Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode Baby Yunna 3


__ADS_3

Prita sedang bersiap ketika Elsa datang mendahuluinya. Gadis itu melompat dari motor online yang mengantarnya.  Ia terburu-buru masuk dan mengatakan tentang Jaelany yang meminta bantuan keduannya.


"Bantuan apa Sa?"


"Katanya hari ini pihak penculik meminta bertemu untuk pertukaran. Mereka minta secepatnya uang 2,5 milyar."


"Oh, benarkan? ya ampun! apa yang bisa kita lakukan."


"Baby Yunna sakit sebab itu penculik ingin secepatnya mengadakan barter."


Sedang mereka berbincang handphone berbunyi. Ternyata Jaelany sudah menunggu. Ia tak sabar untuk mengambil anaknya. Ia tak perduli dengan uang  milyaran. Yang terpenting ia mendapatkan anaknya. Priti buru-buru mengeluarkan motornya yang besar. Kemudian menghidupkannya dan menolehi Elsa. Gadis itu segera naik dan memeluk pinggang Priti. Keduanya mengebut menuju rumah Jaelany.


Pria itu sudah menunggu mereka di teras. Ia mengenakan kacamata hitam, berkali-kali menatap ke luar.


"Kenapa mereka lama sekali?"


Jaelany melihat jam tangannya. Penculik memilih pertukaran di saat pagi hari untuk mencegah banyaknya orang yang akan beraktifitas. Laki-laki itu akan menelpon ketika motor yang dikenderai oleh Priti memasuki halaman. Jaelany menyukai Priti dengan motor besarnya. Kelembutan berpadu dengan motor besar. Sangat menarik dan tidak biasa. Sesaat ia terpesona dan tak mengedipkan matanya. Ia juga melihat Elsa. Gadis itu juga manis. Ia cepat menggelengkan kepalanya dan tersenyum menyambut kedua gadis itu.


Jaelany mengajak keduanya masuk ke rumah dan Jaelany memberi petunjuk sesuai yang diminta oleh penculik. Prita dan Elsa saling berpandangan lantas mengangguk-anggukkan. Mereka mengerti apa yang akan dilakukan.


"Ok, kita berangkat sekarang."


Jaelany dan kedua gadis itu menuju kenderaan yang segera meluncur ke sebuah tempat. Agak menegangkan membuat tidak ada yang bicara. Tak lama mereka memasuki daerah kebun binatang Ragunan. Jaelany mendapat telpon dan merekah melewati tempat wisata tersebut. Kenderaan memasuki perkebunan yang luas dan terbuka. Instruksinya mereka harus masuk lebih ke dalam dan kemudian diminta berhenti.


Agak lama ketika petunjuk berikutnya diberikan. Prita dan Elsa akan membawa uangnya dengan berjalan hingga satu kilo. Bayi Yunna akan muncul saat mereka sampai di kilo meter pertama.


"Ayah, ini tidak berbahaya buat kami kan?"


"Tidak! aku jamin cepatlah!"


Segera Prita dan Elsa mulai berjalan dengan membawa koper yang berisi uang dua setengah milyar. Matahari mulai keluar dari peraduannya. Udaranya terasa sejuk dan menyehatkan. Kebun juga lenggang. Tak ada seorang petani pun yang datang. Elsa dan Priti membisu, keduanya menyimpan ketakutan serta rasa tegang. kalau bukan karena baby Yunna keduanya tak mau melakukannya.


Terdengar deru mobil semakin dekat ke arah mereka. Priti dan Elsa saling pandang. Keduanya menghentikan langkah dan menunggu. Hingga pintu terbuka.


"Masuk!"


Priti dan Elsa terkejut, mereka tak melihat baby Yunna.


"Mana baby Yunna? kami harus membawanya."

__ADS_1


"Sudah cepat masuk! kami harus memeriksa uangnya"


"Mana Baby Yunna!"


Priti meletakkan tas uangnya ke belakang tubuhnya berusaha melindungi serta menarik Elsa untuk menjauh. Dua pria yang menggunakan topeng terlihat marah. Mereka berdua keluar dari mobil dan menarik Priti dan Elsa masuk ke dalam mobil. Tenaga pria itu  bukan tandingan Elsa dan Priti. Kenderaan itu meluncur meninggalkan tempat itu. Jaelany mengejar di belakang. Ia tersenyum smirk. Sekali mendayung dua tiga pulau terlalui.


Mama Risa menunggu anaknya. Sudah menjelang sore begini tapi Prita tidak ada kabar. Perempuan itu mondar-mandir dan menatap ke ujung jalan. Beberapa kali ia menelpon tapi tidak ada jawaban. Hatinya mendadak gelisah. Sebentar lagi hari telah gelap.


"Hem, mungkin Prita mampir ke rumah temannya. Lebih baik aku sholat dan berdoa untuk anakku Prita."


Mama Risa segera menutup pintu dan bersiap untuk sholat magrib. Hatinya agak tenang setelah memasrahkan semuanya kepada Rabbnya.


Mobil itu entah bergerak kemana. Tau-tau mereka memasuki sebuah bangunan megah. Mobil itu menghilang di bawah tanah. Elsa dan Priti terbengong mendapati mereka di tempat yang asing. Pintu gerbang terbuka dan dua orang bertopeng tersebut mengajak keduanya masuk.


Suara bayi menangis, Elsa dan Priti ditengah kejengkelan mereka oleh kejadian itu mencari arah suara bayi tersebut. Seorang perempuan setengah baya tengah memberikan bayi itu susu. Sembari menggoyang-goyangkan tubuhnya mengimbangi tangis bayi tersebut.


"Itu bayi yang kalian inginkan, heh Bi berikan bayi itu padanya."


Laki-laki itu berteriak kencang. Elsa dan Prita mendekat dan melihat  bayi yang sedang digendong. Elsa yang sudah pernah melihat bayi Yunna mengenalinya.


"Ini bayi Yunna, ya Allah kasihan sekali kamu sayang."


Elsa mengambil bayi itu dari gendongan si perempuan.


Elsa langsung mendekap baby Yunna, Prita memandangi wajah baby Yunna. Lalu mencium pipinya. Mata gadis itu berkaca-kaca oleh baby Yunna. Bayi yang cakep dan mungil. Prita memutari tempat itu mengamatinya. Ia juga melihat keluar ada taman yang asri. Entah milik siapa tempat tersebut dan ia tak mengerti kenapa mereka dibawa ketempat itu.


Ia kembali mendekati Elsa. Saling berpandangan.


"Sudah berapa jam kita di sini? coba telpon Ayah."


"Dari tadi tak aktif, aku sudah mengirim pesan dan menelpon tapi tidak dijawab."


"Aneh sekali, jangan-jangan!"


Prita terpikir sesuatu. Tiba-tiba pintu yang berada di tengah ruangan itu terbuka. Yang membuat Elsa dan Prita tercekat.


"Ayah Jae!"


"Mana putraku? oh ayah rindu sekali padamu."

__ADS_1


Dia langsung mendekat pada Elsa yang sedang menggendong baby Yunna dan mengambilnya. Sejenak bayi yang anteng itu menggeliat dan menangis karena merasa terganggu. Laki-laki itu menggendong dan mendekapnya di dada. Beberapa kali ia menciumi pipi yang mengemaskan itu.


Prita dan Elsa membiarkan sejenak ayah dan anak itu bersama. Setelah beberapa lama Elsa bilang bahwa ia harus bekerja. Seketika mimik Jaelany berubah. Ia memanggil perempuan yang sedari tadi duduk tak jauh dari mereka. Perempuan itu yang merawat baby Yunna.


"Kasihan sekali bayi itu, kehilangan ibunya disaat ia sangat membutuhkanya. A-apakah dia boleh memanggil kalian dengan ibu atau Mama?"


"Ja-jadi saat dia besar nanti jika ia bertanya padaku siapa ibunya aku bisa menunjuk kalian."


Lagi-lagi Prita dan Elsa bertatapan.


"Katakan yang sebenarnya bahwa Yunna adalah ibunya."


Sahut Prita, laki-laki itu berjalan mondar-mandir sembari mengerutkan keningnya.


"Maksudku, seorang anak akan rendah diri jika ia mulai berinteraksi dengan dunia luar, tanpa ibunya. Aku ingin ia merasa seperti anak-anak lain yang memiliki ibu."


"Hanya sekedar memanggil ibu kurasa tidak apa-apa Prita."


"Aku hanya tidak ingin terjadi yang tidak kita inginkan dibelakang hari Elsa."


Sahut Prita. Bagaimana kalau kelak baby Yunna menuntut kebersamaan dengan ayahnya? Gadis itu berpikir panjang dan mempertimbangkan masak-masak.


"Sebenarnya apa yang terjadi ayah? kenapa kita berada di tempat ini. Apakah  rumah ini milik  ayah Jae?"


Prita semakin curiga, mengingat laki-laki itu sangat licik. Kalau hal itu benar ada kemungkinan Yunna telah dibunuh oleh suaminya sendiri. Priti beringsut dan menyentuh tangan Elsa. Penculikkan hanya sebuah alasan.


Laki-laki itu tersenyum. Sebentar mendongakkan kepalanya.


"Aku membutuhkan seorang perempuan untuk ibu anakku! suka rela atau pun dengan cara memaksa!"


Keduanya terkejut, apa lagi wajah Jaelany berubah keras.


"Maksudnya apa? kami tentu saja senang dipangil ibu oleh baby Yunna, dia adalah anak sahabat kami, baby Yunna seperti anak kami sendiri."


Laki-laki mengeras dan menghujamkan matanya pada Prita.


 


 

__ADS_1


 


Bersambung


__ADS_2