
Suatu saat setelah mengurus semuanya dengan rapi. Ayah Jae muda memutuskan
pulang kampung. Ia tidak membuat dirinya mencolok tetapi memang ia datang ke
kampungnya itu dengan mobil baru, seperti orang yang baru pulang dari perantauan.
Membawa oleh-oleh ala kadarnya.
Hatinya begitu sejuk dan merasa damai ketika memasuki desanya. Suara anak-anak
yang tengah bermain, serta kotek-kotek ayam masih sama seperti ketika ia masih kecil
dan remaja. Ia juga melihat warung kopi di tengah desa itu. Masih seperti dulu, sedikit
saja ada perbaikan di bagian depannya. Ke belakang tidak ada perubahan.
Ia menghentikan mobilnya persis di tepi warung tersebut. Beberapa orang yang sedang
minum-minum di sana serentak menoleh kepadanya. Dahi mereka berkerut berusaha
mengenali laki-laki muda yang turun dari mobil. Mereka agaknya tidak mengenali
laki-laki itu. Maklum Jaelane pergi dari desa itu saat ia baru lulus smu. Setelah lima tahun
ia baru menginjakkan kakinya lagi.
Jaelane menganggukkan kepalanya kepada semua orang yang sedang minum kopi
sembari bercengkrama.
"Dari kota ya Mas?"
Tanya seorang laki-laki yang duduk tak jauh dari Jae yang sedang menunggu pemilik
warung. Jaelane sengaja mampir ke warung itu untuk mencari tahu tentang kekasihnya
Ratna Dumilah.
"Iya, pak."
Jaelane tersenyum dan menganggukkan kepalanya kepada mereka semua.
"Saya kemalaman, apakah di dekat sini ada penginapan?"
Sembari ia memesan segelas kopi, ketan, serta goreng pisang. Warung kopi itu
buka selama dua puluh empat jam, karena berada tepat di depan sebuah
pool bis antar kota, jadi hampir setiap saat ada saja yang mampir ke warung
kopi itu.
"Oh, ada! nanti belok saja ke jalan di sebelah warung ini, jalan itu menuju ke kota
di sana ada penginapan."
"Ok, makasih ya pak."
"Memangnya mau kemana Mas? kayaknya dari jauh ya?"
"Iya pak, saya dari Jakarta."
Ohhhh, laki-laki yang sedang minum kopi tersebut serentak membulatkan
mulut mereka.
Jaelane tersenyum kecil, "Saya ingin melihat teman saya di kampung
Martapotan pak, ya kira-kira satu jam perjalanan lagi dari sini, tetapi
saya mau istirahat."
Ohhhhh, kembali mereka sama mengomentari apa yang dikatakan oleh Jae.
"Siapa? saya mengenal semua orang di kampung itu?"
"Ratna Dumilah?"
"Oh, si Ratna?"
"Bapak kenal dengannya?"
"Semua juga mengenalnya, dia sudah pindah ke kota sini."
"Oh, jadi dia tidak di kampung lagi ya Pak?"
Pria itu menggeleng-geleng, "Sejak menikah dengan juragan beras di kota, ia
__ADS_1
pindah dan ikut berjualan di kota. Rumah mereka yang paling besar di sebrang
kantor kecamatan."
Tak sia-sia Jae mampir ke warung tersebut. Ia telah mendapat informasi yang
ia inginkan. Ia pun lalu berdiri dan menanyakan semua yang harus ia bayar
beserta milik bapak-bapak yang tadi mengobrol bersamanya.
Mereka semua sangat senang, bahkan kembaliannya diserahkan kepada
bapak-bapak masih ada seratus lima puluh ribu. Mereka akhinya mengambil
sebungkus rokok, dan sisanya untuk besok lagi, mereka akan minum kopi
bersama.
Alhamdulillah, mimpi apa semalam, ada anak muda yang tiba-tiba
mentraktir mereka. Bapak-bapak itu malah minta dibungkuskan nasi dan
lauknya untuk dibawa buat istri dan anak, karena mereka memang hanya
berlima saja. Tukang warung senang, begitu juga si bapak-bapak.
Sementara Jae, meninggalkan tempat itu, ia berbelok menyusuri jalan
yang menuju ke kota. Dan tepat di tengah-tengah kota ia melihat sebuah
penginapan yang lebih besar dibanding bangunan lainnya di jejeran itu.
Ia memarkir mobilnya dan mengeluarkan kopernya. Lalu berjalan menemui
meja untuk menanyakan kamar. Masih ada kamar yang kosong. Kebetulan
hari itu menjelang weekend, biasanya banyak pedagang yang menginap
di hotel tersebut.
"Jadi dia di kota ini, dia menikah dengan juragan beras."
Jaelane memeluk gulingnya, ia sedikit merasa melankolis mengenang percintaannya
dengan Ratna Dumilah. Gadis itu senang sekali berlari-lari. Jika teman-teman
lelakinya memanggil dengan maksud menggoda, ia melengos dan kemudian
"Galak amat!"
Dan mereka semua semakin menyukai gadis yang memilii kulit putih langsat.
Pipinya kemerahan saat berlarian di bawah sinar matahari. Gadis itu seperti
putri dalam dongeng yang ia baca di buku. Cantik serta mempesona. Bahkan
alam juga jatuh cinta padanya.
Dari semua laki-laki yang mendekatinya dialah yang akhirnya beruntung. Gadis
itu menjadi kekasihnya. Mereka sering berangkat dan pulang berlambat-lambat
sembari berbincang. Terkadang Jae mengajak kekasihnya jajan miso dan minum
es kelapa muda. Bahagia, indah sekali masa sma itu. Dunia serasa milik berdua,
sedangkan yang lain ngekos.
Hingga kelulusan sma tiba. Jae bertekad berangkat ke Jakarta untuk mengadu
nasib. Ratna berlari-lari menemuinya dan menangis di dadanya.
"Kamu jangan pergi Jae, ayah nanti menikahkan aku dengan orang yang tidak
kucintai."
"Kita masih muda Na, masih panjang perjalanan hidup kita, tunggulah aku, kupastikan
aku akan kembali."
"Tidak Jae, jangan pergi, kita menikah, ayahku akan memberikan kita warungnya
untuk kita kelola, jangan tinggalkan aku."
Ratna setengah memohon, tetapi Jae menggeleng. Ia tak mau bernasib sama
dengan teman-temannya. Setelah tamat smu, bekerja ala kadarnya lalu menikah
__ADS_1
dan kehidupannya hanya cukup makan saja. Ia ingin berubah, ia dendam pada
kemiskinan. Keluarganya semua miskin. Saking miskinnya sampai mengalami
busung lapar dan akhirnya meninggal satu demi satu.
Hanya Jae yang tersisa. Sangat menyedihkan jika mengingat semua itu. Impian
dan keinginan yang besar membuatnya melepas Ratna Dumilah. Gadis itu tak mau
berjanji menunggunya. Padahal Jae bilang, "Jika mereka memang berjodoh pasti
mereka akan bertemu kembali dan menikah."
Ratna lantas melepaskan pelukkannya dan mendorong Jae, Ia menatap dengan
pandangan marah, "Pergilah, aku tak mau menunggumu!" Gadis itu lantas
berlarian meninggalkan Jae yang sedang menunggu keberangkatan bis.
"Hei, aku pergi tak lama! tunggulah aku, kita akan bahagia!"
Tapi Ratna berlari kedekatnya dan melemparnya dengan sendal.
"Hemm, kekasih macam apa itu, bukannya diantar dengan ciuman, ini malah
dilempar dengan sendal."
Jae menggeleng-gelengkan kepalanya.
Laki-laki itu kemudian terlelap oleh kenangan pahit. Pagi-pagi ia terbangun
dan berkemas. Setelah membaca koran, sarapan dan minum teh hangat ia melangkah
keluar. Masih tergiang pembicaraan di kedai kopi. Bahwa biasanya Ratna kembali
ke rumahnya yang bersebrangan dengan kantor kecamatan sekitar jam sepuluh
atau jam sebelas. Suaminya yang menggantikan hingga sore.
Pagi-pagi sekali Jae sudah mempersiapkan diri. Sekejap ia mengenang masa kecil beberapa
kali ke kota ini untuk menjual hasil ladang. Setelah lama menjajakan jualan mereka hingga
laku semua, barulah ibunya bisa membelikan pisang goreng yang berjualan di dekat mereka.
Mereka kemudian pulang berjalan kaki yang berkilo-kilo jaraknya hingga kaki-kaki mereka
pecah sebab kepanasan.
Kadang matanya mendadak buram dan berkunang-kunang. Ia sering jatuh karena
tak bisa melihat jalan. Ternyata kata dokter puskesmas di perutnya banyak cacing.
Setelah ia meminum obat dari dokter, pagi-pagi saat ia buang air besar di belakang
ia menjerit karena banyak sekali cacing yang keluar dari duburnya.
Cacing keputihan yang menggeliat-geliat menjijikkan. Pantas saja perutnya buncit sedangkan
kakinya kecil kurus. Dia sangat menyedihkan saat kecilnya dulu. Ia membuang kenangan
buruk itu dari kepalanya dan membayangkan pertemuan dengan Ratna.
Ia menghentikan mobilnya di tepi jalan dan melihat rumah paling besar di depan kantor
kecamatan. Itu lah rumah itu, tidak ada lagi rumah yang paling besar dan megah.
Tiba-tiba ia terkejut melihat seorang anak kecil berlari keluar dan muncul perempuan
lain mengejarnya. Anak kecil itu tertawa-tawa, dan agaknya ibu yang mengejarnya
sangat mengkhawatirkan dirinya. "Jimmi! jangan lari!"
"Ratna!"
Jae membuka pintu mobil dan berteriak.
Bersambung
__ADS_1