Water Teapot

Water Teapot
S2: Siluman macan...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba lusa adalah waktu yang dinantikan Iis. Akhirnya dia akan menikah dengan Juan. Argh rasa-rasanya Iis ingin berteriak bahagia.


Senyuman Iis sama sekali tidak memudar dari bibirnya, sepanjang hari itu Iis merasa bahagia. Berkali-kali Juan habis diciumi oleh Iis, Juan serasa mendapatkan durian runtuh mendapat prilakuan dari Iis.


“Yang kamu kenapa hari ini manis banget,”tanya Juan bingung bercampur senang.


“Ngak ah, sama aja kaya biasanya,”kilah Iis sambil bergelendot manja di dada Juan.


Sejak kapan Iis suka melakukan PDA (Public Display of Affection/pamer kemesraan didepan umum), biasanya Iis selalu menolak rangkulan atau pelukkan Juan, paling banter Iis mau tangannya digenggam kemudian dimasukkan kedalam longcoat miliknya, selebihnya jangan harap, bisa habis Juan dicereweti oleh Iis.


Ide sinting pun tiba-tiba terlintas di otak Juan, walau saat ini Juan berada di ruang tunggu bandara khusus. Tapi, masih ada beberapa staf maskapai penerbangan dan calon penumpang yang sedang duduk-duduk.


Juan melirik Iis yang masih asik menggesek-gesekkan kepalanya di dada Juan, astaga calon istrinya ini benar-benar menggoda iman. “Yang.”


“Iya,”jawab Iis sambil mengangkat kepalanya menatap manik mata Juan yang gelap. Tiba-tiba Juan mendaratkan kecupan di bibir Iis. Lembut, manis dan menghanyutkan.


Salah satu tangan Iis malah mengusap belakang kepala Juan. Meminta lebih, Juan dengan tenang memberikan apa yang diinginkan oleh Iis.


Kecupan berubah menjadi ciuman kemudian berubah menjadi....


“Get a room..!!!”


(Cari kamar untuk bermesraan)


Iis yang kaget dengan teriakkan bariton di sampingnya langsung melepaskan uraian ciumannya dengan Juan.


“Astaga ganggu banget sih lo, kagak ada kerjaan atau gimana,”ceramah Juan saat melihat kerlingan nakal Adipati yang sedang menggendong Kamalia dan duduk di depan Juan dan Iis.


Iis menatap Adipati dengan kikuk, matanya langsung mengalihkan pandangannya ke arah Taca, Taca sedang mendorong strollernya sambil melambaikan tangannya pada Iis.


“Taca,”panggil Iis sambil berjalan mendekati Taca.

__ADS_1


“Lagi ngapain kamu tadi?”tanya Taca sambil tersenyum nakal, Taca merasa akhirnya Iis berubah nakal.


“Tadi.. itu..”Iis hanya bisa menjulurkan lidahnya.


“Hihihi... ati-ati nanti kaya aku,”ujar Taca sambil menunjuk hidungnya.


“Kaya kamu?”


“Iya? Kaya aku, abis dimakan Adipati setiap saat, setiap waktu, setiap dia maunya deh,”ujar Taca sambil mengedipkan matanya penuh arti.


Boom


Wajah Iis berubah merah padam membayangkan Juan yang akan ‘memakannya’. Ah sudahlah dia tidak mau memikirkannya, lebih enak menjalankannya saja *lahhh...


Iis dan Taca pun duduk disamping pasangannya masing-masing. Kama yang terus menangis ingin digendong oleh Taca dan Kalila yang tidur dengan tenang dipangkuan Adipati menjadi pemandangan yang dilihat Juan dan Iis.


Tiba-tiba terdengar suara kegaduhan di luar pintu Vip.


“Eh.. kamu tau saya siapa? Saya itu istri lurah Citeko, saya harus diam di tempat VIP, masa saya ngak boleh masuk,” ujar wanita yang menengakan kaca mata hitam Cengdem (seCENG aDEM), dengan dandanan extra menor, menggunakan cincin disetiap jari-jarinya dan juga gelang, tak lupa dress corak macan dan lipstik merah menyala.


Juan yang melihatnya langsung menyerngitkan dahinya, “Astaga Yang, mahluk apaan itu?”


Taca dan Iis hanya bisa menahan tawanya, mendengar perkataan Juan dan Adipati. Mereka juga tidak mau kalau sampai harus berdandan seheboh Rina, istri Entis Sutisna, Lurah Citeko yang terhormat.


“Taca kayanya sih suka bangget pake baju bentukkannya kaya gitu, hihihihihiii,” Iis menahan tawanya.


“Enak aja, kamu kali demen pake baju corak macan,”protes Taca sambil menahan tawanya.


“Ehhh... itu disana ada temen saya, TACAAAA IISSSS...!!”Rani berteriak keras sampai-sampai beberapa orang di dalam ruangan tersebut merasa terganggu.


Sialnya saking kerasnya teriakkan Rina membuat Iis dan Taca mau tak mau membalas panggilan Rani, karena hanya orang terbatas pendengaran kayanya yang tidak mampu untuk mendengar teriakkan Rani yang membahana.


“Awas saya mau masuk, itu ada temen saya,”usir Rani pada petugas yang ada di bagian depan ruang tunggu VIP.


“Tapi, Bu maaf saya ngak bisa izinin Ibu masuk, ini khusus ruang tunggu VIP,”ujar pegawai tersebut sambil menahan rasa marahnya.


“Ihhh... enak aja, saya juga VIP, saya istri lurah Citeko..!” hardik Rina kesal sambil mendorong-dorong pegawai bertubuh kecil tersebut.

__ADS_1


Iis yang kasian melihat pegawai tersebut langsung melirik Juan, “Mas, kasian itu pegawainya. Itu Rina suruh masuk aja,”kata Iis pada Juan.


“Ogah, biarin aja dia disana. Udah yuk, kita masuk ke pesawat, udah dipanggil juga,” ajak Juan sambil menarik tangan Iis untuk menjauh dari keabsurdtan siluman macan.


Adipati pun beranjak dari duduknya kemudian menyimpan Kama dan Kalila distrollernya kemudian mendorong Stroller tersebut.


“Ehh... Tacaaa Iis...!!” teriak Rina sambil melambai-lambaikan tangannya mencoba mencari perhatian Taca dan Iis yang sudah berjalan meninggalkan ruangan VIP tersebut.


•••


Setelah perjalan selama 1 jam mereka akhirnya sampai dibandar Ngurah Rai Bali, mobil jemputan dari hotel sudah menunggu mereka. Dari sana mereka langsung dibawa ke daerah Ubud Bali.


Sepanjang perjalanan mereka di ributkan dengan tangisan Kama dan Kalila, yang meminta perhatian kedua orang tuanya.


Taca hanya bisa menghela napasnya sambil tersenyum kemudian mengusui Kama. Sedang Kalila digendong oleh Adipati dengan telaten.


Iis yang kecapaian tertidur dengan pulas dengan cara menyenderkan kepalanya di bahu Juan.


“Kalian ngak pusing anaknya 2 langsung gitu?”tanya Juan bingung melihat betapa kelabakannya Adipati dan Taca mengurus Kama dan Kalila.


“Pusing tapi seru,”jawab Taca sambil menepuk-nepuk pelan punggung Kalila.


“Terus kamu mau bantuin?”tanya Juan pada Adipati yang sedang memeluk kama.


“Ya iyalah, bikinnya bareng, ngelahirinnya bareng yah ngurusnya bareng. Kalau aku ngak ikut ngurus, Ibu yang ada disana bisa-bisa bertanduk, Ju,” jawab Adipati sambil menunjuk Taca dengan matanya.


Juan hanya bisa menahan tawa, tak pernah terbayangkan di otaknya melihat pemandangan indah didepannya, pemandangan Adipati yang memiliki keluarga, si semprul yang tidak percaya Cinta ini benar-benar sudah jatuh cinta pada Istrinya.


•••


Maaf yah telat update kaka gallon lagi ada banyak yang harus dikerjakan di real life. Sepertinya besok juga bakal telat update lagi. Mohon maaf yah...


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️

__ADS_1


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon


__ADS_2