
Prita mendongak ke atas dan melihat seorang laki-laki berdiri di sana dan tengah memberi perintah. Seketika saja beberapa laki-laki yang kesemuanya bertubuh kekar dan berotot berlari menyerangnya.
Serta merta Prita berputar dan menunjuk mereka dengan telunjuknya,"Jangan coba-coba menyentuhku! Apa kalian tidak tahu malu, mengeroyok seorang gadis sepertiku?"
Laki-laki yang sedang bergerak kearah Prita, terhenti. "Aku tidak ada urusan dengan kalian semua! dan juga kau!"
Tunjuk Prita ke laki-laki di atas yang adalah penguasa tempat itu yakni, Ayah Jai. "Aku ke sini untuk mengambil ibuku! aku datang tidak untuk bermusuhan!"
Suara Prita lantang dan tidak untuk bermain-main. Mereka semua baru sekali ini melihat gadis yang berani dan percaya diri. Ayah Jae juga melihat sebuah perjuangan dari gadis itu.
"Kalau memang ibuku ada di dalam rumah itu, tunjukkan padaku!"
"Hei, tangkap dan bawa gadis itu ke hadapanku!"
Sekali lagi laki-laki di sana di atas memerintah sambil mengibaskan bajunya, kemudian menghentak masuk.
Prita berputar dan lari mengejar ayah Jae. "Kalian tidak tidak perlu menangkapku aku akan menghadap nya langsung!"
Gadis itu menaiki undakkan dan masuk ke dalam. Ia cilingak cilinguk dan terkejut mendapati laki-laki itu duduk di sebuah sofa.
"Kamu tidak mengucapkan salam kepada tuan rumah?"
"Maaf, aku datang bukan untuk beramah tamah, melainkan mencari ibuku!"
Laki-laki itu terdiam, lalu ia berteriak "Bawa kesini perempuan itu!"
Dari sebuah ruangan keluarlah seorang laki-laki yang menyeret Ibunya dan mendorong hingga perempuan itu terjerembab di lantai.
"Mama!"
Prita menyongsong ibunya, dan berusaha mengangkatnya. Dia menatap marah pada laki-laki yang menyebabkan ibunya seperti itu.
"Karena kau sudah datang, aku tak lagi memerlukan ibumu. Kau yang kuinginkan!"
Laki-laki itu menatap dalam ke arah Prita.
"Kembalikan ibunya dengan selamat ke rumahnya!"
Tiga laki-laki yang masih berada tak jauh dari situ kembali merengkuh badan ibunya bersiap membawa ibunya.
"Tidak! aku akan bersama mama! aku yang membawanya pulang."
"Aku sudah bersabar padamu gadis! jangan membuatku marah!"
"Membuatmu marah! apa salah kami! tidak ada yang kami lakukan yang merugikan anda, bahkan Abidin anak buah anda telah mencuri dokumen rumah ibu saya, menghabiskan perhiasannya, dan menyakiti ibu."
__ADS_1
"Kami seharusnya yang marah, bukan anda!"
Brak!
Laki-laki itu memukul meja di depannya. Prita sama sekali tidak bergeming, ia mengeluarkan sesuatu di balik bajunya dan berbisik pada ibunya. "Ikuti aku ya Ma, kita harus pulang bersama."
Ibunya hanya mengangguk.
Siap Ma!
"Jangan sentuh ibuku!"
Sambil menyemprotkan sesuatu ke wajah ketiga laki-laki itu yang langsung meraung keras, oleh rasa perih yang tak alang kepalang.
Ketika laki-laki itu sedang mengusap-ngusap wajah mereka, Prita dan ibunya berlari keluar.
"Ma taburin ini di jalan, kita harus gerak cepat."
Prita memberikan sebuah kantong pada ibunya. Sambil bergegas keluar, terdengar suara laki-laki yang menyuruh anak buahnya untuk mengejar, dan terdengar juga suara gedebag gedebug! mereka berjatuhan oleh sesuatu yang ditebarkan Mama Risa.
Prita dan ibunya sudah berada di depan gerbang, entah kenapa suasananya sepi sekali. Mungkin penjaga-penjaga itu merasa tugas mereka telah selesai, karena gadis itu sudah berada di tangan ayah Jae.
Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Prita. Secepatnya dia menghidupkan moge miliknya dan menyuruh ibunya berlari membuka pintu gerbang, Prita memberikan sebuah botol semprotan, "Semprot ke wajah penjaga pintu gerbangnya Ma!"
"Tangkap mereka! tangkap !!! jangan sampai lolos!!!
"Cepat Ma naik!"
Mama Risa mengangkat dasternya dan hup, lompat ke atas moge. Prita langsung ngegas. Napas keduanya berpacu untuk mencapai jalan raya. Mereka belum aman karena kemungkinan tertangkap masih besar.
"Cepat Prita! mereka mengejar kita!"
"Pegangan yang kuat Ma! aku mau nambah kecepatan, kita pasti selamat!"
"Iya Nak, mama sudah peluk tubuhmu erat-erat, Ya Allah selamatkan kami dari orang-orang itu!"
Suara moge Prita meraung-raung di tengah hutan yang sepi. Ia mempercepat laju mogenya, dan melihat beberapa kenderaan yang mengejar mereka.
"Prita! Mereka sudah semakin dekat Nak! apa yang harus kita lakukan?"
Prita memberikan kantong-kantong berisi sesuatu yang tidak di ketahui ibunya, "Jika mereka mendekatkan lemparkan Ma!"
Gadis itu berteriak keras agar ibunya mendengarnya. Dengan gemetar mama menerima kantong tersebut dan melemparkannya ke belakang.
Seketika kabut keputihan menyebar naik ke udara, menghalangi pandangan.
__ADS_1
"Berhenti! berhenti! apa yang mereka lemparkan!, kabut aku tak bisa melihat jalan!"
Anak buah ayah Jae, terpaksa berhenti melihat kebulan asap yang keluar dari kantong-kantong yang dilemparkan ke arah mereka. Asap putih tersebut menghalangi pandangan mereka.
"Goblok! Kalian goblok semuanya! menangkap anak perempuan saja tidak becus!"
Ayah Jae, marah-marah dan mengomeli semua tukang pukul dan penjaga rumahnya.
Sementara Prita dan ibunya telah mencapai jalan raya. Gadis itu menghembuskan napas lega. Ia bisa menyelamatkan ibunya dari Abidin dan bosnya.
Abidin sendiri telah ditangkap begitu ia masuk ke tempat kerjanya. Yunna dan pamannya berhasil mendapatkan bukti yang memberatkan laki-laki itu, penculikkan serta pengrusakkan di sebuah rumah.
Tetapi Abidin belum mengaku dan menutupi kemana Prita dan ibunya.
Ia masih mengelak dan mengulur-ngulur waktu.
"Laki-Laki itu sudah ditangkap dan sekarang berada di kantor polisi! kalian bisa bersaksi besok dan menuntutnya!"
"Iya Yunna, tetapi aku dan mama tidak berani pulang ke rumah, mereka pasti sangat marah karena kami berhasil melarikan diri dari markas mereka."
"Kalian tinggal bersamaku dulu aja Prita!"
"Terima kasih Ya Yunna, kau sangat baik."
Kedua sahabat itu saling berpelukkan.
Sementara Ayah Jae sedikit merasa cemas, karena mendengar berita tentang Abidin yang sudah tertangkap dengan tuduhan penculikan dan pencurian.
"Pastikan anak itu tak menyebut-nyebut namaku!"
"Baik Bos."
"Sementara waktu aku akan pergi ke luar negeri hingga masalah ini menghilang."
Mereka mengerti keinginan sang bos. Ternyata Abidin sendiri tau ia akan menjadi target dari ayah Jae, demi keselamatannya ia memutuskan menerima hukuman masuk penjara. Sementara waktu ia akan berlindung dibalik jeruji besi.
Prita dan ibunya menemui Abidin dan meminta dokumen rumah miliknya. Kalau tidak, keduanya akan membuat laki-laki itu di penjara selama-lamanya.
Abidin dibawah tekanan paman Yunna akhirnya mengembalikan dokumen rumah milik mama Risa.
Perempuan itu dan Prita sangat bahagia.
Bersambung
Jangan lupa beri like, komen dan
__ADS_1
vote ya, sangat berterima kasih.