
Hari sudah beranjak siang, pak Bramantyo mondar mandir di ruang besar khusus keluarga. Ia sudah menyuruh pak Iman untuk memanggil dua putranya. Tapi sampai sesiang ini belum ada yang keluar dari kamar mereka. Kesabaran pria itu hampir habis. Ia beranjak ke kamar Richi dan mengetuk keras keras.
"Richi! keluar! Papi ingin bicara. Papi tunggu di ruang keluarga."
Setelah itu ia menuju tempat Raka tidur. Mengetuk berkali kali hingga Raka membuka pintu. Wajah yang segar dan cakap muncul. "Papi ingin bicara,ayo."
Raka yang sudah berpakaian rapi dan wangi mengikuti pak Bramantyo ke ruang keluarga.
Pak Bramantyo melihat Mami yang baru saja meletakkan minuman hangat di meja.
Papi memanggil Mami dan berbisik-bisik. Mami mengangguk-angguk dan pergi ke kamar Richi.
Agaknya Papi menyuruh Mami ke kamar Richi untuk membangunkannya.
Mami mengetuk-ngetuk halus, " Hei sayang, apa kamu sudah bangun?"
Beberapa kali hingga pintu terbuka.
"Iya Mi, sudah kok."
"Apa kamu baik-baik saja sayang?"
Richi menatap mata perempuan ibunya. Ia serasa ingin mengadu.
"Papi dan kakakmu menunggu untuk srapan bersama."
"Apa Papi marah Mi?"
"Tidak, Papi sangat pengertian."
"Setiap permasalahan, ada penyelesaiannya."
"Iya Mi, semalam aku khilaf, aku menghancurkan kamar kak Raka, juga kamarku."
Richi melebarkan pintu kamarnya. Dan Mami terbengong melihat kamar putranya itu seperti kapal pecah.
"Kamu sangat marah pada kakakmu."
Mami bilang akan menyuruh pelayan memebereskan kamar Richi dan juga kamar kak Raka.
Richi dan Mami saling melebarkan bibir.
"Ok Mi, terima kasih yah."
Pak Bramantyo menghempaskan tubuhnya ke sofa yang lembut. Di atas meja ada masakkan buatan Mami. Juga minuman yang hangat untuk mereka sekeluarga. Raka menuangkan susu coklat ke gelasnya. Terlihat uap panas naik pertanda minuman itu panas.
__ADS_1
Jika libur atau saat santai, Papi dan Mami biasanya bersantai di ruangan besar itu. Ada Sofa untuk meregangkan tubuh, karpet berbulu yang hangat dan lembut beserta bantal-bantal untuk di peluk, dan tentu saja layar televisi yang sangat besar. Di dinding terpajang pigura-pigura yang memuat foto keluarga. Kegiatan makan dan minum akhinrya sering pindah ke ruangan itu.
"Apa yang terjadi? kenapa Richi merusak kamarmu?"
Pak Bramantyo menatap lekat lekat wajah putranya.
Raka membalas tatapan Papinya, Ia juga tak mengerti dengan kemarahan Richi.
Mami datang bersama Richi, agaknya Mami berhasil membujuk putra bungsu mereka datang.
"Oh, anak Papi sudah datang, sini duduk dekat Papi."
Pak Bramantyo melebarkan tanganya menyambut anak bungsunya untuk duduk di sebelahnya. Sementara Mami duduk dekat Raka.
"Hayo minum dan sarapan dulu, Mami kalian memasak nasi goreng yang special."
Pak Bramantyo mencairkan suasana yang agak tegang. Richi dan Raka saling menatap dengan kekesalan.
Mami mengambilkan anak anaknya nasi goreng, pak Bramantyo juga. Sambil menikmati sarapan Papi mulai membuka masuk ke permasalahan.
"Apa persoalannya ini ada hubungannya dengan cewe?"
Raka menghentikan suapannya, Richi mendengarkan dan menunggu.
"Raka tak mengerti Pi, kamarku hancur, gitar kesayanganku juga."
"Tapi tentu ada alasan kenapa adikmu melakukannya? bukan begitu Nak?"
Pak Bramantyo menepuk bahu Richi.
"Iya Pih, aku kesal pada kak Raka. Ia membawa paksa temanku dari pesta perpisahan. Aku melihat sendiri kalau temanku itu keberatan. Tapi kak Raka terus menarik nariknya, sampai sepatunya lepas dan tertinggal. Aku berteriak teriak untuk menghentikannya tapi tak berhasil. Ia membawa temanku entah kemana dan melakukan apa dengan temanku itu."
Tatapan tajam mengarah pada Raka, masih terlihat sangat kesal.
" Benar begitu Raka? kau mengajak paksa temannya pergi?"
Raka meneguk air putih dan menghembuskan napas. " Tidak begitu Pi, aku mengajak gadis itu karena ada suatu keperluan mendesak. Raka mengingat Mangara. Itu menjadi sebuah alasan baginya.
"Kakak gadis itu mendapat suatu musibah dan ia ingin pergi ke Jakarta. Aku hanya menolong mereka."
Secara ringkas Raka menceritakan tentang Mangara yang pergi tanpa pamit ke Jakarta. Ia terpaksa mengajak Mardo dengan paksa karena Mangara ingin ketemu adiknya. Inti ceritanya seperti itu. Papi mengangguk angguk mengerti. Raka juga menyuruh Papi memeriksa helikopter tentang kebenaran ceritanya. Dan semua memang benar. Richi tertohok. Ia tak berani menatap kakaknya.
"Oh, Papi bangga padamu Nak. Kasihan sekali kakak gadis itu yang kehilangan kekasihnya dengan cara yang biadap."
Richi tiba tiba berubah cara pandangnya terhadap kak Raka. ia tiba tiba berdiri dan memeluk kak Raka.
__ADS_1
"Ya ampun, maafin aku ya kak."
Raka balas memeluk dan mengucek ucek rambut adiknya.
"Jangan cepat marah makanya, dasar anak kecil."
Semua berakhir dengan damai. Papi dan Mami memeluk anak anak mereka penuh kasih sayang. Saling menatap penuh cinta.
Namun, Raka masih mempermasalahkan gitar dan kamarnya.
"Gitarku itu tak ternilai harganya, tak tergantikan. Jadi aku mau dibelikan gitar lagi."
Hemmm, Papi berdehem mengelus ngelus jenggotnya.
"Richi bagaimana? kakakmu minta dibeliikan gitar baru, jadi uang jajanmu dipotong ya,"
Richi cemberut, "Nanti aku nggak bisa mentraktir teman temanku lagi Pi."
"Itu konsekwensinya Nak, lain kali sebelum melakukannya dipikirkan dulu."
"Baik Pi."
Richi mengakui kesalahanya, ia malu jika ingat betapa kesetanannya dia malam itu.
Untung Raka tidak ada di kamarnya, jika ada mungkin mereka telah baku hantam.
Ternyata ada sesuatu masalah yang kak Raka tau sedangkan dirinya tidak. Seharusnya ia bertanya dan tidak bertindak brutal. Hal tersebut memberikan pelajaran baginya. Ia tidak akan mengulangi kejadian seperti itu. Menduga-duga sendiri. Kerugiannya sangat banyak.
Mereka semua tersenyum, itu adalah didikkan orang tua mereka yang bijaksana, meski memiliki uang yang berlimpah dan bisa membelikan anak anaknya apa saja, toh tanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan mesti ditanggung. Meski Richi juga sempat menasehati kak Rakanya agar jangan memanfaatkan keadaan. Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Siapa yang mengambil kesempatan? gitarku memang tak ternilai harganya."
"Tapi tetap permintaan kak Raka itu terlalu banyak."
"Orang Papi setuju kok."
Huh! Richi beranjak pergi.
Raka tersenyum dan berterima kasih pada Allah, kalau saja malam itu tak bertemu dengan Mangara yang dalam kesulitan, tentu sulit baginya memberi alasan pada Richi dan juga Papi serta Mami. Ternyata selalu ada hikmah dari sebuah kejadian. Raka semakin mengerti dan berusaha untuk tetap menjadi pria idola. Papi juga pria idola, ia mendidik anak anaknya dengan baik. Mangara seorang pria idola. Ia berusaha datang untuk menyatakan dukanya yang mendalam pada kekasihnya yang telah pergi. Seorang Ayah adalah pria idola. Seorang pimpinan mestinya adalah pria idola.
__ADS_1
Bersambung.