Water Teapot

Water Teapot
S2: Satu dus...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Sudah dua minggu berlalu semenjak Iis mengantar Taca ke dokter kandungan. Iis benar-benar disibukkan dengan pekerjaannya yang sangat-sangat menguras energi dan pikirannya.


Iis melihat tanggal dikalender handphonennya, matanya mengerjap bahagia saat mengetahui kalau dia sudah telat datang bulan selama 5 hari. Rasanya Iis ingin berjumpalitan saat mengetahuinya.


“Bu Lizbet nggak makan siang?” tanya Lisa dari balik pintu kantor Iis.


“Ah, Bu Lisa, ini baru mau makan siang. Aku lagi beres-beres dulu,” ujar Iis lagi.


“Mau ikut nggak ini anak-anak magang katanya mau ajak makan-makan di mall depan,” ujar Lisa lagi.


“Ah, boleh aku ikut. Pake mobil siapa?” tanya Iis karena dia tadi datang ke biro diantar Juan.


“Pakai mobil aku aja, yuk,” ujar Lisa sambil menunjukkan kunci mobilnya.


“Oke, ketemu diparkiran aja,” ujar Iis sambil membereskan barang-barangnya.


“Oke...” Lisa pun berlalu dari depan pintu.


Iis dengan cepat menchat Juan untuk meminta izin untuk makan siang dengan teman-temannya.


- Mas aku izin mau makan siang sama temen-temen aku, Yah


Send


Iis langsung berjalan kearah pintu keluar.


Ting....


- Iya, makan yang banyak.


Iis tersenyum kemudian berjalan kearah parkiran mobil bu Lisa.


•••


Iis sedang asik makan saat ada seorang wanita muda berjalan kearah mereka.


“‘Maaf saya telat,” ujar wanita itu sambil duduk disebelah Iis.


“Ah, nggak papa. Kamu anak magang yah, yang kemarin jadi tester (orang yang melakukan pengambilan test psikologi),” ujar Lisa.


“Iya, Bu,” jawab wanita itu.


Iis menatap wanita disampingnya, wanita itu tampak malu-malu menatap Iis.


“Lizbet Wijaya. Kamu siapa namanya?” tanya Iis berusaha memcairkan suasana.


“Nama...”


“Eh... iya nama kamu siapa?” tanya Iis.


“Nama, Bu.”

__ADS_1


Iis rasanya ingin mengambil piring dan melemparkan piringnya ke udara saking kesalnya. Orang ditanya namanya siapa kok balik nanya.


“Iya, saya nanya nama kamu siapa, Mbak?” tanya Iis berusaha menahan emosinya serendah mungkin.


Wanita disampingnya tampak kebingungan, saking bingungnya dia menatap Lisa yang sudah menahan senyumnya.


“Iis, namanya Nama,” ujar Lisa sambil menahan tawanya.


Iis kaget mendengar perkataan Lisa, “Lah, jadi nama kamu Nama?”


“Iya Bu Lizbet, nama saya Purnama, panggilannya Nama,” ujar Nama sambil menatap Iis kikuk.


“Astaga, orang tua kamu kreatif amat. Ntar saya kalau punya anak saya kasih nama Tanya kali yah, jadi tiap ada yang nanya namanya siapa dia bakal balik nanya,” kekek Iis sambil menatap Nama.


“Hahahaa... Ibu Lizbet bisa aja, saya juga ini pusing tiap ada yang nanya nama saya pasti adu urat mulu,” ujar Nama sambil tersenyum manis.


“Ah, ngomongin soal anak, kamu udah ada tanda-tanda?” tanya Lisa sambil menatap Iis. “kamu nikah udah lama loh, udah 7 bulan lebih ‘kan. Aku sih dulu nggak ada kosong langsung jadi.”


‘Here we go again’ batin Iis sambil menghela napas. Hampir setiap saat setiap waktu teman-teman kantornya atau kliennya akan selalu menanyakan ini. Pertanyaan ini sudah seperti pertanyaan wajib bila Iis bertemu mereka, rasa-rasanya di dahi Iis ada tulisan, hai nama saya Iis dan saya sudah menikah 7 bulan tapi belum hamil...!


“Iya, doain aja,” jawab Iis sambil mengulum senyumnya.


“Eh, cobain deh minum obat.......”


Iis hanya bisa tersenyum kecil, dia tersenyum dan berjuang untuk tampak antusias untuk menghargai Lisa. Walau sebenarnya didalam hatinya Iis ingin membungkam mulut Lisa dengan botol sambal.


Hampir 25 menit Lisa berbicara mengenai tata cara menghasilkan anak dengan baik dan benar. Hampir semua rekomendasi dokter Lisa berikan pada Iis. Iis hanya menganguk-anggukkan kepalanya. ‘Lieur ah ngabandungan nana oge’ batin Iis. (Pusing ngedengerinnya juga)


Iis benar-benar butuh bantuan, rasanya batas kesabarannya benar-benar sudah habis untuk mendengarkan ocehan Lisa yang benar-benar seperti rumus matematika, panjang kali lebar sama dengan tinggi...!?


“Bu Lizbet, mau anterin saya ke apotek nggak?” tanya Nama tiba-tiba.


“Iya, saya juga mau beli sesuatu,” ujar Iis cepat sambil bangkit dari kursinya.


“Ah, mau ke apotek, sekalian beli vitamin buat.....”


Iis sudah tidak mau mendengar perkataan Lisa, dengan cepat Iis menarik lengan Nama untuk menjauh dari meja mereka.


“Bu Lizbet mau kemana? Aku cuman mau nyelamatin Ibu aja dari omongan Bu Lisa,” ujar Nama sambil berjalan disebelah Iis.


“Lah, jadi kamu nggak mau ke apotek?” tanya Iis kaget.


“Nggak,Bu. Ngapain, saya cuman kasian sama Ibu Lizbet yang udah jengah kayanga ngedenger omongan bu Lisa.”


“Keliatan banget yah dari muka aku?” tanya Iis kaget.


“Banget Bu, keliatan banget banget...” jawab Nama sambil tersenyum.


Iis hanya bisa menghela napasnya, “Maaf yah, abis saya kesel tiap ketemu orang atau siapapun pasti ditanya kapan punya anak mulu, kesel,” curhat Iis tiba-tiba.


“Hahahaa... padahal punya anak bukan balapan ‘kan, Bu,” ujar Nama sambil berjalan mengikuti Iis kearah apotek.


“Argh... iya bener banget, punya anak bukan balapan. Mungkin, emang belum rezekinya kan kita nggak tau, Nam,” ujar Iis sambil mengacungkan kedua jempolnya.


“Jodoh, umur, anak, rezeki semuanya itu cuman tuhan yang tau, kita manusia cuman bisa berusaha dan menjalankannya sebaik mungkin. Betul apa betul Bu,” terang Nama.


“Cakep.... harus nya kamu jadi pendakwah, Nam. Bukan jadi Sarjana Psikologi,” canda Iis.

__ADS_1


Nama tersenyum pada Iis, “Pendakwah kaya aku, nggak bakal ada yang dengerin, Bu.”


“Hahahaaa...”


“Selamat siang ada yang bisa saya bantu,” tanya Apoteker.


“Iya, punya Test pack?” tanya Iis santai.


“Ada Bu, mau yang kaya gimana?” tanya Apoteker tersebut sambil mengeluarkan berbagai macam dan merk alat test pack.


Iis menatap Nama meminta pendapat alat test pack apa yang harus di beli oleh dirinya.


“Aduh, Bu. Saya masih gadis Bu, belum pernah beli yang kaya gini,” ungkap Nama jujur.


Iis melihat didepannya ada 6 macan alat test pack. “Ehm ya udah saya beli aja masing-masing satu.”


“Oke Bu, masing-masing satu yah,” ujar Apoteker tersebut, sambil membereskan test pack yang ada didepannya.


Iis melihat apoteker tersebut sedang menscan alat test pack yang akan dibeli oleh dirinya dan memasukkannya ke dalam plastik.


“Bentar, bentar Mbak, saya bilang masing-masing satu,” ujar Iis sambil menatap Apoteker tersebut.


“Iya ini masing-masing satu, Bu,” ujar Apoteker itu bingung. Apa salah dirinya?


“Ibu Lizbet itu udah masing-masing satu kok,” ujar Nama sambil melirik isi didalam plastik belanjaan Iis.


Apoteker tersebut menganggukkan kepalanya bingung.


“Maksud saya, masing-masing satu dus, Mbak,” ujar Iis sambil tersenyum pada Apoteker dan Nama didepannya.


“HAH....!?”


•••


Mau dagang bu Iis?


•••


Ah siapa yang penasaran sama mbak Purnama ?


Cepet kepoin kehidupan Mbak Purnama di novel Kaka Gallon yang judulnya Mr and Mrs Trina.


Dijamin ngakak deh ☺️☺️



Sama aku kasih visualnya purnama, calon kaka ipar Taca alias calonnya kang Rozak 🤣



Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...

__ADS_1


Salam sayang Gallon


__ADS_2