Water Teapot

Water Teapot
S2: let me hold you


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Iis sedang mengambil baju tidur Juan saat Juan masuk kedalam kamar dan mengunci pintu kamarnya.


“Mas ini mandi dulu, tapi nggak ada air panas, mau aku bikinin dulu?” tanya Iis sambil menyimpan baju tidur Juan di kasur.


“Yang, maaf tadi aku kelepasan sama Rozak jadi aku pukul....”


“Baguslah kamu pukul dia, kalau bukan kamu yang pukul tadinya mau aku tampar bibirnya,” potong Iis sambil mengambil handuk bersih untuk Juan pakai dari dalam lemari kamarnya.


“Eh....”


“Aku denger semuanya, Mas. Tadinya aku nggak mau keluar kamar, tapi kok omongan Kang Rozak makin kurang ajar sama kamu, jadinya aku keluar. Pas keluar aku liat kamu lagi berantem dilantai. Terus liat muka Kang Rozak yang memar, aku yakin kamu nggak apa-apa,” ujar Iis sambil melihat Juan yang sudah duduk dipinggir kasur.


“Kamu denger semuanya?”


“Iya aku denger semuanya, entah kenapa Kang Rozak tiba-tiba kaya nggak ridho gitu aku nikah sama kamu, otaknya kesetrum kayanya. Rasanya aku ingin teriak, kemarin-kemarin kemana aja Pak?” ujar Iis sambil mencoba untuk tersenyum sedikit.


“Kamu jangan deket-deket sama dia pokoknya, jauh-jauh deh,” pinta Juan sambil mengambil handuk dari Iis.


“Iya, udah mending kamu mandi. Aku udah mandi tadi. Kepala aku masih pusing, aku mau tidur. Besok kan kita harus bangun pagi, kita harus ....”


“Yang....”


Iis menatap Juan dengan tatapan sendu, “Mandi sana.”


Juan pun menuruti keinginan Iis, air dingin pun tidak akan menjadi masalah. Dia akan mandi sebersih dan sewangi mungkin.


•••


Saat Juan keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk saja, Juan melihat Iis yang sedang bermain bayang-bayang menggunakan senter dan menggerak-gerakkan tangannya, sedangkan ruangan benar-benar dalam keadaan gelap total.



(Ini permaian bayangan)


“Yang kamu ngapain?” tanya Juan sambil mendekati Iis.


“Main bayangan, Mas pernah main bayangan?” tanya Iis.


“Nggak pernah, dulu pengasuh aku hobinya bacain buku cerita hansel and gretel,” jawab Juan polos. (Hansel dan gretel cerita fantasi dari Jerman tentang 2 anak yang tersesat ke hutan dan masuk kedalam rumah yang terbuat dari kue, dan pemilik rumah itu adalah penyihir jahat)

__ADS_1


“Pasti versi bahasa inggris,” tebak Iis sambil membuka selimut disampingnya, meminta Juan merebahkan diri disamping Iis.


“Nein, Deutsch,” jawab Juan jujur sambil masuk kedam selimut dan melemparkan handuknya kesembarangan tempat.


(Tidak, Jerman)


“Sombong,” canda Iis sambil tersenyum kecil.


“Kenyataan Yang,” ujar Juan.


Iis langsung menelusup ke pelukkan Juan, suhu dingin badan Juan benar-benar membuat tubuh Iis yang menempel dengan tubuh Juan terasa sejuk.


“Ini gimana mainnya?” tanya Juan sambil menyalakan kembali senternya kemudian menyorotkan ke atas langit-langit.


Iis membentuk tangannya sedemikian rupa hingga membentuk burung elang. “Ini namanya burung elang, dia lagi terbang mencari makanan, wush...”


“Terus ada kelinci lagi makan wortel,” Iis mengganti bentuk tangannya membentuk kelinci.


“Terus...” ucap Juan sambil mencium pucuk rambut Iis.


Iis diam dan menggigit bibir bagian bawahnya menahan tangisnya. “Terus, aku nggak tau lagi, Ayah cuman cerita sampai sana, Ayah cuman cerita sampai ada kelinci. Aku nggak tau kelincinya gimana aku nggak tau, Mas,” isak Iis sambil mengusap air matanya yang jatuh di pipinya.


Juan langsung mematikan lampu senternya kemudian menyimpang senter tersebut di nakas terdekat.


“Yang....”


“Mas, Iis tuh sayang sama Ayah, Iis sangka sekarang setelah masalah udah selesai. Iis bisa berbakti sama Abah. Iis bisa nebus semua waktu yang udah Iis dan Ayah sia-siain dulu,” Isak Iis lagi sambil merangkul tubuh Juan.


Iis menangis sesenggukkan, sepertinya hari ini Iis sudah menangis berjam-jam, tapi entah kenapa air matanya seperti tidak habis-habis. Setiap Iis mengenang Ayahnya seketika itu juga air matanya keluar dengan cepat, seperti tidak ada jeda.


“Aku cengeng yah?” tanya Iis sambil mengusap air matanya.


“Nggak, kamu tegar Yang, nangis aja. Nangis aja yang keras, aku bakal disini nggak bakal kemana-mana. Aku bakal dengerin kamu nangis, bakal ngusap punggung kamu, nguatin kamu. Nangis aja Yang, nggak papa. Karena....”


“Apa?” tanya Iis sambil menatap Juan dan mengusap pipi suaminya.


Juan menunjuk dada Iis kemudian berkata, “Aku tau, disini itu sakit ‘kan, jadi nangis aja Yang nggak apa-apa.”


Seketika itu juga Iis menggigit bibir bagian bawahnya sambil menitihkan air matanya, tangannya langsung berpindah dari dada Juan ke arah bibirnya, menahan suaranya agar tidak keluar dan berteriak karena merasa putus asa dan menyesal. Iya, Iis menyesal tidak bisa menikmati waktunya bersama Ayah. Membuat kenangan indah sebanyak-banyaknya.


Iis pun merasa putus asa karena hanya sedikit kenangan indah yang dimilikinya bersama Ayahnya. Benar-benar sedikit, ah... andai tuhan memberikannya kesempatan lebih banyak lagi, mungkin Iis bisa membuat kenangan indah lebih banyak lagi. Iis menyesal.


Juan diam sambil mengelusi rambut Iis pelan, Juan hanya mendengarkan suara isak tangis Iis, sesekali Iis memanggil Ayahnya.


“Mas...”

__ADS_1


“Iya,” jawab Juan.


“Aku cuman punya sedikit kenangan indah sama Ayah dan aku nyesel Mas, harusnya aku punya banyak kenangan indah sama Ayah. Aku nyesel....”


Juan maklum dengan hal itu, seandainya Juan memiliki ayah seperti Ayah Iis mungkin juan juga hanya memiliki sedikit kenangan manis atau bahkan tidak memiliki kenangan manis sama sekali.


“Andai aku tau umur Ayah cuman sampai kemarin, mungkin aku bakal paksa Ayah tinggal di Jakarta biar aku urus Ayah.” isak Iis lagi.


“Mas... kamu bakal terus ada disamping aku ‘kan?” tanya Iis putus asa. Iis tau sebenarnya pertanyaan itu adalah pertanyaan bodoh. Hampir semua orang di dunia ini nggak pernah bisa memastikan sampai kapan mereka bernapas atau hidup. Tapi, Iis benar-benar butuh jawaban Juan, walau klise tapi Iis hanya ingin tau.


“Aku nggak tau, Yang. Umur nggak ada yang tau,” jawab Juan jujur.


“Mas....”


“Tapi, untuk saat ini,” ujar Juan sambil mengangkat dagu Iis dan mensejajarkan pandangannya.


“Apa?” tanya Iis.


Juan langsung memeluk badan Iis dengan erat, saking eratnya sepertinya Juan ingin meleburkan tubuh mereka berdua menjadi satu.


“Let me hold you, Yang. Aku janji selama kamu ijinin aku meluk kamu, aku bakal memastikan semuanya baik-baik aja dan aku bakal bikin kamu selalu merasa dicintai, Yang.”


“....”


“Jadi, izinin aku memeluk kamu di tanganku dan di pikiran aku selamanya,” ujar Juan sambil mencium bibir mungil Iis, merengkuh manisnya bibir Iis yang benar-benar sudah menggodanya.


Iis tersenyum disela-sela ciumannya dengan Juan. Kata-kata suaminya ini selalu menenangkan dirinya. Setelah beberapa waktu Juan mengurai ciumannya, kemudian mengusap bibir bagian bawah Iis.


“Iya Mas, Just hold me as tight as possible. Love you Mas,” ujar Iis sambil mengusap rambut Juan.


(Iya Mas, peluk aku seerat mungkin, aku cinta kamu, Mas)


“Love you more, Yang.”


(Aku lebih mencintai kamu, Yang)


•••


Let me hold you, reader ❤️


(Biarkan aku memelukmu, pembaca ❤️)


Ciao...


Bab ini terinspirasi dari lagu Let Me Hold You-Bow Wow.

__ADS_1


__ADS_2