
Pagi-pagi Prita sudah bangun. Yunna mengajaknya vidio call.
"Prita hari ini kamu sudah bisa pulang kan? bantu aku dong, jangan datang saat
hari h, percuma tau!"
"Maaf Yunna, baru besok pagi aku berangkat dari Semarang, masih banyak
pekerjaan soalnya."
Prita hari itu masih ada kelas, setelah selesai, Rakasiwi akan menjemputnya.
Dan mereka berencana jalan-jalan lagi dan membeli oleh-oleh untuk bunda
dan ayah Raka Bramantyo. Hari itu mereka akan santai saja. Rakasiwi juga
tak terburu-buru. Ia sudah tau Prita akan ke kampus dulu. Gadis itu akan
mengabarinya saat ia telah siap untuk menghabiskan waktu dengan
Rakasiwi.
Yunna agak ngambek, Prita terkesan tak mementingkan acara pernikahannya
dengan Ayah Jae. Buktinya ia baru pulang sehari sebelum acara tersebut.
"Baiklah, aku mengerti, jangan sampai nggak datang. Begitu kau akan sampai
kasih tau ya, biar pak Darto Keling menjemputmu."
Yunna mewanti-wanti, ia ingin sekali Prita sahabat dekatnya mendampinginya
saat hari bahagia.
"Siap, pengantin!"
Yunna mengerucutkan bibirnya. Ia sedang di pingit oleh orang tuanya.
"Kusumpahi Loe juga bakal secepatnya jadi pengantin!"
"Aamiin, tapi rencanannya dua atau tiga tahun lagi Cing, lulus kuliah dulu
cari kerjaan yang bagus, baru menikah Cing."
"Yuhuuuu, terserah Elo deh Cing."
"Gwe mau berangkat ke kampus dulu Cing, hari ini ada kelas, besok Gwe
udah ada bersama Elo, sabar ya Cing."
Prita mengakhiri percakapannya dengan Yunna, menyambar tasnya dan setengah
terburu-buru mengunci pintu dan bergegas keluar.
"Prita mau ikut? yuk ke kampus."
Gadis itu menoleh, dan salah satu teman kostnya sedang bersiap berangkat. Ia
mengajak Prita.
"Alhamdulillah, makasih banget say."
Prita bergegas menaiki motor, dan setelah temannya yakin gadis itu naik barulah
ia melajukan motornya. Lumayan banget, Prita tidak terlalu kelelahan berjalan
kaki ke gedung perkuliahan. Biasanya bajunya sampai basah oleh keringat, dan
ia mengipasi tubuhnya sebelum memasuki kelas.
Kali ini Prita langsung memasuki kelas dan bergabung dengan teman-temannya.
Tak lama dosen masuk dan terdengar mereka segera memulai kelas hari itu.
Sementara Rakasiwi masih bermalasan di atas tempat tidurnya. Ia baru saja
__ADS_1
dari kamar mandi dan kemudian membuat minuman hangat. Bundanya Mardo
setiap pagi selalu membiasakan anak-anaknya bangun tidur minum dua gelas
air putih hangat dan tidak makan apa pun selama lima belas menit.
Menurut bundanya itu adalah terapi air putih, membuat lambungnya sehat
dan jarang sakit. Pada awalnya memang tidak enak. Tetapi setelah bertahun-tahun
menjadi kebiasaan. Sekarang rasanya air putih itu manis.
Ia menghidupkan tivi dan mencari chanel yang menarik. Ia berhenti dan mendengarkan
acara musik. Memiringka tubuhnya sembari memeluk bantal guling. Pikirannya
mengembara entah kemana.
Ia meraih handphone yang berada tak jauh darinya. Memeriksa pesan dan membacanya.
Tiba-tiba ia menyadari bahwa Alan sudah lama tak mengirim pesan untuknya. Tak
pernah menelpon dan mengacuhkan medsosnya. Padahal biasanya Alan yang paling
aktif berkomentar.
Alfredo sesekali masih mengirim pesan dan menelpon. Kalau nggak mau dipecat jadi
adik ipar apa? Rakasiwi berinsiatif menanyakan kabar Alan.
"Bro, apa kabar? Lo baik-baik aja kan? nggak pernah dapat kabar Lo Bro."
Rakasiwi lantas menaro handphonenya. Menunggu balasan dari Alan. Ia memejamkan
mata, tetapi takut bablas ketiduran. Akhirnya ia memutuskan bangun dan meregangkan
tubuh sembari menuju balkon.
Kolam renang yang sepi tampak di bawah sana, serta kesibukkan di jalan raya di balik
remaja yang menyebrang sambil tertawa dan berbincang. Agaknya mereka akan pergi
bermain. Indahnya masa remaja. Rakasiwi meletakkan dagunya di atas pembatas
mengenang masa dia di smp dan smu. Suasana islami yang kental. Bunda memang
memasukkan semua anak-anaknya di sekolah tersebut. Sekolah yang terkenal dan
memiliki cabang di berbagai kota.
Hingga ia selesai dan melanjutkan studynya di luar kota. Barulah suasana keislaman
itu tak tampak lagi. Di tempat yang baru, cara serta lingkungannya berubah. Di sana
memang banyak juga yang mengenakan baju muslim modren. Tetapi lebih banyak
penampilan yang umum.
Drettttt! drettttt!
Rakasiwi mendengar handphone berbunyi. Segera anak muda itu masuk dan mengambil
handphonenya. Ia membuka pesan masuk, ternyata ada banyak pesan masuk, diantaranya
dari Alan.
"Hai Bro, aku sibuk mencari sesuap nasi Bro, sampai nggak sempat mengabari. Dirimu
apa kabar Bro, sehat dan baik-baik saja kan?"
Buru-buru Rakasiwi membalas, "Oh sibuk ya Bro, besok aku pulang, barangkali bisa
ketemu ya, kangen mengobrol dan mendengar ceritamu Bro."
"Ok, aku usahakan Bro, kasih tau aja klo udah sampai Jakarta ok."
__ADS_1
Siap!
Rakasiwi melihat jam yang sudah bergeser ke angka sepuluh. Hemmm cepat sekali
waktu berputar, ia harus segera mandi, berkemas kemudian menjemput kekasihnya
yuhuuuu, kekasih. Rakasiwi tersenyum-senyum. Kalau ayah dan bunda tau aku sudah
punya kekasih, gawat nggak ya? laki-laki itu terus tersenyum.
Memandangi tubuhnya yang tinggi seratus tujuh puluh lima, berisi serta memiliki
wajah perpaduan ibunya Mardo serta ayahnya Rakasiwi, dia tampan dan menyenangkan.
Ia mencoba senyum di cermin, mengedipkan mata, lantas mengelus rambutnya dan
menarik sedikit ke depan, sekarang terlihat lebih keren. Sedikit sentuhan wangi yang maskulin
penyempurna penampilan.
"Puspita hatiku, sebentar lagi otw nih jemput kamu di kost ya."
Sebelum keluar dari kamar hotel Rakasiwi menulis pesan untuk Puspita eh prita deg
he he he. Lalu ia pun berlari-lari kecil di lorong hotel menuju lift. Tak lama laki-laki muda
yang sedang jatuh cinta itu telah berada di depan hotel dan sedang menunggu mobil
online yang sedang meluncur ke arahnya.
Semarang cantik dan ceria sekali hari ini, jangan hujan ya karena aku dan puspita hatiku
akan menghabiskan hari di kota cantik ini. Kami akan menikmati kuliner kotamu, wisata
berdua, memadu janji dan cinta.
Tetapi Rakasiwi meragukan dirinya. Apa ia bisa bersikap mesra pada Prita? Selama ini
rasanya kaku sekali. Setiap ketemu gadis itu ia selalu saja serba salah. Sementara
Prita tenang dan manis. Ia masih seperti sosok masa kecilnya. Memandangi orang
berlama-lama, hingga orang tersebut menjadi serba salah. Matanya yang berbulu lentik,
sangat indah, sinarnya kadang bersorot tajam seperti silet, tetapi kebanyakkan
sorotnya lembut menggetarkan.
Prita oh Prita, pantas saat bertemu rasanya aku sudah mengenalmu lama sekali. Tak
asing bagiku. Namun lama sekali baru mengetahuinya. Ketika itu aku menangis
karena bunda tak mengantarku ke sekolah. Tiba-tiba sosokmu muncul dari
ujung jalan, sendirian dengan mengayun-ayunkan tas kecil berwarna pink. Terkadang
kau berlari-lari kecil, hingga tiba di sekolah. Kau tersenyum pada semua
teman-teman, lalu memasuki kelas dan mencium tangan ibu guru. Kau
gadis kecil yang kukagumi saat itu, sebab tak pernah diantar oleh ayah dan
bundamu.
Bersambung
__ADS_1