Water Teapot

Water Teapot
S2: Got That Boom


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please..


Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Juan yang sudah memuntahkan semua isi perutnya menatap Iis yang ada didepannya kemudian tersenyum, "Yang, lapar...."


Iis langsung tersenyum melihat kelakuan Juan, benar kata Cicil. Juan berubah menjad sangat-sangat cerewat dan tiba-tiba minta makan.


"Ayo, mau makan apa?" tanya Iis sambil mengangkat badan Juan.


"Makan yang bulat-bulat kaya gunung kamu, heheeee...." kekeh Juan sambil menyentuh salah satu bukit kembar Iis. Iis hanya bisa menepuk dahinya dengan tangannya. Suaminya benar-benar ambyar.


"Apaan? Bola sepak?" canda Iis sambil mendudukkan Juan di kursi.


"Hah... jangan, nggak enak pait," jawab Juan sambil menggoyang-goyangkan badannya.


Iis langsung mengambil air minum dan hamburger yang tadi diberikan oleh Cicil pada dirinya. "Mau makan ini?"


"Ah...Burger hore...!!!" teriak Juan sambil berusaha untuk mengambil burger ditangan Iis.


Iis dengan cepat memberikan burger pada Juan, Juan pun memakan burger dengan penuh kebahagiaan.


"Yang, Yang... aku mau cerita."


"Cerita apaan?" tanya Iis sambil menatap Juan.


"Aku mau jujur sama kamu boleh ?" ujar Juan.


Iis langsung ingat perkataan Cicil, kalau Juan akan terus menerus mengoceh pada saat mabuk. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan hanyalah mendengarkan perkataan Juan, jangan dibantah.


"Apa, Mas?"


"Kamu nggak boleh marah, yah. Nggak boleh marah...!" ujar uan sambil menggoyangkan jari telunjuknya didepan wajah Iis.


"Nggak tau atuh, nggak janji. Jujur apa dulu ini teh?" tanya Iis penasaran.


"Jangan marah tapinya...."


"Iya, apa dulu ih, kalau kamu poligami mah, auto aku lempar kamu dari monas," ujar Iis gremet.


"Ih, aku mending poliponik, Yang, daripada poligami atau nggak poliklinik aja sekalian," ujar Juan sambil memakan burgernya.


"Kamu poligami, aku poliandri...!!" ancam Iis.


"Haiz, mau sama siapa? Rozak? Ish nggak bisa, empet aku liat muka si Rozak."

__ADS_1


"Kenapa sih kamu benci banget sama Kang Rozak?" tanya Iis


"Abis Rozak mantan kamu, mana dia ganteng lagi, 'kan aku keki. Hua...." juan tiba-tiba menggerakkan seluruh tubuhnya seperti orang yang kerasukan.


Iis langsung membulatkan matanya saking takutnya melihat kelakuan Juan yang benar-benar absurd, "Kamu kenapa sih?"


Juan tersenyum kecil saat melihat Iis yang kebingungan karena tingkah konyolnya, "Aku tadi ngebayangin kamu dipeluk sama di cium Rozak, astaga mendidih darah aku."


"Ya ampun, Mas. Ngapain kamu bayangin, udah lalu juga ceritanya. Aku aja udah lupa Mas," kekeh Iis sambil menepuk dahinya kesal.


"Abisnya kalau ngebayangin ciuman pertama kamu sama Rozak aku kok kesel yah?" Juan mengerutkan dahinya kesal sambil menggosok-gosok bibir Iis dengan serampangan.


Iis dengan gemas mendorong tangan Juan dari bibirnya. " Kata siapa ciuman pertama aku sama Kang Rozak?"


Juan langsung memundurkan kepalanya sedikit, kemudian menatap Iis dengan tatapan kaget. Wah ternyata istrinya punya banyak pacar?


"Yang, ciuman pertama kamu sama siapa? Ngaku...!!!" ujar Juan sambil menunjuk Iis menggunakan burger yang tinggal satu gigitan lagi.


Iis terkekeh melihat kelakuan Juan, seprtinya seru kalau membuat Juan mabok lagi, tapi dengan catatan ada Iis disana. "Siapa, yah. Aduh... pokoknya ganteng aja," goda Iis sambil mencubit hidung suaminya gemas.


"Ah...siapa, Yang?" tanya Juan penasaran sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal.


"Kalau kamu tau kenapa emangnya?" tantang Iis.


"Mau aku cari orangnya, mau aku pelototin, enak aja nyium-nyium istri orang," ujar Juan ngaco.


"Lah, waktu orangnya nyium akukan, aku belum jadi istri kamu. Kenal juga nggak, Mas.'


"Kalau sekarang nggak bakal ada yang berani megang-megang aku, lah wong suaminya beringas gini," kekeh Iis.


"Lah, terus ciuman pertama kamu sama siapa?" tanya Juan.


"Astaga Mas, masa lalu itu tuh, udah nggak usah dibhas," jawab Iis sambil beranjak dari duduknya dan mengambilkan air minum untuk Juan, Iis takut Juan tersedak saking semangatnya berbicara mengenai ciuman pertama Iis.


"Ya udah aku kasih tau yang ngasih ciuman pertama ke aku. Tapi...." Iis menggantungkan kalimatnya untuk memberikan efek dramatis.


"AAAAAPAAAAA...." ucap Juan sambil menggerak-gerakkan kepalanya seperti orang India yang sedang menari. Sudahlah, tingkah Juan benar-benar absurd malam ini.


"Kamu kasih tau siapa yang cium kamu pertama kali sama...."


"Apa?"


"Siapa yang ambil perjaka kamu, mau?" tantang Iis, sudahlah Iis jadi ingin mengetahui rahasia kecil Juan. Kalau siapa yang ambil perawan Iis sih pasti Pak Juan Wijaya yang terhormat.


"AH..." Juan langsung menjentikkan jarinya sambil memundurkan tubuhnya sedikit menjauh dari Iis. "Sudah kuduga."


"Gimana? mau jawab nggak?" tantang Iis, sudahlah kalaupun Iis tau siapa yang mengambil perjaka Juan atau cuman pertama Juan dengan siapa, Iis tidak peduli, kenal juga nggak.


"Hmm... oke, tapi jangan cemburu yah. Kalau nggak salah aku masih punya photonya," ujar Juan sambil beranjak dari duduknya dan berjalan kearah buku-buku yang berjajar dengan rapih dirak.

__ADS_1


“Kamu simpen photonya?" Iis benar-benar tidak habis pikir, kok bisa Juan menyimpan photo perempuan yang mengambil keperjakaannya dan ciuman pertamanya.


"Iya, kan ada photonya di buku tahunan senior high school," ujar Juan sambil mengmbil buku tahunan miliknya, kemudian membalik-balikkan lembaran demi lembaran photo disana."Nah...."


Iis langsung berjalan mendekati Juan untuk melihat apa yang ditunjuk oleh Juan. "Ini yang ambil ciuman pertama kamu sama perjaka kamu?"


Iis melihat seorang gadis berambut pirang dengan mata biru mengenakan gaun silver berdada rendah sedang memeluk Juan, dibagian atasnya terdapat highlight king and quuen Hillcrest High School Hamilton, New Zaeland. Melihat itu Iis lngsung mengerti mengapa Juan menyuruhnya photo preweding di New zaeland dan menemukan Tere disana. Ternyata Juan bersekolah disana.


"Jadi ini yang ambil perjaka sama ciuman pertama kamu, namanya Samantha?" tanya Iis sambil menunjuk photo Samantha.


"Oh, dia yang ambil perjaka aku. yang ambil ciuman aku tuh yang ini," ujar Juan sambil membalikan lembaran kertas kemudian menunjuk photo seorang gadis berambut merah dan bermata abu-abu. "Namanya, Tiffani."


"Oh..." jawab Iis speachless, bener kata Papih Juan ini kelakuan playboynya sudah diasah semenjak dini, sampai-sampai orang yang ambil perjaka sama ciuman pertamanya beda, 'Sabar Iis, sabar. terima nasib, nasib kamu punya suami mantan playboy cap mangkok...!!!' batin Is sambil menghela napas panjang.


"Nah, sekarang kamu jawab," ujar Juan sambil menyerahkan buku tahunannya kepada Iis. "Siapa yang ambil ciuman pertama kamu, jawab. Aku udah jujur ini sama kamu," ujar Juan sambil mendekatkan wajahnya pada Iis.


Iis hanya tersenyum kemudian membisikkan sebuah nama, yang jangankan Rozak, Taca pun tidak pernah tau kalau yang mengambil ciuman pertamanya Iis adalah lelaki ini, "Edrosh, Edy Edrosh.”


"Hah.... ciuman pertama kamu sama manusia absurd itu? Kamu tuh buta?" tanya Juan kaget, seingatnya Edy edros mukanya kaya minyak cemceman, kok Iis mau.


"Iya, waktu SMP. Nggak sengaja juga itu mah, aku tabrakkan eh bibir Edy mendarat cantik di bibir aku,” kekeh Iis sambil mengingat kejadian itu.


"Minta aku lempar si Edy, kalau ketemu lagi aku garuk si Edy," ujar Juan sambl mencubit kedua pipi Iis, Iis yang kaget karena pipinya dicubit tiba-tiba tanpa sadar menjatuhkan buku tahunan Juan kebawah.


Bruk...


"Aduh, Mas sakit ah, udah.” Iis langsung mengambil buku yang terjatuh saat mengambilnya Iis melihat kertas yang terjatuh dari buku tahunan itu.


Iis dengan cepat mengambil kertas tersebut, dahi Iis berkerut saat melihat isi surat itu, Ini apa?!


"Mas ini apa?" tanya Iis sambil menunjukkan kertas tersebut pada Juan, Juan menatap kertas itu sesaat, kemudian mendengus, Juan benar-benar membenci surat itu, sepertinya apa yang tertulis disana adalah sumber dari segala sumber masalah bagi kehidupan Juan. Surat itu, selalu menghantui Juan disetiap mimpi-mimpi buruknya.


"Itu ?” tanya Juan dingin sambil berjalan kearah kasur dan membaringkan badannya di kasur.


"Iya, ini maksudnya apa?” tanya Iis tak sabaran.


"Itu maksudnya aku mandul, Yang. Aku seorang Juan Wijaya MANDUL...!!" teriak Juan keras.


BOOOMMMMM............


•••


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...

__ADS_1


Salam sayang Gallon


__ADS_2