
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
“Di, ayolah izinin aku buat ngomong sama Iis,” mohon Taca sambil terus mengikuti Adipati kemanapun Adipati berjalan didalam rumah Gio.
Setelah pulang dari rumah sakit dan memastikan Kama hanya sedang tumbuh gigi sehingga membuat badan Kama panas, saat ini mereka pulang kerumah Gio.
“Di... Aku mohon,” pinta Taca sambil mengatupkan kedua tangannya dan memohon pada Adipati.
Adipati hanya menatap Taca sekilas, kemudian berjalan lagi kearah dapur, Taca tidak menyerah begitu saja. Dia akan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk mendapatkan izin dari Adipati.
“Di...” Taca memangil Adipati manja.
“Apa?” jawab Adipati sambil pergi menjauh dari Taca, Istrinya ini benar-benar akan mengejarnya tanpa ampun sampai dia mengizinkannya untuk jujur pada Iis mengenai masalah Juan.
“Di, izinin aku buat ngasih tau Iis.”
“Amore aku bilang besok, kamu nggak sabar banget sih. Aku juga belum ketemu Juan. Sabar, Amore,” ujar Adipati sambil berjalan mendekati kulkas dan saat akan membuka kulkas
Brak...
Taca menutup kulkas dengan tangannya, kemudian memenjarakan tubuh Adipati, walau harus sangat bersusah payah karena badan Taca yang mungil tidak mampu memenjarakan badan Adipati.
Taca menatap Adipati dengan tatapan paling sangar yang Taca miliki, sayangnya Adipati malah merasa tatapan Taca seperti tatapan anak kucing yang membuat Adipati merasa gemas.
“Aku nggak ijinin kamu makan sampai kamu bilang aku boleh ngomong tentang Juan mandul ke Iis,” ancam Taca.
“Nggak papa aku puasa aja,” jawab Adipati sambil berusaha keluar dari kurungan Taca.
“Nggak boleh kemana-mana,” ujar Taca.
“Ya udah aku berdiri aja disini,” jawab Adipati.
Taca mengerucutkan bibirnya saking kesalnya dengan Adipati. Suaminya ini benar-benar susah ditakut-takuti.
“Lah kok manyun, Amore?” goda Adipati sambil mejawil hidungnya.
Taca benar-benar harus memberitahukan tentang Juan secepatnya, makin cepat makin baik.
“Aku mau minu..”
“Nggak boleh,” ujar Taca sambil memicingkan matanya, “sampai kamu izinin aku....”
“Buat ngomong sama Iis?” potong Adipati sambil bersendet di kulkas, sebenarnya bukan perkara sulit untuk mengangkat badan Taca dan memindahkannya ke samping kanan atau kiri, Taca itu ringan dan Adipati sangat suka mengangkat-angkat badan Taca.
“Iya....” rengek Taca sambil menggerakkan semua badannya.
“Amore, aku udah bilang kita nggak boleh ikut campur masalah mereka...”
“Aku nggak ikut campur aku cuman mau bilang aja. Aku nggak sanggup liat Iis kaya gitu. Astaga Iis tuh yang selalu ada disamping aku, dengerin semua keluh kesah aku. Aku nggak sangup bohong lagi,” rengek Taca sambil menggoyang-goyangkan lagi tubuhnya seperti anak kecil minta jajan.
“Astaga Amore tunggu besok.”
“Nggak mau, aku udah nggak sanggup,” ujar Taca lagi.
“Amore, bedanya apa hari ini sama besok? Bedanya apa?” tanya Adipati sambil mengusap pucuk kepala Taca.
“Di, please,” rengek Taca.
Adipati langsung mengangkat Taca kemudian memindahkannya kesamping kanannya dengan mudah, “Nggak....”
“Di....”
__ADS_1
Adipati hanya bisa menghela napasnya kemudian melirik Istrinya. “Oke, kamu bisa kasih tau Iis, hari ini.”
“Bener?” Taca langsung sambil tersenyum senang.
“Iya bener, terserah kamu aja,” ujar Adipati sambil memberikan kunci mobil ketangan Taca.
Taca langsung tersenyum sambil mengambil kunci mobil dari tangan Adipati. “Kamu emang suami terbaik.”
“Emang suami kamu ada berapa Amore?” goda Adipati.
“Satu aja, cukup. Nggak ada cita-cita poliandri,” jawab Taca ngasal sambil memeluk Adipati.
“Bagus, udah sana. Hati-hati nyupirnya, pulang jangan sore-sore,” ujar Adipati sambil mengambil air minum dari dalam kulkas.
“Kama sama Kalila?”
“Biar aku sama Nonno (Kakek dalam bahasa Italia) yang urus,” jawab Adipati santai.
“Oke bye,” ujar Taca sambil mencium pipi Adipati dan berjalan keluar meningalkan Adipati.
•••
“Iis...” panggil Taca, Taca tadi sudah menelepon Iis dan Iis berkata dia sedang berada di hotel. Taca sama sekali tidak berpikir apapun saat mengetahui Iis berada di hotel.
“Hai Ta, sini mau makan apa?” tanya Iis sambil menatap Taca yang sedang berjalan, Taca berpakaian sangat-sangat kasual. Kaos berwarna putih dan celana overall jeans. Tidak tampak kalau Taca adalah Ibu beranak dua dan sekarang sedang mengandung anak ke tiganya.
“Aku udah makan tadi, aku minum aja. Hmmm aku mau jus alpuket aja,” ujar Taca sambil duduk manis menatap Iis.
Iis dengan cepat memesankan pesanan Taca. “Ada apa Ta, apa yang penting yang mau kamu omongin?” tanya Iis.
Iis sebenarnya sedang ingin tidur dikamarnya, tapi Taca tadi meneleponnya dan memintanya untuk bertemu.
“Hmm... aku kangen sama kamu,” dusta Taca, Taca merasa dia harus melakukan Ice breaking (mengobrol untuk memecahkan suasana agar menjadi lebih enak) terlebih dahulu dengan Iis.
“Kama cuman tumbuh gigi, terus panas. Aku belum pernah ‘kan ngurus anak bayi jadi panik,” kata Taca sambil tersenyum.
“Kalila nggak panas?” tanya Iis lagi.
“Nggak kalau Kalila malah nggak panas, dia mah nggak cengeng beda sama adiknya Kama. Padahal yang perempuan Kalila,” ujar Taca sambil tersenyum senang.
“Oh...” ujar Iis, sakit rasanya membicarakan perihal anak dengan Taca, apalagi dengan kenyataan kalau dia tidak bisa memiliki anak dari Juan.
Taca tiba-tiba menyadari perubahan air muka Iis. Taca baru sadar kalau mata Iis bengkak dan terlihat kuyu.
“Iis kamu kenapa? Kamu berantem lagi sama Juan?” tanya Taca khawatir, rasa-rasanya setelah menikah dengan Juan, Iis lebih banyak menangis dari pada tersenyum, berbanding terbalik dengan kehidupan Taca yang setelah menikah malah dihiasi dengan senyuman.
“Nggak apa-apa, Ta,” ujar Iis sambil menyeka air matanya yang tiba-tiba turun dari matanya, argh... Iis paling tidak bisa menyembunyikan kesedihannya pada Taca.
“Iis kamu kenapa ? Juan masih marah karena kamu suntik HCG? Kamu kenapa?” tanya Taca panik sambil merangkul Iis.
“Nggak Ta, aku cuman...”
Taca yang sudah geram dengan kelakuan Juan langsung bernafsu untuk memberitahukan Iis kalau Juan mandul.
“Iis aku mau ngasih tau kamu sesuatu....”
“Taca aku mau ngasih tau kamu sesuatu....”
Mereka berkata berbarengan dengan intonasi dan kata yang sama. Meraka langsung saling tatap dan tertawa kecil.
“Kamu dulu,Ta.”
“Nggak, kamu dulu Iis.”
“Ih... ya udah bareng-bareng gimana?” tanya Taca sambil mengedipkan matanya.
__ADS_1
“Oke, satu dua tiga...” Iis memberikan Aba-aba.
“Juan mandul.”
“Mas Juan mandul, Apa, kamu tau dari mana?” ucap Iis kaget saat Taca bilang kalau Juan mandul.
Taca juga ikut kaget karena Iis sudah mengetahui kalau Juan mandul, “Kamu tau dari mana?”
“Aku tau dari mana gimana? Masa aku istrinya nggak boleh tau?” tanya Iis sewot.
“Tapikan Juan bilang....”
“Kamu tau sejak kapan Mas Juan mandul?” tanya Iis.
“Sejak pulang dari Singapura, Adipati nggak sengaja kasih tau aku,” jawab Taca jujur, sepertinya sudah tidak berguna lagi kalau Taca membohongi Iis.
“APA...!? Jadi kamu tau selama itu dan kamu baru kasih tau aku sekarang?” Iis benar-benar kaget dengan pengakuan Taca.
“Iis, aku mau kasih tau kamu tapi Adipati nggak izinin aku sama sekali,” ujar Taca.
“Taca, kamu tau sebelum aku nikah sama Juan, kenapa kamu nggak, astaga Taca. Kamu kok tega banget sama aku,” isak Iis.
“Iis maaf, aku udah berusaha minta izin Adipati tapi dia selalu larang aku, aku minta maaf, Is,” Taca langsung memegang lengan Iis dan mengguncangkannya pelan.
“Ketawa dong kamu pas aku diperiksa sama dokter Rindu, ketawa dong kamu pas aku suntik HCG dan berjuang buat hamil...!” sentak Iis sambil melepaskan pegangan Taca di lengannya, sudah cukup amarah Iis benar-benar tidak bisa dibendung. Bahkan sahabatnya sendiri sekongkol dengan Juan untuk tidak memberitahukan rahasia terbesar Juan.
“Nggak Iis, aku nggak ketawa. Aku nggak mungkin ketawa...!? Aku sayang sama kamu, kamu tanya Adipati segimana aku memohonnya sama dia buat di izinin ngomong masalah ini,” ujar Taca sambil menahan air matanya. Ah... dia tidak mau berkelahi dengan sahabatnya ini.
“Taca kamu sumpah tega yah sama aku, padahal aku udah.....” Iis sama sekali tidak melanjutkan perkataannya, rasanya Iis tidak akan bisa mengontrol lagi emosinya. Dia tidak mau Taca makin merasa bersalah apalagi dalam keadaan Taca hamil.
“Iis, maaf aku nyesel Iis. Maaf, jangan marah...” isak Taca sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh dipipinya. Taca benar-benar menyesal karena tidak memberitahukan hal tersebut sejak dulu.
“Taca, kenapa kamu nggak bilang sih, astaga aku istrinya aku yang harusnya tau keadaan suami aku, tapi disini aku yang paling nggak tau apa yang terjadi. Aku tuh apa sih?” tanya Iis sambil mengusap air matanya.
“Iis maaf Iis, Adipati juga nggak sengaja kasih tau aku,” isak Taca.
“Udah Ta, aku mau naik keatas aku mau tidur, aku capek. Kamu mending pulang. Aku nggak mau ketemu kamu dulu, aku bisa kelepasan ngomong yang bakal nyakitin kamu Ta,” ujar Iis sambil beranjak dari duduknya.
“Iis maafin Taca, maaf. Aku minta maaf, aku bener-bener nyesel, jangan marah sama Taca, Taca minta maaf,” isak Taca sambil menahan tangan Iis agar tidak meninggalkannya sebelum keluar kata memaafkan Taca.
“Ta, maaf aku belum bisa maafin kamu, hati aku sakit Ta. Kita sahabatan udah lama, kamu pasti tau kan betapa besar keinginan aku punya anak, kamu tau kan?” tanya Iis.
“Tau, Iis. Aku bener-bener nyesel,” isak Taca.
“Tapi, astaga...” Iis benar-benar menahan lisannya, dia benar-benar tidak mau menyakiti hati Taca. Bagaimanapun Taca adalah sahabatnya.
“Iis....”
“Ta, aku mau tidur, mending kamu pulang,” ujar Iis sambil menghentakkan tangannya untuk melepaskan cengkraman tangan Taca.
“Iis....”
Iis sama sekali tidak mau melihat Taca, Ia hanya berjalan lurus kedepan. Dia butuh tidur, dia butuh istirahat untuk menjernihkan pikirannya.
•••
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon
__ADS_1