Water Teapot

Water Teapot
S2: Kado...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Iis dan Juan baru saja sampai apartemen, saat akan membuka pintu Apartemen Iis kaget setengah mati. Bagaimana tidak dilorong apartemennya Iis melihat begitu banyak kado yang bertebaran dimana-mana.


“Ini apa?” tanya Iis sambil menunjuk kado yang bertebaran di lorong.


“Kan aku udah bilang kamu jangan kaget pas pulang nanti, keluarga aku tuh gitu. Gerak cepet, apalagi kamu lagi hamil Cucu yang dinantikan sama Mamih dan Papih,” ujar Juan sambil menunjuk perut Iis mesra.


Iis kaget melihat kado dihadapannya, dari benda-benda yang Iis tau fungsinya sampai benda-benda aneh binti ajaib seperti batu berwarna hitam yang sangat-sangat tinggi dihadapannya.


“Ini apa?” tanya Iis bingung sambil menunjuk batu besar dihadapannya. Batu itu bahkan setinggi dirinya.


Juan dengan cepat mengambil kartu ucapan dari atas batu tersebut, “Ah... dari Sarah, katanya ini batu yang bisa mengalirkan energi positif dan bisa membantu menenangkan Ibu hamil.”


Astaga... sunggup berfaedah sekali kadonya Sarah. Buat apa batu, Iis benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Sarah.


“Kalau ini dari Dimas,” ujar Juan sambil menunjuk berdus-dus supplamen multivitamin khusus untuk Ibu hamil dengan merk yang lumayan terkenal.


“Ini supplamen buat aku semuanya?” tanya Iis sambil menghitung dus didepannya. Ada 10 dus, satu dusnya berisi 12 botol.


“Iya Yang,” jawab Juan polos sambil melemparkan kartu ucapan dari Dimas sembarangan.


“Mas, ini mah bisa buat tiga puluh orang ibu hamil. Banyak amat astaga, si Dimas mau bikin aku overdosis?” teriak Iis frustasi.


“Tau sendiri si Dimas sambungan otaknya suka konslet,” ujar Juan sambil tertawa terbahak-bahak.


Iis hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya kaget. Saat berjalan Iis melihat toples extra besar berwarna kuning, di meja makan. “Mas itu apa?” tanya Iis sambil menunjuk toples itu.


Juan langsung mengambil kartu ucapan disamping toples tersebut. “Oh ini dari Mamih, katanya Mamih masih nunggu kiriman obat herbal buaya yang suka makan singkongnya,” ujar Juan.


“Oke, terus itu apaan?” tanya Iis sambil menatap bagian dalam toples tersebut.


“Ah katanya ini obat herbal juga. Tapi, dibuat dari extrak gajah yang meninggal karena kebanyak makan daun singkong dan minum dari 7 mata air dunia. Katanya ini bagus buat Ibu hamil,” ujar Juan sambil menganggukkan kepalanya.


“Maksudnya Mas? Ini air dibuat dari extrak gajah yang meninggal karena kebanyakan makan daun singkong?”


“Dan minum dari tujuh mata air dunia,” lanjut Juan.


“Terus aku harus minum itu?” tanya Iis panik.


Juan terkekeh mendengar intonasi suara Iis yang terdengar panik. “Nggak usah, kalau Mamih tanya bilang aja udah diminum.”


“Ih... kok jadi boong sih? Nggak bagus loh ngebohongin orang tua,” Iis mengingatkan Juan untuk tidak berbohong padanorang tuanya.


“Ya, kalau nggak mau bohong. Berarti kamu harus minum itu extrak gajah. Yang, kamu bisa bayangin gajah di extrak?” tanya Juan pada Iis.


“Nggak udah dibayangi, aku malah pusing,” jawab Iis sambil menekan-nekan dahinya.

__ADS_1


Iis benar-benar tidak bisa berkata apapun, ternyata kelurga Juan lebih absurd daripada kelurga Taca. Perasaan Iis makin tidak enak. Iis yakin nanti pada saat anaknya lahir, pasti Papih, Mamih, dan Nenek akan memberikan 3 nama yang berbeda.


“Terus itu apa?” tanya Iis sambil menunjuk tumpukkan paperbag didekat sofa ruang keluarga.


“Sepatu kamu, aku beliin sepatu sama sandal khusus buat kamu. Nggak usah kamu pake sepatu high heels lagi. Bisa oleng nanti anak aku didalem perut kamu,” ujar Juan sambil berlutut di depan Iis dan mencopot sepatu high heels milik Iis.


“Astaga, Mas. Nggak usah sebanyak itu juga sepatunya. Kaki aku cuman dua,” ujar Iis sambil menghitung dengan cepat jumlah paper bag didepannya. Setelah dihitung cepat, Iis yakin ada tiga puluh pasang sepatu disana.


“Nggak papa, buat ganti-ganti,” jawab Juan sambil lalu.


Iis lalu berbalik ke belakang, saat berbalik napasnya hampir tercekat “Papih!?”


Juan menatap ke arah tatapan Iis kemudian tertawa kecil. “Itu bukan Papih, itu boneka custom dibikin bentuknya kaya Papih.”


Juan berjalan mendekati boneka berbentuk papih tersebut. Dengan cepat diambilnya kartu ucapan disana, “Nah, betulkan. Ini boneka Papih, kata Papih bonekanya harus disimpan dikamar bayi. Jadi, biar anak kita selalu inget kakeknya.”


“SAKAREPPPP... TERSERAHH...” teriak Iis geram sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Kepalanya tiba-tiba pusing melihat hadiah-hadiah super absurd yang diberikan keluarga Juan untuk dirinya.


Juan terkekeh geli melihat Iis yang berjalan sambil menghentak-hentakan kakinya pelan kedalam kamar. Istrinya benar-benar frustasi menghadapi kelakuan keluarganya yang absurd.


•••


1 bulan semenjak kehamilannya, Iis sama sekali tidak mengalami ngidam atau morning sickness. Rasa-rasanya Iis baik-baik saja, tidak ada keluhan yang berarti. Iis pun masih bekerja dengan tenang, walau berkali-kali Mamih dan Juan memaksa Iis untuk kelur dari pekerjaannya. Tapi, Iis menolaknya dengan tegas. Hei... she loves her job.


Tapi, masalahnya yang ngidam adalah Juan. Juan benar-benar ngidam parah atau bahkan memuntahkan segala isi makanannya dari dalam perutnya. Iis bahkan yang bulak-balik menemani Juan untuk muntah.


Bahkan entah kenapa, Juan tidak kuat bau durian. Juan pernah ngamuk parah saat mencium bau durian di dalam sebuah supermarket besar di Jakarta. Iis sampai menyeret Juan keluar dari supermarket tersebut.


“Mas... bangun Mas,” panggil Iis pelan.


Iis menggoyang-goyangkan badan Juan, yang sedang tertidur pulas disampingnya. Jam di dinding sudah menunjukkan jam dua malam. Jam dimana, waktunya orang-orang masib tertidur pulas dan terbuai oleh mimpinya.


“Mas, bangun Mas,” panggil Iis dengan suara yang lebih keras lagi.


Juan pun membuka sedikit kelopak matanya, berusaha melihat siapa yang memanggilnya. “Hmmm....”


“Mas bangun, Iis mohon bangun, Mas,” pinta Iis lagi.


“Kenapa, Yang? Ini jam berapa?” tanya Juan sambil mengucek mata kanannya.


“Ini jam dua malem, Mas. Tapi, bangun dong Mas. Iis mohon,” rayu Iis sambil mendorong-dorong tubuh suaminya.


“Astaga Yang, ada apaan? Tumben kamu bangun jam dua subuh gini,” ujar Juan sambil berusaha membuka kelopak matanya selebar mungkin.


“Mas bangun, aku lapar,” rengek Iis sambil menatap Juan.


“Lapar? Kamu mau makan apa?” tanya Juan sambil bangkit dari tidurnya.


Iis merasa senang karena suaminya langsung bangun saat mendengar Iis lapar dan ingin memakan sesuatu. “Iya aku laper banget.”


“Iya, kamu mau makan apa? Biar Bi Sur yang bikinin makanannya. Kamu mau makan apa, Yang?” tanya Juan sambil menguap.

__ADS_1


“Aku nggak mau masakan Bi Sur, bosen, Mas,” ujar Iis sambil mengosok-gosok kedua tangannya.


“Ya udah kamu mau makan apa?” tanya Juan sambil mengambil gawainya dari nakas. Terima kasih pada tuhan yang maha esa, sudah ada aplikasi yang memudahkan seseorang untuk mendapatkan makanan.


“Aku mau...” Iis berusaha tenang pdahal hatinya bingung kenapa dia sangat menginginkan hal ini.


“Mau apa, Yang. Ayo ngomong aku bakal penuhin kok,” rayu Juan dengan kesadaran masih 50 persen, rasa kantuk masih Juan rasakan.


“Aku mau....”


“Apa Sayang?” tanya Juan penasaran.


“Aku mau tahu bulat yang suka di mobil-mobil itu sama sotongnya,” rengek Iis.


“Hah...!?” Juan kaget mendengar permintaan Iis.


“Iya, aku mau tahu bulat Mas, sama sotong,” rengek Iis.


Juan berpikir keras apa itu tahu bulat dan sotong, seumur hidup dia belum pernah makan makanan itu. Melihatnya saja Juan belum pernah.


“Apaan tahu bulat Yang? Sotong ? Kamu mau makan cumi?” tanya Juan bingung.


Iis mengigit bibir bagian bawahnya tiba-tiba ada rasa sedih menyelimuti dirinya. “Masa Mas nggak tau tahu bulat yang legendaris itu, Mas. Sama sotongnya, enak tau.”


“Ah... jangan nangis, ya udah Mas cari dulu yah,” ujar Juan sambil berusaha berdiri dari duduknya, tapi bajunya langsung dicengkram Iis.


“Kenapa, Yang?”


“Aku ikut, aku mau masak tahu bulatnya,” ujar Iis lagi.


“Ya udah ayo,” ujar Juan pasrah.


“Asik, ah sama makannya sambil liat pesawat terbang yah....”


Juan langsung menghentikan gerakkannya dan menatap Iis dengan tatapan bingung. “Liat pesawat?”


“Iya, ayo cepet Mas,” ujar Iis sambil berdiri dan bersiap secara kilat.


Juan hanya bisa menggaruk kepalanya, biasanya dia yang ngidam dan mual kenapa sekarang Istrinya yang ngidam. Mana ngidamnya aneh pula.


•••


Dimana cari tahu bulat di jakarta dan jam 2 subuh??? Dimana!?


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...

__ADS_1


Salam sayang Gallon


__ADS_2