
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Manik mata Iis langsung berpandangan dengan Dimas, lelaki tersebut gagah dan ganteng. Iyah ganteng, cewe gila yang bilang Dimas jelek. Dimas sangat mirip dengan artis Yoshi sudarso, mirip plek ketiplek.
Dimas langsung tersenyum pada Iis, Iis tersenyum kikuk melihat Dimas.
"Hai, Nek. Ini rumah siapa ?" tanya Dimas bingung. Baru sekarang Neneknya menyuruhnya untuk datang kesini.
"Rumah Neneklah, Nenek beli rumah, karena rumah utama 'kan lagi diberesin, bentar lagi Nenek ulang tahun 'kan." ujar Nenek sambil memeluk Dimas.
"Oh, aku sangka Nenek mau kabur lagi dari Papih," ujar Dimas sambil tersenyum pada Nenek.
"Dimas, kenalin ini Iis." ujar Nenek dengan semangat
"Dimas,"
"Iis.." jawab Iis sambil tersenyum.
Dimas menatap Iis dari atas ke bawah seperti menilai penampilan Iis, baju yang dipakai Iis bukan brand mahal, tasnya pasti tas hitam dibelakang badannya no brand, sepatunya hmm boleh juga melissa brand, tapi..
Mata Dimas membulat saat melihat kalung dan gelang yang dipakai Iis, kalung dan gelang itu merk Tiffany and co. Harganya ? Lumayan lah.
"Ada apa ini manggil Dimas kesini ?" ujar Dimas memperkenalkan dirinya sambil tersenyum menawan.
"Nenek ingin kamu kenalan sama Iis, kamu ngak punya pacar 'kan ?"
'Here we go again' batin Dimas sambil mengacak rambutnya membuat tampilan Dimas bertambah ganteng dua kali lipat.
"Saya punya pacar, Nenek. Maaf yah Dimas, tapi saya punya pacar," ujar Iis tegas.
Dimas langsung mengedipkan matanya, seumur hidup baru sekarang dia ditolak oleh seorang wanita secepat ini.
"Wow, aku ditolak Nek, aku pulang, Yah.." ujar Dimas.
"Haduh, kenalan dulu deh," paksa Nenek Lia.
"Aduh, Nek.. aku pulang aja deh, minggu depan aku kesini lagi, yah." ujar Iis sambil menggaruk kepalanya, kemudian mengambil tasnya dan tas berisikan berbagai macam kue yang tadi sudah dibuat oleh Iis dan Nenek Lia.
"Eh.. mau kemana Iis."
"Mau pulang, Nek. Udah sore," jawab Iis sesopan mungkin, padahal Iis ingin kabur dari sana secepatnya, demi apapun Iis ngak mau dijodohkan dengan siapaun juga. Dia cinta Juan, TITIK.
"Wah, ya udah Dimas, antar Iis pulang biar kamu tau dimana dia tinggal, biar minggu depan kamu bisa jemput Iis buat kesini," Nenek memberi ide pada Dimas.
"Hah...ngak usah Nek, saya pulang sendiri aja," ujar Iis kaget mendengar ide Nenek Lia.
"Dimas.." perintah Nenek Lia sambil tersenyum penuh arti pada Dimas. Dimas yang sudah 30 tahun menjadi Cucunya hanya bisa menghela napas, mengerti arti senyuman manis neneknya.
"Iis, ayo saya antar," ujar Dimas sambil menggiring Iis keluar dari taman.
"Eh... tapi saya pulang sendiri aja," ujar Iis sambil terus berjalan kearah pintu keluar, karena Dimas benar-benar dibelakangnya membuat mau tidak mau Iis harus berjalan kedepan.
Tanpa terasa Iis sudah berjalan sampai di depan mobil Maserati Levante hitam.
"Iis saya mohon, izinin saya antar kamu pulang dan tau dimana kamu tinggal, Nenek bakal ngoceh 2 bulan kalau aku ngak ikutin permintaanya, mohon bantu saya, saya butuh kedamaian," ujar Dimas sambil membukakan pintu mobil untuk Iis.
Iis hanya bisa pasrah dan masuk kedalam mobil milik Dimas, kemudian duduk dengan manis dan memasang seatbeltnya dengan baik.
__ADS_1
"Rumah kamu dimana ?" tanya Dimas sambil menyalakan mobilnya kemudian menyiapkan GPSnya. Dimas berdoa moga rumah Iis tidak masuk kedalam pelosok Jakarta demi apapun Dimas tidak mau mobil kesayangannya harus masuk kedalam jalan-jalan kecil kota Jakarta.
"Keraton Residence at The Plaza," jawab Iis menyebutkan lokasi apartemen Juan.
Dimas menatap Iis sekali lagi, demi apapun gadis ini cantik, manis dan memiliki pesonanya sendiri. Tapi kalau dilihat-lihat dia bukan dari kalangan dirinya. Pasti dia dari kalangan biasa, tapi bagaimana bisa orang dari kalangan biasa memiliki tempat tinggal di apartemen itu.
"Itu tempat kamu tinggal ?" tanya Dimas penasaran.
"Iya," jawab Iis singkat, semenjak dia menyetujui apartemennya disewa oleh Aa Riki otomatis dia tinggal bersama Juan.
"Oke..." ujar Dimas bingung, dia makin penasaran dengan gadis di sampingnya ini.
Iis langsung mengambil handphonenya kemudian meng chat Juan.
-Mas, aku dianter temen aku yah, pulang. Dia laki-laki, jangan mikir yang aneh-aneh, dia cuman nganterin
Sent
Iis langsung memasukkan kembali handphonenya kedalam tas miliknya.
"Nama kamu cuman Iis ?"
"Lizbet Sandia, tapi panggil aja Iis," jawab Iis sambil melihat pemadangan di jalan.
"Lah, jauh amat dari Lizbet jadi Iis.." ujar Dimas bingung.
"Hahahaa... ngak tau, jadi awalnya aku mau dikasih nama Iis Sandia sama Ayah aku, tapi Ibu aku nolak, jadi diambilah jalur tengah. Nama aku Lizbet tapi nama panggilan aku Iis. Win win solution," ujar Iis sambil mengedipkan matanya membuat Dimas kaget, ternyata gadis ini cantik.
"Semua senang, semua menang," ujar Dimas sambil menepuk kedua tangannya.
"Yup, dari pada terjadi pertumpahan darah 'kan," ujar Iis.
"Kamu beneran udah punya pacar ?" tanya Dimas penasaran.
"DAMN, kayanya aku harus mundur segera sebelum aku jatuh cinta sama kamu," canda Dimas sambil mengacak rambut miliknya.
"Bagus..!! Jadi aku ngak perlu repot-repot nolak kamu," ujar Iis sambil tertawa lembut membuat Dimas melirik Iis dengan tatapan penasaran.
"Hahahaaa, ngak bakal deh Bu Iis. Kita temenan aja gimana ? Kayanya asik temenan sama kamu," ujar Dimas sambil mengambil kaca mata hitamnya dan mengunakannya.
"Sippp... tapi jangan aneh-aneh yah, pacar aku cemburuan," Iis memperingatkan Dimas.
"Hadeuh, ngak capek punya pacar cemburuan ?" tanya Dimas, sebenarnya itu pertanyaan yang benar-benar ingin Dimas tau jawabannya.
Dimas tipe cowo pencemburu parah, hampir semua kekasihnya meminta putus dengannya karena Dimas yang terlalu cemburu.
"Ngak, asik tau punya pacar pecemburu, kadang Mas itu yah suka lucu cemburunya. Lucu lah, imut.."
"Hah ?"
"Hahahaa.. aku aneh yah, tapi aku suka kok dicemburuin, masalahnya Mas itu kalau cemburu, cemburunya lucu." ujar Iis sambil tersenyum.
"Aneh kamu, Is."
"Yah gimana namanya cinta," jawab Iis sambil menyelipkan rambut kekupingnya.
"Cinta mengalahkan segalanya, yah.."
"Bener banget...! Nah, kamu gimana ? Kamu punya pacar ?" tanya Iis sambil tersenyum pada Dimas.
"Aku ? Ngak aku ngak punya pacar, lagi dalam mode galau."
__ADS_1
"Galau kenapa ?" tanya Iis bingung.
"Biasa baru banget putus, Bu Iis. Makanya Nenek maksa aku ketemu kamu, padahal hari ini aku harusnya pergi ke club ada pertemuan sama keluarga aku," ujar Dimas sambil membelokkan mobilnya.
"Oh kamu suka golf juga ?"tanya Iis yang ingat kalau Juan juga sedang golf dengan kolega dan kliennya.
"Lah, tau juga arti Club," ujar Dimas terpukau dengan keluasan wawasan Iis.
"Tau lah, gini-gini aku psikolog anak tau," ujar Iis membanggakan pekerjaannya.
"Ngak nyambung Bu Iis, Tapi, kalau kamu Psikolog kamu bisa baca pikiran aku dong," ujar Dimas sambil tersenyum tengil.
Iis tersenyum dengan perkataan Dimas, lagi-lagi kata-kata itu. Kesel Iis setiap ada orang yang bilang kalau dia bisa baca pikiran orang hanya karena dia seorang psikolog.
"Ngak bisalah, emang di dahi kamu ada tulisannya apa, ngak ada kan. Eh.. bentar ada tulisannya.." ujar Iis sambil pura-pura menperhatikan dahi Dimas.
"Apa ?" tanya Dimas penasaran.
"JOMBLO AKUT...!!!!"
"Ahhh fucek loe, Iis...!" rutuk Dimas kesal sambil memukul stirnya gemas.
"Hahahahahaaaa...."
Mereka terus berbincang dimobil, tanpa sadar mobil Dimas pun sudah sampai didepan lobby apartemen.
"Makasih yah, udah anter aku pulang, salam buat Nenek." ujar Iis sambil keluar dari mobil Dimas.
"Oke, Sip. Eh Iis.."
"Apa ?"
"Minggu depan aku jemput lagi, demi apapun aku ngak mau dimurkai Nenek, atau kita ketemu didepan rumah Nenek, deh. Pura-puranya aku jemput kamu, gimana ?" usul Dimas demi apapun Dimas benar-benar malas mendengar kecerewetan Neneknya. Tapi dilain pihak dia tidak mau membuat Iis tidak nyaman.
"Hmmm oke deh, ketemu didepan rumah Nenek aja, Oke..."
"Oke, bye Iis.."
"Bye..." Iis melambaikan tangannya kemudian masuk kedalam apartemen.
•••
Ini kaka gallon kasih deh penampakan Dimas yah, dari pada bingung seganteng apa bapak Dimas ini.
Mohon maaf yah, kaka Gallon mah gitu, peran ilalang suka lebih ganteng dari pemeran utama hahahahaa...
Tolong jangan suruh bikin cerita tentang kisah cinta Dimas, kalau disuruh bikin Kaka Gallon bikin Dimas pacaran sama Kang Rozak aja 🤣🤣🤣 (canda sayang-sayangku hehehee)
•••
Udah jangan ngamuk ke Dimas, Dimas mah cuman ilalang yang senang goyang duman *apaan sih kaka gallon ini 😑😑😑
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon