
Prita menolak saat Boy menawarinya mengantar pulang. Gadis itu bilang ia bisa sendiri. Akhirnya Boy menghentikan kenderaannya dan menurunkan Prita. Tapi Boy tak langsung meninggalkannya melainkan menuggu hingga Prita mendapatkan mobilnya.
"Besok, tolong buatkan neraca perdagangan bulan ini ya. Sampai ketemu besok."
Boy melambaikan tangan saat kenderaan online yang dipesan Priti datang dan membawa gadis itu pergi.
"Siap pak!"
"Jangan lupa jadwal meeting saya juga ya."
Prita membesarkan matanya, tumben-tumbenan sok rajin kerja tuh orang.
Ia misah-misuh mengingat kelakuan bosnya. Huah! hari ini melelahkan sekali. Ia ingin buru-buru sampai di rumah, membersihkan dirinya dan tidur. Tapi tak ayal dia tertawa saat mengingat kejadian sepanjang hari ini. Boy yang ngambek dan cemburu. Wajah anak muda itu sangat kesal dan marah ketika melihat kedekatannya dengan Rakasiwi. Apakah dia salah tak memberitahu? bahwa dia sudah memiliki seseorang di hatinya. Bisa jadi sebab itu Boy meletakkan Prita di hatinya.
"Oh, maafkan aku ya pak Boy tak memberitahu hubunganku dengan Rakasiwi sejak awal."
Prita melamun sepanjang perjalanan. Ia menyilangkan kakinya sebab membuatnya nyaman, dan menaro tangannya di perut. Dulu tidak ada seorang pria pun yang menyukainya. Saat ia remaja dia gadis yang tidak bisa dandan, tidak memperdulikan penampilan. Sangat culun. Beda dengan teman-temannya, mereka saat itu sedang senangnya pamer, dandan, pesta. Sementara ia, Yunna dan Elsa lebih memilih perpustakaan, dan sesekali makan baso di pingggir jalan. Sejak smp hingga lulus sma tidak ada cowo-cowo yang menyatakan cinta.
Barulah saat ia di perguruan tinggi, beberapa teman lelakinya mulai meliriknya. Mengajaknya berangkat bareng atau pulang dengan motor mereka. Tapi itu pun Prita berusaha menjauhi cowo-cowo itu. Ia benar-benar ingin fokus menyelesaikan sekolahnya hingga berhasil. Bertambah usia, tubuhnya kian memperlihatkan lekuk-liku seorang wanita. Semakin banyak pria yang meliriknya. Tapi akhirnya ia memilih Rakasiwi.
Mama membukakan pintu dan melihat putrinya yang berwajah cemberut.
"Kenapa? nggak biasanya cemberut gitu?"
Tanya mama sambil menutup pintu.
"Mama buatkan teh panas manis ya Nak."
"Iya boleh Ma, Prita pengen minum teh buatan mama yang sedap, agaknya bisa menghilangkan pening kepala nih Ma."
__ADS_1
"Pening kenapa sih? udah kayak emak-emak saja, pusing mikirin cicilan he he he."
Priti sudah memasuki kamar mandinya dan mengisi bath tub. Ia ingin berendam untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya. Kemudian menghirup teh panas buatan mama. Dulu ketika mama merehap kamar mandinya ia memaksa agar dibuatkan bath tub. Mama Risa sempat marah dan mengatakan bahwa biayanya bertambah. Ia tetap bersikeras, mumpung kamar mandinya sedang di perbaiki, sekalian saja bikin kamar mandi di dalam kamar biar seperti di hotel. Pintanya.
Akhirnya jadi juga kamar mandi mewahnya. Priti seringkali menikmati hidupnya dengan berendam dengan air hangat serta bermain busa di sana. Kamar mandinya kadang membangkitkan lagi semangatnya untuk meraih hari-hari yang indah.
"Ma, masak apa?"
"Lihat saja, mama masak kesukaanmu, ikan gurame bakar sambal kecap. Juga sayur lodeh."
"Asyik, nanti kita makan malam bareng ya Ma."
Mama mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia bersiap melaksanakan sholat magrib.
***
Prita menunggu di depan gang. Ia sudah janjian dengan Rakasiwi. Tak lama bibir gadis itu yang berwarna pink tersenyum melihat mobil milik Rakasiwi yang ia kenal.
Pagi tampan, he he he iya siap."
Rakasiwi keluar dan membukakan pintu untuk Prita, membuat hidung gadis itu kembang kempis. Ia senang sekali oleh perlakuan manis Rakasiwi.
"Bagaimana acaranya kemarin sore? menyenangkan?"
Rakasiwi menolehi Prita yang lantas tersenyum.
"Iya acaranya lumayanlah."
Meski ia menahan sesuatu yang membuatnya ingin tertawa, sebab kecerobohannya yang sangat memalukan. Rakasiwi tidak perlu tahu cerita memalukan itu. Ia akan menyimpannya untuk dirinya sendiri saja.
__ADS_1
"Kalau nanti tidak ada acara, giliran awak mengajak pergi makan malam."
"Apa?"
Prita agak geli mendengar perkataan Rakasiwi.
"Ha ha ha, kita makan malam, sepulang dari kantor."
Prita tak menjawab, ia takut jadwalnya berubah dengan tiba-tiba.
"Hari minggu, aku kembali ke Yogya."
"Ok, baiklah."
Sesampai di pintu gerbang kantor, Rakasiwi menepikan kenderaannnya. Prita keluar dan keduanya saling melambai.
"Sampai jumpa nanti sore ya."
Prita menganggukkan kepalanya, lantas berbalik pergi memasuki kantor.
__ADS_1
Bersambung