
Tidak ada yang terjadi hari itu. Prita telah sampai ke kostnya dan sibuk membersihkan
ruangan tempatnya selama ini menuntut ilmu. Hanya sebuah ruangan, namun lumayan
luas. Ia memiliki sebuah ranjang, lemari pakaian, meja belajar serta pojok untuk menaro
perabotan makan, minum tempat memasak nasi serta lemari kecil untuk menyimpan
pernak pernik. Dan sebuah kamar mandi di dalam.
Ia menyukai rumah kost itu. Ada sekitar sepuluh kamar. Dengan fasilitas dapur untuk memasak
lemari es, ruang tamu serta tempat menonton televisi. Juga dipasangkan wifi, yang sangat
penting untuk anak-anak mahasiswa seperti Prita. Sabtu dan minggu Prita bisa beristirahat
di kost. Ia sudah memberitahu ibunya bahwa dia sudah sampai, juga Rakasiwi serta Yunna dan
Elsa.
Sementara itu, Darto Keling membesarkan matanya. Hingga sore gadis yang ia tunggu
di depan gang tidak jua muncul hidungnya. Sebuah mobil beserta dua orang anak buahnya
telah bersiap-siap menangkap dan menculik gadis itu. Darto melihat ke pergelangan
tangannya dan melihat jam. Sudah hampir jam tiga! Prita tak juga muncul di gang tersebut..
"Aneh, gadis itu tak juga melewati jalan ini."
Keringat mengucur di tubuh Darto Keling. Ia tak mungkin salah, sehari-hari gadis itu
melewati jalan tersebut. Apa hari ini dia tak pergi? akhirnya Darto Keling memutuskan
pulang. Besok mereka akan berpura-pura menunggu penumpang lagi. Dan salah satu
dari mereka akan ke rumah gadis itu dan bertanya tentang Prita.
Darto mengoepalkan tangannya. "Sudah dua hari, dia tak keluar rumah! mana mungkin!
Salah seorang harus masuk dan bertanya pada ibunya, Darto memberi kode salah satu
anak buahnya yang terlihat muda. Laki-laki itu pun memasuki gang dan menjalankan
perintah Darto Keling.
Salah satu pria anak buah Darto Keling beranjak memasuki jalan ke dalam perumahan
dan ia langsung mengetuk pintu target. Perempuan di dalam rumah berteriak "Siapa?"
"Saya bu, teman Prita!"
Perempuan itu membuka pintu dan terbengong, dia pikir yang datang Rakasiwi yang
sudah ia kenal. Tapi laki-laki ini? dia baru melihatnya.
"Prita ada Bu?"
Perempuan itu tak langsung menjawab. Ia ragu dengan laki-laki itu. Penampilannya
sangat berbeda dengan teman-teman Prita.
"Tidak ada?"
"Saya ingin ketemu Bu, ada hal yang sangat penting."
"Prita tidak ada!"
"Kapan Prita pulang?"
"Ya tidak tau, tak tentu."
__ADS_1
Semula dia ingin memberitahu kalau Prita sudah berangkat ke Semarang. Tetapi
ia menahan diri, karena tiba-tiba ia merasa curiga.
"Apa boleh saya menunggunya Bu?"
"Terserah, tunggu saja di luar ya!"
Perempuan itu menutup pintu dan berlalu.
Sesaat orang itu melihat ke kiri dan ke kanan, mencari seseorang yang mungkin bisa
ia mintai keterangan. Sayangnya sunyi dan sepi. Biasanya jam seperti itu orang-orang
pergi bekerja dan anak-anak muda ke sekolah.
Karena tidak seorang pun yang bisa dimintai keterangan mengenai Prita. Ia mencoba
berjalan ke beberapa rumah, tapi semua menutup pintunya rapat-rapat. Kejadian kehilangan
motor di dalam rumah membuat semua orang berhati-hati.
Darto Keling meremas jemarinya kencang-kencang menahan rasa kesal. Anak buahnya
memberi tahu bahwa ia tidak mendapatkan kepastian di mana gadis itu berada. Tetapi
dapat dipastikan gadis itu tak ada dirumah.
Mereka kembali lagi ke markas untuk menyusun strategi selanjutnya. Darto Keling membuka
laptopnya dan mencari tau data yang tertera di sana. Tidak banyak data yang di dapat mengenai
gadis itu. Sehingga Darto mengeretakkan gigirnya. Ia tak menduga kalau sesulit itu ia mendapatkan
gadis itu.
Akhirnya satu-satunya cara untuk membuat Prita muncul adalah dengan menculik ibunya.
Darto Keling mempersiapkan anak buahnya dan mengingatkan jangan sampai gagal karena
adalah saatnya!
Kebetulan pagi itu, mama Risa harus ke swalayan. Kebutuhan di dapur sudah mulai
berhabisan. Ia juga bosan di rumah, dan sedikit ingin bersenang-senang dengan
berbelanja, melihat barang-barang yang beraneka rupa. Ia juga berencana setelah
selesai dari swalayan ingin mampir di cafe Pria idola yang tidak terlalu jauh. Ia ingin
menikmati makan dan minum jus buah dan bertemu Yunna dan Elsa.
Mama Risa sudah mengirim pesan pada Yunna bahwa ia ingin mampir untuk makan
siang di tempat kerja Yunna.
"Ok Tan, mampir aja nanti Yunna temani makan siang ya sama Elsa."
Yunna tersenyum, ia mengirim pesan pada Prita, "Eh Cing, nyokap loe hari ini mau
mampir di tempat Gwe kerja he he he, pengen makanan cafe."
"Oh, tolong layanin mama Gwe ya Cing."
"Siappp Cing."
Hari itu ceria dan suasana menyenangkan, mama Risa berkemas, ia mengenakan
celana jeans yang dibelinya bulan lalu, kemeja bunga-bunga serta tas selempang
yang berisi handphone, dompet, perlengkapan kosmetik. Itu saja. Sekitar jam
__ADS_1
sepuluh, mama Risa keluar ruamah. Dia terlebih dulu memeriksa jendela, kompor
dan sebagainya. Baru kemuadian berangkat.
"Mo kemana nih Mamnya Prita, cakep banget."
Tetangganya melihatnya menutup dan mengunci pintu.
"Ke swalayan dulu, dah pada habis di dapur, nitip ya rumah."
Mama Risa tersenyum pada tetangganya yang langsung membalasnya dengan
mengangguk-angguk.
"Ok."
Perempuan itu segera melenggang meninggalkan rumah. Ia berjalan dan tidak
memiliki firasat apa-apa. Ia memang melihat seorang laki-laki berjalan di belakangnya
berjalan. Ia sempat menoleh dan menyilahkan duluan, tetapi laki-laki itu hanya
tersenyum dan mengangguk.
Mama Risa sebentar menoleh ke kiri dan ke kanan, ia akan menyebrang, tiba-tiba
sebuah mobil sedan berhenti di depannya dan membuka pintu, dua orang keluar dari
masing-masing pintunya. Mama Risa melihat pada mereka yang dengan cepat berjalan
kearahnya dan tiba-tiba menarik dan membekapnya serta menyeret masuk
ke dalam kenderaan.
"He heiii! apa yang kalian lakukan? to-tolong!"
Buk!
Sebuah pukulan di belakang pundaknya membuat perempuan itu terdiam. Dengan mudah
mama Risa di seret kedalam mobil. Dan pergi meninggalkan tempat itu.
Hari itu, mama Risa tidak ke swalayan, juga tidak cafe pria idola.
"Sudah beres bos!"
Seorang laki-laki menelpon seseorang. Dan laki-laki di sebrang memuji pekerjaan anak
buahnya.
"Bawa ke markas di ruang belakang!"
Tak lama kenderaan telah berhenti di parkiran dan tiga-tiga orang laki-laki mengeluarkan
tubuh seorang perempuan yang tengah pingsan. Darto menatap anak buahnya.
"Biasa bos, ribut! terpaksa di ketuk sedikit tengkuknya."
"Cepat bawa ke dalam, dan tunggu hingga dia siuman."
Darto Keling, tersenyum tipis, "Sedikit lagi gadis itu akan jadi milikmu Bos!"
Gumamnya
Bersambung
Hello pembaca, terima kasih ya sudah setia membaca Pria Idoa
__ADS_1
jangan lupa memberi like, komen, juga votenya, othor sangat
berterima kasih.