
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Pekan KB pun dimulai hari ini, pelataran parkir kelurahan Citeko penuh dengan beberapa mobil KB, para relawan sudah berdatangan dari pagi. Keadaan sangat penuh, dengan ibu-ibu yang ingin melakukan KB gratis.
Taca, Iis dan Adipati sudah sampai dan sibuk dengan urusan masing-masing. Adipati membantu Aa Riki, sedangkan Taca dan Iis membantu seksi konsumsi, menyiapkan snack untuk ibu-ibu.
"Ta..kamu ngak sekalian di KB, kalau jadi gawat loh, Ta." ujar Iis sambil nyengir kuda.
"Iis, berisik...!" ujar Taca kesal, sambil memicingkan matanya.
"Eh, Neng Taca, Neng Iis, apa kabar ?" tanya Ceu Kokom sambil memberikan sekeranjang roti untuk disusun.
"Baik, Ceu," jawab Taca dan Iis berbarengan.
"Denger-denger Neng Taca mau nikah yah ?" tanya ceu Kokom.
"Doain aja,Ceu" jawab Taca.
"Tapi enak Neng Rina yah, tuh liat duduk didepan dikasih makanan, cemilan. Beda yah, calon istri Lurah," ujar Ceu Kokom memuji Rina yang sudah duduk manis dimeja yang sudah disediakan.
"Da, kita mah apa, atuh Bu. Cuman remah-remah marie regal," ujar Iis merendah sambil menyusun roti didepannya.
"Kenapa, sih. Neng Taca ngak mau sama Kang Entis, udah kaya, punya jabatan, hebat lagi. Pokoknya mah kieu tah (gini, nih)" ujar Ceu Kokom sambil menunjukkan jempol tangan kanannya.
Taca cuman meringis mendengar perkataan Ceu Kokom, Taca dari dulu sampai sekarang tidak suka dengan Entis, Taca muak dengan kesombongan Entis yang tidak jelas. Apalagi sikap PD nya yang diluar batas normal.
"Ngak ah, Ceu. Saya mah sukanya sama calon saya yang sekarang, aja," ujar Taca polos.
"Taca, mah udah cinta mati sama Adipati, Ceu. Adipati harga mati. Hehehee..." goda Iis sambil tersenyum tengil pada Taca.
"Iis ngaco kamu..!" ujar Taca, Taca mengambil keranjang yang sudah disusun kue-kue kecil, bermaksud untuk menyimpan di meja depan. Meja yang dipakai oleh Rina.
Sesampainya di meja tempat Rina dan Ibu-Ibu pejabat lain duduk, Taca langsung menyuguhkan kue-kue tersebut di sana. Tak lupa memberikan senyumannya pada Ibu-Ibu disana.
"Eh, Neng Taca. Apa kabar Neng ?" tanya salah satu Ibu-Ibu disana.
"Baik, Bu." jawab Taca sopan.
"Kamu tumben pulang, kenapa ? Mau kenikahan Entis sama Rina, yah ?" tebak Ibu-Ibu berbaju biru.
"Iya, Bu. Sekalian ngenalin calon Taca ke Abah," jawab Taca jujur sambil berdiri manis disamping meja.
"Aduh, padahal dulu. Saya sangka Neng Taca yang bakal nikah sama Entis..."
"Ih... Bu Sunandar tolong yah, tolong dijaga omongannya. Kang Entis tuh, calon suami saya. Entis tuh cintanya sama saya, Bu. Bukan sama dia." hardik Rina kesal, kupingnya bergerak-gerak saking menahan dongkol.
Bukan kabar baru, didesa itu kalau Entis cinta mati pada Taca. Itu yang membuat Entis tidak menikah hingga usia 30 tahun. Hal itu juga yang membuat Rina keki dan Iri pada Taca.
"Eh maaf Bu Entis, saya lupa ada Ibu," ujar Bu Sunandar sambil melirik Ibu-Ibu lainnya.
"Udah kamu sana-sana. Yang boleh duduk dikursi ini, cuman orang-orang penting. Kamu tuh orang ngak penting, udah sana." usir Rina pada Taca.
Taca hanya bisa membulatkan pupil matanya, kemudian banyak-banyak bernapas. 'Sabar-sabar-SABARRRRR...!!!!'
Taca berjalan kembali ke meja dimana ada Iis yang sedang menyusun roti-roti.
"Iis.."
"Apa ?"
"Si Rina tuh yah..."
"Taca..." tiba-tiba ada yang memanggil, Taca dari belakang. Saat Taca menoleh dia melihat Jojo.
__ADS_1
"Apa, Jo."
"Itu, di cariin Entis, disuruh keruangannya, ada yang harus ditanda tangani katanya," ujar Jojo sambil menarik tangan Taca.
"Kok ke aku, aku buk...." ucapan Taca terpotong karena Jojo keburu menarik tangan Taca.
Iis terdiam melihat kelakuan Jojo yang memaksa Taca, entah kenapa firasatnya tidak enak. Iis langsung menyimpan roti-roti yang ada dengan cepat dan mencari Adipati.
•••
"Pak... sakit, Pak dokter, pelan-pelan." Teriak Ibu-ibu yang sedang dipasangkan cocor bebek oleh dokter kandung.
"Iya, Bu. Santai-santai... bentar yah, kan ini mau dipasang IUD, kalau ibu gerak-garam jadi kurang pas ini," ujar Dokter Ridwan sambil memasangkan IUDnya.
Beberapa Ibu-ibu yang disana langsung bergunjing, sambil cekikikkan.
"Aduh, Ibu. Pasang IUD aja jerit-jerit kalau lagi itu sama suami aja..." ujar seorang Ibu-ibu yang baru dipasang IUD dan bersiap untuk turun dari ranjang.
"Iya, Ih. Ibu. Saya juga ini udah langsung bisa jalan." cerocos Ibu-Ibu berkerudung macan.
Dokter Ridwan hanya bisa mengelengkan kepalanya, dia sudah biasa berurusan dengan Ibu-Ibu cerewet, sudah kebal telinganya.
"Coba, Bu. Coba Ibu duduk kalau masih sakit, nanti saya suruh orang buat gendong Ibu, kedepan." ujar Dokter Ridwan.
Ibu-ibu tersebut yang bernama Heni mencoba duduk, tapi entah kenapa perutnya terasa sakit. "Aduh, Dok kok sakit yah."
"Wah, bentar yah, Bu." Dokter Ridwan langsung memanggil perawat disampingnya.
"Sus, suami ibunya kemana, yah ? Bisa dipangilkan, ini Ibunya harus digendong ke ambulance untuk dibawa RS. Kalo dilakukan penanganan disini takutnya pendarahan. Kursi roda ada ngak ?"
"Waduh, ngak ada kursi roda, Dok. Abis. Saya coba cari suaminya yah, Dok."
Suster tersebut berlari keluar untuk mencari suami Ibu Heni, tapi menurut orang-orang diluar suami Bu Heni sedang membeli pulsa di warung depan.
"Dok, suaminya lagi beli pulsa ke warung depan," ujar suster tersebut.
"Bu, bu.. ibu masih sakit ?"
"Bu, kalau orang lain yang gendong Ibu gimana ? Ngak suami Ibu, Ibu bersedia ?" tanya Dokter Ridwan, dia benar-benar merasa keadaan terdesak dan harus cepat ke RS.
Bu Heni mengangguk pasrah. Perutnya sakit, kepalanya sedikit pusing. Tapi kesadarannya masih ada.
"Sus, pangil orang yang bisa angkat Ibu Heni. Urgent ini," ujar Dokter Ridwan.
"Iyah, Dok."
Suster berlari keluar menanyakan siapa yang bisa mengangkat Ibu-Ibu dengan berat badan 55 kg. Beberapa lelaki disana menolak, karena kebanyakan yang sudah berumur, suster tersebut menjelaskan ini darurat.
Adipati yang baru datang, mendengar ada yang membutuhkan pertolongan dan darurat, langsung mengajukan diri. Mengingat beratnya paling hanya seberat badan Taca lebih dikit. Pasti gampang untuk dia angkat.
"Saya aja sus." ujar Adipati berjalan sambil mendekati Suster tersebut. Suster yang melihat Adipati langsung terdiam.
"Ka..kamu yang gendong ?"
"Iya, saya. Urgent kan."
'Astaga Tuhan, gendong saya aja mas, saya ridho.' batin suster sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Suster.."
"Oh iya, mari kesini, Kang," ujar Suster tersebut.
"Dokter, ini yang gendongnya."
Bu Heni yang sedang mengaduh langsung membulatkan pupil matanya, Ibu-Ibu yang lainnya juga, yang tadinya berisik mengobrol langsung terdiam melihat Adipati yang masuk bersama suster.
"Itu yang gendong nya ?"
__ADS_1
"Astaga meni kasep (ganteng) gusti...!!!
"Yang mana Dok ?" tanya Adipati sambil menggulung lengan kemejanya.
Beberapa orang langsung menahan napasnya saat melihat Adipati menggulung lengan kemejanya.
"Yang ini, Pak." ujar Dokter Ridwan sambil menunjuk Bu Heni.
"Ok, ready ?" Adipati langsung mengangkat Bu Heni ala bridal style dengan sekali angkat, kemudian berjalan keluar dengan santai.
Bu Heni hanya bisa mengerjapkan matanya, seperti terhipnotis, rasa sakit diperutnya sudah tidak dia rasakan sama sekali. Mimpi apa dia semalam bisa digendong cowo ganteng.
Saat Adipati sudah tidak ada diruangan lagi, tiba-tiba para Ibu-Ibu yang tadi diam saja. Berteriak-teriak.
"Dokter sakit, saya harus digendong...!!"
"Aduh, tolong sakit perut aku."
"Dokterrr perut...!!"
Tiba-tiba semua Ibu-Ibu diruangan tersebut menjerit-jerit. Meminta dicek ulang alat KB-nya. Dokter Ridwan kaget, langsung berlari kesana kemari mengecek ada apa sebenarnya.
"Suster cari orang lain yang bisa angkat Ibu-Ibu," perintah Dokter Ridwan khawatir.
Suster berlari mencari bantuan, tak berselang lama suster datang bersama beberapa pemuda Citeko.
Saat Ibu-Ibu tersebut melihat siapa yang datang, mereka langsung berhenti berteriak.
"Ah..bukan akang yang tadi, ngak jadi ah.."
"Ih akang yang tadi ngak ada ?"
"Aku mau sama akang yang tadi, ini mah kaya Ade Londoh ah, ngak mau..!".
"Dokter, saya udah sembuh."
Beberapa menit kemudian, Adipati sudah kembali lagi keruangan.
"Ada lagi yang sakit, Dok ?" tanya Adipati.
Tiba-tiba Ibu-Ibu yang tadinya sudah sehat semuanya berteriak kembali.
"Saya, sakit aduhhh..."
"Saya..!"
"Ih... saya dulu Bu, ini sakit banget saya dulu. Akang saya dulu."
"Ih.. apa saya dulu..!!" ujar Ibu-Ibu yang mengunakan baju macan sambil mendorong Ibu-Ibu berkerudung bunga.
"Enak aja, saya dulu. Ibu jangan dorong-dorong, yah..!" Ibu-Ibu berkerudung bunga langsung sewot.
Adipati dan Dokter Ridwan hanya bisa melongo melihat tingkah laku Ibu-Ibu tersebut sambil menahan tawa.
"Pak, kayanya Bapak keluar aja deh, masalahnya wajah Bapak mengalihkan dunia Ibu-Ibu disini, hahahaaa.." ujar Dokter Ridwan sambil tertawa.
•••
Hah.. wajah Adipati mengalihkan duniamu hahahahaaa...
🙈🙈🙈
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon