
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Semua terjadi sangat cepat, waktu sepertinya ingin berjalan sangat-sangat cepat untuk Iis. Dari semenjak di peluk Juan dan menangis meraung sampai suara Iis hilang, tiba-tiba saja saat ini dia sudah berbaring di kamarnya di Citeko menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih.
Iis merasakan tenggorokannya kering, dia ingin minum. Dengan perlahan Iis bangun dari tidurnya. Sesaat bangun Iis merasakan kepalanya seperti di palu oleh palu godam, rasa tertusuk dan pusing adalah perpaduan yang sangat pas untuk menimbulkan rasa sakit yang teramat sangat.
Iis seperti mengawang, tangannya langsung mencengkram meja disampingnya. Astaga sakit sekali, kepalanya sakit seperti hampir pecah. Kemana Juan?
“Mas ...” panggil Iis lirih, seingatnya tadi Juan menemaninya tidur dikamarnya. Tapi, sekarang Juannya ngak ada. Kemana Juan?
Klik...
“Astaga Neng,” ujar Rozak yang datang membawakan minuman dan makanan untuk Iis karena diminta tolong Abah.
Dengan tangkas Rozak menyimpan nampannya di meja, kemudian menahan badan Iis yang hampir limbung.
“Neng, jangan dipaksa kalau ngak bisa turun dari kasur,” ujar Rozak sambil mendekap badan Iis.
“Kang... lepas, nggak enak kalau ada yang liat. Iis istri orang,” Iis mengingatkan Rozak sambil mendorong badan Rozak lemah. Sebenarnya Iis butuh sandaran saat ini, tapi bukan Rozak yang Iis butuhkan.
Nyuttt...
Lagi rasa sakit itu Rozak rasakan, rasanya pedih. Dadanya tiba-tiba sesak mendengar perkataan Iis. Sakitnya bahkan lebih Rozak rasakan dua kali lipat karena diucapkan oleh Iis sendiri.
“Nengnya duduk dulu, nanti baru Akang lepas,” ujar Rozak sambil membimbing Iis untuk duduk kembali di sisi kasur.
Iis menurut, kepalanya yang sakit karena habis menangis selama 3 jam nonstop benar-benar membuat dirinya butuh menenangkan diri.
“Neng mau minum?” tanya Rozak yang sudah berlutuh didepan Iis.
“Iya ....”
Rozak langsung memberikan segelas air pada Iis, Iis meminumnya sampai habis. “Mana Mas Juan?”
“Juan? Tadi Akang liat ada di ruang tamu, kayanya lagi rapat atau apa gitu sama Adipati,” ujar Rozak sambil menyimpan gelas kosong di nakas.
“Oh... ya udah Neng mau kesana dulu,” ujar Iis sambil berusaha bangkit dari duduknya.
“Jangan dipaksa Neng, nanti Neng jatoh,” Rozak memperingatkan Iis.
Iis akhirnya duduk kembali sambil mengusap pipinya. Mata Iis bengkak parah.
“Neng ...”
“Apa Kang?” tanya Iis sambil berusaha tersenyum dan menatap Rozak yang berlutut didepannya.
“Sabar yah, mungkin ini yang terbaik buat Neng, Ayah juga udah tenang disana ....”
“Iya, iya ...” jawab Iis sekenangnya, detik ini bukan kata-kata seperti itu yang Iis perlukan, sudah terlalu banyak orang yang mengatakan itu di kupingnya.
__ADS_1
Rozak menatap Iis yang membalasnya dengan tatapan kosong. Tangan Rozak tanpa sadar mengusap rambut Iis kemudian menyelipkan rambut Iis ke belakang telinga Iis. Entah dapat keberanian dari mana Rozak mengelus pipi Iis.
Tangan Iis langsung menepis tangan Rozak dengan kasar. “Mending Akang pergi deh, kalau ada yang liat kita berduaan disini bisa timbul fitnah.”
Astaga ternyata ini rasanya di tolak, padahal dulu bila Rozak sudah mengelus pipi Iis, Iis akan langsung meloncat kepelukkannya dan menggosokkan mukanya didada Rozak.
“Iis, kalau ada apa-apa hubungin Akang, yah,” pinta Rozak sambil berdiri kemudian berjalan mendekati pintu kamar Iis yang terbuka.
“Nggak bakalan, Akang nggak udah mikirin hidup Iis. Kalau ada apa-apa juga Iis bakal hubungin Juan bukan Akang,” jawab Iis tiba-tiba.
Rozak yang mendengar perkataan Iis hanya bisa berdiri terpaku. Dengan cepat Rozak menatap Iis, “Sebenci itu kamu sama Akang?”
Iis tersenyum sambil menatap Rozak, “Pintunya didepan Kang.”
Rozak tau mulai detik ini Iis sudah menutup pintu hatinya rapat-rapat untuk dirinya. Rozak akhirnya melangkahkan kakinya keluar dari kamar Iis dan saat berbelok Rozak merasakan tarikan yang menariknya untuk masuk kedalam kamar disebelah kamar Iis.
“Maksudnya apa?”
Rozak menatap siapa yang menarik tangannya dan mendorongnya kekamar sebelah.
“Taca?!”
“Akang maksudnya apa kaya tadi ke Iis? Akang teh masih suka sama Iis?” tanya Taca kesal sambil menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
“Akang ....”
“Jawab Kang, Akang masih suka sama Iis? Akang teh mau jadi pebinor?” hardik Taca kesal.
“Akang, astaga Taca. Masa Akang sejahat itu sama Iis, Akang cuman, Akang cuman ....”
“Cuman.”
“Cuman apa?”
“Cuman, iya Ta, Akang masih cinta sama Iis,” jawab Rozak sambil duduk dikursi terdekatnya.
Taca langsung menghela napas kemudian menutup pintu dibelakangnya, mencegah Iis mendengar perkataan Rozak. Taca tau Iis sudah tidak ada rasa sama sekali dengan Rozak, tapi Taca tau gimana perjuangan Iis untuk move on dari Kakak semprulnya ini.
“Terus?”
Rozak menatap adiknya dengan tatapan bingung, “Terus?”
“Iya terus gimana? Akang maunya gimana? Akang jangan sampai lupa yah, yang ninggalin Iis itu Akang. Akang yang ninggalin Iis dengan alasan paling konyol yang pernah ada di muka bumi ini, Fokus PNS ...! Alesan apaan itu teh?” tanya Taca kesal.
Rozak tersenyum, ah andai semua orang tah alasan sebenarnya. “Bukan karena itu sebenarnya Akang ninggalin Iis.”
“Apa?!”
Rozak menatap Taca kemudian meminta Taca duduk disampingnya. Taca menurut dan duduk disamping Rozak.
“Akang nggak kuat sama Bunda, Bunda... Bunda ...”
“Kenapa Bunda?” tanya Taca penasaran, apalagi kelakuan Kokom Hollykom itu.
__ADS_1
“Dulu Akang udah ingin nikahin Iis, Akang udah datang kerumah Iis sendirian. Akang udah ngobrol sama Bunda, Bunda bilang kalau mau nikah sama Iis. Akang harus punya uang 500juta diluar mahar dan uang acara pernikahan, Akang kaget. Mana punya Akang uang sebesar itu, mau minta Abah juga nggak mungkin, Abah waktu itu lagi panceklik ditambah biaya kuliah kamu....”
“Bunda minta 500 juta?!” pekik Taca tertahan sambil menatap Rozak.
“Iya, setiap Akang kesana pasti Akang ditagih, awalnya Akang santai aja ngehadapin Bunda. Tapi, beban kerjaan, keinginan Akang untuk masuk PNS, bikin Akang selalu uring-uringan dan akhirnya berdampak sama hubungan Akang dan Iis yang jadi sering berantem dan setiap ketemu malah berakhir dengan Iis yang nangis atau Akang yang kelepasan ngomong jahat sama Iis. Akang nggak sanggup liat Iis menderita, Akang pilih ngerelain Iis aja,” terang Rozak sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Jadi alasan mau fokus PNS itu ....”
“Bohong Taca, alasan apaan atuh, Akang nggak sereceh itu. Akang sangka Iis bakal nungguin Akang, taunya Iis kabur kerja ke Jakarta bareng kamu,” kenang Rozak.
“Terus kenapa Akang nggak hubungin Iis sama sekali?” tanya Taca bingung,
Rozak mengeluarkan handphonennya kemudian membuka aplikasi mobile banking miliknya, “Akang tadinya berpikir mending Akang ngumpulin dulu semuanya, baru Akang hubungin Iis lagi. Minta maaf dan ungkapin semuanya kalau Akang masih sayang, masih cinta.”
Rozak menunjukkan tabungan miliknya pada Taca. Taca terdiam melihat jumlah saldo tabungan Rozak.
“750 juta? Akang dapat ini dari mana?” tanya Taca kaget. Jangan bilang dapet dari menang judi online.
“Ngumpulin Taca, gaji pertama Akang, Akang beliin saham. Iya Akang belajar main saham dan ternyata Akang punya bakat...”
“Bakateuing kubutuh, Kang,” canda Taca sambil tersenyum pada Rozak.
(Arti Bakateuing kubutuh\=Saking butuhnya jadi bisa melakukan sesuatu)
“Hahahhaa... iya, bisa jadi. Akang ngumpulin ini ampir setahun setengah. Pas kamu sama Iis datang sama Adipati dan Juan. Tabungan Akang udah 500jutaan. Makanya, pas kemarin itu Akang langsung pulang dari sekolahan buat nemuin Iis. Tapi....”
“Tapi Iisnya udah pacaran sama Juan,” Taca melanjutkan perkataan Rozak dan langsung di jawab anggukkan oleh Rozak.
“Iya, mana Juan bener-bener lengket sama Iis. Akang akhirnya mencoba ikhlas. Tapi, disini itu sakit Taca,” ujar Rozak sambil menunjuk dadanya.
“Kang....”
“Nggak papa Taca, ini salah Akang juga. Andai Akang ngobrol sama Iis, mungkin Iis mau nunggu Akang, mungkin sekarang Akang yang meluk Iis dan menenangkan Iis saat Ayah Iis meninggal, bukan Juan. Tapi, sudahlah mungkin ini takdir Akang,” ujar Rozak sambil mengusap rambut Taca.
“Akang ridho, Juan juga orang baik ‘kan?” tanya Rozak pada Taca.
“Iya, Juan baik kok. Adipati selalu bilang kalau baru sekarang Juan tergila-gila sama perempuan. Adipati juga bilang semenjak sama Iis, Juan seperti memunculkan sifat terbaikknya. Juan baik Kang,” ujar Taca.
Rozak hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Makin sakit hatinya saat mendengar perkataan Taca, sepertinya sempurna sekali Juan dimata semua orang. Ganteng, kaya, baik, pokoknya tidak bercela.
Ah... seandainya ada satu kekurangan Juan yang hanya dimiliki oleh Rozak, mungkin Rozak akan dengan cepat merebut Iis dari Juan. Tapi, sepertinya tidak ada.
Mungkin?
•••
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
__ADS_1
Salam sayang Gallon