Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 290. Dalam Penculikkan


__ADS_3

Sementara nun jauh di sana perempuan itu terguncang-guncang dalam sebuah mobil yang dikenderai dengan liar dan kasar. Tubuhnya hampir saja tersungkur kalau ia tak buru-buru meraih pegangan.


Ia memukul-mukul dinding perantara yang memisahkan dirinya dengan supir liar tersebut.


"Hei! Hentikan mobilnya! apa yang kau inginkan?"


Tapi pengendara itu sama sekali tidak menggubrisnya. Telinganya seperti disumbat  hingga tak mendengar kalau sejak ia dibawa paksa masuk ke mobil tersebut ratusan kali perempuan itu berteriak-teriak apa yang diinginkan oleh orang itu? dan kenapa ia diculik.


Sepertinya sangat patuh dengan seseorang, ia hanya melaksanakan perintah saja dan tidak mau menjawab apa pun. Akhirnya dia terdiam dan merasa lelah. Ia berusaha mengintip lewat kaca mobil dan tidak mengenali sama sekali tempat tersebut. Apa sebenarnya yang terjadi? ia mulai bertanya-tanya dan mengingat.


Tadi pagi  ia berangkat ke kantor. Ia tidak ada firasat apa-apa hingga ia hampir mencapai kantor. Di depannya ada beberapa petugas pembersih jalan yang agaknya telah terbalik gerobaknya. Saat melihatnya berhenti  tak jauh dari gerobak yang terbalik itu dua orang menghampirinya dan meminta maaf atas ketidak nyamanan itu.


Perempuan itu menurunkan kaca jendelanya sedikit tetapi yang sedikit itu telah membuat pintu mobilnya terbuka. Secara kilat tubuhnya di tarik ke sebuah mobil. Ia berusaha merontak dan menjerit tetapi tidak ada yang mendengarnya. Ia tidak tau lagi dengan mobilnya yang segera di ambil alih oleh salah satu dari mereka. Mulutnya dibekap dan mencium sesuatu yang membuat dirinya terkulai dan tidak ingat apa-apa lagi.


Entah beberapa lama hingga ia  mulai sadar.  Perempuan itu mulai merasakan bahaya yang bisa saja mengancam keselamatannya. Siapa orang-orang itu dan mengapa ia diculik dan dibawa ke sebuah tempat yang sangat jauh. Sebab sejak ia di masukkan ke dalam mobil pagi tadi, sekarang ia masih berada di mobil yang sama. Apa lagi hari telah gelap pertanda sebentar lagi akan malam.


"Tolong! Tolong! Tolong!"


Perempuan itu menyadari bahaya itu akan semakin dekat. Ia berteriak-teriak dan memukul-mukul jendela dan apa saja yang terkena olehnya. Hingga ia merasakan sesuatu di kakinya. Rupanya tas miliknya yang diberikan oleh orang tak dikenal tersebut. Dia buru-buru mencari-cari handphone. Ternyata sudah tak ada. Ia tak bisa berhubungan dengan keluarganya. Sekarang semua tergantung kepada dirinya sendiri untuk bisa menyelamatkan diri.


Perempuan itu mendekap tasnya dan berusaha tenang. Ia menyebut nama Rabbnya meminta perlindungan. Dia mengingat-ingat mungkin ada kesalahan yang telah ia lakukan pada pegawainya. Tapi tidak ada. Perempuan itu merasa ia tidak terlibat secara langsung dengan mereka. Ia memiliki beberapa staf. yang membantunya di perusahaan. Semua ia serahkan pada staf. Jadi rasanya tak mungkin ada pegawai yang ingin menyakitinya. Ataukah dari perusahaan suaminya? juga tidak mungkin. Raka memberikan kepercayaan penuh pada Deni dan Sammy untuk mengurus semua karyawan.

__ADS_1


"Ya Rabb, siapa mereka? Apa yang mereka inginkan dari diriku."


Tiba-tiba kenderaan itu berhenti di sebuah halaman. Perempuan itu menolehkan matanya dan pintu terbuka.


Salah seorang dari mereka menarik lengannya.


"Kau pasti lelah dan juga ingin ke toilet ibu Mardo, ayo ikut saya. Tapi awas jangan sampai berbuat yang tidak-tidak ya bu. Kami hanya bertugas mengantarkan ibu Mardo bertemu seseorang, jadi jangan mempersulit kami dan juga diri ibu sendiri, faham!"


Perempuan yang ternyata adalah Mardo menatap kesal, tetapi ia tidak ada pilihan lain. Ia sudah menahan keinginan buang air kecil sejak beberapa jam yang lalu. Perutnya juga mulai lapar. Terpaksa ia mengikuti laki-laki itu yang menjejerinya ketat ke kamar mandi. Sementara pria yang lain  tengah memesan makanan.  Mereka beristirahat  di sebuah restoran kecil.


Mardo mencuci wajahnya dan berkumur-kumur.  Tak lama ketukkan di pintu kamar mandi mengingatkan dirinya. Segera ia keluar dan kembali mengikuti laki-laki yang wajahnya tertutup masker. Ia kembali di bawa ke mobil dan pria yang satunya memberi nasi kotak serta minuman di botol. Setidaknya mereka menghargai dirinya dengan memberikan makanan yang tersaji rapi dalam kotak. Mardo membukanya dan ia merasakan makanan itu enak dan ia menghabiskannya. Apakah karena ia lapar? atau suasana seperti ini membuatnya lahap makan. Setelah itu ia menghirup minumannya.


"Ayo kita berangkat lagi."


"Pak, bapak! Kita mau kemana?"


Salah seorang diantara mereka menoleh ke belakang dan menjawab dingin.


"Sudah Bu, silahkan tidur dan istirahat saja. Nanti juga ibu Mardo akan tahu."


"Anak-anak saya Pak, mereka pasti kehilangan dan mencari saya!"

__ADS_1


"Ibu itu anak-anaknya sudah besar, tak ada yang perlu di risaukan."


Mardo terdiam, berarti  mereka sudah mengetahui perihal keluarganya. Mereka tahu bahwa anak-anaknya semua sudah besar dan tidah yang menyusui lagi. Mereka tidak tahu bahwa putra bungsunya tidak bisa tidur sebelum ia memberikan kecupan selamat malam serta anak itu mempermainkan kuku jempolnya.


"Siapa kalian?"


"Ibu Mardo bisa diam tidak? sampai nanti tau sendiri!"


Mardo akhirnya diam, sebab laki-laki itu terlihat marah dan mulai menyetir dengan ugal-ugalan. Keduanya terbahak-bahak setelah membentak Mardo. Ada sesuatu yang lucu sehingga membuat kedua laki-laki itu tak berhenti tertawa.Membuat Mardo menutup kupingnya dan berkali-kali menyebut Rabbnya.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2