
Tiga orang yang bersahabat itu merasa sudah saatnya membuka penjagaan diri dari gadis. Dulu memang mereka berkomitmen tidak mau berurusan dengan gadis. Mesti menyelesaikan sekolah dulu. Sukses, memiliki usaha serta perusahaan. Jika sudah bisa membahagiakan orang tua, barulah menikah. Selama ini ketiganya menghindari diri terlalu dekat dengan gadis-gadis. Karena takut mengganggu pelajaran. Setelah dipikir-pikir lagi tergantung bagaimana kita sendiri menjalaninya. Memiliki seorang gadis justru bisa menambah semangat untuk belajar. Lebih bermotivasi serta memacu untuk maju. Gadis-gadis itu bisa menjadi pendorong kesuksesan. Sebab seorang gadis pasti bangga jika memiliki kekasih yang sukses, bukan penggangguran. Tenyata punya pacar atau kekasih itu menyenangkan.
Sekarang apa? kesepian tanpa pacar. Kebutuhan akan pacar mendadak datang dan mendesak. Mahkluk lemah lembut itu memang diciptakan untuk menemani jenis mereka. Seperti dulu Adam kesepian di surga. Seperti itulah yang dirasakan Deni, Sammy juga Raka. Tak perlu lagi mempertahankan komitmen yang sudah basi. Diantara pengusaha pengusaha muda hanya mereka yang tak pernah menggandeng gadis. Selebihnya di dunia sana saat pertemuan para pengusaha telah menggandeng, memeluk gadis. Ketika rekanan mereka berganti ganti gadis justru mereka sendiri belum sekali pun. Sangat menyedihkan. Padahal tak di ragukan, bahkan Raka Bramantyo sejak bayi sudah di gilai perempuan. Setiap kali Mami membawa kereta dorongnya di kompleks, perempuan perempuan tetangga. Bahkan perempuan yang tidak kenal berebut ingin mengangkatnya dari kereta dorong. Untuk melihat kecakepannya lebih jelas dan mencium pipinya yang menggemaskan. Banyak juga dari perempuan itu yang meramal kehidupannya nanti yang bakal membuat banyak wanita patah hati.
"Oh cakepnya, tampan sekali, pasti nanti banyak gadis gadis yang mengejarnya ingin dijadikan pacar.
Deni yang bernama panjang Deni Saputra, tapi Raka dan Sammy sering memanggilnya Deni manusia ikan. Lagi pula Deni seringkali berucap sebuah kalimat, 'Masih banyak ikan di laut' saat kemalangan menimpa.
Deni bertubuh tegap, berkulit sawo. Berwajah tampan dan berambut ikal. Dia lebih berkompromi dalam hal apa saja.Tidak seperti Raka dan Sammy yang saklek. Pertemuan pertama dengan Raka dan Sammy terjadi di kelas satu Sekolah Dasar.
Ketika itu Raka memasuki kelas bersama ibu guru. Dia yang duduk di depan memberikan senyumnya. Tapi Raka kecil sama sekali tidak tersenyum. Bahkan setelah duduk di sebelahnya. Sejak kecil Raka sudah pelit akan senyum di bibirnya . Hingga kini. Jika ia tersenyum pasti ada sesuatu hal yang luar biasa. Meski seperti itu, sama sekali tidak menghalangi kedekatan mereka.
Sementara Sammy, seorang yang terlalu polos, pendiam dan tekun. Wajahnya teduh dan tampan. Bertubuh tinggi seperti Raka.Tak bisa dipungkiri, Sammy sangat cerdas dan memiliki ide serta pandangan yang jauh ke depan. Sayangnya Sammy sulit mendeskripsipkan apa yang ada di dalam pikirannya. Raka bilang Sammy harus banyak berkomunikasi.Membawakan persentasi dan sebagainya. Sammy setuju, tetapi begitu waktunya tiba ia demam panggung lantas memaksa Deni atau Raka yang maju heh. Begitulah dan sekarang masalah ketiga orang yang bersahabat itu sama yakni tidak punya pacar. Sudah tiba saatnya, begitu kata Deni. Lagi pula diam diam Raka sudah melanggar keputusan mereka dulu. Ia seringkali bersikap aneh, kerap menyendiri. melamun juga pernah tertangkap basah sedang tersenyum. Deni dan Sammy tau tentang Mardo. Sejak kejadian di bandara Zepman itu Raka banyak berubah. Pastinya Raka jatuh cinta.
Deni dan Sammy pernah membicarakannya. Menurut mereka Mardo itu bukan apa apa. Dia terlalu kecil untuk Raka yang menjulang tinggi dan tampan. Juga tidak terlalu cantik dan seksi. Hanya gadis kecil yang bisa berteriak teriak dengan suaranya yang cempreng. Jika memilihnya sebagai pacar adalah sebauh kesalahan. Kedua sahabat Raka itu, sama merasakan ketidak sukaan pada Mardo. Tetapi sejauh ini keduanya tidak berani jujur mengungkap kekurangan itu. Suatu saat rasanya mereka ingin bilang, 'Kan aku sudah mengingatkanmu. Atau sudah kubilang loh padamu.' sangat mengganjal dan tak enak memendam hal tersebut. Kalau sudah tentang sebuah hati, sulit. Raka sudah menyukai Mardo, jadi sudah di duga jawabanya.
'Urus dirimu jangan mengurusi orang lain.'
"Terserah kalian, mau punya pacar silahkan. Hak azasi kok itu,"
kata Raka setelah perbincangan yang panjang.
Deni dan Sammy saling pandang dan tersenyum.
Jelas saja tak melarang, dia sudah dapat pacar.
"Mardo Paristio, Raka Bramantyo, cocok ya Sam berakhiran o dua duanya."
Sammy hanya mengangguk dan setuju dengan Deni.
"Dan siapa pacar kalian?" Raka tak terlalu menanggapi.
"O, adalah yang jelas bukan anak SMP, bukan anak ingusan."
Raka terkejut. Ia berputar dengan cepat dan menatap tajam mata Deni dan Sammy.
__ADS_1
"Kalian menyinggung pacarku!"
Raka marah menatap berapi api pada Deni yang dianggapnya lancang.
Sementara Deni terkejut oleh kata kata yang meluncur dari mulutnya. Sammy berjaga jaga.
"Sebenarnya kamu mau bilang apa Den? aku memiliki kelainan begitu? menyukai anak kecil begitu?"
Raka mengeram dan sinis.
"Ma-maaf Ka, jangan emosi. Dia terlalu muda untukmu, dia cocoknya jadi pacar adikmu Richi, mereka seusia."
Buk! bogem melayang ke mulut Deni, dan darah mengucur dari bibir Deni.
"Kok main tinju!!!, aku juga bisa hiaattt."
Deni menghapus darah di bibirnya yang pecah dan balas meninju. Sammy menjauh, Ia tak mau melerai.
"Silahkan kalian berantem sampai puas."
"K-kau membuatku berdarah, aku akan membalasmu."
Deni sangat marah, tapi ia tak bisa mendekat bahkan mendaratkan pukulannya,
Raka ternyata sangat tangguh.
"Kau hanya berdarah di mulutmu, tapi kau tak pikirkan kata-katamu. itu melukai hatiku tahu kau!"
"Memang kenyataannya, kenapa marah?"
Mereka kembali adu mulut dan adu otot.
"Dia tidak selamanya anak SMP, sebentar saja ia akan menjadi perempuan yang dewasa."
"Dasar kau! iri!, jealous! huh."
__ADS_1
"Aku nggak iri, nggak jealous, aku bilang pacarku pastinya bukan anak SMP."
"Terserah kau, jangan mengurusi orang, urus saja urusanmu."
Mereka terus bertengkar hingga akhirnya Deni berhasil mengunci Raka, ia meninjunya berkali-kali
dan terdengar teriak-teriakkan yang berbeda. Ternyata yang Deni pukuli adalah Sammy.
"Hei! lepaskan aku! kenapa kau malah memukulku? kurang asem!"
Sammy mendorong Deni yang terkejut. Sejak kapan Raka menghindar dan ia salah orang!
Sementara Raka enak-enaknya menonton tivi.
"Kenapa kau membela si Raka? kau pasti menggantikan dia saat aku menangkap dan menguncinya, memangnya kau peran pengganti ya? dasar!"
"Siapa yang peran pengganti? matamu itu! sana periksa. main tuduh saja!"
Mereka ribut saling tuding dan tak mau mengalah.
"Kau dan Raka mempermainkan aku! awas saja!"
"Tidak ada yang bermain-main, sudahlah aku lelah melayanimu."
Ketiganya tertawa tergelak-gelak.
Hari yang aneh, kawan menjadi lawan.
Bersambung
__ADS_1