
Raka Bramantyo begitu percaya diri dan yakin bahwa impiannya menikahi gadis yang
dicintainya akan terwujud. Apa lagi Mardo telah datang kepadanya dan menyatakan
membalas cintanya. Tiada lagi aral melintang untuk membangun sebuah keluarga kecil
yang bahagia.
"Baiklah, keluargaku akan datang untuk melamarmu segera dan secepatnya."
Mardo mengangkat wajahnya dan tersenyum, " Akan aku sampaikan pada Papi dan Mami
untuk bersiap-siap."
Sammy dan Denny terbengong melihat pasangan itu yang saling berpandangan, tersenyum
dan selanjutnya berpelukkan. Bahkan Raka mengecup tipis bibir indah Mardo, dan gadis itu
membalas dengan ciuman dibibir pria idolanya.
"Hei, ingat! kalian berada di mana! aku dan Sammy ada di sini. Jangan membuat kami
iri dengan kebahagian kalian, kami juga segera menyusul."
Denny berteriak-teriak.
Raka dan Mardo tak mengindahkan kata-kata Denny, keduanya saling memeluk seperti takut
terpisah lagi. Tinggallah Sammy, Denny dan Khairani berpaling mencari-cari sesuatu yang
bisa dilakukan.
"Begitu lah orang yang sedang kasmaran, seolah-olah dunia milik sendiri."
Denny masih mengomel.
"Iya ya Bang, sedang kita hanya mengontrak sementara saja."
"Mengertilah, mereka telah melalui begitu banyak waktu untuk menunggu saat indah ini."
"Biarkan saja."
"Ok! baiklah, sebaiknya kita menyiapkan makan siang yang tertunda, perutku menjadi
lapar sekali."
Jadilah Denny dan Sammy juga Khairani, menyiapkan makan siang mereka di kantor. Denny
menyuruh karyawan membawakan makanan untuk mereka semua yang ada di dalam kantor.
Barulah Raka dan Mardo bergeming, " Hei, kami juga lapar."
Hari yang bahagia dan menyenangkan itu tak ingin berakhir. Namun mereka mesti bergegas
untuk mewujudkan sebuah impian. Mardo dan Khairani pamit ketika beranjak senja. Raka
ingin mengantar tapi Mardo melarang, mereka bisa tak mengerjakan apa pun jika terus
bersama. Mardo juga bilang Ia akan ke kantornya dan membereskan beberapa pekerjaan
yang penting. Raka melepasnya dengan berat.
Setelah itu, Raka memanggil Denny. Pria Idola itu menatap Denny tajam.
"Ada apa? kenapa memandang seperti itu?"
"Duduklah yang santai, jangan tegang begitu."
"Aku tidak tegang kok."
Denny berusaha santai sembari menyeruput sisa minumannya.
__ADS_1
"Apa sih yang membuatmu anti menikah, dan begitu gugup setiap mendengar pernikahan?"
Denny tercekat. Tapi kemudian menghembuskan napasnya.
"Well, baiklah kalau kau ingin mengetahuinya. Pada saat ini tak bisa dipungkiri sebagian
pernikahan berakhir dengan perceraian. Bukankah itu secara staristik hanya membuat
petugas di pengadilan agama memiliki penghasilan yang besar? dan pengacara perceraian pun
meningkat taraf hidupnya!"
Raka menyandarkan tubuhnya pada kursi.
"Gila! kenapa kau menjadi iri dan sinis begitu?'
"Pernikahan bukan sesuatu yang bisa kau pandang jelek. Bukan seperti kau membeli mobil yang
bisa kau tukar dengan model yang baru!"
Denny terlihat masih menganggap pembicaraan mereka hanya bercanda. Tapi selanjutnya Raka
menunjukkan keseriusannya. "Bagaimana kau bisa tahu apakah kau menyukainya atau tidak?
memangnya tes drive bisa diperpanjang. Ada saatnya kau harus membelinya."
Hemmm sebuah perumpamaan dengan harapan Denny memahaminya.
"A-aku akan menikah kok, segera setelah kau dan Mardo tentunya."
Akhirnya Denny menyadari bahwa ia merasa terkatung-katung bagaikan gabus di tengah laut
tiada kemudi yang membawanya pada sebuah ketenangan.
"Tapi, aku tak pernah mendengar salah satu dari kalian mengungkapkan bahwa bahwa
kalian sedang jatuh cinta."
Denny mengangkat bahu, "Yeah aku memang mengakui entah kapan terakhir aku jatuh cinta
saat menonton drama."
"Aku sedang terfokus padamu, kenapa kau membawa Sammy!"
Sammy yang sedang membaca di pojok kantor hanya menggeser sedikit bukunya, kemudian
kembali asyik.
"Tapi aku pernah mendengar saat kau melindur dalam tidurmu bahwa kau tidak akan pernah
menikah kecuali kau benar-benar mencintai perempuan itu."
"Iya, itu benar! dan aku memang belum menemukannya."
Raka memandang mata sahabatnya itu, "Kau tak pernah berusaha."
"Baiklah," Kata Raka selanjutnya, "Semuanya tidak masalah bagimu. Kapan kau mau kau bisa pergi
berhubungan dengan perempuan. Tetapi aku dan Mardo sejujurnya harus mengambil kesempatan
ini. Ketika akhirnya aku menemukan seseorang yang setuju menikah denganku_hidup itu penuh
dengan penentuan pilihan. Apakah kau menyukai buah durian, menyukai kopi, atau susu. Ataukah
kau terus melajang seumur hidupmu. Sedangkan aku anggap saja sudah menentukan pilihanku,"
Denny terlihat gelisah, akhirnya dia berkata setengah mendesah, "A-aku melihat banyak kegagalan
dalam pernikahan, nenekku, ibu, dan dua kakak perempuanku. Mereka sangat menderita akbat sebab
menikah. Bahkan keponakkanku mati juga gara-gara pernikahan, Aku melihat tidak ada yang berakhir
__ADS_1
dengan kebahagiaan, aku muak, setiap hubungan akan berakhir dengan kegagalan yang menyakitkan."
"Jadi masa lalumu yang buruk itu membuatmu menyerah untuk mencari yang satu itu?"
Denny kembali mendesah terlihat lelah, "Bukan seperti itu, aku hanya merasa trauma dan
tak siap, aku tidak mau melalui proses itu."
Raka hampir menyerah menasehati Denny, "Terkadang dalam kehidupan kau harus bertindak
mengikuti arus saja. Jika terbukti salah, setidaknya kau sudah pernah mencoba, dari pada
tidak sama sekali, tidak berhasil ya cerai saja, susah amat."
"Oh ya ampun, kau kasar sekali!"
Denny mencibir. Tetapi dia memang sudah terbiasa dengan sikap Raka. Tidak membuatnya
sakit hati.
"Aku rasa kau juga tidak senang dengan pernikahanku dengan Mardo!"
Kembali Denny terkejut, kata-kata ini membuatnya terlonjak.
"Ya Allah Raka, tidak sedikit pun! kau yang selalu mengajari untuk selalu berpikiran positif thinking. Mana
mungkin ada pikiran jelek itu padaku. Aku justru mempersiapkan diriku sebagai pendampingmu.
Sahabatmu sekaligus pendamping pengantin pria, aku mendukungmu Raka!"
"Ok, baiklah. Awas saja kalau kau tak ikut sibuk saat mempersiapkan pernikahanku nanti."
"Iya tunjuk saja aku sebagai ketua panitia team sukses pernikahanmu, aku tak akan tidur
hingga pernikahanmu selesai dengan gemilang, itu janjiku."
Keduanya saling berpandangan, lalu pelan-pelan tersenyum amat lebar dan berakhir
dengan saling berpelukkan.
"Tenang saja, aku juga akan menikah, begitu juga Sammy."
Denny menepuk-nepuk pundak Raka, bersikap seperti seorang ayah. Ia memandang
pada Sammy, "sindrom pria yang akan menikah."
Sembari telunjuknya menunjuk-nunjuk kepala Raka. Sammy mengangguk-angguk.
Sebuah pemandangan yang manis hemmm.
Hari itu selesai sudah, Raka sangat antusias dengan pernikahannya, dan tentu saja
untuk selanjutnya demi sebuah persahabatan Denny harus membuktikan perkataannya.
Jadilah Denny terkadang Sammy juga ikut jika Cafe mereka tak sibuk memulai pencarian
desainer pakaian pengantin yang elegan. Mereka tak memerlukan wedding organizer
karena Denny sangat ahli memperkerjakan dan memberdayakan teman-teman
dan karyawannya.
Terima kasih telah menyukai dan mendukung
Pria Idola, semoga Allah Swt membalas
kebaikannya, aamiin
__ADS_1
Bersambung