Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 6. Beri Aku Ijin Berlibur Pi


__ADS_3

Papi tak mengijinkan anak gadisnya pergi berlibur. Meski air mata telah mengalir berderai. Ia lari terisak isak ke kamarnya.


"Papi nyebelin! nyebelin!!!"


Mardo memukul mukul bantalnya. Percuma saja, Papi tidak akan mengubah keputusannya.


Sementara Mami tidak bisa menolong dan mengubah keputusan suaminya.


Jika Papi bilang tak tidak  maka selamanya tak berubah. Papi keras.


Penuh perasaan sedih ia mengabari Vana.


"A-aku nggak bisa ikut kalian pergi berlibur. Papiku nggak mengijinkan."


Vana terdiam, Ia berusaha menghibur Mardo.


"Sabar, kita akan cari cara agar Papi Kamu mengijinkan, aku telpun Richi dulu ya."


Vana menutup telpun. Ia bingung. Justru Richi mengajak pergi berlibur sebab Mardo. Selama ini mana pernah Richi mengajak teman temannya berlibur. Richi menjadi murah hati karena Mardo. Hal yang membuat Vana, Zam-zam, Rossy, Betty, Sarah Lee dan Halima jadi harap-harap cemas. Kegembiraan yang menggebu-gebu, meredup seketika.


Richi  pusing memikirkan cara meyakinkan Pak  Wijaya. Ia tak bisa tidur semalaman memikirkan laki laki itu. Ia dan teman-temannya sudah datang ke kantor dan ke rumah. Justru Papi semakin was was,  anak gadisnya pergi berlibur dengan anak laki laki. Mereka semua seusia. Papi meragukan mereka bisa saling menjaga. Mardo bagi Papi adalah gadis kecilnya yang tak boleh jauh darinya. Keselamatan Mardo yang terpenting.


Tidak ada cara lain kecuali meminta tolong pada Papinya untuk bicara dengan Pak Wijaya.Tapi masalahnya apakah Papi mau? Siapa tau berhasil. Ia harus mencobanya. Esok paginya Richi mendekati Papi yang sedang menikmati sarapan.


"Pi, bisa tolong Richi kan?"


Lelaki gagah dan berwibawa itu menatap anaknya.


"Tolong apa? asal Papi bisa ya Papi bantu."


"Pasti bisa Pi, gampang kok."


Richi menceritakan kegalauannya beberapa hari ini. Semula Papi menggeleng geleng. Ini bukan persoalan berlibur, tapi tanggung jawab yang besar terhadap anak orang yang diajak pergi. Papi berusaha menjelasakan beban moral mengajak orang pergi bersamanya. Tapi Richi bisa meyakinkan bahwa ia dan teman-temannya akan saling menjaga diri. Musibah atau apa pun bisa terjadi dan menimpa siapa pun jika memang sudah takdir. Bahkan di tempat tidur sekali pun.


Papi terdiam. Richi mengatakan apa yang pernah ia katakan. Tidak boleh takut pada sesuatu, selama hal tersebut baik. Sebab maut bisa terjadi saat tertidur sekali pun. Akhirnya Papi tersenyum. Ia akan berusaha bicara pada pak Wijawa, nanti sore mereka ada jadwal bermain tenis.


"Terima kasih Pi."


Richi berdiri dan mendekati laki-laki tampan itu dan menciumnya.


"Aku mengandalkan Papi."


"Siap!"


Papi tersenyum dan mengacak-ngacak rambut putra tersayangnya. Malam harinya Papi mengabari kalau pak Wijawa mengijinkan anaknya pergi berlibur, dengan syarat menjaga putrinya selama liburan hingga pulang kembali ke kota eksotik.


Richi hampir tak percaya, "Serius Pi? Mardo diijinkan Papinya pergi berlibur?"


"Alhamdulillah, yuhuuu! akhirnya Mardo dapat ijin pergi berlibur."


"Hore!"

__ADS_1


Setiap orang berteriak kegirangan. Akhirnya mereka jadi pergi berlibur. Hari minggu besok anak-anak pergi dengan kapal laut menuju kota Merauke. Mengisi dan menghabiskan waktu selama liburan sekolah. Bersama teman-teman dekat dan akrab. Richi bahagia sekali. Senyumnya merekah dan matanya bersinar riang.


"Mardo, aku akan memperlihatkan kepadamu duniaku yang indah, I love you."


 Richi mengigit bibirnya menahan senyum. Wajahnya menyemburat menjadi kemerahan,  Ia tersipu sipu.


"Makasih Papi."


Entah bagaimana Papi melakukannya. Apa mungkin Papi mengatakan hal yang sama? bahwa kalau memang ada kemalangan dan sebagainya, itu bisa saja di mana pun. Bahkan di tempat tidur.  Sebuah kata yang menakjubkan. Membuat tidak ada yang perlu ditakutkan di dunia ini.


Pagi  sekali semua berkemas dan bergegas ke pelabuhan. Sebuah kapal besar yang kokoh dan menjulang tengah bersandar. Beberapa awak kapal  bekerja menyusun dan memasukkan barang barang ke dalam kapal. Penumpang bergantian naik ke kapal. Sekelompok demi sekelompok. Mereka membawai barang serta tas berisi keperluan selama di kapal.


Setelah sampai di dalam kapal para penumpang mencari tempat yang nyaman untuk mereka. Sebab perjalanan ke tempat tujuan tidaklah sebentar. Makan waktu berhari hari. Pemilik kapal juga sudah memikirkan hal tersebut. Banyak tempat yang bertebaran untuk para penumpang. Ada  ruangan  besar yang bisa menampung ratusan


penumpang. Sofa besar  bertebaran untuk  bersantai dan menikmati  pemandangan.  Cafe, retoran, tempat menonton film dan tempat olah raga.


Di atas dermaga pada sebuah sudut telah ada Betty, Rose, Sarah Lee serta Halima. Mereka janjian datang ke pelabuhan bersama. Gadis-gadis itu memakai kaos berwarna cerah dan celana jean. Halima juga kelihaan keren. Di lehernya tergantung kacamata. Entah dari mana ia mendapatkan ide membawa kacamata itu. Selangkah lebih maju, begitu komentar Sarah lee.


"Itu Richi dan Sulaiman."


Betty menunjuk dua cowo itu yang turun dari mobil. Mereka menyeret koper yang besar.


"Hai, Richi ! kami di sini!"


Betty dan yang lain melambai lambai. Hingga Richi melihat mereka dan segera bergabung.


"Mardo, Vana dan yang lain belum datang."


"Sebentar lagi, nah itu Husen Rumadau dan Wiliam."


"Mardo belum datang?"


Mereka  saling menatap, Mardo dan Vana belum datang. Semua tegang, takut Papi Mardo mencabut ijin yang sudah ia berikan. Berubah pikiran.


"Biar aku telpun."


Zamzam menengahi sembari berlari ke tempat telpon umum. Ia menelpon ke rumah Mardo. Mangara yang mengangkat dan mengatakan kalau Mardo sudah berangkat diantar Papi dan Pat. Segera Zam-zam memberitahu kalau Mardo sudah dijalan. Mereka tenang mendengarnya. Benar saja tak lama sebuah mobil memasuki dermaga. Pintu mobil terbuka.


"Mardo!"


Teman-temannya memekik dan melambaikan tangan. Mardo menoleh dan balas melambai. Ia keluar dari pintu yang kanan. Bersamaan Vana juga keluar dari sebrang. Keduanya ke belakang menunggu koper.  Supir keluar untuk membantu menurunkan. Papi dan Pat juga keluar memandangi suasana pelabuhan. Lalu menolehi Mardo dan Vana. Ia menghembuskan napasnya.


"Hati-hati yang Nak, kau juga Vana. Saling memperhatikan dan menjaga ya."


Masih terbersit rasa takut melepaskan anak gadisnya. Tapi Mardo cepat-cepat meyakinkan.


"Aku akan menjaga diriku dengan sebaik-baiknya Pi, Vana juga."


Mardo mencium tangan Papi, juga pipi adiknya Pat.


"Jangan lupa oleh-oleh untuk aku."

__ADS_1


Patricia berteriak dan tersenyum manis.


"Iya, tenang aja."


Keduanya lantas beranjak ke tempat teman-teman berkumpul dan menunggu. Richi menyongsong dan ia tak lupa menyalami Papi serta mengucapkan terima kasih sudah mengijinkan Mardo berlibur bersamanya. Papi mengangguk-angguk.


"Terima kasih sudah mengijinkan Mardo pergi berlibur bersama kami Pak."


 Bunyi pluit sudah terdengar. pertanda sebentar lagi kapal mengangkat jangkar. Mereka melambaikan tangan dan satu-persatu naik ke kapal.


"Bismillahirohmanirrohim, ini pertama kalinya aku naik kapal laut, hatiku berdebar begitu dahsyat."


Mardo sekali lagi menoleh pada Papi dan Pat adiknya. Ia melambaikan tangannya. Koper-koper mereka telah diurus oleh pegawai yang akan melayani dan membantu anak-anak itu. Zamzam memimpin teman-temannya masuk ke kapal. Berikutnya anak laki-laki. Richi dan Sulaiman paling belakangan. Sementara Papi dan Pat berjalan-jalan mengawasi segala sesuatu yang ada di pelabuhan. Mami bilang kalau ada yang berjualan ikan tuna agar Papi membelinya. Mami akan memasak ikan tuna bakar.


Setelah menaro koper dan barang-barang di kamar, Mardo bergegas keluar. Terasa kapal besar itu sudah mulai bergerak. Sedikit demi sedikit kapal menjauh.  Sosok Patricia dan Papi serta semua orang menjadi kecil. Mardo memegang dinding kapal dan bersandar di sana. Sedih meninggalkan Papi dan Pat di dermaga.Tadi di rumah  Mami mencemaskannya. Belum pernah Mardo pergi sejauh ini sendirian. Maksudnya tak ada keluarga bersamanya. Papi meyakinkan bahwa semua akan baik baik saja. Putri mereka sudah besar dan bisa menjaga dirinya.


Yup,ini adalah perjalanan petualanganku yang pertama. Pasti menyenangkan dan banyak pengalaman.


Mardo, tersenyum. ia yakin perjalananan liburan ini tidak akan sia sia. Ia akan mengambil  banyak sekali pengalaman yang menarik. Dia tidak tau di dermaga Pat tengah merajuk sebab tidak boleh ikut naik kapal laut.


"Papi, kalau Pat nanti sudah sebesar kak Mardo boleh juga pergi naik kapal laut."


"Tentu saja, asal ada yang menjagamu."


 Pat tersenyum, Papi mengajaknya mencari ikan tuna pesanan Mami.


Mardo tercekat, dermaga sudah tak terlihat lagi. Semua saat ini hanyalah ombak dan ombak. Apakah mereka sudah berada di tengah lautan?  Sekali lagi Mardo menatap dermaga. Yang terlihat hanya buih buih putih yang menampar kapal. Sejauh mata memandang hanya lautan yang mengelilingi


 "Ya Rabb, sekarang aku berada di tengah lautanMu yang maha luas."


Mardo mendekap bibirnya merasa takjub sekaligus takut.


"Hei Do, kita ke kamar yuk."


Mardo menolehi Vana yang mencarinya.


"Iya Van, kamu duluan. Sebentar lagi aku datang."


Jawab Mardo sembari tersenyum, minta pengertian temannya itu.


"Ok, baiklah, ini yang pertama baginya naik kapal laut, ia pasti takjub sekali."


Vana mengangguk anggukan kepalanya. Mardo masih  memandangi buih buih laut, yang menampari dinding kapal. Bunyi debur ombak yang menampar memiliki sensasi sendiri.


 


 


Bersambung


Hello, terima kasih telah mampir dan membaca kisah sederhana dan manis ini

__ADS_1


jangan lupa ya say memberikan like, vote serta komen. Tinggalkan jejak biar aku tau.


Othor sangat berterima kasih.


__ADS_2