
Gadis itu baru saja memasuki rumahnya keadaan sepi dan lenggang. Tetapi pintu rumah terbuka baik di depan maupun belakang, gorden bergerak tertiup angin.
"Orang-orang ke mana sih? Apa mereka tidak takut ada maling membiarkan pintu terbuka depan dan belakang kok! seenaknya saja pergi tak menutup pintu."
Gadis itupun lalu menutup pintu baik pintu depan mau pun belakang. Lantas beranjak ke kamarnya, tetapi terdengar suara seseorang memanggil namanya, "Prita! Prita! Kau sudah pulang ya?"
"Iya, aku sudah pulang Bu!"
Seorang wanita bertubuh gemuk, tinggi dan besar memasuki rumah dan menatap Prita.
"Pasti kau pulang untuk meminta uang kuliah bukan?terus terang saja Ibu sudah tidak sanggup lagi sebaiknya kau cepat bekerja saja Nak."
"Tidak, aku pulang karena memang sedang liburan. Tenang saja aku tidak akan minta pembayaran uang kuliahku pada ibu, selama ini, memang siapa yang membayar sekolahku, kuliahku, aku sendiri!"
Perempuan itu terdiam, apa yang dikatakan oleh gadis itu semuanya memang benar. Sejak gadis kecil dia sudah bekerja keras untuk mendapatkan uang.
Sejak sekolah taman kanak-kanak gadis kecil itu sudah memaksa untuk pergi ke sekolah. Ia mendatangi sekolah dan mengatakan pada gurunya bahwa dia ingin sekolah. Setiap hari ia terus melakukan hal itu, muncul di pintu kantor tersenyum pada ibu guru.
Seorang guru akhirnya pergi bersamanya ke rumah untuk menemui orang tuanya. Ayah gadis kecil itu sudah meninggal saat ia masih di dalam kandungan dan ibunya sangat miskin. Banyak sekali orang di dalam rumah itu, yang merupakan neneknya, om serta tante dan ibunya.
Ibu guru tersebut kemudian menceritakan apa yang telah dilihatnya kepada kepala sekolah juga pemilik yayasan. Akhirnya mereka pun memberikan baju seragam kepada anak kecil itu, sepatu juga tas. Ia boleh ke sekolah taman kanak-kanak itu setiap pagi.
Maka saat anak-anak lain menangis oleh dunia barunya, ketakutan dan mesti diantar orang tuanya, dia dengan ceria, santai, berjalan sendiri ke sekolahnya, tidak pernah ada yang menemaninya. Ibunya sibuk berjualan gorengan dan makanan. Hasil yang tidak seberapa habis untuk makanan keluarga besar.
Gadis kecil itu lebih sering sendiri, dia terlihat selalu ceria, tidak pernah menangis. Empatinya besar dan suka menolong. Ia sangat rajin dan memiliki semangat bersekolah yang baik.
Beberapa guru berusaha bertanya kenapa mereka semua mengacuhkan, terutama ibunya tidak memperdulikan pendidikannya. Tidak memberikan dorongan bahkan tidak pernah muncul di sekolah. Semua guru kasihan padanya dan berusaha membantu gadis kecil itu hingga selesai sekolahnya di taman kanak-kanak.
Ia juga memohon bantuan ibu gurunya untuk mendaftarkan dirinya ke sekolah dasar yang tak jauh dari rumah. Beruntungnya gadis kecil itu memiliki dokumen yang lengkap, ibu dan neneknya mau juga memberikan surat-surat yang diperlukan.
__ADS_1
Guru guru di sekolah dasar juga akhirnya mengetahui keadaan gadis kecil itu, dan memuji keinginannya untuk belajar. Mereka semua membiarkan gadis kecil itu datang ke sekolah.
Gadis kecil yang penuh semangat itu bernama Prita pujaningrum. Sosoknya mungil, cantik dan ramah. Bibirnya selalu tersungging senyuman, dengan bulu mata yang lentik tebal. Semua orang diluar rumahnya, menyukai dan menyayanginya. Ia sosok yang pintar, tulus serta berterima kasih, semua guru-guru dianggapnya adalah orang tuanya.
Sementara yang ia dapatkan di rumahnya di dalam keluarganya sangat berbeda. Ibunya tidak pernah peduli dengannya, apakah dia sudah makan, mandi, memiliki uang jajan, merasa sehat atau sakit.
Tidak ada pertanyaan-pertanyaan seperti itu kepada anak kecilnya, neneknya juga hanya sesekali memanggil dan memberinya makanan.
Lingkungan yang terbuka seperti keadaan keluarganya itu, di mana siapa saja boleh masuk sesuka hatinya, bebas berbuat apa saja bahkan di depan anak-anak memberi Prita kecil banyak pelajaran yang kebanyakkan pelajaran buruk. Sekolahnya memberinya keseimbangan dan pelajaran budi pekerti.
"Prita! Prita!, apa kamu sudah di rumahmu?"
Baru saja Prita akan membuka bajunya yang serasa lengket dengan keringat, ingin mengganti bajunya dengan daster, tiba-tiba ia mendengar suara teman-temannya masa kecilnya, dan sekarang mereka sudah sama-sama menjadi wanita muda.
"Hei, Cing Encing apa kabar kalian! tau aja gwe pulang!"
Dua gadis yang tak kalah tomboy dengan Prita langsung menghenyakkan tubuh di sofa yang telah luntur warnanya, mereka meletakkan bungkusan makanan.
"Aku cuman bawa oleh -oleh sedikit, harga tiket sekarang mahal."
"Karena itu kami membawa gorengan, cepat buatkan teh yang panas dan manis untuk kita semua."
"Aku sudah membuatkannya, kalian minumlah, jangan pergi dulu, Prita baru sampai, biar dia istirahat, kalian mengobrol saja di sini yaa."
"Ups!"
"Ok, Bibi tenang saja, hari ini kami mau membicarakan apa yang bisa dilakukan besok,"
Perempuan bertubuh besar itu berjalan ke depan dan duduk di teras.
__ADS_1
Telah banyak yang berubah di rumah petak tersebut. Nenek yang memiliki rumah petak itu telah meninggal beberapa bulan lalu. Anak-anaknya telah mendapatkan bagiannya masing-masing.
Anak pertamanya menempati rumah yang paling ujung, lalu yang nomor dua menempati rumah petak yang tak jauh dari kakak tertuanya.
Sedangkan rumah yang berada di pertengahan saat ini diberikan pada Linda, yakni ibu Prita. Rumah itu semula menjadi tempat berkumpul keluarga, sedikit lebih besar dibanding rumah yang lainnya. Sebab rumah petak di kiri dan kanan adalah rumah yang dibangun belakangan, untuk warisan anak-anak.
Semula saat anak-anak masih kecil, mereka semua berkumpul di rumah utama, namun tahun-tahun terlewati rumah-rumah yang semula disewakan lalu diambil alih dan ditempati sendiri.
Saat ini rumah itu hanya ditinggali berdua saja, Prita dan ibunya. Menjadi lebih rapi dan bersih, juga tenang dan damai, tidak seperti dulu, riuh rendah oleh suara paman, bibi dan sepupunya. Tidak pernah ada ketenangan.
"Cing, loe jauh jauh kuliah dah dapat belum?"
Yuna menyambar-nyambar wajah Prita yang putih cantik, dan bibir berwarna pink alami, bulu-bulu mata yang panjang serta lentik.
"Dapat apaan? cowo gituh? Lagian Gwe jauh-jauh belajar bukan nyari cowo cing! Gwe nyari ilmu buat ngerubah
kehidupan Gwe ama emak, masa Gwe seumur hidup cuman tinggal di rumah petak peninggalan nenek end engkong sih."
"Cakep!, Elo emang dari kecil dah doyan belajar Prita, klo Gwe pusing tiap buka buku pelajaran, Gwe mending kursus."
"Yuna memang pemalas dari kecil, kerjanya cuman main boneka aja."
"Enak aja pemalas! Klo elu apa namanya! tukang main? tukang ngayeng ya ha ha ha."
Tiga gadis yang berbeda karakter tersebut mengobrol hingga senja, sampai ibu Prita membubarkan anak dan teman-temannya.
"Besok kita pergi ya Prita!"
Bersambung
__ADS_1