
Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻
jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️
•••
Sudah seminggu semenjak Juan dan Iis pulang dari Finlandia, saat ini Juan dan Iis sudah di Indonesia dan sedang menikmati kehidupan sebagai pasangan suami istri.
Wungggg wunggg
Terdengar suara penghisap debu di kamar Juan dan Iis. Iis sedang asik menghisap debu karpet kamarnya. Semenjak menikah Iis melarang Bi Sur untuk membereskan kamar. Iis lebih suka membereskan kamarnya sendiri.
Juan yang sudah selesai mandi dan mengeringkan rambutnya dengan handuk hanya bisa tersenyum melihat Iis sedang menyedot debu menggunakan alat vacum.
“Yang, aku nanti pulangnya mau golf yah,”Juan berteriak meminta izin untuk bermain golf dengan teman-temannya.
“Hah...”
“Main golf...”teriak Juan lebih keras lagi, suara alat vacum menengelamkan suaranya.
“Kamu mau kolak?”teriak Iis sambil menghentikan gerakannya tanpa mematikan mesin vacum.
“Golf Yang, aku mau Golf sama Adipati,”teriak Juan, astaga suara mesin vacum benar-benar membuat kupingnya sakit.
“Apa? Kamu mau makan kolak sama makan burung merpati?”Iis kaget dengan permintaan suaminya, kesambet apa suaminya ini minta beliin kolek dan dimasakin burung merpati.
“Golf sama Adipati..!”
“Kamu nggak salah ‘kan, kamu minta aku bikinin kolak sama goreng merpati?”tanya Iis.
“Hah...” teriak Juan.
“Apa Mas?”
“Apa..?”teriak Juan lagi sambil berjalan ke arah Iis dan mematikan alat vakum yang suaranya membuat mereka menjadi orang kurang pendengaran.
“Kamu mau makan kolak sama goreng burung merpati?”tanya Iis sambil menatap Juan.
“Hah...siapa yang bilang?”tanya Juan bingung.
“Lah tadi kamu bilang mau kolak sama merpati,”ujar Iis sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinganya.
“Kapan? Astaga Yang, kapan aku mau makan kolak dan burung merpati. Kenapa aku mau makan burung merpati..!”
“Tadi kamu bilang...”
“Ih... aku bilang, aku mau main golf sama Adipati, Yang...”
“Oh... hahahhaaa...ya maaf ini suara vakumnya kekerasan,”ujar Iis sambil menyimpan vacum di dekat nakas.
Juan langsung duduk dikasur dan menggosok rambutnya dengan handuk. Tiba-tiba dia merasakan tangan Iis yang membantunya menggosok rambutnya.
“Sini sama aku aja,”kata Iis sambil membantu Juan untuk menggosok rambut. Juan langsung membiarkan Iis menggosok rambutnya, sedangkan tangannya langsung memeluk Iis dan mengusap bagian belakang pinggul Iis dan sesekali meremasnya membuat Iis tertawa.
“Mas, nakal ih...”
“Bodo, nakalnya sama kamu, kecuali nakalnya sama Bi Sur baru aneh,”bela Juan.
“Aku ikhlas kamu nakal sam Bi Sur, kamu kan suka yang seumur, Aw...”jerit Iis saat merasakan belakang pinggulnya dipukul Juan keras.
__ADS_1
“Aku ngak setua itu, Ih....”kata Juan kesal.
“Hahahhaaa... iya iya...”
Zreeetttt Zreeettttt...
Iis menengok handphone miliknya, tertulis nama Rozak disana. Kening Iis langsung mengkerut saat melihatnya.
“Siapa?”tanya Juan sambil mengambil handphone Iis
“Ngapain Rozak nelpon kamu?”tanya Juan, tanpa meminta izin terlebih dahulu Juan langsung mengangkat telepon dari Rozak.
“Apa?”tanya Juan tanpa ada basa basi sama sekali.
“Iis, sejak kapan suara kamu kaya gini?”tanya Rozak bingung, seingatnya dia menelepon Iis bukan laki-laki.
“Sejak nikah sama gue..!”
“Lah... ini mah Juan, mana Iis. Aku mau ngomong ini penting,”ujar Rozak sedikit memaksa.
“Udah ngomong ke aku aja, nanti aku kasih tau Iis,”paksa Juan, entah kenapa dia sedikit kesal kalau Rozak harus ngobrol dengan Iis.
“Hadeuh, ya udah kasih tau Iis, Bunda di tangkep polisi dan dibawa ke Bandung, sekarang Ayah ada di rumah Abah. Besok baru aku anter Ayah ke Polres,”ujar Rozak.
Juan sama sekali tidak kaget dengan perkataan Rozak, memang itu yang Juan inginkan.
“Oh..ya udah nanti aku kasih tau Iis. Besok paling kita ketemu disana. Ayah ngak papa?”tanya Juan yang sedikit khawatir dengan keadaan mertuanya.
“Ayah kenapa?”tanya Iis was-was dan langsung dijawab dengan gerakan tangan oleh Juan yang artinya meminta Iis untuk sabar.
“Ayah masih sedikit kaget, tapi ngak papa,”jawab Rozak.
“Ayah kenapa?”tanya Iis.
“Bunda ditangkap polisi, Ayah rada kaget tapi sekarang Ayah lagi dirumah Abah.”
“Astaga Bunda...”jerit Iis kesal, tiba-tiba lutut Iis bergetar hebat sampai-sampai tidak mampu menahan lagi tubuhnya. Dengan cepat Juan menahan badan Iis.
“Mas..”
“Ngak papa, udah ngak papa.. besok kita kesana yah, sekarang mending kamu mandi terus makan. Besok kita kesana bareng-bareng, yah..” ujar Juan lagi.
Iis hanya bisa menganggukan kepalanya kebingungan. Entah apa yang harus dia lakukan saat ini. Dia bingung.
“Yang..”
“Bunda ngelakuin apa lagi sih?”
“Udah ngak usah dipikirin, mending makan. Semuanya bakal baik-baik aja. Percaya sama aku yah,”ujar Juan sambil memeluk Iis.
Iis pasrah...
•••
Esoknya Iis hanya bisa menatap jendela mobil melihat pemandangan, jiwanya di mobil tapi pikirannya entah ada dimana, mungkin sedang menari-nari ditempat lain. Arghh Iis capek...!!
“Yang...”
“Apa?”
__ADS_1
“Nanti kalau Bunda atau Ayah minta tolong kamu buat ngeluarin Bunda pakai uang jangan mau yah. Aku ingin Bunda dapet ganjarannya,”ujar Juan sambil membelokkan mobilnya.
Iis hanya bisa menganggukan kepalanya, sepertinya dia harus benar-benar menurut pada suaminya ini.
Tak berapa lama mereka sudah sampai di rumah Abah, rumah bercat putih itu tampak sedikit ramai. Iis melihat ada Pak RT dan Pak RW disana.
“Kenapa rame banget, Mas ?”tanya Iis bingung.
“Nggak tau, udah yuk turun,”ujar Juan.
Iis dan Juan pun turun dan masuk kedalam rumah Abah yang sudah ramai. Saat masuk kedalam Iis menemukan Ayah yang sedang duduk disebelah Abah, tidak ada raut sedih diwajah Ayah.
“Ayah..”
“Ah, sini Iis...”ujar Ayah sambil mengerakkan tangannya. Iis dengan patuh mendekat pada Ayah dan duduk disamping Ayah, sedangkan Juan lebih suka duduk di dekat pintu keluar.
“Nah jadi, saya mau kejelasannya saja. Jadi benar istri Pak Apo melakukan tindak penipuan pada Bapak Idad?”tanya Pak RW.
Iis bingung mendengar perkataan Pak RW. “Penipuan apa?”
“Ah gini Neng Iis, jadi Adik bunda itu ternyata membeli sawah Pak Idad sebesar 3 hektar. Tapi, surat tanahnya sudah di berikan tapi gironya sama sekali tidak bisa dicairkan pada tanggal yang dijanjikan,”ujar Pak RW.
“Lah berarti yang salah adiknya Bunda dong, bukan Bundanya,”ujar Iis bingung kenapa Bundanya bisa terseret.
“Masalahnya, karena gironya tidak bisa dicairkan jadi Pak Idad meminta pembatalan Jual Beli dan adiknya Bunda mengembalikan surat tanah dan segalanya.”
“Nah berarti masalahnya selesai dong,”ujar Iis bingung.
“Masalahnya sertifikatnya di palsukan oleh adik Bunda, kemudian di gadaikan ke pihak KPR....”
“Ya udah yang salah adiknya Bunda ‘kan, terus kenapa Bunda harus masuk penjara juga ?”tanya Iis bingung.
“Masalahnya, Bunda yang jadi notarisnya....”
“Ayah, sejak kapan Bunda jadi sarjana hukum terus ambil s2 ke notariatan??”potong Iis bingung, seingatnya Bunda SMA aja ngak lulus.
“Nggak tau, pokoknya sekarang Bunda terjerat pasal penipuan,”jawab Ayah dengan mimik muka pasrah.
“Sekarang mana Haji Idadnya?”tanya Iis.
“Haji Idad sudah dikantor polisi, sekalian mengurus anaknya yang ketauan melakukan prostitusi dibawah umur yang bekerja sama juga dengan Adik Bunda,” jawab Pak RW...
“Astaga...”
Iis hanya bisa mengelus kepalanya, sakit kepalanya saat mendengar perkataan Pak RW, keluarga Bunda itu rasanya, GUGUK BANGET..!!!!
•••
siapa yang ingin liat kehancuran mbak Kokom ? 😬😬😬, tapi siapin tissue juga yah hehee...
Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...
Add ig author yah storyby_gallon
Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️
Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...
Salam sayang Gallon
__ADS_1