Water Teapot

Water Teapot
S2: Kamu adalah malaikat...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


“Kamu nggak papa, Yang?” tanya Juan setelah keluar dari ruang pemeriksaan dokter umum.


“Nggak papa, kata dokter juga aku nggak papa ‘kan?” ujar Iis sambil tersenyum manis.


“Tapi, kamu bilang nggak enak badan, kamu kenapa? Kamu udah makan belum?” tanya Juan lagi.


“Udah aku nggak papa, yuk ketempat Taca lagi, tadi Kang Rozak nelpon katanya anak Taca udah lahir.” ujar Iis.


Juan dan Iis pun berjalan kearah ruang bersalin, Iis langsung melihat Adipati yang pipinya berdarah.


“Kenapa, Adipati?” tanya Iis kaget melihat pipi Adipati berdarah.


Adipati hanya tersenyum kemudian mengelus pipinya, “Biasa, dicakar Amore. Tadi, pas ngelahirin, pipinya nyangkut,” jawab Adipati santai.


“Pipi nyangkut?” tanya Iis bingung.


“Iya, pas dilahirin pipinya nyangkut,” jawab Adipati santai.


“Tapi, sehat?” tanya Iis lagi sambil duduk disamping Juan.


“Sehat, itu Taca lagi dijait lagi. Tenang,” ujar Adipati lagi.


“Santai banget, beda banget pas Kama sama Kalila lahiran. Ampe stress,” ujar Juan sambil menatap Adipati.


“Pengalaman adalah guru terbaik,” ujar Adipati sambil mengacungkan jempolnya dan disambut tawa Juan.


“Langsung KB, Di. Taca bukan kelinci yang tiap tahun hamil,” saran Iis pada Adipati. Mendengar perkataan Iis, Adipati tertawa pelan.


“Iya, aku udah tanda tangan buat KB kok. Aku udah bilang ke dokternya.” ujar Adipati.


“Siapa namanya?” tanya Juan pada Adipati.


“Kafta, Kafta Trina Berutti, nama pilihan Taca. Tadinya sama abah mau di kasih nama Tatang. Tapi, Taca ngamuk,” kekeh Adipati.


“Hah... Tatang? Aduh si Abah mah aya-aya wae (ada-ada aja)” Iis tertawa sambil memukul bahu Juan pelan.


“Tapi lucu, Bro. Kebayang anak lo kuliah di harvard terus pas di panggil dosen. Tatang, Tatang hahahaa...” Juan menutup mulutnya berusaha untuk tidak tertawa keras.


“Tau lah, terserah Taca sama Abah. Aku nggak mau ambil pusing, selama namanya belakangnya Berutti.” Adipati lebih baik mundur dalam memperebutkan hak untuk memberikan nama anaknya. Taca lebih berhak, dia sudah berjuang untuk melahirkannya kedunia ini, mempertaruhkan nyawanya.


“Pak Adipati, Bu Taca nyari Bapak,” ucap Suster dibelakang Adipati.


“Bro, gue masuk dulu,” ujar Adipati.

__ADS_1


“Kita pulang yah,” ujar Juan pada Adipati yang langsung dijawab anggukan oleh Adipati.


•••


Iis melihat ke dua belas alat tes kehamilan dihadapannya. Sudah tiga puluh menit Iis berdiam di kamar mandi. Memang waktu yang tepat untuk melakukan test adalah di pagi hari, tapi Iis penasaran. Iis sampai melakukan pengecekkan menggunakan dua belas alat test kehamilan.


Diliriknya hasil USG ditangannya, rasanya Iis ingin berjingkrak-jingkrak. Tapi, tidak mungkin Iis lakukan bisa disangak wong edyan nanti.


Tok... tok... tok...


“Ayang, kamu sakit?” tanya Juan, Juan khawatir karena pulang dari rumah sakit Iis langsung mengurung diri dikamar mandi.


Iis dengan cepat memasukkan semua alat tes kehamilan ke dalam keranjang kemudian menyimpannya didalam laci. Bertepatan Iis menutup laci, Juan masuk kedalam kamar mandi.


“Kamu, kenapa Yang?” tanya Juan khawatir.


“Nggak papa, cuman mules aja,” dusta Iis sambil menutupi laci dengan tubuhnya.


Juan berjalan mendekati Iis sambil memicingkan matanya, Juan tau ada yang Iis sembunyikan, hidup bersama hampir selama 2 tahun membuat Juan tau sifat Iis.


“Mas keluar yuk, aku lapar,” pinta Iis sambil berjalan dan mendorong badan Juan pelan.


Juan yang tau ada sesuatu di dalam laci kamar mandi langsung menarik laci tersebut dengan cepat, Iis langsung berbalik dan berusah menutupi laci yang sedang ditarik oleh Juan.


“Mas,” teriak Iis.


“Jangan, Mas. Aku belum cek lagi ke dokter Tia,” ucap Iis.


Brak...


Laci tertarik dengan keras oleh Juan, membuat isinya berhamburan di lantai. Juan langsung melihat apa yang berserakan di lantai. Matanya langsung membulat saat melihat banyaknya alat test kehamilan di kakinya.


“Mas... aku belum...”


Juan berjongkok dan menatap alat test tersebut, Juan mengambil alat test merk clearblu•, mau tidak mau Juan langsung membaca tulisan di alat test tersebut. “Pregnant?”



(Alat test yang dipegang Juan)


“Mas aku belum periksa dokter Tia,” ujar Iis, Iis benar-benar ingin memastikan semuanya sebelum memberitahukan Juan. Makanya tadi dia meminta Dokter dan suster untuk merahasiakan hasil testpact di rumah sakit.


“Ayang, kamu....”


“Mas aku...” jawab Iis sambil tersenyum.


“Kamu, kamu astaga... kamu...” Juan melihat alat testpact di tangannya, kemudian melihat Iis yang menutup bagian mulutnya dengan kedua tangannya.


“Iya, tapi aku belum cek ke dokter Tia. Makanya aku nggak mau kasih tau dulu kamu,” jawab Iis sambil menatap Juan.

__ADS_1


Juan langsung terduduk sambil terus menatap alat test pact ditangannya. Tiba-tiba Iis melihat Juan menangis. Juan menangis tanpa ada rasa malu sama sekali, air matanya mengalir tanpa ada halangan sama sekali.


“Yang ini bukan mimpi ‘kan?” tanya Juan sambil mengusap air matanya dengan punggung tangan kanannya.


Juan melihat hasil test kehamilan lainnya yang berceceran di samping kanan dan kirinya. Dijejerkannya keduabelas test pact di hadapannya. Keduabela-duabelasnya menunjukkan Iis hamil. Iya, Lizbet Sandia Wijaya hamil, istrinya hamil...!


Setelah bertahun-tahun Juan berada diketerpurukkan dengan statusnya yang mandul, berjuang menghamili siapapun wanita yang tidur dengannya. Melakukan hubungan suami istri dengan mereka tanpa pengaman sama sekali. Berjuang menebarkan benihnya kemana-mana dan tanpa hasil sama sekali. Sekarang, detik ini dia berhasil membuat Istrinya, wanita halalnya hamil dari benihnya.


“Yang, ini beneran? Kamu nggak lagi prank aku? Kamu nggak lagi jahilin aku?” tanya Juan sambil menatap Iis.


Iis langsung berjongkok didepan Juan kemudian mengusap pipi Juan pelan. “Aku nggak akan berani nge prank masalah se krusial ini. Aku hamil, Mas. Anak kamu,” ujar Iis.


•Anak kamu•


Dua kata itu seperti mengangkat Juan ke tingkat kebahagian tertinggi. “Anak aku?”


“Iya Mas, anak kamu. Aku hamil anak kamu,” ujar Iis lagi sambil mencium kedua mata Juan yang sudah basah karena air mata. “Mas....”


Juan langsung memeluk Iis dan menelusupkan kepalanya kedada Iis. Entah karena apa Juan mengeratkan pelukkannya, saking eratnya badan Iis bergerak beberapa inci mendekati Juan.


“Astaga, Yang. Aku nggak tau harus ngomong apa,” ujar Juan dengan suara serak di dada Iis.


Iis mengusap kepala Juan pelan sambil menciumi pucuk kepala suaminya pelan. Tangis Iis pecah, sambil menangis Iis mendaratkan bibirnya di kepala suaminya. Perjuangan Iis untuk sampai ke hari ini memang sebentar dan singkat. Satu tahun kurang, tidak seperti wanita-wanita pejuang garis biru lainnya yang sampai bertahun-tahun. Iis termasuk beruntung. Sangat beruntung.


“Mas... aku.”


Juan mendongkakkan kepalanya menatap Iis yang sedang tersenyum pada Juan. Diselipkannya rambut Iis kekuping kanannya.


“Kamu, kamu keajaiban terindah yang pernah tuhan kasih buat aku, Yang.”


“Mas....”


“Dan sekarang, keajaiban itu sudah memberikan keajaiban lain. Keajaiban yang nggak bisa aku ganti dengan tindakan apapun.” ujar Juan sambil mendekatkan bibirnya ke arah bibir Iis.


Dikecupnya pelan bibir Iis, dimintanya Iis untuk membuka mulutnya untuk memberikan akses tak terbatas bagi Juan untuk menikmati candunya. Menghisap manisnya dan kelembutan bibir Iis. Digigitnya bagian bawah bibir Iis dengan lembut.


“Kamu adalah malaikat yang akan memberikan aku malaikat, Yang. Terima kasih.”


•••


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon

__ADS_1


__ADS_2