
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Pagi hari dirumah Sarah, Iis sudah mandi dan bersiap saat mendengar teriakkan dari seorang malaikat kecil bernama Caca.
"Aunty Iis...!?" jerit Caca sambil berlari kearah Iis, Iis langsung menggendong Caca dengan sekali angkat.
"Hai cantik, sekolah hari ini ?" tanya Iis sambil mengusap dahi Caca lembut.
"Iya, Aunty mau anter aku ? Mau yah, mau yah.." pinta Caca sambil mengatupkan kedua tangannya.
Iis melihat jam tangannya, 'Masih ada waktu' batin Iis.
"Boleh, Aunty anter yah," ujar Iis sambil mengayunkan Caca.
"Asikkkkk...!"
"Caca ayo makan dulu, Iis kamu mau anter Caca ? Kamu bisa nyupir ?" tanya Sarah pada Iis.
"Bisa."
"Ya udah nanti kamu bawa mobil aku aja, aku kebetulan ngak bisa anter Caca sama sekali kerena harus ke pengadilan agama." ujar Sarah sambil tersenyum.
"Baru keluarga yang tau 'kan ?" tanya Dimas lagi sambil mengambil cangkir kopinya.
"Iya baru Nenek, Papih, Mamih, Om, Tante sama Abang. Plus Bu Iis.." ujar Sarah sambil menatap Iis.
Iis menatap Sarah dan Dimas bergantian, sepertinya dia harus merahasiakan ini semuanya, "Oke janji pramuka aku ngak bakal bilang siapa-siapa." ujar Iis.
"Hahahhaaa... oke kita percaya Iis, ayo makan," ujar Dimas sambil tersenyum melihat kelakuan Iis.
"Iis maaf yah, aku ngak bisa anter kamu. Ada rapat tiba-tiba yang harus aku lakuin, Abang menolak datang ke rapat," ujar Dimas lagi sambil berusaha mengambil selai coklat didekat Iis.
Tanpa dikomando Iis langsung mengambilkan selai coklat tersebut kemudian memberikannya pada Dimas.
"Abang nolak, kenapa ? Jangan bilang dia ngamuk lagi dan berantem sama Om," ujar Sarah sambil menyiapkan bekal Caca.
"Kayanya, Tante kemarin sampai nangis-nangis nelpon Nenek," ujar Dimas.
"Abang kalau ngamuk serem, yah," ujar Sarah sambil mengingat kelakuan sepupu satu-satunya itu.
"Nenek katanya mau turun tangan, Om bakal dipanggil," ujar Dimas.
Iis yang tidak mengerti pembicaraan tersebut hanya bisa memakan rotinya dan membatin, kenapa sih orang kaya demen banget sarapan sama roti atau juice. Ngak ada cita-cita sarapan nasi goreng paket komplit apa yah ?
"Iis kenapa ?" tanya Sarah karena menatap Iis yang seperti orang kebingungan.
"Oh, ngak. Aku nggak ngerti kalian ngomongin siapa ?" tanya Iis bingung.
__ADS_1
"Uncle Huang, Aunty. Uncle itu cereeeemmmm," ujar Caca sambil memberikan raut wajah menakutkan terbaiknya, sayangnya Iis sama sekali tidak merasa seram. Yang ada dia malah merasa gemas dengan Caca.
"Oh yah ?" tanya Iis sambil menatap Caca dengan ekspressi ketakutan yang dibuat-buat.
"Iya..katanya Uncle Huang bica makan buaya !?" bisik Caca bersungguh-sungguh.
"Wah..."
"Tapi emang Bang Huang serem kalau marah, ngak sanggup aku," ujar Dimas sambil mengangkat tangannya menyerah.
"Kayanya Huang ini serem yah, jangan-jangan mantan preman kali yah," tebak Iis asal.
"Hahahaaa... bisa jadi, masalahnya kalau Bang Huang marah dia suka nekat," ujar Sarah sambil tertawa.
Iis mulai memberi pengingat pada dirinya untuk menjauhi lelaki bernama Huang, karena mendengar dari obrolan Sarah dan Dimas, Abangnya itu menyeramkan.
“Iis kamu bawa mobil aku yah." ujar Sarah membuyarkan lamunan Iis.
"Oke... sekalian anter Princess Caca sekolah...! Yeah...!" ujar Iis sambil mencawil pipi putih Caca.
"Asikkkk..." ujar Caca sambil mengangkat tangannya keatas.
•••
Iis telah sampai di biro, tadi Iis mengantar dulu Caca kesekolahnya. Iis kemudian turun dari mobil mini chooper countryman milik Sarah.
Selama diperjalanan Iis mencari handphonennya dan tidak menemukannya sama sekali, sepertinya Iis meninggalkannya di tempat karoke.
Iis berjalan memasuki biro, saat sampai didepan ruangannya, Iis merasakan ada yang mencengkram tangannya.
"Astaga Yang, aku nyariin kamu semalaman," ujar Juan sambil memeluk Iis erat.
Iis terdiam melihat Juan ada didepan matanya.
"Kamu semalam dari mana ? Tidur dimana kamu ? Udah makan ?" tanya Juan sambil menciumi wajah Iis membuat Iis sedikit malu karena ada beberapa orang yang melihat adegan tersebut.
Iis dengan cepat membalikan badannya kemudian membuka pintu ruang kantor dan masuk kedalamnya, belum sempat Iis menutup pintunya, kaki Juan diselipkan di pintu. Didorongnya pintu ruangan Iis, dengan segera Juan masuk kedalam ruangan dan mengunci ruangan.
Iis yang kaget dengan kelincahan Juan hanya bisa diam dan menatap Juan. Dahi Iis menyerngit melihat penampilan Juan yang masih menggunakan baju kemarin.
"Mas, kamu udah mandi ?" tanya Iis pada Juan.
Juan menatap tubuhnya kemudian menatap manik mata Iis "Belum, aku kemarin sibuk nyariin kamu kemana-mana. Handphone kamu ketinggalan di tempat karoke, kata orang karokennya kamu pingsan dan diangkat laki-laki. Siapa, Yang ?"
Iis menatap Juan, kepalanya hampir pecah. "Bukan urusan kamu, kita udah ngak ada hubungan sama sekali, Mas," ujar Iis sambil menyimpan berkas-berkasnya dimeja.
"Urusan aku, kamu tunangan aku. Tentu aja kamu urusan aku...!" ujar Juan sambil menarik Iis.
Iis menepis tangan Juan kemudian berjalan kearah lemari untuk menyimpan tas miliknya.
"Kamu naik mobil siapa ?" tanya Juan penasaran, karena tadi dia melihat Iis turun dari mobil mini Chooper Countryman.
__ADS_1
Iis menundukkan kepalanya, Iis takut air matanya berloncatan keluar kalau seandainya Iis menatap manik mata coklat Juan.
"Bukan urusan kamu."
BRAKKKKKKKK
Juan menonjok lemari disamping Iis kemudian memenjarakan tubuh Iis diantara Juan dan dinding.
"Urusan aku, kamu tunangan aku...! Kamu budek atau apa sih, Yang ?" tanya Juan kesal sambil mengangkat dagu Iis agar menunjukkan wajahnya pada Juan.
Juan butuh penjelasan dari Iis, kemana Iis semalan, mobil siapa tadi, siapa laki-laki yang membawa Iis tadi malam, apa yang dikatakan Papih pada Iis. Pokoknya Iis harus mengatakan segalanya hari ini.
“Jawab pertanyaan aku sekarang..!” pinta Juan sambil mendekatkan tubuhnya pada Iis mengikis jarak diantara mereka berdua.
Jarak yang makin dekat membuat Iis terdesak ke dinding, Juan terus maju kearah Iis merapatkan tubuh mereka berdua.
“Siapa laki-laki yang bawa kamu kemarin ? Mobil siapa itu ?”
Iis diam, mulutnya terkunci rapat-rapat, “Mas kita udah ngak ada hubungan apa-apa. Ngak etis kamu nanya itu ke aku.”
BRAKKKK....
Lagi, Juan memukul lemari dibelakang Iis, tanpa perlu Iis liat Iis sudah tau dengan pasti lemari itu rusak. “Mas...”
“Kamu jawab pertanyaan aku atau aku lacak plat nomer mobil itu, terus aku datengin laki-laki itu buat aku kasih pelajaran..!?” ancam Juan sambil mengusap pipi Iis dengan punggung tangannya.
“Mas....”
“Kamu tunangan aku, Yang. Aku udah bilang sama kamu, sejauh apapun kamu menghindar dan berlari ninggalin aku. Aku bakal kejar, ngerti Kamu ?” ancam Juan sambil menekan badan Iis dengan badannya membuat Iis merasa sesak.
“Jangan keras kepala, Mas...”
“Haha.. aku ngak keras kepala, Yang. Aku cuman ngomong kenyataan, KAMU TUNANGAN AKU...!” ujar Juan sambil menahan pipi Iis dengan kedua tangannya, membuat mata mereka beradu. Iis mau tidak mau menatap manik mata Juan, sialnya tatapan Juan membuat air mata Iis mengalir, rasa sakit benar-benar menerjang hati Iis.
“Mas, tolong tinggalin aku,” isak Iis sambil mengusap kedua tangannya didada Juan.
“NGAK...AKU NGAK MAU !?” teriak Juan sambil memukul dinding disamping Iis.
Iis menutup matanya, emosi Juan memang sangat sulit dikontrol bila marah. Semua salah dimatanya, dibalik sifat jahil dan ceria Juan, Juan memiliki emosi yang sangat besar dan meledak-ledak.
“Masss...!”
•••
Hmmm ada apa yah ?
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
__ADS_1
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon