Water Teapot

Water Teapot
S2: Rembes...


__ADS_3

Sebelum baca please, pencet tanda 👍🏻


jangan lupa komen juga yah, please... Tinggalkan jejak kalian, nanti aku mampir balik kok ❤️


•••


Iis akhirnya meminta rumah sakit untuk mengganti dokternya dengan dokter wanita. Akhirnya Iis diarahkan pada Dokter lain yang bernama Dokter Tia.


“Bu, Pak, sudah siap melakukan inseminasinya?” tanya Dokter Tia.


“Siap?” tanya Dokter Tia lagi.


Iis sedikit meringis melihat perlengkapan yang ada di depannya. “Mas...” rengek Iis pelan sambil meremas tangan Juan.


Juan yang ada disampingnya langsung memeluk Iis, tubuh Juan menutupi pandangan mata Iis. Iis langsung menelusupkan wajahnya ke dada Juan, berusaha menenangkan dirinya sendiri.


“Ibu rileks yah,” ujar Dokter Tia pelan.


Iis seperti tersentak saat merasakan sesuatu memasukinya. Ngilu langsung Iis rasakan, Iis langsung mengigit bagian bawah bibirnya untuk menahan teriakkan yang akan keluar dari mulutnya.


Juan yang tau istrinya menahan rasa ngilu dan sakit langsung mengeratkan pelukkannya. Dengan sigap Juan menciumi pucuk rambut Iis. “Sabar yah Sayang, sabar,” bisik Juan sambil mengelus-ngelus punggung Iis.


“Maaf yah, Sayang. Maaf, gara-gara aku, kamu harus kaya gini, maaf yah,” bisik Juan berkali-kali ditelinga Iis.


Iis hanya bisa menahan rasa ngilunya. Iis bersyukur suaminya ini mau menemaninya. Nggak tau apa yang akan terjadi kalau sampai, Juan tidak menemaninya. Bisa jerit-jerit dia yang ada.


“Mas ngilu,” bisik Iis sambil mengusap-ngusap hidungnya di dada Juan.


“Iya sayang, maaf yah. Sabar yah, sabar. Bentar lagi kan Dok?” tanya Juan sambil melirik Dokter Tia yang sedang tersenyum pada Juan.


“Iya Pak, sebentar yah. Posisinya harus pas,” jawab Dokter Tia.


“Bentar lagi Sayang, sabar yah. Sabar,” ujar Juan lagi.


Iis yang mendengar perkataan itu hanya bisa menganggukkan kepalanya, Iis berjuang untuk menahan ngilunya.


“Mas...”


“Sabar sebentar lagi, sebentar lagi kan, Dok,” tanya Juan lagi, rasanya Juan tidak tega melihat Iis menahan rasa ngilu.


“Oke, saya akan lakukan inseminasinya yah. Siap yah Bu, Pak. Moga berhasil, moga jadi,” ujar Dokter Tia sambil tersenyum.


Juan dan Iis sama-sama memejamkan matanya, berdoa dengan sabar didalam hati dan pikirannya. Berdoa semoga diberikan kemudahan atas segalanya. Berdoa semoga tuhan memberikan sedikit rasa ibanya untuk Juan dan Iis. Berharap Tuhan berkata, Jadilah, maka terjadilah....


Bolehkan Iis dan Juan berharap?


•••


Sudah sebulan setelah terjadinya proses inseminasi buatan tersebut berlangsung. Harusnya, Iis datang kembali ke Dokter Tia saat lewat seminggu. Tapi, kesibukan Iis dan Juan benar-benar membuat mereka tidak bisa memeriksakan Iis. Iis akhirnya memilih pasrah.


“Iis, kamu udah kedokter lagi?” tanya Taca sambil berjalan di samping Iis.


“Ah... belum,” jawab Iis jujur, rasanya baru hari ini Iis mendapatkan waktu luangnya. Sebulan kemarin Iis benar-benar sibuk mengurusi berbagai macam hal. Juan? Wah, setiap hari dia memarahi Dimas, karena perusahaan yang terus oleng.


“Oh, aku waktu itu periksa dan kaget dokternya jadi cowo,” ujar Taca.


“Ah, aku lupa kasih tau kamu kalau dokternya cowo, terus gimana?” tanya Iis.

__ADS_1


Taca tersenyum mengingat kejadian di rumah sakit itu, “Nggak gimana-gimana sih, cuman ps tau dokternya cowo, walau beneran ganteng banget. Aku cuman bisa cengo bin bengong. Yang rusuh Adipati, dia langsung minta reschedule dan ganti dokter baru sambil narik-narik aku dari ruang praktek, kasian dokternya Iis,” ucap Taca sambil mengulum senyumnya.


“Hahahaa... nasib Ta, nasib punya suami cemburuan,” ujar Iis sambil terkekeh.


“Ah...” Taca menghentikan langkahnya sambil mengusap perutnya. Iis yang berjalan dua langkah didepan Taca langsung menatap Taca dengan pandangan khawatir.


“Kenapa Ta?” tanya Iis bingung.


“Sakit Iis,” ujar Taca lagi.


“Hah? Sakit? Kenapa?” Iis langsung panik.


“Kayanya aku mau lahiran,” ujar Taca sambil membungkukkan badannya. Tangan kanan Taca menahan beban tubuhnya dengan menekan tangannya ke dinding disampingnya.


“Hah? Taca jangan ngomong yanh aneh, aneh deh. Katanya kamu lahiran 2 minggu lagi Ta,” Iis langsung merasakan serangan panik. Diambilnya gamai di tas miliknya, dicarinya nomer telepon Adipati. Dengan cepat, Iis menelepon Adipati.


“Iis sakit, ah kayanya air ketuban aku rembes deh.” ujar Taca lagi sambil melihat kebagian bawah.


Iis langsung melihat ada air di kaki Taca. Iis langsung menelan salivanya dengan cepat.


“Iya, kenapa Is,” Adipati sudah tersambung dengan Iis saat ini.


“Di, air ketuban Taca rembes, kayanya Taca mau ngelahirin deh,” ujar Iis sambil menatap Taca yang sudah duduk dikursi terdekat. Wajahnya tampak kepayahan.


“What, bentar bukannya harusnya dua minggu lagi?” Adipati langsung terlonjak dari kursinya saat mendengarkan perkataan Iis.


“Aku juga nggak tau, ini gimana?” tanya Iis kebingungan.


“Rumah sakit, bawa Taca kerumah sakit,” ujar Adipati sambil mengambil kunci mobilnya dan berlari keluar kantor.


“Rumah sakit? Nggak ada rumah sakit dideket sini, Di.” ujar Iis sambil melihat kekanan dan kekiri. Detik ini Iis dan Taca sedang berada di toko kue yang lumayan terpencil tempatnya.


“Toko kue, kuenya enak tapi tempatnya jauh kemana-mana, Di,” ujar Iis lagi.


“Ya udah bawa ke mana kek, klinik atau apapun, aku bakal nyusul, bawa terus handphone kamu, biar Juan lacak sinyal kamu. Kamu ajak Taca kerumah sakit,” perintah Adipati.


Iis hanya bisa menganggukkan kepalanya pasrah. Dia benar-benar harus membawa Taca kerumah sakit.


“Iis....”


“Iya kenapa?” tanya Iis sambil memapah Taca perlahan-lahan ke arah pintu keluar. Beberapa pegawai toko kue langsung dengan sigap membantu Taca dan Iis untuk keluar dari toko kue tersebut.


“Telepon Abah, please. Aku mau ada Abah,” rengek Taca.


“Abah di Citeko Ta,” ujar Iis lagi.


“Abah di Jakarta, Iis. Kemarin dia sampai sama Kang Rozak,” ujar Taca sambil menatap Iis melalui kaca spion.


“Oke, aku telepon Kang Rozak,” ujar Iis sambil mengambil gawainya dan mencari nomer telepon Rozak.


“Iya Iis, ada apa?” tanya Rozak sesaat Rozak mengangkat sambungan teleponnya.


“Kang, maaf ada Abah?” tanya Iis lagi.


“Ada ini,” ujar Rozak sambil menunjuk Abah yang sedang asik menonton film kungfu di apartemen Riki.


“Bilangin Abah, Taca ketubannya rembes dan mau melahirkan kayanya.” ujar Iis.

__ADS_1


“Hah? Neng Taca mau ngelahirin?”


“WATAAAAAWWW...” teriak Abah tiba-tiba.


Iis langsung mengedipkan matanya berkali-kali saat mendengar teriakkan Abah yang extra bombastis.


“Iis, Taca mau ngelahirin dimana? Butuh bantuan dari temen Abah lagi?” Tiba-tiba terdengar suara Abah di sambungan telepon.


“Temen Abah? Nggak... udah jangan bawa-bawa yang aneh-aneh lagi. Nggak usah Bah,” ujar Iis cepat sambil menatap Taca yang sudah kepayahan.


“Abah, Taca bilang ingin Abah ada di rumah sakit,” ujar Iis.


“Ah, ya udah Abah nanti kesana, alamatnya mana?” tanya Abah.


“Nanti Iis kasih ke Kang Rozak,” ujar Iis sambil menjalankan mobilnya pelan.


“Oke sip ditunggu,” ujar Abah, “Jangan lupa suruh Taca buat atur napas, jangan panik.”


“Iya, Bah...”


Iis pun menutup sambungan teleponnya, kemudian menjalankan mobilnya dengan cepat, berusaba mencari rumah sakit terdekat disana. Taca beberapa kali berteriak karena merasakan kontraksi.


“Iis, Abah sama Adipati udah di telepon?” tanya Taca sambil mengatur napasnya.


“Udah, Ta... nanti mereka nyusul,” terang Iis, Taca hanya bisa menganggukkan kepalanya. Butiran keringat sebesar biji jagung sudah keluar dari dahi Taca.


Iis dengan cepat dan cekatan membelah kemacetan Jakarta, Iis bersyukur mobilnya kecil, hingga Iis bisa dengan lincah menyalip kendaraan-kendaraan yang ada.


Iis langsung membelokkan mobilnya saat menemukan plang rumah sakit disebelah kirinya. Iis langsung memarkirkan mobilnya di depan plang bertuliskan UGD.


“Bu, ada yang bisa saya bantu?” tanya Satpam yang tiba-tiba muncul disamping Iis.


“Ah sahabat saya mau melahirkan,” ujar Iis sambil menunjuk Taca yang sedang mengatur napasnya.


“Oh sebentar saya bawakan kursi rodanya,” ujar satpam tersebut.


Taca pun dengan cepat sudah duduk dikursi roda yang sudah disediakan. Beberapa orang suster langsung mendorong kursi roda itu kedalam ruangan.


“Iis, telepon Adipati sekarang..!?” perintah Taca sambil menahan tangisnya.


“Iya oke,” ujar Iis sambil mengambil gawainya dari dalam tasnya.


“Bilang sama Adipati, kalau masih mau tidur dikamar, suruh dia kesini dalam waktu 5 men..... AWWWWWW....” jerit Taca sambil mencengkram tangan Iis kencang-kencang.


“Awwwwww.....” Iis pun berteriak kencang karena cengkraman Taca.


“Adipati, Iis...! Telepon laki-laki yang bikin aku sengsara, telepon ADIPATI...!!!” teriak Taca sambil mengerucutkan bibirnya. Suster terus mendorong Taca ke ruangan bersalin meningalkan Iis yang berjuang untuk menelepon Adipati.


•••


Semangat Taca... 💪🏼💪🏼💪🏼


Terima kasih sudah membaca maaf klo masih banyak typo...


Add ig author yah storyby_gallon


Jangan lupa comment,like, kasih bintang, kasih tau juga orang-orang satu kampung buat baca karya author and vote yah ❤️❤️

__ADS_1


Comment yang banyak, author suka keributan hehehe...


Salam sayang Gallon


__ADS_2