Water Teapot

Water Teapot
S2 : mau ketemu Daddy...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


"Amore, Abah sayang banget sama Iis yah, ampe Juan juga kena sambit," tanya Adipati sambil mengusap perut Taca yang sudah sangat besar.


"Iya, Abah udah anggap Iis anaknya. Dulu Iis kan tinggal dirumah aku lama banget, Iis nolak tinggal satu atap sama istri baru Ayahnya," ujar Taca sambil mengelus kepala Adipati.


"Pantesan, Abah ngamuk banget tadi. Jadi inget dulu sebelum aku nikahin kamu, itu koran anytime, anywhere terus aja nyambit aku," kenang Adipati saat pertama kali dia di Citeko.


Taca tertawa mengingat penderitaan Adipati yang harus berjuang diterima oleh Abah dan kedua Kakaknya yang absurd. "Kamu dulu ampe tiap hari aku oles minyak kutus-kutus."


"Sekarang juga kadang masih," ujar Adipati kesal sambil mengusap terus perut Taca.


"Sabar, Di. Itu koran bakal selalu ada ngak bisa dipisahkan antara Abah dan koran," ujar Taca sambil tertawa kecil.


"Iis emang ada masalah apa sih sampai tadi ngobrol berdua sama Abah serius banget," Adipati penasaran dengan topik yang dibicarakan antara Iis dan Abah.


"Itu... Ayah Iis punya kapiat.."


"Apaan kapiat ?" tanya Adipati bingung.


"Eh.. hutang, kapiat artinya hutang dalam bahasa sunda, maaf-maaf," ujar Taca sambil menunjukkan giginya yang putih.


"Oh.. Ayahnya punya hutang kok Iis yang pusing."


"Masalahnya Ayahnya ngejaminin surat tanah warisan satu-satunya punya Ibu Iis. Harusnya itu jadi milik Iis, tapi ngak tau gimana caranya Ayahnya bisa ngejaminin itu surat, ribet lah urusannya," ujar Taca yang sebenarnya bingung dengan urusan hutang piutang.


"Astaga... bisa di laporin ke kantor polisi itu," ujar Adipati.


"Ngak tau, pokoknya Iis udah negosiasi sama pihak peminjamnya. Jadi Iis bayarnya dicicil."


"Berapa hutangnya ?"


"600 jutaan."


"Bilang ke Juan, biar Juan yang bayar. Ngak mungkin Juan ngak bisa bayar," jawab Adipati memberikan solusi, Adipati yakin Juan pasti mau membayar 600juta untuk hutang Ayah Iis.


"Iis ngak mau, pokoknya jangan sampai Juan tau, Di..." ujar Taca sambil menatap Adipati lembut.


"Oke..." jawab Adipati sambil mengelus perut Taca.


Dug...


"Aw... de pelan-pelan dong, sakit." cicit Taca sambil mengusap perutnya.


Dug dug dug...


"Sakit, nak," Taca meringis kesakitan saat kedua anak kembarnya terus bergerak di dalam perutnya.

__ADS_1


Adipati langsung mengelus perut Taca lembut, "Hei.. jangan nakal-nakal disana, kasian Mama. Sehat-sehat yah, nanti pas lahir jangan nyusahin Mama yah, nanti Daddy ngambek loh," ujar Adipati sambil mengusap perut Taca berusaha menenangkan si kembar yang mungkin sedang bermain bola didalam sana.


Entah karena takut dimarahi oleh Adipati kedua anak kembarnya langsung diam dan tidak menendang-nendang perut Taca lagi.


"Hadeuh, Daddy marah baru deh pada tenang, Mama marah ngak didengerin," rutuk Taca sambil mengelus perutnya sendiri.


"Hahahahaa... si kembar tau kali mana yang harus ditakutin mana yang ngak," ujar Adipati sambil menjawil hidung Taca.


"Tau ah, tapi biarin ajalah anak-anak takutnya sama kamu. Wong, kamu takutnya sama aku hihihihiii," ujar Taca sambil menjulurkan lidahnya pada Adipati kesal.


"Emang benar sih," jawab Adipati pasrah yang langsung di sambut tawa renyah Taca.


"Eh, ngaku dong hahaaa"


Adipati langsung mengecup bibir Taca, "Kamu tuh kalau marah serem."


"Di, hmmm kita belum nentuin nama anak, namanya mending siapa ?" tanya Taca bingung karena kelahirannya tinggal sebulan lagi tapi Adipati dan dirinya belum menentukan nama untuk sikembar.


"Aku udah ada nama sih,"


"Siapa ?"


"Dora sama Diego..."


"Ngaco... nanti anak kita kalau di ejek sama temennya gara-gara namanya mirip sama tokoh kartun yang hobinya ngobrol sama peta, gimana ?" tanya Taca kesal.


"Siapa yang berani ejek anak kita ? Ngak bakal selamat hidupnya, Amore..!" ujar Adipati sambil mencubit kedua pipi Taca yang makin gembil.


"Ngak bisa pokoknya, ngak ada yang boleh ejek anak aku, ngak bisa pokoknya, Amore." ujar Adipati sambil mencengkram paha Taca gemas.


"Sakit ih..." ujar Taca kesal sambil menepuk tangan Adipati keras.


"Auww.. maaf-maaf hehehe..." ujar Adipati sambil mengusap tangannya.


"Kamu cinta anak ini ngak ?"


"Yah cinta lah...!"


"Kama dan Kalila artinya yang dicintai," ujar Taca sambil tersenyum pada Adipati.


"Diego sama Dora aja."


"Ngakkk, Pokoknya Kama dan Kalila..!" ujar Taca gemas, demi apapun dia tidak mau anaknya di samakan dengan nama tokoh kartun anak.


Taca membulatkan matanya kemudian menatap mata biru Adipati, biasanya Taca akan menurut pada apapun keinginan Adipati bila sudah ditatap oleh Adipati. Tapi, demi nama Kama dan Kalila Taca akan bertahan.


"........."


"Oke, Kama Trina Berutti dan Kalila Trina Berutti," ujar Adipati pasrah.


Taca langsung tersenyum senang saat Adipati mengikuti keinginannya. Dengan cepat Taca mencium pipi Adipati.

__ADS_1


Adipati lansung mengusap perut Taca sambil berbisik "Kama dan Kalila baik-baik disana, yah."


Dug...Dug


Taca merasakan dua tendangan lembut diperutnya, menandakan persetujuan dari si kembar. Adipati terus memeluk perut Taca, membuat Taca merasa gerah dan panas.


"Di... sesak ih, panas sana jauh-jauh. Panas...!!" ujar Taca sambil mendorong Adipati pelan.


Adipati mengerti kalau Taca sering merasa panas saat hamil, dengan cepat Adipati menyalakan Ac kamarnya dan 2 buah kipas angin yang langsung mengenai tubuh Taca. Dengan sigap Adipati mengambil jaketnya yang paling tebal kemudian memakainya, mungkin menurut Taca suhu ruangan di kamar sangat panas tapi Adipati merasakan sebaliknya, suhu ruangan kamarnya benar-benar sedingin kutub utara.


"Ngapain pake jaket, ini panas banget sumpah," kata Taca sambil mengibas-ngibaskan tangannya kemudian menarik-narik kerah piyamanya karena merasa panas.


Adipati yang tadinya sudah mengenakan jaketnya, langsung membuka kembali jaketnya saat melihat Taca yang menarik-narik piyamanya. Semenjak hamil kedua bukit kembar milik Taca benar-benar menjadi lebih besar dan membuat pikiran mesum Adipati meronta-ronta.


"Amore..."


"Apa, panas ini," kata Taca sambil terus mengipasi badannya dengan kipas.


"Buka aja kalau panas," pancing Adipati.


Taca yang belum mengerti kemana arah pembicaraan Adipati, dengan cepat membuka piyama atasnya, menunjukkan perutnya yang besar. "Panas banget, Di,"


Mata Adipati membulat dengan cepat saat melihat tubuh Taca yang hampir polos. Adipati merasa Taca sekarang ada di masa paling Sexy, Adipati tidak peduli dengan besarnya perut Taca, dia hanya merasa Taca paling cantik saat ini.


"Panas banget ?" tanya Adipati sambil mendekati Taca dan menarik celana piyama yang dikenakan Taca dengan cepat.


"Iya, panas banget..." ujar Taca yang kebingungan kenapa tiba-tiba Adipati merayap diatas tubuhnya. "Kamu ngapain ?".


Adipati tersenyum smirk mendengar pertanyaan Taca, "Kama dan Kalila mau ketemu Daddy-nya," ujar Adipati sambil mencium bibir Taca dengan lembut mengesap candu kesukaannya, menggigiti bibir Taca sambil sesekali mengusap samping tubuh Taca menggunakan tangannya.


Taca membalas ciuman Adipati dengan sama lembutnya. Adipati menatap Taca sambil mengusap bagian bawah bibir Taca lembut dengan ibu jarinya.


"Kamu diatas yah, aku ngak mau nyakitin si kembar," pinta Adipati pada Taca.


Taca hanya menganggukan kepalanya pasrah saat Adipati memindahkan posisinya dan melakukan penyatuan dengan dirinya.


"Daddy, really miss you, twins,"


•••


Alah alasan anak-anak mau ketemu Daddynya dasar bule mesum hahahaa...


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon

__ADS_1


__ADS_2