Water Teapot

Water Teapot
S2: Jangan dipake dulu...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


“Mas, hari ini jadi kita ke dokter?” tanya Iis dari arah dapur.


“Jadi, kita jadi ke Dokter Tanto. Tapi, ke rumah sakitnya aja yah, abis kalau ke tempat prakteknya males,” ujar Juan sambil mendekati Iis yang sedang asik memasak di dapur.


“Kenapa? Bukannya lebih privat yah, kalau di tempat praktetnya?” tanya Iis sambil mematikan kompor dan berbalik menatap Juan yang sudah ada didepan badannya.


Tidak mungkin Juan mengatakan kalau kemarin dia sudah pernah datang kesana bersama Adipati. Ditambah Juan malah bertemu perempuan genit yang ada di meja penerima tamu Dokter Tanto.


“Males, mending di rumah sakit aja,” ujar Juan sambil mengelus paha Iis.


“Mas, ini kita mau kerumah sakit loh,” Iis memperingatkan Juan saat mengetahui apa yang akan dilakukan Juan.


“Yah nggak papa,” bisik Juan sambil menelusupkan wajahnya keleher Iis, kemudian memberikan kecupan yang mampu membuat kaki Iis bergetar hebat.


“Mas... nanti Bi Sur...”


Iis sama sekali tidak bisa melanjutkan perkataannya sama sekali, bibirnya sudah dibungkam oleh Juan. Tangan Juan sudah bergriliya ke semua bagian tubuh Iis.


“Mas...” desah Iis saat Juan menghentaknya lembut, menerbangkannya kelangit ketujuh.


•••


“Wah... anda yang kemarin ketempat saya sama bule ‘kan?” tanya Dokter Tanto sambil menatap Juan kemudian Iis.


“Bule? Siapa Mas?” tanya Iis pada Juan.


Juan langsung menunjukkan giginya yang putih, kearah Dokter Tanto. “Iya Dok, kemarin saya sama Adipati, sahabat saya, Dok,” ujar Juan sambil mengedipkan matanya pada Iis.


“Oh, saya sangka kemaren pacarnya, mesra banget masalahnya,” ujar Dokter Tanto dengan tatapan dingin.


“Hah? Saya istrinya Dok, suami saya nggak belok,” bela Iis, entah kenapa Iis nggak ridho bila Juan dibilang belok. Iis bukti hidup yang dapat membuktikan betapa normalnya suaminya.


“Nah, ini istri saya Dok,” ujar Juan sambil menunjuk Iis.


Dokter Tanto hanya tersenyum pada Iis dan Juan, “Jadi gimana? Mau di periksa sekarang?” tanya Dokter Tanto.


“Boleh, Dok,” ujar Juan bersemangat.


“Nah, gimana kalau diperiksa sp*rmanya dulu?” tanya Dokter Tanto pada Juan.


“Boleh Dok, saya langsung test Sp*rma dulu?”

__ADS_1


“Iya, karena ini saya udah baca hasil Pak Juan dulu, tapi saya masih rada sangsi pada beberapa bagian. Jadi lebih baik Bapak langsung saya cek sp*rmanya. Bapak bisa langsung keluar, nanti Bapak dianter sama suster,” ujar Dokter Tanto.


Iis dan Juan pun mengikuti saran Dokter Tanto dan berjalan ke arah yang ditunjukkan oleh suster tersebut. Disana sudah terdapat beberapa pasangan yang sedang mengantri entah untuk apa.


“Mbak, saya disuruh dokter Tanto kesini,” ujar Juan sambil memberikan kertas rekomendasi dari Dokter Tanto.


Suster itu kemudian melihat kertas tersebut lalu menulis beberapa hal dibukunya. “Pak, Bapak mau test sp*rma kan?”


“Iya.”


“Nanti Bapak lakuin diruangan itu yah,” ujar suster tersebut sambil memberikan sebuah tabung pada Juan.


Iis hanya bisa menatap tabung tersebut dengan bingung. Ini beneran dikeluarin disini?


“Maaf, anda istrinya?” tanya Suster tersebut sambil menunjuk Iis.


“Iya saya istrinya kenapa, Sus?” tanya Iis.


“Oh, kapan terakhir berhubungan?” tanya Suster dingin. Suster didepan Iis benar-benar menunjukkan tatapan sedingin es kutub utara. Tidak ada senyuman, tidak ada tatapan ramah. Dingin..!


“Berhubungan badan?” tanya Iis lagi.


“Iya, Bu,” ujar Suster.


Iis langsung menatap Juan, Iis bukan orang yang santai bila membicarakan urusan ranjang, berbanding terbalik dengan Taca yang blak-blakkan. Iis lebih suka membicarakan tentang dampak negatif memakan racun tikus pada manusia dari pada membicarakan tentang urusan ranjang.


“Ah, pagi ini, pagi ini,” jawab Iis malu-malu meong.


“Lah... kok Bapaknya dipake sih, Bu?” cerocos Suster tersebut sambil mengambil kembali tabung wadah sp*rma dari Juan.


“Gimana maksudnya? Bapak dipake?” Air muka Iis langsung berubah kaget, saat mendengar perkataan Suster tersebut.


“Iya, kok Bapaknya dipake? Jangan dipake dulu, Bu. Sabar...” ujar Suster itu lagi.


“Bentar ini dipake gimana sih? Apa yang dipake? Suami aku bukan barang,” Iis bingung dengan perkataan suster didepannya.


“Yah, maksudnya Bapaknya jangan dipake dulu. Kalau mau test sp*rma, Bapaknya jangan dipake dulu selama tiga hari, Bu,” Suster tersebut menjelaskan sambil menatap Iis greget.


Iis hanya bisa mengedipkan matanya mendengar perkataan Suster dihadapannya. Demi apapun, tadi pagi yang memaksanya untuk melakukan itu Juan bukan dia. Kenapa, kok jadi kaya Iis yang nafsuan?!


“Mending Ibu sama Bapak kembali lagi tiga hari lagi yah,” ujar Suster tersebut sambil memberikan kembali surat rekomendasi dari Dokter Tanto.


“Jadi, saya balik lagi kesini sama suami saya, tiga hari lagi?”


“Iya Bu, tiga hari lagi. Inget Bu Bapaknya jangan dipake dulu,” Suster itu lagi-lagi mengingatkan pada Iis.


Juan yang dari tadi diam saja melihat perdebatan antara Suster dan Iis, hanya bisa mengulum senyum. Apalagi saat mendengar Suster tersebut bilang kalau dirinya jangan dipakai dulu selama tiga hari. Rasanya tawa Juan hampir meledak.

__ADS_1


“Inget, Yang. Aku nggak boleh dipake selama tiga hari,” ledek Juan sambil berjalan disamping Iis yang sedang mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan suster tadi.


“Ih... kamu yah, yang tadi pagi maksa aku. Kenapa jadi kaya aku yang nafsuan. Astaga, Mas...” ujar Iis kesal sambil mencubit perut Juan gemas.


“Aw...aw.... hahahaa... maaf deh, aku lupa harus puasa tiga hari kalau mau di test,” ujar Juan sambil mengusap bagian perut yang dicubit oleh Iis.


“Aku kesel kok kaya aku yang nafsuan, padahal kamu yang minta, Ih kesel,” omel Iis sambil masuk kedalam mobil Juan dengan cepat.


Juan hanya bisa menahan tawanya mendengar cerocosan Iis. Hampir sepanjang jalan Iis ngomel-ngomel tentang perkataan suster tadi.


“Ya maaf, maaf aku yang salah.”


“Tau ah, aku nggak mau pake kamu lagi selama setahun....”


“Eh, bibir yah kalau ngomong, karatan aku nanti yang ada kalau nggak dipake setahun,” Juan langsung menggunakan kaca mata hitamnya kemudian mengerak-gerakkan kedua alis matanya secara bergantian dihadapan Iis.


Iis yang tadinya mengerucutkan bibirnya langsung tertawa melihat ekspressi Juan yang mengemaskan. Suaminya ini benar-benar tau cara membuatnya tertawa, semenyebalkan apapun harinya pasti selalu diakhiri oleh tawa karena melihat kelakuan suaminya yang abstrak.


“Mas, aneh. Hahahahaa...”


“Nah kan, cantikkan gini, kalau cemberut tuh asem gitu ngeliatnya,” ujar Juan sambil menjawil hidung Iis cepat.


“Nanti kita kesini lagi, moga nggak ada yang aneh-aneh yah, moga hasil kamu juga bagus,” ujar Iis sambil menyimpan tasnya di jok belakang mobil.


Juan menatap Iis sambil tersenyum, “Apapun hasilnya, kamu tetep sama aku ‘kan?”


Iis membalas tatapan Juan, mengunci sorotan mata Juan, kemudian memegang kedua pipi Juan dengan kedua tangannya sambil tersenyum.


“Iya, apapun hasilnya aku bakal sama kamu. Kita ‘kan pasangan JuLis,” ujar Iis.


“Hahahaa.... gemesin banget sih, istri aku,” Juan langsung mengecup dahi Iis dengan lembut, tawa bahagia langsung terdengar dari Juan dan Iis. Tawa pasangan yang bebas dan sudah tidak ada beban, tawa pasangan yang pasrah pada apapun yang terjadi pada dunia, selama mereka bersama, mereka yakin bisa mengatasi semua masalah yang ada.


•••


Ah... Kakak Gallon kok sedih yah kalau udah nggak ada konflik lagi. Kesel gitu bikinnya. Apa Kaka Gallon datangankan masalah lagi?


*digebukkin pembaca satu kadipaten, ahahhahaa...


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon

__ADS_1


__ADS_2