
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Adipati duduk disamping Taca yang masih tertidur, terdengar dengkuran halus Taca. Adipati melihat bibir Taca, rasanya Adipati ingin mengambil kain kemudian mengosok bibir Taca keras-keras.
"Di... Di... sesak..."
"Amore, hei... udah ngak sesak, kamu udah keluar lift. Aku disini, Amore," ujar Adipati sambil mengecup kening Taca kemudian mengusap rambutnya.
Taca mengambil napas dalam-dalam, kemudian melirik Adipati, " Di, aku mimpi kamu nyium aku di lift, itu kamu 'kan ?" tanya Taca polos.
Adipati benar-benar ingin menendang Radi detik ini juga, seandainya tidak di tarik Juan mungkin saat ini Adipati sudah menggantung Radi di patung selamat datang.
"Ngak, ngak ada yang cium kamu, Amore. Kamu mimpi, tadi kamu pingsan kamu kekurangan oksigen," dusta Adipati, Adipati tidak mau ambil resiko apapun, seandainya Taca tau Radi menciumnya bisa-bisa Taca histeris.
"Tapi.. mimpinya kaya nyata, Di. Kamu punya kebiasaan ngelus bibir aku pake jari kamu 'kan, nah ini juga sama, masa aku mimpi sih ?" Taca benar-benar bingung antara masih di alam bawah sadar atau sudah kembali kekenyataan.
Demi semua hewan dikebun binatang, Adipati benar-benar ingin menghajar Radi. Pulang dari sini Adipati akan mencari Radi, ngak mau tau harus dapat, benar-benar minta direbus...!
"Ngak, Amore. Sini kalau mau aku cium sekarang," ujar Adipati sambil mencium Taca lembut.
Taca memejamkan matanya, menikmati ciuman Adipati. Adipati benar-benar mengesap bibir Taca lembut sesekali digigitnya bibir bagian atas Taca.
"Nah, kan udah sehat. Dok, udahlah ngak usah visit pasien yang ini. Pulang aja Dok.." ujar Juan dari depan pintu kamar.
Dokter Tria hanya bisa menggelengkan kepalanya, pasiennya hari ini benar-benar unik dari yang memiliki luka-luka seperti habis di hajar massa sampai pasien yang katanya sesak napas tapi pada saat dikunjungi malah sedang melakukan pertukaran saliva.
"Juan, Iis..." sapa Taca sambil mendorong lembut Adipati.
"Coba saya periksa dulu yah, Bu Taca," ujar Dokter Tria sambil mengeluarkan stetoskop miliknya, dibantu seorang suster Dokter Tria memerika Taca dengan teliti.
"Baik, sepertinya keadaan Bu Taca baik-baik saja, sebenarnya sore ini juga bisa pulang. Tapi kalau mau besok pulang juga bisa. Terserah bapak sama ibu," ujaf Dokter Tris sambil membereskan stetoskopnya.
"Rawat satu hari dulu aja, Dok. Saya takut ada apa-apa," ujar Adipati sambil mengelus rambut Taca.
"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu." ucap Dokter Tria sambl keluar dari ruangan tersebut.
"Ya ampun, Taca kamu bikin aku sport jantung, tau...!" cecar Iis sambil duduk di sebelah Taca.
"Maaf Iis, aku juga ngak tau tiba-tiba sesak banget napas aku, terus pandangan gelap dan sadar-sadar ada disini. Eh... aku kan tadi sama Radi, Radi pingsan juga ....."
"Mati? RADINYA MATI...!!" ucap Adipati sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"HAH ??? Mati beneran, Di. Radi mati kehabisan napas ?" tanya Taca sambil menatap Adipati kemudian Iis dan Juan yang hanya bisa menahan tawanya.
"Ngak Ta, Radi juga pingsan dia dirawat di kamar sebelah." ujar Iis sambil menepuk punggung tangan Taca.
"Ihh Di, masa Radi mati. Suka ngaco nih ah..."
"Kenapa jadi belain si Radi ?" tanya Adipati kesal karena Taca malam membela Radi.
Taca terdiam melihat reaksi Adipati terhadap perkataannya tadi, aneh padahal tidak biasanya Adipati semarah ini. "Maaf, Di. Aku ngak belain Radi kok, beneran. Maaf, yah..."
"Ya udah, aku sama Iis pulang duluan, Yah. Nih kamu pake mobil aku aja kalau mau pulang, biar aku sama Iis pulang naik mobil Iis," ujar Juan sambil menyerahkan kunci mobilnya pada Adipati.
"Bye, Ta... cepet sembuh, kabarin kalau kamu nginep di apartemen lagi, nanti aku temenin lagi, oke.."
"Ngak, mulai besok sampe mati Taca tinggal di apartemen aku," potong Adipati tiba-tiba.
"Haizz lo napa sih, Di. Kebanyakan makan daging kambing ? Marah-marah mulu lo, cepet tua baru nyaho.." cerocos Iis sambil memelototi Adipati.
"Udah..udah.. aku lagi sakit malah berantem, udah pokoknya nanti kalau aku nginep diapartemen aku lagi, kita nginep bareng lagi yah, Is.." ujar Taca sambil menunjukkan tanda oke dengan jari-jarinya.
"Sippp..." ujar Iis sambil menarik tangan Juan.
"Oke, gue duluan yah." Juan pamit pada Taca dan Adipati.
•••
"Di, tangan kamu kenapa ?" tanya Taca bingung melihat kedua tangan Adipati yang bengkak.
'Abis ngegebukkin Radi, untung ngak aku jadiin pindang..!' batin Adipati sambil mengusap kedua tangannya.
"Adipati, tangan kamu kenapa sih.."
"Kepentok..."
"Hah.. kepentok apa sampai kaya gini, jangan ngada-ngada ah, ini kamu abis ngapain sih sampai bengkak gini, Di..." Taca benar-benar khawatir dengan tangan Adipati dengan cepat Taca mengelusi dan menciumi tangan Adipati sambil sesekali mengusapkan punggung tangan Adipati kepipinya.
Adipati diam melihat Taca mengelus, menciumi dan mengusap tangannya, "Udah, tangan aku ngak papa, jangan cium-cium nanti aku minta jatah berabe..."
"Boleh kalau kamu mau, Di." ujar Taca cepat sambil mengerling nakal pada Adipati.
Adipati menelan salivanya, demi apapun Taca benar-benar wanita penuh kejutan, disatu sisi dia polos tapi disisi lain dia liar. "Gimana caranya, aku masih proses pemulihan, kalau aku sembuh aku bikin kamu ngak tidur 2 hari."
"Hahahaa... bener yah, aku siap ngak tidur seminggu buat kamu mah," ujar Taca sambil mengecup bibir Adipati cepat kemudian memposisikan kepalanya di dada Adipati bersiap untuk tidur.
"Amore..."
__ADS_1
"Hmm..."
"Aku pengen cepet nikah sama kamu, pengen punya anak kembar bisa ngak yah ?" tanya Adipati tiba-tiba sambil mengusap punggung Taca naik turun.
Taca tersenyum mendengar imajinasi seorang Adipati. "Bisa..."
"Terus kembarnya, kembar 11 laki-laki semua, biar aku jadi pelatih bola..."
"Nya da aku teh ucing...!!!" rutuk Taca sambil memukul dada Adipati.
(Iya, emang aku tuh kucing..!)
"Amore, sakit hahahaaa... kan cuman berimajinasi Amore," ujar Adipati sambil mencium kening Taca yang sudah kembali keposisinya.
"Ya udah, kembar dua aja, laki-laki dua-duanya atau kembar cewe cowo, gimana ?" tanya Adipati lagi.
"Iya, boleh. Kembar boleh, ngak kembar boleh, cewe boleh, cowo boleh. Terserah, asal bapaknya kamu aku mah bebas.." ujar Taca sambil menghirup wangi tubuh Adipati.
"Ya udah aku juga sama, bebas aja. Asal ibunya kamu..."
"Gombal...Di, kok kamu bisa suka sama aku sih ?" tanya Taca.
Adipati diam, entah apa yang harus Adipati jawab, dia benar-benar bingung mau menjawab apa. "Ngak tau.."
"Ish.. kok ngak tau.."
"Pokoknya Amore..." Adipati menggantungkan kata-katanya sambil mengangkat dagu Taca membuat manik mata Taca saling beradu dengan manik mata Adipati.
"Hmm..."
"Cinta hanya omong kosong sebelum aku mengenalmu," ujar Adipati sambil mencium bibir mungil Taca, merengkuh manis wanita miliknya.
•••
Huaaaa akhirnya kata-kata di cover keluar juga hahahahaa... dari awal bikin novel adegan ini udah berlari-lari diotak kaka gallon...
Yuk Q AND A masih bisa... *sosoan padahal sapa yang mau nanya coba hahahahaa...
Semuanya tetap sehat yah, tetep sayang sama Adipati-Taca dan Iis -Juan
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon