Water Teapot

Water Teapot
S2 : apartemen...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Zreettt zreeettt


Iis menatap ponselnya kemudian langsung mengangkat teleponnya saat melihat nama Taca disana.


"Iya Ibu Hamil kenapa ?" tanya Iis.


"Iis kamu dimana ?" tanya Taca cepat.


"Aku di supermarket mau beli bahan buat makan malam, kenapa Ta ?" Iis balik bertanya pada Taca. Terdengar sayup-sayup suara Adipati yang mengaduh di tempat Taca.


"Kenapa itu suami kamu ?"


"Aduh, kepala aku pecah ini. Abah sama Kak Riki dan Kang Rozak kan udah 2 hari ini tinggal disini, aku sih seneng-seneng aja. Tapi, setiap hari Abah nyambit Adipati pake koran dengan alasan apapun. Astaga kepala aku ampe mau pecah ini," ujar Taca sambil mengurut keningnya.


"Hah... emang sekarang Adipati salah apa lagi ?" tanya Iis bingung.


"Aku sama Adipati ketahuan lagi ehem-ehem di dapur..."


"Makjan, kamu tuh lagi hamil 8 bulan masih aja yah," Iis kaget dengan kalakuan Taca dan Adipati yang sangat aktif berhubungan suami istri.


"Hehehee...Si kembar mau ketemu Bapaknya," kekeh Taca.


"Ih... ini mah sama-sama mesum otaknya, nah terus hubungannya apa sekarang sama aku ?" tanya Iis bingung.


"Jadi... bentar..." Taca menghentikan obrolannya dengan Iis, sayup-sayup Iis mendengar suara Taca yang memarahi Abah yang terus memukuli suaminya.


"Abah, udah atuh. Kalau Adipati mati gimana ????"


"Dasar bule gelo, si Taca teh lagi hamil gede masih aja dihajar, dasar bule edyannnn, ciattttt...!!!"


"Sakit, Bah. Astaga... yang mau Taca bukan aku... astaga Abah...." teriak Adipati.


"Udah astaga udah...." teriak Taca.


Iis hanya bisa menahan tawanya mendengar suara-suara di handphonennya, keluarga Taca memang dari dulu selalu bikin Iis menggelengkan kepalanya. Dulu, dulu sekali Iis pernah sangat iri dengan keluarga Taca, rumah Taca penuh dengan canda tawa berbanding terbalik dengan keadan rumahnya yang seperti neraka.


"Iis, masih disana ?"

__ADS_1


"Masih, gimana, Adipati aman ? Masih hidup ?" tanya Iis pada Taca.


"Aman dia masih hidup," ujar Taca.


"Terus gimana, kamu nelpon aku bukan mau sombong tentang kehidupan sexsual kamu 'kan?" tanya Iis sambil mengambil salah satu trolly.


"Yah ngak lah, hmmm Iis apartemen kamu jarang dipake 'kan ?" tanya Taca.


Iis diam, hampir 3 bulan dia tidak tinggal di apartemennya lagi, mungkin saat ini apartemennya sudah berdebu. Sudah 3 bulan Iis tinggal bersama Juan, Juan punya cara dan berbagai macam alasan untuk menahan Iis di apartemennya. Tanpa Iis sadari semua pakaian dan barang-barang pribadinya sudah berpindah dari apartemennya ke apartemen Juan. Entah bagaimana ceritanya Juan tiba-tiba sudah mempunyai walking closet khusus untuk dirinya.


"Kenapa emangnya ?"


"Ehmm kalau kamu ngak keberatan, aku mau sewa apartemen kamu, Aa Riki mau tinggal di Jakarta dia mau bisnis beras gitulah sama Adipati aku ngak ngerti. Jadi Aa Riki ngurus semuanya di Jakarta, sedang di Citeko Kang Rozak sama Abah yang urus. Aa Riki ngak mau kalau tinggal sama aku dan Adipati katanya jiwa jomblonya bergetar, hahahaaa..." ujar Taca panjang lebar.


"Ihhh, Aa Riki mah Jomblo dari lahir," kekeh Iis sambil membenarkan letak rambutnya.


"Makanya, karena apartemen aku kan udah ada yang nyewa, nah daripada apartemen kamu kosong, aku sewa aja gimana ?" tanya Taca.


"Hmmm... aku nanti nanya Mas dulu deh, kan ngak lucu kalau ternyata Mas, ngak izinin aku tinggal sama dia, terus aku tinggal dimana ?" ujar Iis walau Iis tau dengan pasti jawaban Juan adalah Iya.


"Oke, kabarin yah, masalahnya kalau Aa Riki udah pindah ke apartemen kamu, Abah bisa pulang ke Citeko. Jadi, aku ngak stress lagi liat Adipati disambit koran. Pusing kepala aku beneran, mana perut aku berat banget lagi," keluh Taca.


"Hahahaa... ya udah besok aku kabarin yah,oke. Bye ibu hamil..." ujar Iis sambil menutup sambungan telepon yang ada.


Zrrreeett zreeezttt


Lagi-lagi handphone Iis berbunyi membuat Iis mengambil kembali handphonenya dan melihat nama Juan di layar handphonenya.


"Iya, Mas kenapa ?"


"Kamu kenapa ngak pulang langsung, ngapain kamu di supermarket ?" tanya Juan.


Iis langsung menggaruk dahinya yang tidak gatal, demi apapun kadang Iis menyangka Juan mempunyai ilmu kanuragan karena Juan selalu tau dimana dia berada.


"Terus kenapa aku telepon susah banget, kamu nelpon siapa ?" tanya Juan lagi.


"Mas, astaga kamu kenapa sih gini amat, sama aku," ujar Iis kesal, rasanya sulit bernapas kalau Juan sudah mulai overprotektif.


"Aku tuh takut kamu kenapa-kenapa, Yang. Aku ngak mau jadi duda sebelum nikah," canda Juan.


"Ngacooooo ngedoain aku mati kamu teh ? Ihhh bener-bener pacar macam apa kamu tuh ?" ujar Iis gemas dengan candaan Juan yang kadang suka diluar nalar manusia normal.


"Ngak lah, Yang. Ya udah maaf, kamu ngapain di supermarket. Emang Bi Sur ngak belanja ?" Juan menurunkan intonasi suaranya.

__ADS_1


"Aku disupermarket beli bahan makanan buat makan malam, kata Saka kamu marah-marah mulu seharian, jadi aku mau masak pindang daging buat kamu, biar kamu ngak marah-marah mulu, sama beli beberapa kebutuhan di apartemen," ujar Iis sambil memilih daging yang cocok untuk dijadikan pindang.


"Terus kenapa tadi aku telepon ngak bisa ?"


Iis hanya bisa menghela napasnya, "Tadi aku teleponan sama Taca, Taca tanya apartemen aku bisa disewa atau ngak. Karena katanya Aa Riki mau tinggal di Jakarta karena mau bikin bisnis atau usaha gitulan sama Adipati. Jadi, Taca tanya apartemen aku bisa di sewa atau ngak."


"Terus kamu jawab apa ?"


"Aku bilang aku mau ngobrol dulu sama kamu, Mas. Kalau apartemen aku disewain aku mau tinggal dimana ?" tanya Iis bingung.


"Sewain aja, kamu tingal sama aku. Kamu ambil aja kamar tamu, atau kita sekamar aja biar aku bisa kelonan, Yang," ujar Juan semangat, tiba-tiba dia happy mendengar berita ini.


"Yeh... abis yang ada aku, kamu suka ngak bisa nahan diri, berapa kali kamu aku tendang hah ???" tanya Iis kesal karena otak mesum Juan kadang-kadang ngak bisa di kontrol.


"Sering yang, setiap malem aku ditendang sama kamu kan, galak banget sih kamu," kekeh Juan mengingat setiap malam kalau dia sudah mulai hilang kontrol Iis bakal menendangnya.


"Udah ah, nanti ngobrolin di apartemen aja, aku mau belanja dulu ini, kapan beresnya aku belanja kalau kamu teleponin terus," dengus Iis kesal.


"Oke, sampai ketemu di Apartemen, kesayangan," ujar Juan sambil menutup teleponnya.


Iis hanya bisa tersenyum dengan tingkah laku Juan. Entah kenapa Juan bisa tahan dengan sifat keras Iis.


Brakkk...


"Ah... maaf, Bu. Maaf..." ujar Iis saat sadar dia telah menabrak trolly seorang wanita sepuh namun masih memancarkan kecantikan paripurna di wajahnya.


"Aduh, nak. Ati-ati kalau jalan, pakai mata makanya," ujar wanita tersebut judes.


Iis hanya tersenyum mendengar perkataan wanita tersebut, "Maaf, yah Bu. Saya yang salah," Iis meminta maaf lagi sambil memundurkan trollynya memberikan jalan pada Wanita tersebut.


Wanita itu hanya tersenyum sekilas pada Iis kemudian berjalan menjauh dari Iis diikuti seorang suster dibelakangnya yang tersenyum lembut pada Iis.


•••


Iis mah ngak sadar handphonenya disadap, gaptek Iis mah da jadi nyangkanya Juan punya ilmu kanuragan hhahahhaaa...


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...

__ADS_1


Salam sayang Gallon


__ADS_2