
Pesta berakhir, tetapi kegembiraan dan bahagia masih terasa di dada setiap orang. Raka dan Mardo pergi menginap di daerah Lembang. Kebiasaan yang sering mereka lakukan. Tiap kali menjenguk Cindy di Bandung ujung-ujungnya menginap di sebuah hotel di daerah berhawa dingin tersebut. Tria, Dode dan Rama ikut bersama mereka. Sementara Cindy dan Alfredo janji akan menyusul jika telah selesai. Cindy bersama teman-temannya belum puas dengan pesta kelulusan yang dirancang oleh kampus. Cindy dan teman-temannya lanjut dengan makan malam bersama sembari bertukaran kado kenangan.
Tak banyak yang dibicarakan hanya bersenang-senang dan menikmati makanan. Cindy berkesempatan mengenalkan Alfredo sebagai tunangannya dan mereka akan menikah dua bulan lagi. Semua teman-temannya akan mendapat undangan dan mereka semua harus datang. Cindy memandangi teman-temannya.
"Iya, aku pasti datang Cindy, semoga lancar ya."
Yang lain juga mengucapkan insya Allah. Mereka senang Cindy sudah mendapatkan pria idolanya. Yang lain berharap mereka juga akan sebahagia Cindy dan Alfredo. Pesta perpisahan itu akan lama sebab itu Cindy pamit pulang terlebih dahulu.
"Ayah dan bunda Mardo menungguku, bersenang-senanglah kalian, sampai jumpa lagi ya."
Cindy berat sekali meninggalkan teman-temannya, mereka dekat dan ingin bergembira bersama. Tapi ia harus mengerti dengan Alfredo. Laki-laki muda itu tentu merasa asing dengan teman-teman Cindy. Sebab itu ia mengajak Alferedo pulang dan langsung menuju lembang. Mereka akan menginap da beristirahat satu malam di sana.
Alfredo mengenderai mobilnya menuju ke luar kota. Sepanjang jalan menuju ke Lembang masih ramai dan banyak pedagang yang buka serta ramai. Pohon-pohon tinggi serta kebun di kiri dan kanan. Pada saat itu Alfredo merasa kenderaannya ada yang tak beres. Laki-laki itu agak panik dan Cindy juga merasakan kenderaan yang menjadi terasa berat.
"Bannya kempes Cin."
Keduanya bertatapan, dan tempat itu sangat sepi. Cindy teringat penculikkannya, ia menyuruh Alfredo melanjutkan perjalanan mereka. Jangan berhenti di tempat yang sepi seperti itu. Cindy menelpon Raka dan mengatakan kalau mobil mereka mengalami masalah. Keduanya berada di tengah-tengah kebun yang gelap dan tidak ada kedai atau cafe yang buka.
Jantung Raka seketika berdegup, ia menyuruh Alfredo supaya berusaha keluar dari jalan yang sepi tersebut. Ia akan pergi ke tempat itu secepatnya. Begitu handphonenya putus laki-laki itu dengan sigap menyambar kunci, dan bergegas. Mardo terkejut melihat suaminya yang buru-buru pergi.
"Mi, jaga anak-anak, aku menjemput Cindy, mobil mereka mogok di hutan."
Mardo mendekap mulutnya. Ia takut terjadi sesuatu dengan putrinya yang baru saja wisuda. Ia menatap punggung suaminya yang meninggalkan kamar. Ia berbelok ke lift dan akhirnya Mardo tidak melihat lagi suaminya. Perempuan berdoa semoga Allah selalu melindungi keluarganya.
Sementara Alfredo masih berusaha mengenderai mobilnya meninggalkan tempat itu. Ternyata cukup panjang jalan yang sepi dengan hutan-hutan serta lembah yang gelap penuh misteri. Ban yang kempis terdengar menimbulkan bunyi yang miris, Cindy tampak tegang. Sejak tadi ia melihat di belakang mereka sorot lampu sebuah kenderaan. Anehnya kenapa mobil itu tidak melewati mereka. Seolah menunggu mereka menyerah.
"Aduh! apakah kita bisa melewati ini Al?"
Cindy menoleh ke belakang, kadang sorot lampu itu menghilang di kejauhan, tetapi tau-tau sudah mendekat. Hingga saat mereka sedikit lagi akan mencapai jalan yang dipenuhi penerangan serta banyak pedagang yang membuka tokonya. Mendadak sorot lampu itu mendekat mendahului dan memblokir di depan. Jantung kedua pasangan muda itu berdegup keras.
Keduanya terbengong dan terpaksa melambatkan kenderaannya. Saat pintu mobil di depan itu terlihat terbuka. Alfredo tiba-tiba menginjak gas dan meraung menerjang. Terdengar bunyi brak! karena tabrakan senjaga yang dilakukan oleh Alfredo. Mobil itu terdorong miring. Alfredo nekat merangsek maju terus. Terlihat dua orang samar-samar masuk kembali ke dalam mobil dan berusaha mencegah Alfredo meninggalkan tempat itu. Sesaat terjadi usaha saling dorong mendorong.
__ADS_1
Cindy panik ia menelpon ayahnya, dan mengatakan kalau ada sebuah mobil yang berusaha menghentikan mereka. Raka berteriak bahwa sebentar lagi ia dan beberapa keamanan hotel akan sampai. Raka meminta agar mereka berusaha mengulur waktu dan jangan membuka pintu. Bertahan di dalam kenderaan. Alfredo dengan keahliannya ternyata berhasil mendorong mobil yang mencurigakan itu ke tepi dan segera meninggalkan tempat itu dengan ban yang mengkhawatirkan.
Gadis itu melihat kenderaan di belakang mereka sedang berusaha menengahkan mobil yang terpojokkan tadi, sayangnya mereka terlambat. Alfredo berhasil meninggalkan tempat sepi dan mulai memasuki jalan yang kiri kanannya banyak roku dan warung-warung.
"Dasar bodoh kalian!"
Laki-laki muda itu memaki saat anak buahnya melaporkan kegagalan tersebut.
"Agaknya gadis itu beruntung Bos, ia bersama kekasihnya."
"Misi dibatalkan! dasar tolol!"
Kedua orang yang berada di dalam kenderaan tersebut harus putar balik ke kota Bandung dan selanjutnya kembali ke markas mereka di Jakarta.
Sementara Cindy dan Alfredo bertemu dengan Raka. Keduanya gemetar saat Raka dan beberapa laki-laki keamanan hotel yang Raka ajak untuk mengatasi kejahatan yang direncanakan bertemu. Raka buru-buru memeluk putrinya dan membawanya pindah ke mobil. Begitu juga Alfredo. Sementara kenderaan milik Cindy yang rusak akibat benturan diamankan oleh pihak hotel. Besok mereka akan membawanya ke bengkel.
Di lobby hotel Mardo dan Tria menunggu dengan harap-harap cemas. Hingga akhirnya Cindy dan Alfredo muncul. Mereka semua tak menyangka kalau dibuntuti hingga ke Bandung.
"Kamu nggak apa-apa Cindy, ya Rabb bunda cemas sekali."
Mardo menguyuhi Cindy dan Alfredo teh hangat. Tak lama Raka masuk.
"Ini tak bisa dibiarkan! anak itu harus ditemukan!"
"Siapa Yah?"
"Yang menculik bunda, pasti orang yang sama."
"Aku sudah memberikan data tentang perkebunan yang mimi katakan itu, Deni dan Sam yang akan mengurusnya, mudah-mudahan perempuan itu ditemukan dan dia mau memberitahu tentang putranya."
"Aamiin yra."
__ADS_1
Mardo dan anak-anak mengaminkan harapan Raka. Mereka berbincang-bincang sesaat sembari menghilangkan ketegangan yang sempat terjadi. Alfredo tampak kalem. Ia senang sebab bisa keluar dari upaya penculikkan yang dilakukan orang tersebut. Mereka sudah menyiapkan kejadian itu dan mengikuti Cindy hingga ke pesta perpisahan dengan teman-temannya.
Di sana mereka membuat ban kempis dan mengikuti di belakang. Sayangnya mereka gagal. Cindy dan Alfredo mesti lebih hati-hati lagi. Entah apa yang diinginkan orang itu. Raka, Deni dan Sam, hingga malam membicarakan tentang menangkap dalang dari penculikkan tersebut.
Sementar Raffaza telah memecat dua orang yang sangat mengecewakannya itu.
"Bos! jangan pecat kami. Bukankah beberapa kali misi yang bos berikan selalu berhasil."
Dua orang suruhannya menghiba-hiba. Teringat bahwa mereka harus mencari pekerjaan lain sementara keadaan seperti ini. Apa lagi keduanya memiliki istri dan anak-anak.
"Ini misi penting, tapi kalian gagal jadi pergi dari hadapanku! jangan sampai aku kehilangan kesabaran!"
Suara menggelegar memenuhi tempat itu. Dengan berat hati terpaksa dua orang itu pergi dengan terbirit-birit. Setidaknya mereka masih memiliki uang hasil bekerja dua hari ini. Raffaza menghempaskan dua buah amplop putih di atas meja sebelum dia memecat keduanya.
Tiba-tiba bunyi pemberitahuan masuk ke handphone. laki-laki muda itu terkejut membaca pesan masuk dari ibunya.
"Nak, ibu diculik!"
Dia tak percaya membaca chat dari ibunya. Ia membesarkan matanya.
__ADS_1
Bersambung