Water Teapot

Water Teapot
Auto pilot..


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Adipati diam menatap keluar jendela kantornya, sudah 1 jam Adipati tidak melakukan apapun juga, hanya diam menatap keluar.


Tok tok..


"Pak, maaf ada Pak Gio," ujar Sherlly dari balik pintu ruang kerja Adipati.


"Suruh masuk Sher.." jawab Adipati lemah.


"Adipati, kabar itu benar ?" tanya Gio sesaat setelah masuk kedalam ruangan kerja Adipati.


Adipati hanya tersenyum lemah mendengar pertanyaan Gio. Kemudian duduk di kursi khusus tamu diruangannya.


"Di, la notizia è vera? "


(Di, kabar itu benar ?)


"Sì papà, la notizia è vera," ujar Adipati sambil mengusap wajahnya, menahan tangis.


(Iya papa, kabar itu benar.)


Spontan Gio memukul bahu Adipati dengan keras, Adipati langsung merasakan sakit di bahunya, tapi hatinya lebih sakit dari pada bahunya.


"Kenapa, kamu ngak bisa lindungi dia ? Astaga Adipati, Papa tak habis pikir. Kenapa kamu bisa kecolongan." bentak Gio kesal.


"..."


"Siapa dalangnya ? Siapa yang bikin Taca mengalami kejadian ini ?" lanjut Gio sambil menyenderkan tubuhnya ke kursi.


"Becca dan Jules." jawab Adipati lemah, dia sudah tidak mau membantah apapun perkataan ayahnya, rasa lelah sudah menggerogoti tubuhnya.


"Astaga, wanita mantanmu itu ?"


"Yah, Becca yang waktu itu datang kerumah," jawab Adipati pendek.

__ADS_1


Gio terdiam melihat Adipati, seumur hidup baru dua kali Gio melihat Adipati sehancur ini. Sekali saat istrinya meningal dan sekali lagi saat ini. Gio tidak tega melihat anak satu-satunya terpuruk.


"Laki-laki yang menyentuh Taca ?"


Tanpa sadar Adipati mengeretakkan giginya, bahunya menegang. "Nico sudah membusuk dipenjara, Pa."


"Becca dan Jules ?"


"Juan sedang mengurus semuanya, aku ingin mereka berdua membusuk dipenjara. No mercy, Papa." jawab Adipati sambil menatap Gio.


Spontan Gio memeluk Adipati, menepuk-nepuk punggung Adipati dengan lembut. Tepukan demi tepukan membuat pertahanan Adipati jebol. Adipati menangis, Adipati menangis di dada ayahnya.


"Papa, kenapa Taca harus mengalami ini semua ? Kenapa harus Taca. Astaga Pa, aku benar-benar mencintai Taca, Pa," Adipati meracau dipelukan Gio. Gio hanya terdiam mendengarkan racauan Adipati. Gio sadar anaknya sudah jatuh cinta pada Taca, jatuh sejatuh jatuhnya.


•••


"Makan, Taca.. makan sedikit yah," bujuk Iis yang sedang berkunjung ke apartemen Adipati. Sudah 3 hari semenjak kejadian kelam tersebut terjadi, selama itu pula Taca hanya terdiam dan menatap dinding didepannya, sorot matanya kosong.


Infusan tertancap ditangan kiri Taca, sudah 3 hari Taca tidak makan apapun, menolak semua makanan yang diberikan, hanya infusan itulah sumber makanan Taca.


"Taca, sayang sadar Ta... please, Ta. Kita ngobrol lagi Ta, ayo Ta... sadar Ta..." Iis memanggil Taca terus menerus, berusaha untuk mengembalikan kesadaran Taca kembali.


"Taca...Taca... sadar Taca sadar... Iis mohon sadar, Ta." Iis terus berusaha membuat Taca sadar. Tapi hasilnya nihil.


"Yang, sayang... udah yuk. Udah sayang, yuk kita pulang. Adipati udah datang, Yang," pinta Juan sambil menarik lembut Iis. Iis mengikuti perkataan Juan. Melepaskan pelukkannya.


•••


"Di, kita harus kasih tau keluarga Taca, keluarga Taca berhak tau keadaan Taca," ujar Iis.


Adipati terdiam mendengar ucapan, Iis. Perkataan Iis ada benarnya. Tapi, Adipati takut, alasan apa yang akan Adipati katakan pada orang tua Taca. Adipati takut keluarga Taca tidak mengizinkan Adipati untuk berhubungan lagi dengan Taca.


"Den, yang diomongin Neng Iis bener, Den. Pak Suhaedi harus tau keadaan Neng Taca. Neng Taca anak perempuan satu-satunya Pak Suhaedi yang tersisa, Den," ujar Bi Yuli tiba-tiba sambil meremas kain lap ditangannya.


Adipati kaget mendengar nasihat Bi Yuli, kaget karena Bi Yuli mengenal Ayah Taca. "Bibi kenal keluarga Taca ?"


"Mungkin Neng Taca lupa memberi tahu, Aden. Tapi Bibi, Neng Iis dan Neng Taca dari kampung yang sama, Den," ujar Bi Yuli.


"Di, please keluara Taca harus tau. Mereka berhak tau. Urusan nanti, mereka mau marah atau membenci kamu, Di. Ini trauma Taca yang kedua. Akan sulit menyadarkan Taca tanpa bantuan Abah, Kang Rozak dan Aa Riki," Iis memberikan penjelasan pada Adipati. Sudah cukup kesabaran Iis selama tiga hari ini, menuruti permintaan Adipati untuk merahasiakan keadaan Taca pada keluarganya.

__ADS_1


Adipati diam, hanya terdengar helaan napas. "Oke, kasih waktu aku 2 hari. Kalau lusa Taca masih belum sadar. Biar aku yang hubungi keluarga Taca," ujar Adipati sambil menatap Iis.


"Kita pulang, Ju." jawab Iis kesal dengan kekeras kepalaan Adipati. Lebih baik dia pulang dari pada amarahnya meledak disini.


"Gue pulang yah, Bro..." ujar Juan sambil menepuk bahu Adipati.


"Iya."


•••


"Pak Adipati, infus ditangan Nona Taca saya cabut dulu yah. Mungkin besok baru saya pasang lagi. Tangan Bu Taca sudah terlalu bengkak. Hari ini coba minta bu Taca makan secara biasa dulu," ujar Dokter Nana sambil membereskan perlengkapannya.


"Iya, Dok.. Dok bagaimana keadaan Taca ?" tanya Adipati sambil melihat Taca.


"Masih sama, Pak. Semuanya sehat, tinggal kita berdoa dan mencari cara untuk menarik kesadaran Nona Taca kembali," jawab Dokter Nana sambil beranjak dari duduknya.


"Saya permisi pulang dulu Pak Adipati, mari."


Adipati kemudian menatap Taca, merapihkan anak-anak rambut Taca, menyelipkannya kebelakang telinga Taca. Mengusap tangan Taca yang bengkak kemudian mengecupnya pelan.


"Kita mandi yah, Amore. Aku siapin dulu air hangatnya."


Adipati beranjak dari samping Taca, berjalan kekamar mandi kemudian mengisi bathup dengan air hangat. Adipati menghela napas, mengusap air matanya. Adipati sudah tidak peduli dengan kata-kata seorang lelaki tidak boleh menangis, hatinya benar-benar remuk.


Dinyalakannya TV di kamarnya, terdengar suara seorang presenter TV sedang menceritakan lagu baru Stephanie Poetri.


"Amore, mandi yah," ujar Adipati sambil membuka pakaian Taca, napasnya terhenti saat melihat bukti kepemilikan di leher, dada dan perut Taca. Bukti kepemilikan yang ditorehkan oleh Nico.


Adipati menutup matanya, menahan amarahnya yang kembali memuncak. Setelah reda Adipati mulai membuka seluruh pakaian Taca, kemudian membawanya kedalam kamar mandi.


•••


Sabar semua akan indah pada waktunya hehehee....


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...

__ADS_1


Salam sayang Gallon


__ADS_2