Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan

Pria Idola, Jangan Pernah Meninggalkan Jejak dengan Menyakiti Hati Seorang Perempuan
Episode 153.Penculikkan II


__ADS_3

Mama Risa tersadar dan mendapati dirinya sendirian di dalam sebuah ruangan.


"Oh, aku di mana?"


Perempuan bernama Risa itu melihat sekeliling ruangan tersebut. Ia sama sekali tak


mengenal tempat itu. Tiba-tiba matanya membesar dan ia menjerit kecil sambil menutup


mulutnya. Ia yakin dirinya telah diculik.  Kesal, serta marah menguasai dirinya. Orang-orang


seperti apa mereka? dirinya tidak memiliki kesalahan atau apa pun. Tetapi kenapa mesti


diculik dan diperlakukan semena-mena.


Risa masih tertidur tertelungkup, setelah yakin dirinya telah menjadi korban penculikkan


maka ia harus berpikir untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Perempuan itu tak buru-buru


bangun karena ia akan membuat orang-orang itu terpedaya. Ia akan terus berpura-pura


pingsan.


Risa selalu ingat cerita tentang tiga ikan yang sering sekali ia ceritakan pada Prita ketika


menjelang tidur. Dan Prita sangat menyukai kisah persahabatan tiga ekor ikan di dalam


sebuah kolam. Meski pun ketiga ikan itu berbeda sifat tetapi ketiganya hidup rukun dan


hidup damai di dalam kolam.


Sehingga suatu hari salah satu diantara mereka mendengar bahwa beberapa hari lagi


orang yang berbicara dengan temannya itu berencana menguras dan mengambil isi


kolam untuk di jual.


Si ikan yang mendengar hal tersebut kemudian memberitahu semua penghuni kolam


dan banyak diantara mereka lantas pergi meninggalkan kolam tersebut melalui


saluran kecil yang ada di danau tersebut. Ketiga ikan yang bersahabat itu sangat


sedih dan berusaha mencari jalan keluar. Ikan yang memiliki sikap berhati-hati


lantas memilih pergi meninggalkan danau, sedangkan yang bersikap pasrah


tetap berdiam diri di dalamnya, kalau memang takdirnya selamat maka ia akan


selamat, begitulah pemikirannya sedangkan ikan yang pintar juga sudah memiliki


rencana tersendiri.


Begitulah, suatu hari terdengar suara dua orang laki-laki yang mendekati


danau kecil tersebut. Mereka mulai bekerja, menyedot air dan membuangnya


ke atas, hingga air danau itu tinggal sedikit. Dengan mudah kedua orang itu


mengambili ikan-ikan tersebut dan memasukkan ke sebuah ember besar.


Ikan yang pasrah juga tertangkap dan menjadi sangat gelisah. Ia bergerak liar


kesana-kemari, menarik perhatian dua orang itu. "Ikan yang itu sangat


menyulitkan sekali sebaiknya pukul saja dengan batu, agar diam."


Dan ikan yang pasrah itu pun menemui ajalnya, karena kegelisahannya


yang amat sangat membuatnya bergerak kesana-kemari mencari cara


untuk keluar malah akhirnya mencelakakan dirinya sendiri.


Sementara ikan yang pintar, begitu tertangkap ia langsung berpura-pura


mati dan diam diantara ratusan ikan-ikan lain yang menggelepar. Dan salah

__ADS_1


seorang diantara mereka melihat ikan itu. "Ini ikan mati, buang saja ke danau!


kita perlu ikan yang hidup."


Dan ikan yang pintar dan sedang berpura-pura mati itu pun selamat berkat


kepintarannya.


Dan sekarang, Risa akan berpura-pura pingsan saja sembari pelan-pelan


mencari cara untuk menyelamatkan diri.


"Kenapa perempuan itu lama sekali pingsannya? coba lihat dia!"


Darto dan anak buahnya membuka kamar dan melihat Risa masih seperti


posisi saat pertama di taro di ruangan itu.


"Ambil kayu putih dan taro di hirungnya agar siuman."


Tak lama anak buah Darto mengoleskan kayu putih tersebut di hidung Risa


yang membuatnya hampir saja bersin. Tetapi ia tetap berdiam diri hingga orang-orang


itu keluar dari kamarnya. Ia cepat-cepat bangun ketika Darto Keling telah berada


di luar. Ia mengamati ruangan itu. Tidak terlalu jelek, entah untuk apa ruangan itu


di buat. Apakah memang khusus untuk menahan seseorang sepertinya.


Ada sebuah jendela kecil, tetapi agaknya hanya untuk sirkulasi udara. Terlalu kecil


untuk tubuhnya. Risa agaknya akan terkurung di sini jika tak ada yang mengeluarkan


dirinya. Tiba-tiba ia melihat tas selempangnya tergeletak, ia buru-buru mengambil


dan mencari-cari, untungnya handphone mungilnya masih ada di dalam kantong


tasnya. Sebuah handphone lama yang hanya bisa menelpon dan sms. Ia berusaha


"Yunna! angkat telpon tante! buruan!"


Ia berusaha menghubungi Yunna, dan akhrinya diangkat. "Yunna, tante


di culik! tolong tante gimana pun caranya."


Tiba-tiba pintu terbuka, Darto Keling dan anak buahnya berdiri di depannya.


"Akhirnya terbangun juga! cepat suruh dia mengatakan di mana anak gadisnya?"


Darto menyuruh anak buahnya membuat perempuan tersebut bicara dan


memberitahu di mana Prita.


"Hei perempuan! katakan di mana anakmu sekarang?"


Anak buah Darto terus menerus bertanya tentang Prita.


"Kenapa kalian mencari anakku? memangnya apa yang kalian inginkan?"


Risa berkelit, ia tidak akan semudah itu memberitahu keberadaan Prita.


"Kau ini! jangan banyak tanya! kasih tau saja!"


"Anakku sedang ke luar negeri!"


Risa berteriak marah, orang-orang gila pikirnya! seenaknya menculik dan


menginginkan anaknya. Memangnya mereka apa?


Sikap Risa yang keras kepala dan menjawab sesuka hatinya membuat kesal dan kehilangan


kontrol.


Plak! plak!

__ADS_1


Dua tamparan keras di pipi kiri dan kanan membuat Risa terdorong kebelakang, dan darah


menyembur dari mulutnya, begitu kerasnya pukulan laki-laki itu.


Darto Keling berdiri di pintu dan tak mengatakan apapun. Ia sudah mengijinkan anak


buahnya melakukan apa saja agar mulut wanita itu mengatakan di mana anaknya.


Salah seorang anak buahnya mengambil handphone dan membawanya pergi. Ia


akan mencari nomer Prita di handphone tersebut.


Yunna agak terkejut saat mama Risa berteriak di telpun bahwa ia diculik. Tetapi


begitu ia akan membalas ia dengar suara laki-laki dan Yunna akhirnya mematikan


telpon itu. Ia segera memberitahu Prita.


"Oh yang benar Yunna!"


"Sampai jam segini Tante belum juga tiba ketempatku, apa yang harus kulakukan Prita?"


Yunna kebingungan. Sementara Prita juga menjadi tak tenang. Ia tak bisa pulang sebab


ada hal yang penting, tapi bagaimana keselamatan mamanya? beribu kali Prita bertanya


apa yang diinginkan orang itu padanya. Kenapa harus mamanya diculik.


Hingga panggilan dari nomer mamanya, "Mama! apa yang terjadi."


Prita setengah berteriak!


"Cepat pulang dan temui kami! atau mamamu mati!"


"Siapa kalian! kenapa menculik mamaku? jangan sampai terjadi apa-apa dengan


mamaku! awas kalian!"


Akhirnya dengan perundingan yang alot, Prita bersedia pulang, setelah ia menyelesaikan


urusannya ia akan pulang secepatnya. Prita tau, mamanya hanya sandera agar ia segera


pulang. Yang orang-orang itu cari adalah dirinya. Ia menekan bahwa ia pasti pulang secepatnya


tetapi ia memerlukan waktu, sebab tempatnya memang jauh.


Ternyata orang-orang Darto Keling menyetujui. Mereka memberi waktu Prita hingga keesokkan


harinya.


Gadis itu sangat bingung! dia tidak ada seseorang yang bisa dimintai bantuan. Rakasiwi?


mereka baru saja berhubungan. Pantaskah jika meminta bantuan?


 


 


 


 


 


 


 


Bersambung


Hello pembaca, terima kasih ya atas dukungannya selama ini


terus memberi like ya, komen/jejak serta vote.


othor sangat berterrima kasih.

__ADS_1


__ADS_2