah dalam beberapa tahun begitu juga jiwanya. Bukan lagi gadis remaja dengan jiwa petualangan.
__ADS_1
Dan ternyata Boy yang memperhatikan hal tersebut. Membuatnya terharu dan meneteskan air mata. Boy melihatnya.
"Kenapa menangis? aku menawarimu wakil direktur..."
Tiba-tiba Boy terdiam. Ia menepuk kepalanya.
"Ya ampun! kau adalah wakil direktur, sudah semestinya memiliki sebuah mobil! oh aku melupakan hal tersebut."
"Baiklah besok, kita bicarakan dengan pak Emir, jangan menangis lagi."
Prita tiba-tiba memukul punggung Boy.
"Aku menangis bukan karena mobil tau!"
"Lalu kenapa?"
"Nggak tau ah!"
Prita meninggalkan laki-laki tersebut menuju ke tempat parkiran. Boy juga segera mencelat, saat Prita hendak menyebrang mengambil mogenya. Mobil Boy mencegatnya.
"Masuk! aku sudah bilang pada pak satpam untuk mengantarkan motor besarmu ke rumah, mana kuncinya."
Prita merogoh tasnya dan mengambil kunci motor gede, bersamaan seorang satpam berlari-lari ke arah mereka.
"Urus ya!"
"Siap Bos."
"Sudah tenangkan? semua aman terkendali."
Boy tersenyum memperlihatkan betapa ia seseorang yang bisa diandalkan. Laki-laki itu menolehi Prita yang menghenyakkan tubuhnya di bangku sebrang. Prita lantas mengacungkan jempolnya.
'Kamu hebat pak Boy, sangat tanggap.'
Drung!
"Aw aw!"
Prita terjengkang, Boy terbahak-bahak.
"Ha ha ha, makanya pakai seat bellnya"
"Dasar!"
Prita hanya bisa membesarkan matanya sembari memasang tali pengaman.
__ADS_1
Bersambung