
Mardo masih membukai plastik belanjaan yang menumpuk di lantai. Beberapa jam mereka di sebuah pusat perbelanjaan bernama Dangdaemun. Dan hasilnya tumpukan tas-tas besar di atas lantai bahkan tadi Raka cemberut saking banyaknya tas belanjaan milik Mardo.
Raka berpikir bahwa besok mereka akan pergi lagi ke tempat perbelanjaan yang lain dan Mardo agaknya sama dengan perempuan lainnya merupakan Ratu belanja.
Mentang-mentang harganya murah dan modelnya memang bagus maka, tak berpikir lama, Mardo memasukkan shirt, sebanyak selusin. Dan aneka model rok dari berbagai bahan yang nyaman serta lembut di kulit.
Raka sudah bergelung di atas tempat tidur. Memeluk bantal guling dengan erat. Membiarkan Mardo yang sedang mencobai baju-baju tersebut. Semua shirt, blouse itu cocok dan cantik di tubuhnya.
Agaknya baju-baju itu untuk dia pribadi. Dan besok masih acara berbelanja ke berbagai pusat mode. Pastinya Mardo akan berbelanja lebih banyak lagi. Karena perempuan itu
belum terlihat berbelanja untuk orang tuanya, Abang, adiknya, teman-temannya, karyawannya, mertuanya dan saudara sepupunya. Masih sangat banyak.
Raka buru-buru memejamkan matanya, mengumpulkan tenaga untuk besok. Pasti perempuan itu akan berbelanja lebih banyak lagi dan dialah yang akan membawakan kan barang-barang belanjaan itu. Kalau saja Mardo bukan istrinya Dia takkan mau melakukannya.
Dua hari kedepan, mereka berada di kota Seoul, mengunjungi berbagai tempat serta pusat perbelanjaan.
"Pi, semua bajunya bagus-bagus, lembut dan nyaman, mode juga ok banget Pi, kayaknya bakal untuk aja ya Pi?"
Raka yang belum terlelap hanya bergumam kemalasan karena sudah mengantuk, "Hemmm, iya."
"Pi, lihat deh, cocok banget ya di tubuh Mimi."
Raka membuka sedikit matanya, dan melihat Mardo sekarang sudah berganti baju dan rok yang berbeda.
Memang baju dan rok itu sangat cantik di tubuh Mardo.Akhirnya dia pun hanya berdehem. "Hemm, iya."
Lantas Raka kembali menonton Mardo mengganti bajunya, sekelebatan matanya menangkap bentuk kaki Indah istrinya, kontan ia berdehem, "Hemm, itu cantik sekali Mi."
Mardo membesarkan matanya kearah Raka,
"Ih apaan sih Pipi orang Aku belum pakai apa-apa juga!"
"Oh, belum ganti lagi ya?"
"Yang ini keren juga Pi, buat jalan-jalan ya, ke kantor juga bisa ya Pi?"
"Hemmm, keren Mi."
Pada baju yang ke tujuh akhirnya Raka tak sanggup lagi memberikan komentar karena matanya sudah benar-benar terpejam. dan dia sudah tertidur dengan pulas.
Tinggallah Mardo mengomel panjang pendek melihat si pria idola sudah kalah oleh kantuk.
"Ich pipi udah tidur sih, mimi ditinggalin sendiri nyobain baju-baju. Telanjur ah tinggal 5 baju lagi nihhh, ya ampun, semua bagus dan keren. Berarti mesti belanja lagi buat, Sashi, Putri, Emely, Khairani, Pat, mami, papi juga mertua dan Richi juga."
Mardo memikirkan semua orang -orang yang dekat denganya. Ia juga ingat teman-teman Raka, karyawannya. Ia lantas ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Mengenakan kimononya dan naik ke atas tempat tidur.
Ia mendekatkan tubuhnya dan memeluk dada Raka, mengangkat kepalanya, memberi kecupan selamat malam pada pria idola.
I luv you Pi.
Bisiknya, Lantas memejamkan mata dan tertidur pulas. Malam itu pun berlalu untuk kesekian hari di Seoul.
Dering telepon di pagi hari, tapi Mardo tidak mendengarnya. Ia sangat nyenyak sekali.
Akhirnya Raka mengambil telepon itu. Seperti pagi-pagi kemarin mbak Merry melakukan morning call.
"Ok Mbak," Kata Raka.
Sembari menaruh telepon tersebut. Raka lalu memperhatikan perempuan di sebelahnya, wajah cantik itu tertidur begitu pulas, bibirnya yang yang merah ranum sedikit terbuka. Terdengar dengkur yang halus serta dadanya yang turun naik dengan teratur.
__ADS_1
Kasih cintanya timbul sangat besar. Penuh perasaan yang sangat dalam, takut mengganggu tidur sang istri dengan lembut ia menyentuh kening Mardo yang sedang tertidur.
"I luv you Mi, selamanya
kamu cintaku!"
Raka lantas bangun dan beranjak ke kamar mandi, membiarkan Mardo terlambat bangun, karena agaknya tidur larut malam gara-gara belanjaan. Tetapi begitu Raka keluar dari kamar mandi, ia lihat istrinya sudah bangun
dan agaknya baru saja menelpon seseorang.
"Pipi udah mandi ya, ich segar deh. Itu Mimi udah buatin coklat panas Pi."
"Makasih Mi, air hangat udah tersedia tuh di bath tub."
Mardo tersenyum, makasih Pi.
"Pi, masa si Grace minta temanin ke cosmetik shop, mau nanya-nanya tentang operasi plastik kosmetik
mau mancungin hidung, mumpung di sini murah Pi."
Mardo menceritakan tentang Grace, salah satu pasangan honeymoon yang mulai dekat dengannya.
"Pipi sih nggak setuju kalau Mimi ikut-ikutan operasi plastik biar cantik!"
Raka langsung mengultimatum.
"Ich Mimi juga nggak mau operasi plastik, mami kan sudah cantik luar dalam, iya kan Pi?"
Raka tak menyahut, sedang memakai baju yang Mardo pilihkan untuknya, baju mereka hari ini
senada, merah segar seperti warna chery.
"Mimi cantik kan Pi?"
Bibir pria itu menyunggingkan senyum tipis.
"Hemmm, mimi hebat dong yang mendapatkan pria Idola."
"Udah jodoh kali."
"Ich, kan berusaha juga Pi."
"Iya, cepetan mandi sana, udah jam berapa ini loh."
Raka meraih tubuh semampai Mardo dan membimbingnya ke kamar mandi.
"Gendong Pi."
Mulai manja dan mengerling wajah Raka yang begitu tampan dan segar, juga wangi.
"Tiap hari udah digendong juga, mandi dulu nanti digendong."
Raka mendorong lembut Mardo ke dalam kamar mandi, dan ia kemudian berjalan balik
ke kamar. Memeriksa dompetnya. Terdengar suara Mardo bersenandung, serta suara
air yang gemericik.
Dua hari lagi mereka kembali ke Indonesia, kangen juga dengan Papi,Mami dan Richi.
__ADS_1
Sesaat terbayang sosok adiknya. Apakah Richi sudah ke Merauke? Sudah berapa hari ini
tak menelpun ke Indonesia. Ia lalu menelpun Maminya.
"Oh, anak Mami Raka, bagaimana honeymoonnya? lancar kan? Menantu Mami
sehat-sehat kan? kalian bikin Raka kecil ya untuk Mami, atau Mardo imut. Pokoknya Mami
minta oleh-oleh cucu!"
"He he he, iya Mi, doakan bisa bikin cucu di sini, Papi gimana Mi? Richi?"
"Papi sehat, sedangkan Richi sudah di Merauke. Oh Iya ada kabar baik, adikmu sudah
mendapatkan kekasih!"
"Oh yaa? Raka senang mendengarnya. Siapa Mi? gadis mana? apa gadis Merauke?"
"Bukan,kamu pasti terkejut. Dia gadis Bule, cantik sekali dan baik seperti halnya Mardo."
"Wih bule Mi? bule dari mana? bisa ketemu richi di mana Mi?"
"Ayahnya dari Texas tapi dibesarkan di Florida, dan ibunya dari Indonesia."
"Wahhh, nanti keluarga kita ada bulenya Mi he he he."
"Semoga, mereka berjodoh, Mami lihat sih si gadis bulenya suka sama Richi, dan sebaliknya
juga begitu. Mami lihat sikap dan karakternya mirip-mirip Mardo."
"Masa Mi, jadi pengen kenal adik ipar he he he. Nanti Mami kirim fotonya ya, doakan
adikmu berjodoh ya Nak."
"Tentu Mi, semoga gadis itu menjadi jodohnya Richi."
Mardo keluar dari kamar mandi, sembari mengikat kimononya, wangi segarnya menyeruak.
Keduanya saling berpandangan.
"Pipi barusan nelpun Mami, katanya minta oleh-oleh cucu,"
Seketika pipi Mardo merah jengah, tersenyum malu, "Semoga kita cepat dapat momongan ya
Pi."
Aamiin yra, sahut Raka. Kemudian buru-buru berkemas dan turun ke lantai bawah untuk
breakfast dan lanjut bersama rombongan menghabiskan waktu yang tersisa. Full day in Seoul.
"Mi, nanti malam bikin Raka atau Mardo kecil ya."
Raka memberitahu Mardo dengan senyum serta kedipan mata menggoda."
Mardo tak kalah sikap, mengerling centil, siap Pi, dua ronde ya, biar cepat jadinya."
Raka yang terbengong, melonggo! Hah! dua ronde!
Terima kasih sudah setia membaca Pria Idola, jangan lupa dukung author
__ADS_1
dengan like, vote dan komentarnya yaa. yuk saling dukung.
Bersambung.