Water Teapot

Water Teapot
S2: Sabar juga ada batasnya


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Iis menangis sesenggukkan didalam mobil Juan, hatinya sakit. Kenapa Ayah dan Bunda tega pada Iis. Iis hanya mau mempertahankan miliknya, warisan Ibunya, memang tidak seberapa tapi itu warisan Ibunya.


“Yang, udah jangan nangis. Nanti aku benerin yah,” ujar Juan sambil mengusap rambut Iis pelan.


“Tapi, Mas.. itu satu-satunya milik aku. Aku harus gimana ? Emang ngak seberapa tapi itu milik aku dari Ibu aku,” isak Iis sambil terus mengusap air matanya menggunakan punggung tangannya.


Juan benar-benar harus banyak-banyak mengurut dada hari ini, kelakuan ibu tiri Iis benar-benar membuat kepala Juan pecah. Rasanya dia ingin cepat-cepat kembali ke Jakarta dan jauh-jauh dari calon ibu mertuanya itu.


Selama perjalanan dari koperasi sampai rumah Iis, Juan hanya diam tidak berkata apa-apa. Hanya terdengar suara Iis yang menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya.


Sesampainya di rumah Iis, Juan langsung menatap Iis yang masih menangis tersedu-sediu. “Udah Yang, jangan nangis terus aku bingung ini.”


Iis mengusap air matanya terus menerus, “Kepala aku sakit, aku pusing. Kenapa hidup aku begini amat, Yah ?” tanya Iis bingung sambil mengambil napas dalam-dalam, efek menangis membuat kepala Iis sakit.


“Yang kita pulang Jakarta aja,” ujar Juan sambil mematikan mesin mobilnya.


“Aku mau ambil barang-barang aku dulu, aku mau nanya Ayah juga, aku butuh kejelasan..” ujar Iis bersiap keluar dari mobil.


“Ngak usah, kamu disini aja biar aku yang bawa barang-barang kamu semuanya, kamu disini. Ngak usah kamu tanya-tanya lagi Ayah. Pokoknya kamu ketemu Ayah lagi pas kita nikah aja,” pinta Juan.


“Tapi aku...”


“Kamu ketemu Ayah kamu lagi yang ada nangis lagi, kalah lagi... kamu tuh ngomong aja benci-benci sama Ayah, tapi sebenarnya dihati kecil kamu tuh sayang banget sama Ayah kamu. Nanti, kamu kalah lagi. Nangis lagi, aku ngak sanggup liat kamu nangis terus-terusan kaya gini, yang..!” Juan berusaha meyakinkan Iis untuk tidak masuk ke dalam dan bertemu Ayahnya. Iis yang sudah mengenal Iis luar dalam tau Iis bakal kalah lagi dengan Ayahnya bila berhadapan langsung.


“Mas, aku selalu diajarin Ibu aku, ngak pernah ada mantan Ayah, jadi mau seperti apapun Ayah aku harus nerima.”


Astaga Iis kamu kenapa sebakti ini sih sama Ayah kamu, Juan yang begajulan dan hobi berantem dengan Papih hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya kesal.


“Iya tapi, Ayah yangs seperti apa yang harus dihormatin itu ? Bukan yang bentukkannya kaya Ayah kamu, apalagi Bunda... astaga itu kelekuan udah kaya minyak rem, Yang...!!”.

__ADS_1


“.....”


“Kamu percaya sama aku, udah percaya sama aku. Aku bakal nyeleseiin masalah ini sedikit demi sedikit. Please, percaya sama aku, Yang,” pinta Iis. Cukup, Sabar Juan ada batasnya, Juan ngak sanggup melihat Iis menangis lagi. Lebih baik Kokom yang hilang akal daripada Iis yang hilang akal.


Iis menatap manik mata coklat Juan, Iis pasrah mungkin ini saatnya Iis dipimpin oleh Juan. Ini saatnya Iis menggantungkan hidupnya pada calon suaminya. Ini saatnya Iis menurut pada Juan.


“Iyah, aku tunggu disini.”


•••


Juan membereskan semua barang-barang Iis, memasukkan semuanya kedalam koper milik Iis. Juan ingin cepat-cepat pergi dari sana tanpa perlu melihat muka Bunda ataupun Ayah Iis. Bisa lepas kendali Juan bila melihat kedua mahluk astral itu.


Tapi sayangnya semesta ingin membuat Juan hilang kendali, saat Juan membuka pintu kamar Iis, Juan harus bertemu dengan Bunda, Ibu tiri Iis yang berumur 49 tahun. Sebenarnya Bunda masih cantik diumur 49 tahun. Tapi, kelakuannya yang gila harta membuat Juan muak-semuak muaknya.


“Eh Nak Juan, ngapain bawa koper ? Mau kemana ? Mana Iis ?” tanya Bunda sambil menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri.


Juan bungkam dan menarik koper Iis berjalan menjauhi Bunda. Sayangnya, Bunda terus mengekor dibelakang Juan.


“Juan udah ngapain aja sama Iis ?” tanya Bunda sambil terus berjalan dibelakang Juan.


Juan mencoba menutup kupingnya. Muak rasanya mendengarkan perkataan Bunda.


“Enak yah ? Mau coba sama aku ?”


Langkah Juan terhenti, astaga apa kupingnya tidak salah pendengaran ? Data-data dari Saka benar-benar akurat. Kokom Hollykom ini pernah menjadi wanita malam, orang ini bukan wanita baik-baik. Entah apa yang dilakukan wanita ini sampai-sampai Ayah mau mengangkat derajatnya, menjadikannya Istri Ayah.


Juan mengingat-ngingat lagi data-data yang diberikan oleh Saka, Kokom Hollykom wanita malam yang bekerja di salah satu tempat karoke abal-abal di kota x. Dulunya seorang pemandu lagu, entah bagaimana ceritanya dia bisa mendapatkan hati Ayah Iis, bahkan bisa menggantikan posisi Ibu Iis.


“Juan... kamu mau co...”


Brakkkkk.....


“Awww...” pekik Bunda kaget.


Juan mendorong tubuh Bunda dengan kasar ke tembok, membenturkan tubuh bunda dengan sangat kasar. Tangan Juan mencengkram kedua pipi Bunda dengan jari-jarinya, membuat Bunda mengerucutkan bibirnya karena ditekan dengan kuatnya.

__ADS_1


“Sanggup kamu muasin aku ?” tanya Juan sambil menatap Bunda dengan tatapan siap membunuh, wanita sinting seperti ini benar-benar harus diberi pelajaran.


“Aw... sakit...” ujar Bunda menahan sakit dari cengkraman tangan Juan di bahu dan kedua pipinya.


“Denger baik-baik Bu Kokom Hollykom saya tau rahasia kamu dan saya punya buktinya. Kalau kamu buat perkara satu kali lagi...!”


Bunda menatap manik mata Juan dengan panik, lelaki didepannya ini benar-benar siap membunuh. Lelaki didepannya benar-benar tidak bisa dianggap remeh. Lelaki didepannya bukan lah lelaki bodoh uzur seperti Ayah. Suaminya saat ini yang sangat mudah Bunda tipu dengan trik-trik kecil. Lelaki didepannya ini punya power, kuasa, dan sumber daya tak terbatas untuk menjatuhkannya.


“Ingat satu kali lagi saya liat Iis menitihkan air mata gara-gara kamu, saya jamin kamu ngak bisa hidup bahagia, ngerti kamu,” bentak Juan sambil membenturkan kepala Bunda ke dinding.


Cukup sudah, Juan benar-benar habis kesabarannya. Untungnya Bunda hanya Ibu tiri Iis. Tidak terbayang kalau Bunda adalah Ibu kandung Iis, bisa menyerah Juan untuk menikahi Iis. Ngak bakal sanggup dia.


“Kurang...”


“Ingat satu kali lagi, kamu bikin Iis nangis. Habis kamu...!” bentak Juan sambil menarik koper milik Iis dan melangkah keluar meninggalkan Bunda yang menahan amarahnya. Bunda benar-benar memutar otaknya untuk mencari jalan membuat Iis dan Juan tidak menikah. Sialnya otak Bunda yang dangkal benar-benar tidak bisa menemukan caranya. Apakah ini saatnya Bunda pasrah ?


Bunda berpikir dengan cepat, tidak mungkin rahasia itu bisa diketahui oleh Juan, bagaimana caranya ? Ngak ada yang tahu hal tersebut, ngak mungkin Juan punya bukti akurat. Argh... sial apa yang harus Bunda lakukan sekarang, karena walaupun Ayah Iis sudah miskin, tapi semenjak menikah dengan Ayah Iis, Bunda merasa lebih percaya diri untuk bersosialisasi, tidak ada lagi orang yang memandang rendah dirinya, seperti saat Bunda menjadi seorang pemandu lagu dan menjajahkan dirinya di tempat karoke murah.


Bunda harus mencari akal, dia harus mencari mangsa baru, untuk berjaga-jaga seandainya Ayah mengetahui rahasianya. Rahasia yang bisa menghancurkan dirinya.


Apalagi kalau sampai Juan tau pekerjaan kotor keluarganya. Arghhh Bunda harus benar-benar mencari perlindungan lain.


•••


Bunda sadar, situ udah menopause 🙈🙈🙈


Semuanya maaf aku jarang bales komen akhir-akhir ini. Terlalu banyak aktifitas dikehidupan nyata. Tapi aku tetep baca kok, buat para penulis tenang aku bakal tetep meluncur ketempat kalian, maaf banget yah... 😭😭


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...

__ADS_1


Salam sayang Gallon


__ADS_2