Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Percobaan Penculikkan Prita


__ADS_3

Prita baru saja selesai mengajar di rumah keluarga Anggie, ia bermaksud mampir ke sebuah


toko swalayan untuk membeli beberapa kebutuhan di rumah. Beberapa menit di dalam swalayan


tak lama ia terlihat menjinjing tas plastik dan menuju ke moge miliknya. Prita bermaksud pulang.


Tetapi di gang yang biasa ia lewati menghalangi sebuah mobil. Prita membunyikan klakson


agar mobil tersebut tidak menghalangi jalan masuk kenderaan yang berlalu lalang.


pintu mobil terbuka, "Kak kesini sebentar, bisa minta tolong."


Seseorang berteriak dari dalam mobil, awalnya Prita sudah mau turun dari kenderaannya. Tetapi


ia mengurungkannya. Sangat aneh, kenapa dia tidak keluar dari  mobil jika memang membutuhkan


pertolongang.


"Tolong maju mobilnya, saya tak bisa lewat."


Tiba-tiba kedua pintu mobil terbuka dan dua orang pria menyongsongnya sangat cepat.Prita


terkejut karena tubuhnya mendadak disergap oleh kedua pria tadi sehingga mogenya lepas.


Dia diseret ke dalam mobil. Saat yang sanggat berbahaya Prita mengumpulkan segenap


kekuatannya dan hiattttt! ia melenting berputar sambil menarik orang yang menyerangnya.


Apa yang dilakukan oleh gadis itu di luar dugaan, kedua pria itu hilang keseimbangan hingga


tersungkur.


"Tolong! tolong! tolong! rampok! rampok!"


Prita berteriak-teriak sehingga menarik perhatian beberapa orang yang berada di jalan dan


gang tersebut. Serentak mereka semua berlari untuk membantu Prita.


Sebelum warga berdatangan kenderaan itu mengerung-ngerung meninggalkan tempat itu


bersama dua pria yang tadi menyerang Prita.


"Ya Allah mereka lolos! bagaimana Teh, tidak apa-apa?"


Orang-orang menatapi Prita yang sedang melihat pada kenderaan di depan yang melaju kencang.


"Saya tidak apa-apa Pak, alhamdulillah, siang-siang bolong seperti ini beraninya mereka!"


"Iya Teh, hati-hati sekarang banyak begal!"


Para warga membantu Prita mengangkat Mogenya. Tempat itu menjadi ramai  dan cerita


tentang Prita dan begal berkembang dari mulut-ke mulut.


Prita sendiri segera bergegas pulang ke rumahnya. Ia berpikir bahwa itu bukanlah begal


atau rampok biasa. Pasti ada Abdin di baliknya. Uhhh! Prita gemas. Apa lagi yang dia


inginkan? dokumen penting telah ia ambil dan sekarang berusaha menyerangku. Kurang


ajar untung tadi aku berhasil menyelamatkan diri.


"Prita! Prita! apa yang terjadi? di depan gang ramai, mereka menyebut-nyebut namamu."


Mama Risa yang baru pulang tergopoh-gopoh melihat dan memperhatikan anaknya, ia


sangat takut  Prita terluka.


"Aku tak apa-apa Ma, tapi kupikir Abidin yang melakukannya."


"Laki-laki itu Bregsek!"


Prita hanya diam saja. ia tak ingin menyalahkan ibunya lagi, gadis itu bergegas


ke dapus memasak sesuatu untuk makan siang.


Sementara itu di sebuah tempat, seorang laki-laki setengah baya berwajah garang

__ADS_1


memarahi anak buahnya.


"Mengurus seorang anak perempuan saja tidak bisa! memalukan."


"Ka-kami sudah menangkapnya Yah, tetapi tiba-tiba ia berputar seperti baling-baling


sehingga kami terpelanting."


Laki-laki itu menyentuh dagunya, "Baru sekali ini anak buahku gagal menjalankan perintahku


dan perempuan itu akan semakin berhati-hati."


"Panggil Abidin kesini!"


"Baik Ayah."


Mereka semua bubar dari pertemuan itu, dan mencari Abidin. Laki-laki itu masih tertidur


dengan nikmat di rumah hiburan. Ia tak mau melepaskan perempuan cantik yang telah


dibayarnya sangat mahal. Baru sekali ini ia  mengeluarkan uang yang sangat besar hanya


untuk bersenang-senang.


Sementara si wanita cantik tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah melayani Abidin


berkali-kali. Seluruh tubuhnya kemerahan oleh jemari serta mulut laki-laki itu yang


kelaparan. Sang madu, sebutan untuk para wanita-wanita cantik yang bekerja di rumah


hiburan milih ayah Jae itu akan menjadi wanita Abidin selama seminggu.


Belum lagi merasa puas, Abidin mendapat panggilan dari ayah Jae. Ia harus segera


menemui laki-laki itu.


"Ada apa sih? aku kan sudah memberitahu segalanya."


Abidin mengomel panjang pendek karena merasa terganggu. Tetapi  ia segera bergegas


ketempat Ayah Jae. Dan laki-laki itu menatap Abidin dengan tajam.


membawanya ke hadapanku dua puluh empat jam dari sekarang!"


"Ba-baik ayah Jae, aku akan melakukannya, beri aku waktu!"


Abidin bergegas keluar, ia mengajak beberapa teman-temannya untuk mengatur


rencana.


"Gadis itu tak bisa dianggap enteng, ia tersenyum licil."


Abidin merencanakan sebuah penculikkan saat semua orang tertidur. Itu adalah


satu-satunya cara.


Prita seperti biasa mengajar ke rumah keluarga Bramantyo, tetapi malam itu Mardo


mengajak gadis itu ke villa mereka di sebuah tempat. Prita dan anak-anaknya bisa


belajar di sana sambil menikmati suasana Villa yang menyenangkan.


Prita tak bisa menolak, Mardo sudah menganggapnya seperti keluarga. Beberapa


kali Mardo melibatkan Prita pada acara-acara santai serta tidak terlalu formal.


Kali ini pun Mardo bilang bahwa suaminya pak Raka Bramantyo akan mengerjakan


sebuah proyek bersama beberapa pekerjanya. Ia mengajak keluarganya untuk


menemaninya.


Prita pikir tak apalah untuk satu malam ia akan mengajar Tria dan Dode di tempat itu


dan tidur semalam. Terbersit mamanya, tetapi bukankah mama biasa sendirian,


tak apalah, karena ia ingin bersama keluarga itu. Prita  merasa dekat dan

__ADS_1


nyaman bersama Mardo dan keluarganya.


"Hore! kita ke Villa."


Tria, Dode dan Cindy sudah berkemas sejak sore, mereka hanya menunggu Prita


saja dan berangkat. Hanya beberapa jam mereka sudah sampai, penjaga membukakan


pintu besi yang sangat besar dan berat.  Kenderaan masuk dan menuju ke belakang


di sana ada khusus tempat parkir.


Prita terkejut, karena ia pernah ke Villa tersebut bersama Yunna dan Elsa belum


lama ini. Jadi keluarga pak Raka Bramantyo yang memiliki villa tersebut. Prita


tak bisa membayangkan berapa banyak uang yang mereka miliki.


Rakasiwi, Edo dan Alan juga berada di tempat itu. Mereka terlihat menghadapi


pekerjaan yang sangat banyak.


"Tria dan Dode ajak kak Prita ke ruang depan saja ya, di sana belajarnya bisa


tenang."


"Ok bun."


Tria menarik tangan Prita yang masih tertegun melihat villa tersebut. Dan ia berkata


pada Tria bahwa ia pernah ke Villa ini bersama temannya dan itu belum lama.


"Oh ya?"


Tria membesarkan matanya.


"Jadi kakak pernah ke sini? ketemu dengan siapa?".


"Teman kakak, ibunya dan dia bekerja di sini."


"Oh begitu ya Kak, ini dulunya villa punya teman kakek Bramantyo, kemudian


dijual pada kakek kak."


"Oh iya ya."


Mereka mengobrol sembari melewati beberapa ruangan yang penuh dengan barang


barang mahal dan bagus. Hingga sampai di ruangan yang mirip dengan di rumah


ruangan keluarga.


"Kita di sini saja kak."


Baiklah, sambil menulis pesan pada ibunya bahwa malam ini dia tak pulang. Anaknya


didiknya mengajaknya ke puncak bersama keluarganya.


Mama Risa membacanya, dan membalas, iya Nak hati-hati ya.


Perempuan itu sedikit gelisah dan tak jua bisa tidur. Ia menonton tivi dan minum


kopi.


 


 


 


 


Bersambung


 


 

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote ya.


makasih.


__ADS_2