
Prita baru saja selesai mengajar di rumah keluarga Anggie, ia bermaksud mampir ke sebuah
toko swalayan untuk membeli beberapa kebutuhan di rumah. Beberapa menit di dalam swalayan
tak lama ia terlihat menjinjing tas plastik dan menuju ke moge miliknya. Prita bermaksud pulang.
Tetapi di gang yang biasa ia lewati menghalangi sebuah mobil. Prita membunyikan klakson
agar mobil tersebut tidak menghalangi jalan masuk kenderaan yang berlalu lalang.
pintu mobil terbuka, "Kak kesini sebentar, bisa minta tolong."
Seseorang berteriak dari dalam mobil, awalnya Prita sudah mau turun dari kenderaannya. Tetapi
ia mengurungkannya. Sangat aneh, kenapa dia tidak keluar dari mobil jika memang membutuhkan
pertolongang.
"Tolong maju mobilnya, saya tak bisa lewat."
Tiba-tiba kedua pintu mobil terbuka dan dua orang pria menyongsongnya sangat cepat.Prita
terkejut karena tubuhnya mendadak disergap oleh kedua pria tadi sehingga mogenya lepas.
Dia diseret ke dalam mobil. Saat yang sanggat berbahaya Prita mengumpulkan segenap
kekuatannya dan hiattttt! ia melenting berputar sambil menarik orang yang menyerangnya.
Apa yang dilakukan oleh gadis itu di luar dugaan, kedua pria itu hilang keseimbangan hingga
tersungkur.
"Tolong! tolong! tolong! rampok! rampok!"
Prita berteriak-teriak sehingga menarik perhatian beberapa orang yang berada di jalan dan
gang tersebut. Serentak mereka semua berlari untuk membantu Prita.
Sebelum warga berdatangan kenderaan itu mengerung-ngerung meninggalkan tempat itu
bersama dua pria yang tadi menyerang Prita.
"Ya Allah mereka lolos! bagaimana Teh, tidak apa-apa?"
Orang-orang menatapi Prita yang sedang melihat pada kenderaan di depan yang melaju kencang.
"Saya tidak apa-apa Pak, alhamdulillah, siang-siang bolong seperti ini beraninya mereka!"
"Iya Teh, hati-hati sekarang banyak begal!"
Para warga membantu Prita mengangkat Mogenya. Tempat itu menjadi ramai dan cerita
tentang Prita dan begal berkembang dari mulut-ke mulut.
Prita sendiri segera bergegas pulang ke rumahnya. Ia berpikir bahwa itu bukanlah begal
atau rampok biasa. Pasti ada Abdin di baliknya. Uhhh! Prita gemas. Apa lagi yang dia
inginkan? dokumen penting telah ia ambil dan sekarang berusaha menyerangku. Kurang
ajar untung tadi aku berhasil menyelamatkan diri.
"Prita! Prita! apa yang terjadi? di depan gang ramai, mereka menyebut-nyebut namamu."
Mama Risa yang baru pulang tergopoh-gopoh melihat dan memperhatikan anaknya, ia
sangat takut Prita terluka.
"Aku tak apa-apa Ma, tapi kupikir Abidin yang melakukannya."
"Laki-laki itu Bregsek!"
Prita hanya diam saja. ia tak ingin menyalahkan ibunya lagi, gadis itu bergegas
ke dapus memasak sesuatu untuk makan siang.
Sementara itu di sebuah tempat, seorang laki-laki setengah baya berwajah garang
__ADS_1
memarahi anak buahnya.
"Mengurus seorang anak perempuan saja tidak bisa! memalukan."
"Ka-kami sudah menangkapnya Yah, tetapi tiba-tiba ia berputar seperti baling-baling
sehingga kami terpelanting."
Laki-laki itu menyentuh dagunya, "Baru sekali ini anak buahku gagal menjalankan perintahku
dan perempuan itu akan semakin berhati-hati."
"Panggil Abidin kesini!"
"Baik Ayah."
Mereka semua bubar dari pertemuan itu, dan mencari Abidin. Laki-laki itu masih tertidur
dengan nikmat di rumah hiburan. Ia tak mau melepaskan perempuan cantik yang telah
dibayarnya sangat mahal. Baru sekali ini ia mengeluarkan uang yang sangat besar hanya
untuk bersenang-senang.
Sementara si wanita cantik tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah melayani Abidin
berkali-kali. Seluruh tubuhnya kemerahan oleh jemari serta mulut laki-laki itu yang
kelaparan. Sang madu, sebutan untuk para wanita-wanita cantik yang bekerja di rumah
hiburan milih ayah Jae itu akan menjadi wanita Abidin selama seminggu.
Belum lagi merasa puas, Abidin mendapat panggilan dari ayah Jae. Ia harus segera
menemui laki-laki itu.
"Ada apa sih? aku kan sudah memberitahu segalanya."
Abidin mengomel panjang pendek karena merasa terganggu. Tetapi ia segera bergegas
ketempat Ayah Jae. Dan laki-laki itu menatap Abidin dengan tajam.
membawanya ke hadapanku dua puluh empat jam dari sekarang!"
"Ba-baik ayah Jae, aku akan melakukannya, beri aku waktu!"
Abidin bergegas keluar, ia mengajak beberapa teman-temannya untuk mengatur
rencana.
"Gadis itu tak bisa dianggap enteng, ia tersenyum licil."
Abidin merencanakan sebuah penculikkan saat semua orang tertidur. Itu adalah
satu-satunya cara.
Prita seperti biasa mengajar ke rumah keluarga Bramantyo, tetapi malam itu Mardo
mengajak gadis itu ke villa mereka di sebuah tempat. Prita dan anak-anaknya bisa
belajar di sana sambil menikmati suasana Villa yang menyenangkan.
Prita tak bisa menolak, Mardo sudah menganggapnya seperti keluarga. Beberapa
kali Mardo melibatkan Prita pada acara-acara santai serta tidak terlalu formal.
Kali ini pun Mardo bilang bahwa suaminya pak Raka Bramantyo akan mengerjakan
sebuah proyek bersama beberapa pekerjanya. Ia mengajak keluarganya untuk
menemaninya.
Prita pikir tak apalah untuk satu malam ia akan mengajar Tria dan Dode di tempat itu
dan tidur semalam. Terbersit mamanya, tetapi bukankah mama biasa sendirian,
tak apalah, karena ia ingin bersama keluarga itu. Prita merasa dekat dan
__ADS_1
nyaman bersama Mardo dan keluarganya.
"Hore! kita ke Villa."
Tria, Dode dan Cindy sudah berkemas sejak sore, mereka hanya menunggu Prita
saja dan berangkat. Hanya beberapa jam mereka sudah sampai, penjaga membukakan
pintu besi yang sangat besar dan berat. Kenderaan masuk dan menuju ke belakang
di sana ada khusus tempat parkir.
Prita terkejut, karena ia pernah ke Villa tersebut bersama Yunna dan Elsa belum
lama ini. Jadi keluarga pak Raka Bramantyo yang memiliki villa tersebut. Prita
tak bisa membayangkan berapa banyak uang yang mereka miliki.
Rakasiwi, Edo dan Alan juga berada di tempat itu. Mereka terlihat menghadapi
pekerjaan yang sangat banyak.
"Tria dan Dode ajak kak Prita ke ruang depan saja ya, di sana belajarnya bisa
tenang."
"Ok bun."
Tria menarik tangan Prita yang masih tertegun melihat villa tersebut. Dan ia berkata
pada Tria bahwa ia pernah ke Villa ini bersama temannya dan itu belum lama.
"Oh ya?"
Tria membesarkan matanya.
"Jadi kakak pernah ke sini? ketemu dengan siapa?".
"Teman kakak, ibunya dan dia bekerja di sini."
"Oh begitu ya Kak, ini dulunya villa punya teman kakek Bramantyo, kemudian
dijual pada kakek kak."
"Oh iya ya."
Mereka mengobrol sembari melewati beberapa ruangan yang penuh dengan barang
barang mahal dan bagus. Hingga sampai di ruangan yang mirip dengan di rumah
ruangan keluarga.
"Kita di sini saja kak."
Baiklah, sambil menulis pesan pada ibunya bahwa malam ini dia tak pulang. Anaknya
didiknya mengajaknya ke puncak bersama keluarganya.
Mama Risa membacanya, dan membalas, iya Nak hati-hati ya.
Perempuan itu sedikit gelisah dan tak jua bisa tidur. Ia menonton tivi dan minum
kopi.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote ya.
makasih.