Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 241. Kebencian Pada Mantan


__ADS_3

Prita mengucapkan rasa syukur yang amat sangat.  Ia sangat beruntung. Memiliki penghasilan besar dan sekarang mendapat kenderaan. Hari sabtu ia berencana memasak lebih banyak untuk berbagi dengan anak-anak yatim piatu di lingkungan rumah. Sebagai rasa syukur sebab telah dilimpahkan banyak sekali rejeki. Gadis itu ketika memulai bekerja berdoa setiap usai sholat. Mohon perlindungan, penjagaan serta permintaan agar juga diberikan rejeki yang berlimpah serta berkah. Untuk semua yang ia dapatkan ia berjanji dalam hatinya menjadikan Allah Swt sebagai rekanannya, ia akan memberikan Allah Swt sebesar sepuluh persen dari penghasilannya. Dan Prita sudah melaksanakannya sejak ia mendapatkan gaji pertamannya. Begitu ia memberikan hak penjaganya yakni Allah Swt, tiba-tiba keajaiban terjadi, ia diangkat menjadi wakil direktur, Subhanallah.


Senyum terukir di bibir indah Prita. Yang ia tunggu dan harapkan telah datang. Ia dan Boy kembali ke kantor.  Tiba-tiba terdengar suara seorang gadis memanggil Boy. Ternyata Riri, dia berlari kecil mengejar Boy yang mempercepat langkahnya.


"Boy! Tunggu!"


Merah padam wajah Boy. Ia jengkel sekali pada gadis itu. Mau apa lagi?  semua telah berubah diantara mereka. Tetapi entah kenapa Riri masih saja mengejarnya. Prita menolehi Riri di belakang mereka. Boy menarik tangannya hingga hampir saja ia terjengkang oleh tarikkan Boy yang tiba-tiba dan kencang.


"Auuu! pak Boy kau hampir membuatku terjerembab!"


Prita menarik tangannya dari genggaman Boy, ia menatap wajah laki-laki itu yang membara. Riri telah mendapati mereka di depan lift.


"Boy! aku memanggil-manggilmu kenapa kau mengabaikanku?"


Laki -laki itu hanya diam saja. Pintu lift terbuka Ia melangkah kedalam, Prita dan Riri ikut masuk. Ketiganya membisu. Boy berdiri sembari menunduk dan memasukkan jemarinya ke saku. Tak lama lift telah terbuka di lantai tujuh ruang perkantoran direktur.


Boy melangkah dengan kaki-kakinya yang panjang hingga meninggalkan Prita dan Riri. Prita akhirnya sampai ke ruangannya. Sementara ia melihat Riri memasuki ruangan direktur.


"Boy, aku hanya ingin mengucapkan terima kasihku karena kau telah menolongku."


Kata Riri dihadapan Boy yang telah duduk di kursinya. Kedekatan mereka sejak kecil hingga akhirnya menjadi sepasang kekasih membuat Riri tak sungkan.


"Apakah kau bisa pergi keluar bersamaku Boy."


Wajah yang membeku sejak di bawah tadi mendongak menatap tajam pada Riri.


"Keluar bersamamu? tidak bisa! aku banyak pekerjaan! aku sibuk."


"Kalau begitu kita buat janji, kapan kau bisa pergi denganku?"


Boy menatap gadis cantik di depannya. Merasa  sangat  dongkol.


"Kau ini kenapa Riri? apa kau lupa bahwa kau sudah menikah. Apa kau pikir aku masih mau menerima gadis yang telah menikah sepertimu, apa kau juga lupa? aku sudah bertunangan dengan Prita. Kedatanganmu ke sini menggangguku dan Prita. Tunanganku bisa berpikir yang tidak-tidak! pergilah! ajak suamimu pergi bersamamu. Kenapa kau justru mengajakku?"


Dengan berang Boy melontarkan kata-kata keras untuk membuat Riri pergi. Matanya menatap gadis itu dengan berapi-api.


"Tetapi aku hanya ingin bicara denganmu Boy, kenapa kau sangat marah?"


"Tentu saja! kau tidak ingat kesalahanmu. Sekarang berusaha kembali kepadaku? apa kau gila?"


Boy sudah benar-benar marah. Suara terdengar gemetar.


"Aku hanya ingin  bicara  yang penting denganmu."


Gadis itu mendekat ke bangku Boy berdiri dengan wajah memelas.

__ADS_1


"Ri! dengar aku sudah bertunangan dengan Prita, kau mesti mengingat itu."


Boy  memencet  sesuatu, "Prita tolong kesini sebentar."


Laki-laki itu memanggil Prita. Agaknya ia tak bisa mengatasi Riri yang menganggu sepagi ini.


Prita muncul di pintu menatap pada Riri yang berdiri tak jauh dari Boy.


"Bawa dia pergi keluar Prita! dia tak juga mengerti kalau aku sibuk."


"Mari, ikut denganku."


Akhirnya Riri mengikuti Prita berjalan menuju lift untuk turun.


"Prita, apakah kau mau pergi denganku sebentar?"


Riri menolehi Prita. Pandangan keduanya  bertemu, mata Riri sarat kesedihan. Prita berpikir, mungkin ia bisa menyelesaikan permasalahan gadis ini.


"Baiklah, jika hanya sebentar karena aku dan Boy banyak pekerjaan."


"Iya hanya sebentar, kita cari tempat minum di dekat kantor saja."


Prita menyanggupi, ia berpikir sebenarnya apa yang terjadi dengan Riri dan Boy? kenapa Boy sangat marah sedangkan Riri sedih dan menderita. Pertanyaan besar dalam diri Prita hingga ia setuju menemani gadis itu mencari tempat yang tenang. Akhirnya mereka sampai di sebuah tempat dekat kantor. Taman mengelilingi tempat itu serta wangi masakkan yang sedap. Baru saja mereka duduk saat pelayan restoran mendatangi mereka menanyakan makanan atau minuman yang ingin di pesan. Keduanya hanya memesan minuman.


Riri bergumam sembari membuang pandangannya ke taman bunga yang terkena sinar mentari. Prita menolehi dan mendengarkan gumaman gadis itu.


"Boy yang sekarang sangat berbeda. Dulu dia tak pernah memarahiku, dia baik sekali padaku."


"Boy sebenarnya sangat sayang padaku, tapi kini telah berbeda, mungkin karena dia telah memilikimu. Aku dan Boy telah berjanji akan menikah seandainya kejadian buruk itu tidak terjadi. Ini cobaan yang berat untukku. Boy sudah memperlihatkan kesungguhannya padaku dan keluarga. Ia telah berjuang mempertahankan cinta kami, tapi a-aku yang tak mampu..."


Mata gadis itu berkaca-kaca. Agaknya ia mengenang kehancuran cinta yang ia alami.


"Prita, kau jangan lakukan apa yang telah kuperbuat. Jangan sampai kau menyakiti hati orang yang kau cintai dan mencintaimu. kau akan menyesal seperti aku sekarang."


"Iya Ri, terima kasih. Sebenarnya apa yang terjadi sehingga kau dan Boy berpisah."


"Orang tuaku memiliki masalah dengan orang tua Boy, perselisihan bisnis sejak lama. Sejak keduanya memulai bisnis di bidang yang sama. Saat tahu aku berhubungan dengan musuh bebuyutan ayah, serta merta ia melarangku bertemu dengan Boy. Orang tuaku menjodohkan aku dengan laki-laki lain. Boy sudah meyakinkan orang tuaku bahwa ia tidak ada hubungannya dengan permusuhan itu. Tetapi orang tuaku bersikeras menikahkan aku dengan paksa."


"Saat pesta pesta pernikahanku di gelar, kudengar Boy pergi ke luar negeri. Sejak itu aku tak pernah lagi bertemu dengannya."


Riri terdiam sejenak. Sementara Prita menghirup minumannya.


"Tetapi satu hal yang ingin kukatakan pada Boy."


Riri menatap ragu pada Prita.

__ADS_1


"Ada apa? apakah aku boleh mengetahuinya?"


Riri tiba-tiba menarik tangan Prita kedekatnya, mau tak mau mereka menjadi sangat dekat.


"A-aku memang menikah, tapi suamiku tak pernah menyentuhku."


"Oh! benarkah?"


"I-iya. Dia sakit tak bisa menjalankan kewajibannya, se-setahun yang lalu aku sudah menggugat bercerai darinya."


"Oh, jadi ka-kalian bercerai."


"Iya, aku ingin sekali mengatakannya pada Boy, tapi ia tak mengijinkan aku bicara."


"Tolong aku Prita!"


"Kau ingin kembali dengan Boy?"


Prita memandang penuh selidik. Gadis itu menyurutkan tubuhnya ke belakang. Ia tak bisa menjawab pertanyaan itu.


"Baiklah, aku janji akan menceritakkannya pada Boy, sebaiknya kau menenangkan dirimu."


"Terima kasih Prita, setelah Boy mendengarkan dan mengetahui hal yang sebenarnya, terserah pada Boy akan bagaimana nanti sikapnya, aku lega telah menceritakan ini."


Prita menatap jam tangannya. Sebentar lagi mereka ada meeting. Akhinrya Prita mengakhiri pembicaraan itu dan mendahului Riri pergi dari tempat itu.


"Prita sampai ketemu lagi ya."


Riri melambaikan tangannya.


'Hem, ternyata gadis cantik dan kaya pun memiliki kisah yang menyedihkan.'


 


 


 


 


 


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2