
Raka membuka matanya, terlihat sejauh mata memandang hanya pasir putih dengan bayangan pohon-pohon nyiur.
Ia menghentikan kenderaannya. Hemmm, apa yang sedang kupikirkan? Menabrak adikku sendiri?
Raka tercenung. Pikiran gila!
'Jangan-jangan Richi sudah nembak Mardo!'
Pikiran itu menggangunya.
'Mereka hanya teman, tidak mungkin pacaran."
Pikiran itu datang dan pergi, sangat menganggunya.
Oh! dia meremas jemarinya. Tadi darahnya mendidih melihat Richi dan Mardo berjalan berduan. Sesekali saling mengejar. Manis dan akrab sekali keduanya. Pasti hanya teman akrab saja. Raka membuang jauh pikirannya mengenai Richi dan Mardo. .Ia kemudian memutar kenderaannya dan kembali. Beberapa menit berikutnya Ia melihat Richi dan teman-temannya sedang bersama pemilik kuda.
Karena sebelumnya sudah pernah mencoba naik kuda, kali ini cewe-cewe ingin mengulanginya lagi.
Pemilik kuda sedang membantu lima cewe naik ke atas kuda. Yang lain memandangi di bawah keteduhan pohon.
Mereka akan bergantian menyusuri pantai dengan naik kuda.
"Halima, hati-hati, cengkram kuat badan kuda,!" Hasan mengajari Halima.
"I-iya Hasan, aku bisa."
Wajah Halima tegang, tetapi penasaran lagi menunggang kuda meski hanya berjalan menyusuri pantai.
Joki kuda banyak menolong, ia mengendalikan kuda dengan tenang dan terlatih.
Jadilah Halima bersama Zam-zam, Rossy, Vana, dan Betty berlima naik kuda dengan dituntun oleh Joki. Yang lain menunggu.
"Do,kamu mau naik kuda?"
Richi menolehi cewe di sebelahnya.
"Nantilah, lihat lihat situasi dan kondisi he he he."
Mereka saling tersenyum.
"Kelihatannya asyik ya Rich?"
"Memang asyik Do, lagian ada jokinya yang menuntun, kudanya nggak lari kok."
Mardo masih bimbang.
"Mereka semua mencoba naik kuda dan bisa, kapan lagi?"
Kata-kata pamungkas yang meyakinkan, gadis itu akhirnya mengangguk.
"Nah gitu dong, nanti kita barengan mereka tuh."
Richi menunjuk Sulaiman, Hasan, serta Wiliam. Juga Sarah Lee.
Sarah Lee, seperti biasa selalu mengurusi terlebih dulu teman-temannya dibanding dirinya.
Ia membereskan bekas minum dan makanan. Membayar dan menanyakan apakah sudah cukup atau masih kurang?
Tukang kelapa manis menjawab sudah cukup. Sarah Lee juga memberesi tikar lebar untuk duduk-duduk dibawah pohon. Tukang kelapa manis itu, menyewakan tikar dan juga tenda- tenda.
Sarah lee, memang berbeda. Dia seperti seorang ibu yang selalu mendahulukan anak-anaknya. Jika anak-anaknya sudah kenjang dan pergi bermain. Maka gilirannya membereskan dan membenahi semuanya. Seperti itu yang Sarah Lee lakukan pada teman-temannya. Ia tak terlalu perduli dengan foto-foto, narsis dan sebagainya. Ia datang belakangan, tertawa dan tersenyum. Ia tak pernah mengomeli teman-teman yang begitu saja lari meninggalkan gelas minuman, piring-piring serta keberantakkan lainnya. Pokoknya Sarah Lee teman yang sangat perhatiian.
__ADS_1
Deni dan Sammy tak kelihatan, mereka pergi juga menyusuri pantai yang tak membosankan itu. Sedangkan Raka menghentikan kenderaannya di bawah pohon kelapa. Matanya tak lepas dari Richi dan Mardo.
Sebenarnya ia ingin bergabung. Namun merasa gengsi.
Tak lama Halima dan teman-temannya kembali.
Sulaiman, Wiliam dan Husen bersiap-siap. Mardo juga bersma Richi.
Mardo menyentuh kuda tersebut dengan tangannya. Joki mengajarinya dan memberi tahu untuk keamanan
Gadis itu mendengarkan. Lantas Joki membantu menaikan Mardo ke atas kuda. Yang lain juga sudah duduk di punggung kuda. Mereka menunggu Mardo, agar sama-sama.
Memang awalnya terasa aneh dan ingin jatuh. Tetapi lama-lama kelamaan Mardo bisa membuat tubuhnya mengikuti langkah-langkah kaki kuda. Mardo bisa dengan cepat menyesuaikan irama. Tubuhnya terguncang-guncang kecil seirama jalan kaki kuda.
Sulaiman dan Hasan ternyata bisa naik kuda sendiri, tidak ada Joki yang bersama mereka. Bahkan keduanya berlomba lari hingga duluan selesai.
"Hasan, aku menang!, torang belikan beta sebutir kelapa manis ya."
"Iya, torang minum sepuasnya, ha ha ha, beta su lama tara naik kuda mo, jelas beta kalah."
Hasan turun dari kuda dan memberikannya pada pemiliknya. Ia mengikuti Sulaiman pergi ke tukang kelapa. Kebetulan tukang kelapa sedang mengambil kelapa lagi. Sekalian saja Sulaiman dan Hasan menunggu di bawah pohon kelapa.
Sementara Raka, ia merasa bosan di dalam mobil. Ia mengambil topinya dan membenamkan wajahnya.
"Pak, kesini! '
Raka memanggil tukang kuda, ia memilih kuda yang bagus dan menyewanya. Kemudian ia meletakkan satu kakinya pada pelana, dan meloncat ke punggung kuda. Raka pandai menunggangi kuda.
Raka membawa kudanya berjalan pelan-pelan, bayangan Richi, Mardo yang sedang bersisian menyusuri pantai mengemaskan sekali.
Raka teringat saat ia dan Richi masih kecil, Papi mereka pak Bramantyo mengajari naik kuda. Beberapa bulan sekali mereka pergi ke puncak dan menginap di bungalow.
Ketika pagi, pak Bramantyo menyewa kuda untuk anak-anaknya berjalan menyusuri jalanan di ,puncak.
Begitu hingga akhirnya mereka pindah ke kota eksotik. Di kota itu tidak pernah lagi naik kuda. Sebagai gantinya pak Bramantyo memasukkan mereka ke kursus mengemudi mobil.
"Kak Raka tolong!"
Tiba-tiba Raka terkejut mendengar suara hesteris, ia melihat kuda yang dikenderai oleh Mardo berlari kencang. Agaknya ada sesuatu yang mengejutkan kuda tersebut hingga tiba-tiba lari.
Raka terkejut sekali, reflek ia menghela kudanya dan mengejar.
Untunglah jarak diantara mereka tadi tidak terlalu jauh. Raka berhasil mengejar dan hup! Raka berhasil mendarat tepat di belakang Mardo yang ketakutan. Untungnya Mardo sempat mendengar teriakkan tukang kuda agar memeluk kuda sekuat-kuatnya agar tak jatuh. Raka berusaha menenangkan kuda, ia menarik tali kekang kuda. Membuatnya melambatkan larinya.
"Oh! Oh!, Mardo sangat ketakutan. Ia masih memeluk kuda dengan erat.
"Tenang Mardo!, tidak apa-apa!"
Mardo diam, ia merasakan tubuh yang hangat di belakangnya. Lalu lengan yang kuat merengkuh pinggangnya agar tegak kembali. Kuda sudah melambat meski masih tetap berlari.
"A-aku takut! berhenti! berhenti!"
Gadis itu berteriak-teriak, meski ia telah aman di rengkuhan kak Raka.
Raka, menarik tali kekang kuda, hingga akhirnya kuda berhenti.
Kemudian Raka melompat turun.
"Ayo turun! aku bantu."
Mardo tak ada pilihan, ia menghadap pada Raka dan menaro tangannya di bahu,
Hup!, sekejap mereka berpelukkan. Raka tak ingin melepaskannya. Sementara Mardo yang masih gemetar dan takut tetap memeluk, merasa aman dan nyaman. Mereka saling berpelukkan, Mardo menutup matanya merasa ngeri pada kejadian tadi.
"Sudah berlalu kok."
__ADS_1
Raka bergumam, setengah berbisik.
"Oh oh, mengerikan! aku tak mau naik kuda lagi! aku tak mau naik kuda lagi!"
Gadis itu berteriak masih diliputi ketakutan dan kengerian.
"Nggak apa-apa, kuda yang kamu tunggangi agaknya terkejut hingga ia lari meninggalkan pemiliknya. Untungnya kau tidak apa-apa."
Mardo mengusap-usap air matanya, ia tak bisa membayangkan jika ia terlepas tadi, tubuhnya akan terlempar dan menyangkut di tubuh kuda. Ia akan terseret-seret hingga kuda berhenti. Selama itu ia bisa saja terluka.
Sangat mengerikan!
Sekali lagi, Raka menarik tubuh Mardo yang gemetaran, ia memeluk sepenuh jiwanya.
Membiarkan gadis belia itu terisak-isak di dadanya.
Sedangkan Mardo merasakan ia sangat membutuhkan perlindungan dari rasa takutnya. Ia mengabaikan perasaan malu dan gengsinya. Ia merasa Raka seperti Mangara abang laki-lakinya.
Senja telah menguasai bumi. Pantai itu juga mulai meremang.
Raka membujuk agar mereka naik kuda lagi. Tapi Mardo ketakutan ia tak mau mendekat pada kuda.
"Sebentar lagi malam, kita harus kembali dengan naik kuda."
"Aku nggak mau!, nggak mau!"
Mardo marah.
Raka, membawa kuda ke tepi laut, ia sesaat bermain-main dengan air laut.
"Kamu sudah tenang sekarang?"
Raka menatap kuda.
Mardo masih duduk di tengah pantai di atas pasir putih, ia memeluk kakinya. Dan ia langsung berdiri dan mundur saat Raka mendatanginya bersama kuda.
"Aku nggak mau naik kuda! suruh pergi kudanya!"
Tiba-tiba ada yang bergerak-gerak di balik semak-semak.
"Mardo!, cepat kesini."
Mereka melihat semak-semak yang rimbun dan penuh rahasia.
"Cepat naik, ada kanibal!"
"Kanibal! Oh tidak!"
Raka sendiri terkejut dengan perkataannya, ketakutannya muncul.
"Cepat naik!"
Raka mengangkat tubuh Mardo, lalu dengan cepat ia melompat di belakang gadis itu.
Memutar kuda dan menghela kuda. Segera meninggalkan tempat itu.
"Kwa kwa kwa, Raka ketakutan tuh."
Deni dan Sammy muncul dari semak-semak.
Bersambung
__ADS_1