Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 96 Selamat Datang Rakasiwi Bramantyo


__ADS_3

Keharuan menyeruak diantara Raka dan Mardo. Keduanya saling berpegangan tangan dengan bayi kecil diantara mereka. Makhluk ajaib mungil yang menendang-nendang dengan keras, ohe ohe ohe. Tangisnya keras sekali sampai dokter dan para perawat tersenyum senang dan saling menatap.


"Anak jenius, tangisnya aja udah beda."


Dokter menyelesaikan pekerjaannya, lantas menatap ada Raka. Lalu mengulurkan tangannya dan mengucapkan, "Selamat sekarang anda sudah menjadi seorang ayah, selamat sekarang anda sudah menjadi seorang ibu semoga anak kalian berdua menjadi anak yang sehat dan anak yang sholeh aamiin."


Dokter tampan itu lalu pamit dan menyerahkan perawatan selanjutnya diurus oleh suster, Raka tak puas puasnya memandangi wajah bayi mungil itu. Kemudian mendekatkan bayi mungil itu untuk sama-sama mereka kecup selanjutnya, suster mengambil bayi yang menangis kencang itu dan segera mengurusnya.


Raka menggenggam jemari Mardo, memeluk dan mengecup kening, pipi, dan hidung istrinya, penuh kecintaan.


"Terima kasih sayang kau sudah memberikan aku seorang putra, Kau telah menjadikan aku seorang ayah. Cepat sehat ya sayangku."


Yang tak kalah bahagia dan gembira adalah Papi Bramantyo dan dan Mami begitu juga dengan Papi Wijaya dan mami, Ho ho ho mereka sekarang sudah menjadi kakek dan nenek. Kedua pasangan itu tidak henti-henti menengok bayi mungil imut yang menggemaskan.


Beberapa jam berikutnya Richi dari Merauke vidiocall, dia mengucapkan selamat atas kelahiran ponakannya, tak sabar untuk menggendongnya,


"Enaknya aku dipanggil apa yaa? Om, uncle, pak De, atau apa?"


Terlihat Richi yang sedang duduk di meja Rektor, menggaruk-garuk kepalanya."


"Rich, kayaknya panggil cocoknya uwa deh ha ha ha uwa Richi."


"Jangan uwa, uncle aja, uncle Richi ya, aduh dah jadi uncle aja nih."


Tak lama Mangara juga meminta vidiocall, ia sedang bertugas di luar kota.


"Selamat ya Raka dan Mardo, mana si ponakan kecil, yuhuuuuuu...Om dan tante Silvi mengucapkan selamat datang, semoga menjadi anak yang sholeh, tunggu om dan tante di Jakarta yaa"


Hampir setiap menit semua handai dan tolan mengucapkan selamat atas kelahiran putra pertama, semoga menjadi anak yang sholeh dan berguna bagi nusa dan bangsa.


Kakek dan nenek berebut membawa cucu mereka ke rumah masing-masing, "Opa dan Oma sudah siapkan kamar untuk cucu kami loh, tinggal di rumah Opa-oma dulu ya."


"Rumah Opa Bram juga udah siap ya Oma! udah deh pulangnya nanti Oma yang pangku ya."


Raka dan Mardo yang bingung, Papi dan Mami Wijawa sangat berharap anak menantu dan cucunya sementara tinggal bersama mereka, alasannya selama mengandung Raka dan Mardo sudah tinggal di kediaman keluarga Bramantyo.


"Jadi kita pulang kemana?"


Tiba-tiba dalam keadaan genting begitu, bayi Rakasiwi bergerak dan tangannya bergerak keatas lalu turun menunjuk Bramantyo. Semua perhatian sedang tertuju padanya sehingga semua melihat pada telunjuknya, semua riuh oleh hal tersebut.

__ADS_1


"Ha ha ha, cucuku menunjukku, cucuku menunjukku!"


Papi Wijawa hanya bisa terkekeh sambil garuk-garuk kepala, telunjuk kecil yang semula terlipat, tau-tau mengacung seperti itu. Ia pun terpaksa mengalah.


"Ya sudahlah, Baby Rakasiwi pilih Opa Bramantyo, kita menginap saja di rumah


mereka Mi."


Horeee Baby Rakasiwi sudah bisa pulang!


Mereka semua lantas bersiap membawa cucu pertama pulang. Perawat yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bisa kegelian pada sikap kakek dan nenek bayi tersebut.


Yang lebih menghebohkan adalah sambutan di rumah Pak Bramantyo. Di sana ramai dan meriah, bunga, boneka dan berbagai kado yang terbungkus rapi, serta orang-orang yang ceria dan bersemangat. Tentu saja mereka adalah, sahabat Raka dan Mardo. Yup mereka adalah Deni Sahputra, Sammy, dan gadis-gadis sahabat Mardo. Juga ada Patricia dan Khairani. Mereka telah menghias rumah sedemikian rupa untuk menyambut baby Rakasiwi, tulisan besar di pintu rumah terlihat


mencolok.


"Selamat Datang Baby Rakasiwi Bramantyo, Semoga Menjadi Anak Yang Sholeh."


Raka mengembang senyumnya oleh kedatangan sahabat-sahabatnya.


"Hello, apa yang kalian lakukan ha ha ha ya ampun, liat Mi, mereka merepotkan diri, pasti mereka kepengen tapi tak mampu."


Raka seperti biasa selalu bisa menjatuhkan martabat teman-temannya. Sebenarnya iya hanya ingin Deni dan Sammy segera menikah dan kemudian memiliki keluarga kecil yang bahagia. Tapi entah kenapa kedua sahabatnya belum juga mengikuti sarannya.


"Hem, jangan mengadu domba ya!"


Raka menepuk bahu Deni, wahhhh kalian sudah membuat pesta tanpa sepengetahuanku, ayolah! kita merayakan


kedatangan baby Rakasiwi,"


Raka mengucapkan sepatah dua patah kata sembari memeluk Mardo dan putra mereka yang tertidur pulas.


Rumah itu menjadi sangat ramai. Suara tawa serta canda kebersamaan. Papi Bramantyo dan Papi Wijawa minum kopi di sudut ruangan. Sementara para mami minum teh hangat di meja tak jauh dari dapur.


Gadis-gadis menyiapkan makan siang di tengah ruangan. Sementara para pria muda mengobrol. Deni akhirnya menyampaikan bahwa ia dan Sammy berencana akan melamar gadis yang setuju menikah dengan mereka.


"Apa? dalam satu hari aku harus melamar dua orang gadis? untukmu dan untuk Sammy, ya ampun, itu sangat melelahkan! Kenapa kalian tidak menikah satu persatu sih?"


"Suttt, jangan berisik, apa yang melelahkan?

__ADS_1


Kau hanya melamar keluarga Putri dan kemudian Sashinata."


"Hanya! hanya! katamu!


sebentar aku mau mencium anakku dulu ya!"


"Mencium anakmu atau istrimu?"


"Dua-duanya dong, satu paket itu."


Raka berdiri dan beranjak ke kamarnya.


Deni menolehi Sammy dan gadis-gadis, "Heiii! kalian lihat tidak, sudah berapa kali dia masuk ke kamar untuk mencium baby Rakasiwi, yakin?"


"Benarnya mau ngomong apa?"


Sammy balik bertanya, "Biar saja dia mencium baby Rakasiwi, dan istrinya, jealous kalau Raka mencium baby Rakasiwi dan istrinya Mardo ha ha ha..."


"Diam!, aku sedang mendiskusikan rencana lamaran kita!"


Semua mendengar apa yang dikatakan oleh Deni, semua penasaran giliran siapa yang akan dilamar dan melamar.


Putri, Sashinata saling tatap. Dan kedua gadis itu melebarkan matanya


pada dua pria yang sedang harap-harap cemas.


Tak lama Raka muncul sembari melebarkan senyum yang sumringah.


"Hemmm, sebentar keluar, sebentar masuk sudah seperti ingus. Udah sana puas-puasin aja dulu lah meluk-meluk ciumin istri eh baby Rakasiwi.,"


Deni mengomel panjang pendek oleh kelakuan Raka yang setiap berapa menit selalu minta izin untuk masuk ke dalam kamar.


Alasannya kecanduan mencium pipi baby Rakasiwi atau hemmm mencium pipi Mardo juga, tetapi rupanya inilah salah satu kebahagian menikah, dan memiliki anak.


Seorang anak rupanya sanggup merubah perangai orang-orang sekelilingnya, seorang anak punya pesona, magnet yang memukau, terbukti dengan semua orang sekarang terkena


magnet dan pesona


baby Rakasiwi.

__ADS_1


Terima kasih


Bersambung


__ADS_2