Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 149. Kisah Cinta Tak Sampai Ayah Jae


__ADS_3

Suatu saat setelah mengurus semuanya dengan rapi. Ayah Jae muda memutuskan


pulang kampung. Ia tidak membuat dirinya mencolok tetapi memang ia datang ke


kampungnya itu dengan mobil baru, seperti orang yang baru pulang dari perantauan.


Membawa oleh-oleh ala kadarnya.


Hatinya begitu sejuk dan merasa damai ketika memasuki desanya. Suara anak-anak


yang tengah bermain, serta kotek-kotek ayam masih sama seperti ketika ia masih kecil


dan remaja.  Ia juga melihat warung kopi di tengah desa itu. Masih seperti dulu, sedikit


saja ada perbaikan di bagian depannya. Ke belakang tidak ada perubahan.


Ia menghentikan mobilnya persis di tepi warung tersebut. Beberapa orang yang sedang


minum-minum di sana serentak menoleh kepadanya. Dahi mereka berkerut berusaha


mengenali laki-laki muda yang turun dari mobil. Mereka agaknya tidak mengenali


laki-laki itu. Maklum Jaelane  pergi dari desa itu saat ia baru lulus smu. Setelah lima tahun


ia baru menginjakkan kakinya lagi.


Jaelane menganggukkan kepalanya kepada semua orang yang sedang minum kopi


sembari bercengkrama.


"Dari kota ya Mas?"


Tanya seorang laki-laki yang duduk tak jauh dari Jae yang sedang menunggu pemilik


warung. Jaelane sengaja mampir ke warung itu untuk mencari tahu tentang kekasihnya


Ratna Dumilah.


"Iya, pak."


Jaelane tersenyum dan menganggukkan kepalanya kepada mereka semua.


"Saya kemalaman, apakah di dekat sini ada penginapan?"


Sembari ia memesan segelas kopi, ketan, serta goreng pisang. Warung kopi itu


buka selama dua puluh empat jam, karena berada  tepat di depan sebuah


pool bis antar kota, jadi hampir setiap saat ada saja yang mampir ke warung


kopi itu.


"Oh, ada! nanti belok saja ke jalan di sebelah warung ini, jalan itu menuju ke kota


di sana ada penginapan."


"Ok, makasih ya pak."


"Memangnya mau kemana Mas? kayaknya dari jauh ya?"


"Iya pak, saya dari Jakarta."


Ohhhh, laki-laki yang sedang minum kopi tersebut  serentak membulatkan


mulut mereka.


Jaelane tersenyum kecil, "Saya ingin melihat teman saya di kampung


Martapotan pak, ya kira-kira satu jam perjalanan lagi dari sini, tetapi


saya mau istirahat."


Ohhhhh, kembali mereka sama mengomentari apa yang dikatakan oleh Jae.


"Siapa? saya mengenal semua orang di kampung itu?"


"Ratna Dumilah?"


"Oh, si Ratna?"


"Bapak kenal dengannya?"


"Semua juga mengenalnya, dia sudah pindah ke kota sini."


"Oh, jadi dia tidak di kampung lagi ya Pak?"


Pria itu menggeleng-geleng, "Sejak menikah dengan juragan beras di kota, ia

__ADS_1


pindah dan ikut berjualan di kota. Rumah mereka yang paling besar di sebrang


kantor kecamatan."


Tak sia-sia Jae mampir ke warung tersebut. Ia telah mendapat informasi yang


ia inginkan. Ia pun lalu berdiri dan menanyakan semua yang harus ia bayar


beserta milik bapak-bapak yang tadi mengobrol bersamanya.


Mereka semua sangat senang, bahkan kembaliannya diserahkan kepada


bapak-bapak masih ada seratus lima puluh ribu. Mereka akhinya mengambil


sebungkus rokok, dan sisanya untuk besok lagi, mereka akan minum kopi


bersama.


Alhamdulillah, mimpi apa semalam, ada anak muda yang tiba-tiba


mentraktir mereka. Bapak-bapak itu malah minta dibungkuskan nasi dan


lauknya untuk dibawa buat istri dan anak, karena mereka memang hanya


berlima saja. Tukang warung senang, begitu juga si bapak-bapak.


Sementara Jae, meninggalkan tempat itu, ia berbelok menyusuri jalan


yang menuju ke kota. Dan tepat di tengah-tengah kota ia melihat sebuah


penginapan yang lebih besar dibanding bangunan lainnya di jejeran itu.


Ia memarkir mobilnya dan mengeluarkan kopernya. Lalu berjalan menemui


meja untuk menanyakan kamar. Masih ada kamar yang kosong. Kebetulan


hari itu menjelang weekend, biasanya banyak pedagang yang menginap


di hotel tersebut.


"Jadi dia di kota ini, dia menikah dengan juragan beras."


Jaelane memeluk gulingnya, ia sedikit merasa melankolis mengenang percintaannya


dengan Ratna Dumilah. Gadis itu  senang sekali  berlari-lari. Jika  teman-teman


lelakinya memanggil dengan maksud menggoda, ia melengos dan kemudian


"Galak amat!"


Dan mereka semua  semakin menyukai  gadis yang memilii kulit putih langsat.


Pipinya kemerahan saat berlarian di bawah sinar matahari. Gadis itu seperti


putri dalam dongeng yang ia baca di buku. Cantik serta mempesona. Bahkan


alam juga jatuh cinta padanya.


Dari semua laki-laki yang mendekatinya dialah yang akhirnya beruntung. Gadis


itu menjadi kekasihnya.  Mereka sering berangkat dan pulang berlambat-lambat


sembari berbincang. Terkadang  Jae mengajak kekasihnya jajan miso dan minum


es kelapa muda. Bahagia, indah sekali masa sma itu. Dunia serasa milik berdua,


sedangkan yang lain ngekos.


Hingga kelulusan sma tiba. Jae bertekad berangkat ke Jakarta untuk mengadu


nasib. Ratna berlari-lari menemuinya dan menangis di dadanya.


"Kamu jangan pergi Jae, ayah nanti menikahkan aku dengan orang yang tidak


kucintai."


"Kita masih muda Na, masih panjang perjalanan hidup kita, tunggulah aku, kupastikan


aku akan kembali."


"Tidak Jae, jangan pergi, kita menikah, ayahku akan memberikan kita warungnya


untuk kita kelola, jangan tinggalkan aku."


Ratna setengah memohon, tetapi Jae menggeleng. Ia tak mau bernasib sama


dengan teman-temannya. Setelah tamat smu, bekerja ala kadarnya lalu menikah

__ADS_1


dan kehidupannya hanya cukup makan saja. Ia ingin berubah, ia dendam pada


kemiskinan. Keluarganya semua miskin. Saking miskinnya sampai mengalami


busung lapar dan akhirnya meninggal satu demi satu.


Hanya Jae yang tersisa. Sangat menyedihkan jika mengingat semua itu. Impian


dan keinginan yang besar membuatnya melepas Ratna Dumilah. Gadis itu tak mau


berjanji menunggunya. Padahal Jae bilang, "Jika mereka memang berjodoh pasti


mereka akan bertemu kembali dan menikah."


Ratna lantas melepaskan pelukkannya dan mendorong Jae, Ia menatap dengan


pandangan marah, "Pergilah, aku tak mau menunggumu!" Gadis itu lantas


berlarian meninggalkan Jae yang sedang menunggu keberangkatan bis.


"Hei, aku pergi tak lama! tunggulah aku, kita akan bahagia!"


 Tapi Ratna berlari kedekatnya dan melemparnya dengan sendal.


"Hemm, kekasih macam apa itu, bukannya diantar dengan ciuman, ini malah


dilempar dengan sendal."


Jae menggeleng-gelengkan kepalanya.


Laki-laki itu kemudian terlelap oleh kenangan pahit. Pagi-pagi ia terbangun


dan berkemas. Setelah membaca koran, sarapan dan minum teh hangat ia melangkah


keluar. Masih tergiang pembicaraan di kedai kopi. Bahwa biasanya Ratna kembali


ke rumahnya yang bersebrangan dengan kantor kecamatan sekitar jam sepuluh


atau jam sebelas. Suaminya yang menggantikan hingga sore.


Pagi-pagi sekali Jae sudah mempersiapkan diri.  Sekejap ia mengenang masa kecil beberapa


kali ke kota ini untuk menjual hasil ladang. Setelah lama menjajakan jualan mereka hingga


laku semua, barulah ibunya bisa membelikan pisang goreng yang berjualan di dekat mereka.


Mereka kemudian pulang berjalan kaki yang berkilo-kilo jaraknya hingga kaki-kaki mereka


pecah sebab kepanasan.


Kadang matanya mendadak buram dan berkunang-kunang. Ia sering jatuh karena


tak bisa melihat jalan. Ternyata kata dokter puskesmas di perutnya banyak cacing.


Setelah ia meminum obat dari dokter, pagi-pagi saat ia buang air besar di belakang


ia menjerit karena banyak sekali cacing yang keluar dari duburnya.


Cacing keputihan yang menggeliat-geliat menjijikkan. Pantas saja  perutnya buncit sedangkan


kakinya kecil kurus. Dia sangat menyedihkan  saat kecilnya dulu. Ia membuang kenangan


buruk itu dari kepalanya dan membayangkan pertemuan dengan Ratna.


Ia menghentikan mobilnya di tepi jalan dan melihat rumah paling besar di depan kantor


kecamatan. Itu lah rumah itu, tidak ada lagi rumah yang paling besar dan megah.


Tiba-tiba ia terkejut melihat seorang anak kecil berlari keluar dan muncul perempuan


lain mengejarnya. Anak kecil itu tertawa-tawa, dan agaknya ibu yang mengejarnya


sangat mengkhawatirkan dirinya. "Jimmi! jangan lari!"


"Ratna!"


Jae membuka pintu mobil dan berteriak.


 


 


Bersambung


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2