Water Teapot

Water Teapot
S2: Adipati Berutti


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Ryan diam menatap ke dinding didepannya, ini kali kedua dia masuk ke penjara jadi bukan sesuatu yang baru bagi dirinya. Ah... malah dia merasa rindu wangi penjara dan sel tahanan.


Ryan melihat ke kanan dan ke kiri melihat sekitar ruangan bercat putih tersebut. Sepertinya dia akan diintrogasi oleh pihak kepolisian. Boring....


Klik...


Pintu ruangan terbuka masuk tiga orang kedalam ruangan. Satu orang berwajah oriental, satu orang berwajah bule dan satu orang berwajah jawa kedalam ruangan tersebut.


Orang berwajah oriental duduk didepan Ryan sambil menyimpang map-map berwarna-warni dihadapan Ryan. Beberapa lama kemudian lelaki itu langsung memberikan sebuah photo anak gadis berumur 15 tahun.


Ryan mendengus sambil tersenyum saat melihat photo yang diberikan oleh orang berwajah oriental tersebut. Ah, Ryan ingan anak gadis itu, Ryan ingat desahannya, liukkannya, bahkan Ryan ingat seperti apa rasanya ada didalam diri anak itu.


“Kamu tau dia siapa?”tanya lelaki itu.


“Tau, dia salah satu anak yang saya jual,” jawab Ryan tanpa tau malu. Ryan benar-benar sudah tidak peduli dengan hidupnya atau masa depannya. Dipenjara selama 8 tahun bukan menjadikan dirinya pribadi yang baik tapi malah membuat dirinya lebih hancur lagi.


“Kamu tau hal itu dilarang?” tanya lelaki oriental itu.


“Tau, tapi dianya juga suka. Kenapa nggak?” terang Ryan sambil tersenyum licik.


Lelaki berwajah oriental dihadapannya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Lelaki didepannya ini mungkin sudah hilang akal. Hanya orang gila yang dengan santainya mengatakan melakuan penjualan gadis-gadis dibawah umur untuk menjadi pemuas nafsu lelaki hidung belang.


“Jadi kamu ngakuin semuanya?”tanya Lelaki berwajah oriental itu.


Ryan tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Lelaki berwajah oriental dihadapannya. “Iya, saya akui. Kalau saya ngaku hukuman saya pasti lebih sebentar. Apalagi saya memberitahukan siapa dalang penjualan anak dibawah umur ini. Jadi, kenapa saya harus berbelit-belit?” tantang Ryan sambil mengangkat kedua tangannya yang terborgol.


Sial apa yang dikatakan curut didepannya ini sebagian besar benar. Lelaki itu benar-benar mengakui semuanya.


Lalaki berwajah oriental tersebut langsung berdiri kemudian meningalkan ruangan tersebut. Detik ini lelaki berwajah Jawa duduk didepan Ryan. Lelaki berwajah Jawa itu langsung menyerahkan photo Bobby, dua orang anak gadis seusia 15 tahun dan photo Dimas.


Ryan tersenyum melihat keempat photo tersebut. Ryan melihat kedua anak gadis seumur 15 tahun itu dengan pandangan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.


“Ini,” ujar Ryan sambil menunjuk photo Bobby adik Bunda, “dia orang yang jadi pemasok perempuan-perempuan muda buat aku jual,”jawab Ryan dingin.


“Ini,” Ryan menunjuk photo Dimas, “orang yang mau beli anak dibawah umur, tapi ternyata dia ngejebak aku sama Bobby,” jawab Ryan.


Lelaki berwajah Jawa itu hanya tersenyum mendengar penuturan Ryan. Ryan benar-benar seperti buku yang terbuka. Entah karena takut atau karena terlalu berani. Tapi, Ryan benar-benar mengatakan segala-galanya.

__ADS_1


“Jadi kamu mengakui segala-galanya?” tanya lelaki itu lagi dan langsung dijawab anggukan oleh Ryan. Tatapan Ryan sangat-sangat dingin.


Lelaki berwajah jawa itu mendengus lalu mengambil sesuatu dari dalam kantong celananya, sebuah kunci borgol. “Sini tangan kamu.”


Ryan menurut kemudian memberikan tangannya ke arah lelaki itu. Lelaki berwajah jawa itu membuka kunci borgol Ryan dengan cepat, lalu mengambil borgolnya.


“Kamu berarti mengakui semunya, kenapa? Kamu ngak takut dapat hukuman berat dan semua kesalahan ditimpakan pada kamu?” tanya lelaki itu lagi.


Ryan yang mengosok-gosok pergelangan tangannya hanya tersenyum kecil. Hidupnya sudah hancur saat masuk kepenjara 8 tahun yang lalu. Semua orang dikampungnya sudah mencapnya sebagai penjahat kelamin dan memang itu semua benar adanya. Dia penjahat kelamin, dia suka melakukannya dengan anak dibawah umur. Sensasi yang dirasakan Ryan dulu saat memperkosa Tasya benar-benar membuatnya menjadi candu, sayangnya dia tidak bisa melakukannya pada Taca, adik kembarnya.


“Nggak... saya nggak peduli,” jawab Ryan santai sambil menyenderkan punggungnya ke kursi.


Lelaki berwajah Jawa itu langsung membereskan file dihadapannya kemudian berlalu dari ruangan itu, merasa sudah tidak ada yang harus di tanyakan lagi. Ryan benar-benar sudah mengakui semuanya, apalagi yang harus dicari.


Klik


Suara pintu ditutup membuat hanya Ryan dan lelaki berwajah bule berada diruangan itu. Ryan menatap pria berwajah bule tersebut dengan tatapan dingin. Siapa lagi itu?


Lelaki bule itu duduk didepan Ryan dengan tatapan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tatapannya penuh kebencian.


“Kamu mau nanya apa lagi? Saya udah kasih tau semuanya,” jawab Ryan santai.


“Ngak ada, aku cuman ingin liat kamu menderita dan membusuk disini, dipenjara,” jawab Lelaki bule itu sambil menyilangkan tangannya.


Lelaki bule itu tersenyum kemudian beranjak dari duduknya bermaksudny meninggalkan Ryan sendirian, membusuk dipenjara.


“Ah...aku baru inget, kamu suami Taca? Hahahhaaaa.... Taca yang itu...” celetuk Ryan sambil tertawa keras.


Langkah kaki Adipati terhenti saat Ryan menyebutkan nama istri mungilnya.


“Gimana? Enak istri kamu? Hampir aku jebol loh, ah... sayang banget waktu itu ngak aku jebol,” ujar Ryan sambil menepuk-nepuk tangannya seperti orang kehilangan akal.


“....”


“Waktu di Citeko aku hampir hilang akal loh pas liat Taca, aku ikutin dia disemak-semak. Makin cantik aja Taca, badannya kecil mirip anak SMA, bikin aku makin naf......”


Brak...


Adipati membenturkan kepala Ryan kemeja dengan sangat-sangat keras, dahi Ryan robek dan menguncurkan darah.


“Bang....”


BUG.....

__ADS_1


Ryan merasakan pukulan di rahang bagian kanannya, saking kerasnya membuat badannya terpelanting ke samping kiri, kepalanya dengan mulus terantuk lantai semen di bawahnya.


Ryan mengulingkan tubuhnya, matanya beradu dengan manik mata biru milik Adipati. Adipati langsung berjongkok didepan Ryan sambil terus menatap Ryan.


“Hahahahhaaaa... astaga semarah itu kamu sama saya. Ayolah perempuan itu banyak, Taca itu bisa digan....”


Bruak...


“ARHHH....” Ryan berteriak keras saat merasakan tulang rusuknya ditendang dengan keras oleh Adipati.


Krakk...


Adipati menendang kepala Ryan sampai kepala Ryan terpental ke arah kanan, tubuh Ryan terdorong beberapa centimeter saking kerasnya Adipati menedang Ryan.


Ryan berjuan untuk bernapas, lubang hidung Ryan tertutup darah membuat Ryan kesulitan bernapas, tulang hidungnya sudah bergeser dari tempatnya. Rasa sakit disekujur tubuhnya membuat Ryan sadar sepenuhnya.


Adipati langsung berjongkok didepan Ryan, tangan Adipati menahan wajah Ryan agar menatap dirinya, mengunci pandangan mata Ryan dengan tatapan matanya.


“Listen to me...aku peringatkan kamu, jangan sampai kamu berkata, berpikir, menghayal, atau bernapas satu ruangan dengan Taca..!” sentak Adipati.


“.....”


“Sampai aku tau kamu, berpikir, menghayal, berkata, bahkan mengucapkan nama Taca dengan mulut kotormu ini, jangan harap hidup kamu dipenjara tenang Ryan..!”


“....”


“JAWAB...!!” sentak Adipati lagi.


“I...iya...” jawab Ryan sambil tersengal-sengal.


“Bagus,” teriak Adipati sambil mendorong kepala Ryan ke lantai semen.


Adipati berdiri kemudian menepuk-nepuk pakaiannya, berusaha untuk merapihkan pakaiannya. Lalu, berlalu dari sana meningalkan Ryan yang berjuang untuk bernapas menggunakan mulutnya.


Brak...


Adipati menutup pintu dengan keras, menutup masa lalu Taca dan Tasya, menutup segalanya.


•••


Hai.. maafkan kaka gallon kurang enak badan, jadi up nya telat. Hehehee.....


Ciaooo

__ADS_1


__ADS_2