Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 305. Usaha Berulang


__ADS_3

Perempuan itu membuka handphone dan banyak sekali pesan dari anaknya. Dia pasti cemas memikirkan  ibunya.


'Ibu di mana?'


'Apa ibu  baik-baik?'


'Bu jawab aku, kenapa tidak ada balasan?'


Puluhan telpon hingga akhirnya anaknya menyadari bahwa handphone ibunya tak aktif. Dinon aktifkan atau disita. Perempuan itu sesaat bingung. Apa yang harus ia lakukan. Dia sama sekali tidak tau berada di mana, di rumah siapa? tidak  ada informasi yang bisa ia berikan pada anaknya.


Sementara  di ruang kerja Raka, ia. Deni dan Sammy sedang membicarakan perempuan itu.


"Selanjutnya apa yang harus dilakukan lagi Bro? perempuan itu sudah ada pada kita, apakah menunggu hingga anak perempuan itu datang membebaskan ibunya?"


Raka terdiam, putra dari perempuan itu telah mematai-matai keluarganya. Terbukti ia tahu kegiatan anggota keluarganya. Apa sebenarnya yang ia inginkan? dendamnya sudah terbalaskan dan selesai dengan baik-baik. Tetatpi setelah  ia dan Mardo  memaafkan ibunya, si putra tak berhenti. Ia mulai mengalihkan perhatian pada Cindy yang tak bersalah dan tak tahu apa-apa.


"Siapa dia? Apakah laki-laki itu berbahaya?"


Raka membayangkan seorang laki-laki muda  berwajah menyeramkan. Mata besar dan melotot, rambutnya jabrik diikat pita hitam. Mengenakan singlet tanpa lengan. Seluruh tubuhnya penuh tato. Sangat menyeramkan. Raka meringis oleh bayangannya.


"Perempuan itu masih memegang alat komunikasi, tetapi handphone biasa Bro. cuman bisa telpon dan sms saja."


"Ya sudahlah, biarkan ia berkomunikasi dengan putranya itu. Kita harus lebih bersabar."


"Iya Bro, baiklah tugas sudah dilaksanakan, aku pamit pulang ya, kalau ada apa-apa kabari saja."


Deni meraih jaketnya pamit pulang. Sammy juga mengikuti laki-laki itu. Mereka berpelukkan dan saling menepuk bahu.


"Semua akan baik-baik saja, percayalah."


"Terima kasih Bro, kalau tidak ada kalian entah bagaimana hidupku."


Raka aleman.


"Biasa saja Bro, jangan lebay deh."


"Ya sudahlah, pokoknya terima kasih banyak ya."


Deni dan Sammy  melebarkan senyum mereka yang khas. Ketiganya beranjak ke luar dari ruangan kerja itu.

__ADS_1


"Mi, Mimi! Deni dan Sammy mau pulang."


Raka memanggil-manggil Mardo, berhubung tadi istrinya itu berpesan jika Deni dan Sammy pulang ia ingin memberikan masakkan dan bingkisan untuk keluarga kedua sahabat Raka itu.


"Oh iya Pi, sebentar!"


Mardo bergegas ke belakang dan mengambil dua keranjang  parsel yang sudah ia siapkan. Tadi Tria yang menghiasnya untuk anak-anak Deni dan Sammy.


"Ini Tria tadi membuat parsel untuk gurunya, sekalian katanya untuk om Deni dan om Sammy."


Mardo memberikan dua parsel tersebut. Sebenarnya ia sengaja membuatnya bersama Tria, tetapi agar tak terkesan repot ia bilang seperti itu. Kedua laki-laki itu menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Senyum mengembang di kedua bibir pria itu.


"Wah, terima kasih Mardo, kalian ini selalu membuatku tak enak. Selalu ada oleh-oleh untuk dibawa pulang."


"Kebetulan masak banyak, dan baru belanja gitulah. Semoga anak-anak suka ya."


"Pasti mereka senang, terima kasih banyak."


Di teras Deni dan Sammy sekali lagi pamit pulang, Keduanya masuk ke mobil lantas meninggalkan rumah besar yang berhalaman luas tersebut. Deni dan Sammy tinggal  berdekatan. Mereka sering kali saling numpang jika kemana-mana. Misalnya ke kantor, Deni pagi-pagi sudah duduk di teras rumah Sammy untuk pergi sama-sama ke kantor.


Kali ini mereka memakai mobil Deni, jadi laki-laki itu terlebih dahulu mengantar Sammy ke rumahnya. Setelah Sammy turun barulah Deni pulang.


Sammy meyakinkan dirinya, sebab Deni sering sekali gila. Pergi lagi ke cafe dan bersenang-senang. Nanti istri Deni akan datang ke rumahnya  meminta tolong untuk menasehati suaminya yang jarang pulang. Bahkan pernah dalam sebulan ia tak kembali ke rumah.  Perempuan itu tidak tahu kemana lagi ia harus mengadu kecuali pada Sammy dan istrinya yang ia anggap sebagai saudara.


"Iyalah, memangnya kemana lagi?"


Sammy tersenyum, ia yakin sahabat yang lebih dari saudara itu akan kembali ke rumahnya. Apa lagi ada oleh-oleh dari Mardo untuk keluarganya. Untuk meyakinkannya ia tetap berdiri di halaman rumahnya untuk melihat. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya saat mobil Deni berhenti di depan rumahnya dan menunggu pak satpam membukakan pagar. Barulah Sammy masuk dan menyapa penjaga rumahnya.


 


***


Suatu pagi ketika orang-orang berangkat ke tempat kerja. Dua orang laki-laki  tengah bersiap-siap di sebuah jalan. Itu adalah jalan sepi milik komplek rumah mewah  tersebut. Beberapa meter sebelum mencapai jalan raya para penghuni rumah mewah akan melewati jalan dengan pemandangan kiri kanan jalan pohon akasia yang meneduhkan.


"Siap!"


Laki-laki itu bertanya pada temannya.


"Siap! Jangan sampai gagal lagi!"

__ADS_1


Seperti yang telah mereka mengerti, setiap pagi Cindy akan melewati tempat tersebut. Sebelum ia mencapai pintu gerbang komplek dan pos jaga satpam  mereka akan mencegat gadis itu. Keduanya berpura-pura sedang memeriksa jalan. Mengunakan seragam sebuah perusahaan serta mobil van berwarna putih.


Rencana  yang telah tersusun rapi.  Cindy akan melewati jalan tersebut. Sementara Cindy tak memiliki firasat apa-apa, tempat yang tak mungkin melakukan sebuah kejahatan. Tetapi begitulah pikiran penjahat. Mereka juga berpikir bahwa para penghuni rumah mewah itu tidak akan memperkirakannya. Betul saja. Cindy santai dan melajukan kenderaannya sambil mendengarkan musik ceria. Ia melihat mobil van di tepi jalan.


Seseorang melambaikan tangannya. Terpaksa Cindy memelankan kenderaannya .


"Di Depan ada lubang besar, mohon berhenti sebentar. Sedang di perbaiki."


"Lubang besar?"


Cindy berpikir-pikir, ah mana mungkin. Tetapi gadis itu terlambat menutup kaca mobilnya. Laki-laki itu telah menahan kaca dan dengan sebuah alat dengan cepat  membuka pintu. Cindy gelagapan, ia berusaha mengambil apa saja untuk memukul laki-laki besar yang masuk kedalam. Semprotan ke wajah gadis itu membuatnya tiba-tiba melemas.


"Akhirnya kau dapat kami taklukan. Sayangnya dia telah memecat kami."


Dia memberi kode pada temannya bahwa misi selesai. Temannya segera mengambil perlengkapan dan memasukkan kedalam van. Sebentar lagi pemeriksaan di pos satpam akan dialami semua penghuni kompleks, segera sedan milik Cindy naik ke atas van yang telah mereka buat sedemikian rupa. Van tertutup dan kenderaan itu segera meninggalkan tempat itu.


Di pintu gerbang, penjaga keamanan kompleks berjaga-jaga.  Laki-laki itu mengigit bibirnya ia mengeluarkan ktp dan  kartu tamu yang ia dapatkan tadi pagi. Penjaga memberikan ktpnya dan membuka pintu penjagaan.


"Terima kasih kata laki-laki itu."


Laki-laki itu tersenyum penuh kemenangan.


"Ha ha ha, kita berhasil sob."


Ia memukul-mukul dinding di belakang kepalanya sebelum  meluncur dan memasuki jalanan yang dipenuhi kenderaan. Mereka akan menemui bos baru. Untuk  pekerjaan mencari gadis-gadis cantik untuk kenikmatan. laki-laki itu menyeringai.


 


 


 


 


Bersambung


 


 

__ADS_1


__ADS_2