
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Suara berisik dan cahaya menyilaukan mengusik Iis, membangunkannya dari pingsannya.
“Dia ngak papa, Bu. Mungkin hanya stress saja. Tapi saya sarankan istirahat yang cukup saja.”
“Oh, kalau begitu terima kasih banyak yah, Dok. Maaf merepotkan.”
“Baik saya permisi, Bu.”
Iis samar-samar mendengarkan pembicaraan orang disekitarnya, matanya sangat-sangat berat untuk dibuka. Tapi, Iis memaksakannya untuk terbuka lebih lebar.
“Hm...”
“Udah sadar ?” suara bariton mengejutkan Iis, Iis memicingkan matanya untuk melihat suara siapa itu.
“Dimas ?”
Dimas tersenyum melihat Iis yang sudah sadar dari pingsannya, melipat korannya kemudian menatap mata Iis dengan tatapan yang tidak bisa Iis mengerti.
“Kamu segitu sayangnya sama aku yah ?”
“Hah ?!” Iis bengong mendengarkan perkataan Dimas. Gimana ? Iis sayang Dimas ?.
Dimas tersenyum melihat reaksi Iis yang kebingungan, “Dari semenjak kamu pingsan di tempat karoke sampai tadi kamu bilang, Mas maaf, Mas jangan tingalin aku, Mas aku cinta kamu.”
“Aku ngingo gitu ?” tanya Iis sambil meremas bed cover putih yang menyelimuti kakinya. Astaga sekangen itu Iis dengan Juan.
“Iya, kamu suka sama aku ?” tanya Dimas percaya diri.
“NGAKK...!? Mas itu panggilan aku buat tunangan aku, bukan buat kamu...!?” pekik Iis buru-buru.
Dimas langsung menunjukkan air muka kecewa, Dimas berharap omongan Iis untuk dirinya.
“Kan, Kaka udah bilang, mana mungkin Iis mau sama mahluk begajulan kaya kamu,” ujar Sarah sesaat setelah muncul dari balik pintu kamar.
“Sarah.. kok kamu bisa disini ? Ini dimana ?” tanya Iis bingung sambil melihat kesekelilingnya. Kamar yang ditempati Iis adalah kamar bergaya modern didominasi warna abu-abu, biru dan putih.
“Ini rumah aku, Is. tadi aku sama Dimas baru aja selesai karoke sama temen-temen lah, eh Dimas liat kamu disalah satu room. Ternyata kamu pingsan. Terus, kita bawa kamu kesini deh. Sepanjang jalan kamu ngigo parah banget, manggil-manggil Mas-Mas gitu, nah si begajulan ini nyangkanya kamu ngigoin dia, taunya jonkkk...” ujara Sarah sambil tertawa kecil dan menatap Dimas yang sudah mengerucutkan bibirnya.
Iis hanya bisa tersipu malu mendengar penjelasan Sarah, “Maaf Dimas, Mas nya bukan Dimas tapi nama tuna.. ah maaf mantan tunangan aku, hehee..” ujar Iis sambil terkekeh.
“Mantan ?!” ucap Sarah dan Dimas berbarengan.
__ADS_1
“Heeuh, aku mutusin dia. Makanya aku luntang lantung, karena selama ini aku tinggal sama dia, sedangkan apartemen asli aku, aku sewain ke orang lain,” ujar Iis sambil tersenyum miris.
“Kenapa ?” tanya Dimas kepo, Dimas benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya.
“Kepo banget sih, lo..!” ujar Laura sambil mencubit perut Dimas.
“Aww.. yah biarin ‘kan aku jadi punya ancang-ancang kalau mau pacaran ama Iis, sapa tau Iis jodohnya aku bukan mangan tunanganya,” ujar Dimas sambil mengedipkan sebelah matanya pada Iis yang langsung dibalas dengan tatapan kesal oleh Iis.
“Ngak usah dijawab, mending kamu tidur aja. Istirahat aja, kalau mau mandi, mandilah. Koper kamu udah aku simpen disana,” ujar Laura sambil menunjuk ke pojokkan.
“Iya..”
“Sama, kalau ada apa-apa bilang aja, anggap aja rumahs sendiri. Ah.. kamu ngak ada tempat tinggal ‘kan ?” tanya Sarah pada Iis.
“Iya, aku palingan besok setelah dari pulang dari biro bakal cari kostan...”
“Ngak usah, tinggal disini aja, aku juga sendirian ini. Aku udah ajuin perceraian dan besok kebetulan sidang pertama aku. Kalau kamu ngak keberatan kamu tinggal disini aja. Gimana ?”
“Tapi...” Iis merasa tidak enak.
“Caca butuh temen, Iis,” ujar Sarah sambil menatap Iis.
Iis terdiam, ah sial kelemahan Iis adalah anak kecil, orang tua dan yang paling baru adalah Juan. “Caca..”
“Iya, Caca.. dia butuh support, hmm anggap aja kamu kerja di aku sebagai psikolog pribadi Caca ? Gimana ? Aku bayar kamu include tempat tinggal, gimana ?” tanya Sarah mencoba untuk meyakinkan Iis, rumah ini terlalu besar hanya untuk dia, Caca dan pegawai.
Iis menatap Sarah kemudian menatap Dimas, saat ini Iis tidak bisa kemana-mana. Seandainya dia berlari ke tempat Taca, Iis yakin 100% Iis akan terbangun dengan Juan berada disamping tempat tidurnya, bisa ambyar usaha dia untuk meninggalkan Juan.
“Oke, tapi aku ngak bisa full buat Ca...”
“Formalitas doang sih, biar kamu bisa nemenin Kak Sarah disini, Caca udah ada baby sitter juga,” ujar Dimas sambil tersenyum pada Iis.
“Oke..” ujar Iis sambil tersenyum.
“Asikk.. ya udah, mending kamu mandi terus tidur,” ujar Sarah sambil beranjak dari duduknya.
Iis tersenyum sambil mencari sesuatu di kasurnya.
“Nyari apa Iis ?” tanya Dimas.
“Handphone aku, ada yang liat ngak ?” tanya Iis sambil terus mencari handphonenya, dia ingin menelepon Taca.
“Ah, kayanya tadi kita ngak liat handphone deh,” ujar Sarah mengingat-ngingat, tadi dia hanya membawa koper dan tas Iis.
“Mungkin ditas,” ujar Dimas sambil memberikan tas pada Iis.
Iis mengambil tas dari tangan Dimas dan mulai mengeluarkan semua barang dari dalam tasnya, tapi Iis tidak menemukan handphonenya sama sekali.
__ADS_1
“Ngak ada..”
“Ah... kayanya ketinggalan ditempat karoke deh,” kata Sarah lagi.
“Ya udah, besok aja aku bawa,” ujar Iis sambil tersenyum pada Sarah dan Dimas.
“Oke, udah istirahat yah,” ujar Sarah sambil menarik Dimas untuk keluar dari kamar tersebut dan menutup pintunya.
Iis sendirian dikamar tersebut, tiba-tiba hatinya lagi-lagi terasa sesak. Pikirannya kembali pada saat dia berbicara via sambungan telepon dengan Juan.
Dengan cepat Iis berdiri kemudian menyambar handuk didepannya dia perlu mandi dan mengguyur kepalanya dengan air.
Iis masuk kekamar mandi kemudian menyalakan shower, seketika itu juga rasa dingin langsung mengguyur kepala Iis, memberikan kesegaran pada otak Iis. Dihadapannya Iis melihat cermin.
Iis melihat pantulan dirinya di cermin, dihadapannya berdiri seorang wanita dengan mata bengkak, tiba-tiba napasnya tercekat saat melihat bukti kepemilikan di leher Iis.
“Mas...”
Hati Iis menjerit, rasa sakit melesak keluar memaksa Iis untuk mengingat semua kebaikan, romantisme, kejenakan dan kelakuan Juan selama mereka bersama. Air mata Iis tumpah bercampur dengan air dari shower. Tangis Iis pecah, kaki Iis tidak mampu lagi menopang berat tubuhnya, Iis terduduk dibawah air dari shower mengguyur badannya yang bergetar hebat karena menangis. Menangisi nasibnya percintaannya. Nasib malangnya.
“Mass... Mass.. aku harus gimana ? Aku harus gimana, sesak Mas..?!” isak Iis sambil menangis.
“I love you and i dont know what to do, because your dad not bless us, Mas..!” pekik Iis keras sambil menggaruk kepalanya dan menarik-narik rambutnya.
(Aku mencintaimu dan aku tidak tau harus melakukan apa, karena ayah kamu tidak merestui kita, Mas)
Kenapa, kenapa status sosial harus menjadi halangan percintaannya, serendah itukah dirinya dimata Papih. Iis tidak butuh nama Wijaya dia hanya butuh Juan...!?
Juan lelaki yang dia cintai sepenuh hatinya, lelaki yang selalu membuatnya tertawa, lelaki yang mau menghargai keputusannya untuk mempertahankan kegadisannya walau mereka tinggal satu atap. Lelaki yang membuat dirinya mau melakukan hal-hal yang tidak pernah Iis bayangkan sebelumnya.
Iis menarik napasnya, mencoba menenangkan dirinya. Ah.. andai dia dulu ikut kelas hypnotherapi seperti Taca, mungkin dia sudah menghipnotis dirinya sendiri. Ah.. dia rindu Taca, dia rindu sahabatnya itu. Dia ingin menumpahkan segalanya, tapi sialnya Taca menikah dengan sahabat Juan. Iis yakin kalau dia ke tempat Taca, hanya dalam hitungan menit Juan pasti sudah menemukkannya.
Iis tau dengan pasti pertahanannya akan ambyar bila dia bertemu dengan Juan. Mendengar suaranya saja sudah membuat Iis nangis hingga pingsan. Apa kabar kalau dia bertemu dengan Juan ?
Tuhan.. salah apa dia sampai harus menjalani kehidupan percintaan sesakit ini ? Salah apa dia ?
•••
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon
__ADS_1