Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 74. Pembicaraan Tentang Pernikahan


__ADS_3

Raka Bramantyo begitu percaya diri dan yakin bahwa impiannya menikahi gadis yang


dicintainya akan terwujud. Apa lagi Mardo telah datang kepadanya dan menyatakan


membalas cintanya. Tiada lagi aral melintang untuk membangun sebuah keluarga kecil


yang bahagia.


"Baiklah, keluargaku akan datang untuk melamarmu segera dan secepatnya."


Mardo mengangkat wajahnya dan tersenyum, " Akan aku sampaikan pada Papi dan Mami


untuk bersiap-siap."


Sammy dan Denny terbengong melihat pasangan itu yang saling berpandangan, tersenyum


dan selanjutnya berpelukkan. Bahkan Raka mengecup tipis bibir indah Mardo, dan gadis itu


membalas dengan ciuman dibibir pria idolanya.


"Hei, ingat! kalian berada di mana! aku dan Sammy ada di sini. Jangan membuat kami


iri dengan kebahagian kalian, kami juga segera menyusul."


Denny berteriak-teriak.


Raka dan Mardo tak mengindahkan kata-kata Denny, keduanya saling memeluk seperti takut


terpisah lagi. Tinggallah Sammy, Denny dan Khairani  berpaling mencari-cari sesuatu yang


bisa dilakukan.


"Begitu lah orang yang sedang kasmaran, seolah-olah dunia milik sendiri."


Denny masih mengomel.


"Iya ya Bang, sedang kita hanya mengontrak sementara saja."


"Mengertilah, mereka telah melalui begitu banyak waktu untuk menunggu saat indah ini."


"Biarkan saja."


"Ok! baiklah, sebaiknya kita menyiapkan makan siang yang tertunda, perutku menjadi


lapar sekali."


Jadilah Denny dan Sammy juga Khairani, menyiapkan makan siang mereka di kantor. Denny


menyuruh karyawan membawakan makanan untuk mereka semua yang ada di dalam kantor.


Barulah Raka dan Mardo bergeming, " Hei, kami juga lapar."


Hari yang bahagia dan menyenangkan itu tak ingin berakhir. Namun mereka mesti bergegas


untuk mewujudkan sebuah impian. Mardo dan Khairani pamit ketika beranjak senja.  Raka


ingin mengantar tapi Mardo melarang, mereka bisa tak mengerjakan apa pun jika terus


bersama. Mardo juga bilang Ia akan ke kantornya dan membereskan beberapa pekerjaan


yang penting. Raka melepasnya dengan berat.


Setelah itu, Raka memanggil Denny. Pria Idola itu menatap Denny tajam.


"Ada apa? kenapa memandang seperti itu?"


"Duduklah yang santai, jangan tegang begitu."


"Aku tidak tegang kok."


Denny berusaha santai sembari menyeruput sisa minumannya.

__ADS_1


"Apa sih yang membuatmu anti menikah, dan begitu gugup setiap mendengar pernikahan?"


Denny tercekat. Tapi kemudian menghembuskan napasnya.


"Well, baiklah kalau kau ingin mengetahuinya. Pada saat ini tak bisa dipungkiri sebagian


pernikahan berakhir dengan perceraian. Bukankah itu secara staristik hanya membuat


petugas di pengadilan agama memiliki penghasilan yang besar? dan pengacara perceraian pun


meningkat taraf hidupnya!"


Raka menyandarkan tubuhnya pada kursi.


"Gila! kenapa kau menjadi iri dan sinis begitu?'


"Pernikahan bukan sesuatu yang bisa kau pandang jelek. Bukan seperti kau membeli mobil yang


bisa kau tukar dengan model yang baru!"


Denny terlihat masih menganggap pembicaraan mereka hanya bercanda. Tapi selanjutnya Raka


menunjukkan keseriusannya. "Bagaimana kau bisa tahu apakah kau menyukainya atau tidak?


memangnya tes drive bisa diperpanjang. Ada saatnya kau harus membelinya."


Hemmm sebuah perumpamaan dengan harapan Denny memahaminya.


"A-aku akan menikah kok, segera setelah kau dan Mardo tentunya."


Akhirnya Denny menyadari bahwa ia merasa terkatung-katung bagaikan gabus di tengah laut


tiada kemudi yang membawanya pada sebuah ketenangan.


"Tapi, aku tak pernah mendengar salah satu dari kalian mengungkapkan bahwa bahwa


kalian sedang jatuh cinta."


Denny mengangkat bahu, "Yeah aku memang mengakui entah kapan terakhir aku jatuh cinta


saat menonton drama."


"Aku sedang terfokus padamu, kenapa kau membawa Sammy!"


Sammy yang sedang membaca di pojok kantor hanya menggeser sedikit bukunya, kemudian


kembali asyik.


"Tapi aku pernah mendengar saat kau melindur dalam tidurmu bahwa kau tidak akan pernah


menikah kecuali kau benar-benar mencintai perempuan itu."


"Iya, itu benar! dan aku memang belum menemukannya."


Raka memandang mata sahabatnya itu, "Kau tak pernah berusaha."


"Baiklah," Kata Raka selanjutnya,  "Semuanya tidak masalah bagimu. Kapan kau mau kau bisa pergi


berhubungan dengan perempuan. Tetapi aku dan Mardo sejujurnya harus mengambil kesempatan


ini. Ketika akhirnya aku menemukan seseorang yang setuju menikah denganku_hidup itu penuh


dengan penentuan pilihan. Apakah kau menyukai buah durian, menyukai kopi, atau susu. Ataukah


kau terus melajang seumur hidupmu. Sedangkan aku anggap saja sudah menentukan  pilihanku,"


Denny terlihat gelisah, akhirnya dia berkata setengah mendesah, "A-aku melihat banyak kegagalan


dalam pernikahan, nenekku, ibu, dan dua kakak perempuanku. Mereka sangat menderita akbat sebab


menikah. Bahkan keponakkanku mati juga gara-gara pernikahan, Aku melihat tidak ada yang berakhir

__ADS_1


dengan kebahagiaan, aku muak, setiap hubungan akan berakhir dengan kegagalan yang menyakitkan."


"Jadi masa lalumu  yang buruk itu membuatmu menyerah untuk mencari yang satu itu?"


Denny kembali mendesah terlihat lelah, "Bukan seperti itu, aku hanya merasa trauma dan


tak siap, aku tidak mau melalui proses itu."


Raka hampir menyerah menasehati Denny, "Terkadang dalam kehidupan kau harus bertindak


mengikuti arus saja. Jika terbukti salah, setidaknya kau sudah pernah mencoba, dari pada


tidak sama sekali, tidak berhasil ya cerai saja, susah amat."


"Oh ya ampun, kau kasar sekali!"


Denny mencibir. Tetapi dia memang sudah terbiasa dengan sikap Raka. Tidak membuatnya


sakit hati.


"Aku rasa kau juga tidak senang dengan pernikahanku dengan Mardo!"


Kembali Denny terkejut, kata-kata ini membuatnya terlonjak.


"Ya Allah Raka, tidak sedikit pun! kau yang selalu mengajari untuk selalu berpikiran positif thinking. Mana


mungkin ada pikiran jelek itu padaku. Aku justru mempersiapkan diriku sebagai pendampingmu.


Sahabatmu sekaligus pendamping pengantin pria, aku mendukungmu Raka!"


"Ok, baiklah. Awas saja kalau kau tak ikut sibuk saat mempersiapkan pernikahanku nanti."


"Iya tunjuk saja aku sebagai ketua panitia team sukses pernikahanmu, aku tak akan tidur


hingga pernikahanmu selesai dengan gemilang, itu janjiku."


Keduanya saling berpandangan, lalu pelan-pelan tersenyum amat lebar dan berakhir


dengan saling berpelukkan.


"Tenang saja, aku juga akan menikah, begitu juga Sammy."


Denny menepuk-nepuk pundak Raka, bersikap seperti seorang ayah. Ia memandang


pada Sammy, "sindrom pria yang akan menikah."


Sembari telunjuknya menunjuk-nunjuk kepala Raka. Sammy mengangguk-angguk.


Sebuah pemandangan yang manis hemmm.


Hari itu selesai sudah, Raka sangat antusias dengan pernikahannya, dan tentu saja


untuk selanjutnya demi sebuah persahabatan Denny harus membuktikan perkataannya.


Jadilah Denny terkadang Sammy juga ikut jika Cafe mereka tak sibuk memulai pencarian


desainer pakaian pengantin yang elegan. Mereka tak memerlukan wedding organizer


karena Denny sangat ahli memperkerjakan dan memberdayakan teman-teman


dan karyawannya.


 


 


Terima kasih telah menyukai dan mendukung


Pria Idola, semoga Allah Swt membalas


kebaikannya, aamiin

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2